
Alina menaikkan alisnya kepada Rena.
"Kamu sudah lebih baik?" tanya Alina.
Rena mengangguk kecil.
"Terima kasih."
"Dia pacar kamu?" tanya Alfian tiba-tiba.
Rena menatap ke arah pria itu karena terkejut dengan pertanyaannya, begitu juga dengan Alina yang tak kalah terkejutnya. Abangnya itu kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu, pikirnya. Tidak biasanya sekali abangnya itu melempar pertanyaan di saat yang tidak tepat seperti ini.
"Abang!" seru Alina dengan suara kecil. Dia memberi kode kepada abangnya untuk tak bertanya seperti itu kepada Rena.
Alina menatap ke arah Rena dengan tidak enak hati, namun Rena hanya memasang raut wajah datarnya.
"Maaf," ucap Alfian kepada Rena. "Em, kalau begitu Abang pamit dulu."
"Mau ke mana?" tanya Alina.
"Ada urusan sebentar, nanti Abang jemput setelah maghrib," serunya.
Alina menganggukkan kepalanya dan setelah Alfian keluar dari rumahhya, dia kembali menatap ke arah Rena. Dia masih tak enak hati karena pertanyaan abangnya yang mungkin menyinggung perasaan Rena, apalagi Rena kini menundukkan kepalanya.
"Em, maafin abangku. Dia nggak tau kalau kamu pacar Andi."
Rena mengangkat kepalanya mendengar perkataan Alina, namun masih tak menanggapi perkataan wanita itu. Matanya terlihat bergerak kesana kemari seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia bingung dengan apa yang harus dilakukannya saat ini.
Setelah berpikir selama beberapa detik, kini Rena akhirnya memutuskan untuk menceritakan permasalahannya kepada Alina. Entah karena tak punya pilihan lain atau karena Rena merasa jika saat ini hanya Alina yang bisa mendengar ceritanya, yang pasti saat ini dia membutuhkan tempat untuk bercerita. Mengingat wanita itu juga sudah dua kali melihatnya bersama teman prianya dan hampir terluka karena membantunya.
"Dia teman lamaku."
Alina menaikkan kedua alisnya. Reaksi dari wajahnya menunjukkan jika dia sedang menunggu penjelasan lebih panjang dari Rena.
Sebelum menceritakan semuanya kepada Alina, Rena menghela nafas terlebih dahulu.
"Namanya Alvin. Dia teman lamaku saat dibangku sekolah dasar. Dulu kita berteman baik, bahkan kedua orang tua kita hingga saat ini masih menjalin hubungan pekerjaan. Sejak di bangku SMP kita kehilangan komunikasi karena Alvin memutuskan untuk bersekolah di luar kota, mengikuti mamanya."
Rena menjeda ceritanya sejenak. Dia terlihat ragu untuk melanjutkan ceritanya, namun rasanya sudah terlanjur jauh Alina mengetahui tentang dirinya dan Alvin. Dari pada Alina memiliki opini sendiri tentang cerita yang tidak wanita itu ketahui, lebih baik dia selesaikan saja apa yang sudah dimulainya.
"Minumlah dulu. Jangan dipaksa kalau nggak bisa cerita," ucap Alina yang melihat Rena masih dengan diamnya setelah hampir satu menit lamanya.
Rena mengangguk, dia meraih gelas teh yang ada di hadapannya dan setelah itu kembali melanjutkan ceritanya.
"Sekitar enam bulan lalu, aku nggak sengaja bertemu Alvin di salah satu restoran saat sedang menemani papaku bertemu kliennya. Sejak saat itu Alvin sering berkomunikasi dengan papaku. Bahkan dia pernah beberapa kali diundang mamaku untuk makan malam di rumah."
"Andi nggak tahu tentang kedekatan Alvin dengan keluargaku. Aku juga meminta kedua orang tuaku untuk nggak memberitahu Andi tentang kehadiran Alvin karena nggak mau Andi sampai salah paham. Aku benar-benar nggak ada hubungan apapun dengan Alvin sampai kapanpun, kedetakan dia dengan orang tuaku hanyalah sebatas pertemanan kita saat kecil dulu saja. Bahkan aku sering menjaga jarak jika Alvin bertamu ke rumahku."
