
Malam hari setelah makan malam bersama di kediaman Thomas dan para anak media pun telah pergi meninggalkan lokasi kediaman mereka, kini Irfan dan Santi serta Rico dan Alina pun berpamitan untuk segera pulang. Rico dan Alina mulai malam ini akan tinggal di kediaman Irfan dan Santi. Selagi mereka belum menemukan tempat tinggal, mereka akan tinggal di sana untuk sementara waktu.
Perlengkapan pribadi Alina sudah dimasukkan ke dalam koper, kini Alina dan Rico segera turun untuk menemui orang tuanya yang sudah menunggu di ruang tamu. Tak banyak yang Alina bawa, hanya beberapa pakaian yang akan dipakai untuk bekerja dan sehari-hari, serta alat kewanitaannya seperti, make up, skin care, beserta perlengkapan kerja.
"Kalian sudah selesai?" tanya Santi saat melihat kedatangan anak serta menantunya.
"Sudah, Ma," jawab Alina.
"Ya sudah kalau begitu, ayo kita pulang."
Alina dan Rico menganggukan kepalanya. Setelah itu mereka keluar bersama keluarga Alina yang lainnya. Sebelum masuk ke dalam mobil, Alina memeluk kedua orang tuanya beserta kedua abangnya dan juga Marissa. Untuk kedua kalinya dia harus berpisah dari orang tuanya. Meskipun masih dalam satu kota, namun rasanya waktu cepat sekali berlalu. Sekian tahun hidup jauh dari orang tuanya kini dia harus tinggal beda atap lagi dengan kedua orang tuanya.
Alina tidak mungkin meminta Rico untuk tinggal di kediamannya karena dia juga mengerti jika orang tua Rico tidak memiliki siapa-siapa lagi selain Rico sendiri. Sementara di kediaman orang tuanya masih ada Morgan yang akan menemani orang tua Alina. Namun tak apa bagi Alina, lagipula kediaman mereka tidak terlalu jauh, jadi Alina bisa kapan-kapan mengajak Rico menginap di kediaman orang tuanya.
Setelah berpamitan kepada kedua orang tua dan abangnya, Alina mendekati Marissa yang tengah menggendong gadis kecil bernama Lala.
"Hei Lala, keponakan Tante yang lucu. Tante pergi dulu ya, nanti kalau nggak sibuk Tante akan main ke rumah Lala, atau kita berkumpul di sini," ucap Alina yang seolah Lala bisa mengerti akan perkataannya.
"Baiklah Tante Alina, Tante sehat-sehat di sana ya," ucap Marissa yang seolah menjawab perkataan Alina yang mewakili anaknya.
Setelah berpamitan kepada keluarganya, Alina dan Rico masuk ke dalam mobil yang terpisah dari kedua orang tua Rico. Mereka mendudukkan tubuhnya di kursi penumpang dengan seorang sopir yang membantu melajukan mobil tersebut ke kediaman Renaldi.
Karena malam itu jalanan tidak terlalu padat, akhirnya mobil yang membawa Rico dan Irfan tiba sedikit lebih cepat di kediamannya. Mereka segera turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah.
"Kalian pasti lelah, istirahatlah lebih awal. Maaf kalau sudah mengganggu mood kalian hari ini," ucap Santi kepada kedua anaknya.
Rico mendekati sang mama begitu mendengar perkataannya.
"Mama jangan minta maaf. Rico yang justru minta maaf karena sudah membuat suasana menjadi seperti ini. Seharusnya Rico senang, bukannya malah menolak pemberian Mama dan Papa."
Santi tersenyum mendengar perkataan putranya. Di senang mendengar Rico yang mengatakan jika dia menerima pemberiannya.
"Sudah, jangan minta maaf terus. Ayo kalian istirahatlah," ucap Irfan kemudian kepada istri dan anaknya.