"Alvin sering sekali mengajak aku keluar, tapi aku selalu menolak dengan alasan jika aku takut Andi marah."
"Em, sorry. Dia tahu kalau kamu sudah punya pacar?" sela Alina dengan sebuah pertanyaan.
"Ya, dia tahu. Orang tuaku sudah mengatakannya saat dia bertanya tentang statusku."
"Oke?" ucap Alina dengan maksud agar Rena melanjutkan kembali ceritanya yang tadi dia sela.
"Aku tahu Alvin selalu kecewa saat aku menolaknya, tapi aku nggak punya pilihan lain selain menolaknya. Aku benar-benar nggak mau mengkhianati Andi karena aku sangat mencintai dia. Tapi meski begitu, Alvin terus mengirimiku pesan walaupun sangat jarang aku membalasnya. Dan saat Andi memutuskan aku beberapa bulan lalu, Alvin seolah menemukan space untuk dirinya masuk ke dalam hidupku dengan memberikan dukungan atas kesedihanku. Setiap hari Alvin selalu mengirimiku pesan berupa kalimat penyemangat, bahkan dia juga selalu menelponku kalau aku belum membalas pesannya lebih dari satu jam. Dan sejak saat itu aku dan Alvin lebih sering berkomunikasi dari sebelumnya."
"Aku nggak ada maksud untuk melupakan Andi dengan kehadiran Alvin ataupun mencari ketenangan lain dengannya. Benar-benar nggak ada maksud sama sekali. Aku … aku … aku juga nggak tahu kenapa bisa seperti itu. Em… mungkin karena rasa terima kasih karena Alvin sudah mau menghiburku saat itu."
Alina menaikkan salah satu alisnya mendengar alasan yang diucapkan Rena, namun dia masih diam untuk mendengarkan kelanjutan dari cerita Rena.
"Saat aku sudah merasa lebih baik. Aku berniat untuk menemui Andi dan meminta maaf padanya. Aku tahu aku salah karena terlalu cemburu dengan kedekatakan kalian, jadi aku bermaksud untuk meminta maaf. Satu minggu setelah aku berbaikan dengan Andi, komunikasiku dengan Alvin menjadi berkurang. Dan Alvin yang menyadari jika aku sudah kembali pada Andi terlihat nggak suka. Dia bahkan mulai terlihat berbeda, nggak seperti Alvin yang aku kenal. Walau aku tahu kalau Alvin menyukaiku dan cemburu dengan hubunganku bersama Andi, tapi sifat dan perlakuan Alvin padaku sejak saat itu benar-benar berubah. Dia sangat aneh karena sering marah-marah nggak jelas dan mengatakan jika aku nggak akan pernah bahagia bersama Andi."
"Sejak awal dia kembali, aku sudah mengatakan padanya kalau aku sangat mencintai Andi dan hanya menganggapnya sebagai teman. Tapi entah kenapa saat itu Alvin nggak terima dengan keputusanku untuk kembali dengan Andi. Dia bahkan berani bermain kasar seperti yang kamu lihat tadi, Al."
"Kenapa kamu bisa berdua dengannya di sana?" tanya Alina kemudian.
Rena diam sejenak.
"Waktu itu aku sedang demam, dia berulang kali ingin menjengukku tapi selalu kularang. Alvin itu sangat pintar mengambil hati orang tuaku. Dia menghubungi papaku dan datang sendiri ke rumah dengan izin dari papaku langsung. Tanpa sepengetahuanku, dia masuk ke dalam kamarku dengan membawa beberapa makanan. Dia sangat perhatian denganku, tapi aku merasa nggak nyaman karena dia bersikap terlalu berlebihan. Karena nggak suka dengan perlakukannya, aku menolak dia dengan tegas."
"Aku pikir Alvin akan pergi setelah kubentak, tapi ternyata..."
Rena menggelengkan kepalanya.
"Dia membuka kamera ponselnya dan dengan waktu yang sangat cepat Alvin menciumku yang sedang berbaring."
***
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰
.
.