Santi pun kembali tersenyum mendengar perkataan suaminya, kemudian dia mendekati Alina terlebih dahulu, memeluknya dengan singkat dan mencium pipinya sebelum berpisah.
...*...
Rico mengajak Alina naik ke lantai atas menuju kamarnya. Setiba di kamar, mata Alina mengitari isi kamar tersebut. Kamar yang pernah dia masuki beberapa bulan lalu untuk pertama kalinya.
Saat itu kamar ini masih terlihat seperti kamar seorang pria lajang. Namun untuk saat ini, entah kenapa Alina merasa jika kamar ini telah menjadi miliknya. Alina tersenyum tipis membayangkan jika kamar ini telah menjadi miliknya.
Rico yang melihat istrinya itu tersenyum seorang diri lantas terlihat heran. Dia menaikkan salah satu alisnya dan mendekati istrinya setelah meletakkan koper di samping tempat tidur.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Rico. Dia memegang pinggul istrinya dan mengarahkan tubuhnya untuk berhadapan.
"Em, nggak ada," sahut Alina dengan menahan senyumnya.
Rico mengernyitkan keningnya. "Nggak ada?"
Alina mengangguk mengiyakan.
"Kamu lagi nggak mikirin yang aneh-aneh, kan?" tanya Rico lagi yang kini membuat Alina mengernyitkan keningnya.
"Yang aneh gimana?" tanya Alina dengan bingung. Dia masih belum mengerti akan maksud perkataan suaminya itu.
"Kamu lagi nggak mikirin malam pertama kita, 'kan?"
Mendengar perkataan Rico, seketika Alina terdiam terkejut. Malam pertama mereka? Rico memikirkan demikian kah?
Alina dengan cepat melepas tangan Rico yang masih memegang pinggulnya. Demi apapun Alina jadi salah tingkah akan perkataan suaminya itu. Ternyata Rico berpikir jika dia tersenyum karena hal itu, padahal tak ada di dalam hatinya memikirkan tentang hal itu. Dia saja tidak terpikirkan tentang malam pertama mereka karena pengumuman mertuanya siang tadi.
"Kenapa?" tanya Rico yang melihat istrinya itu menghindari.
Alina menelan salivanya. "Em, nggak."
"Nggak?"
"Aku nggak kepikiran ke sana. Maaf," ucap Alina. Entah dia harus malu atau tak enak hati karena melupakan hal penting bagi mereka sebagai pengantin baru.
"Kenapa minta maaf?" Rico kembali mendekati istrinya itu, memegang pinggangnya dengan merapatkan tubuh mereka.
"Co." Alina terlihat gelisah dengan posisi mereka yang sekarang. Bukan karena tak nyaman, namun karena tak biasa dan dia terlihat geli dengan tatapan Rico yang sedekat ini.
"Kenapa, Sayang?" tanya Rico lagi sembari menyelipkan rambut istrinya ke belakang telinga. Hal itu berhasil membuat Alina semakin geli. Jantungnya berdetak lebih kencang dan pipinya pun kini bersemu merah.
"Ke-kenapa kamu aneh banget?" tanya Alina. Dia benar-benar merasa aneh dengan sikap suaminya itu yang tiba-tiba menjadi sweet seperti ini, padahal baru beberapa menit lalu dia masih terlihat kebingungan dengan keputusan orang tuanya.
"Aneh kenapa?" Rico tersenyum menggoda, namun tak lama karena dia tidak tega melihat istrinya yang tak nyaman dengan keadaan yang saat ini.
"Ayo bersihkanlah tubuhmu, kita harus istirahat lebih awal karena besok Papa dan Mama akan mengajak kita pergi. Aku akan merapikan barang-barangmu dulu," ucapnya kemudian sebelum Alina menyahuti pertanyaannya sebelumnya. Rico pun melepaskan rangkulannya dari pinggang istrinya.
"Mau ke mana?" tanya Alina. Dia belum tahu hal ini karena Irfan baru memberitahu Rico saat dirinya di dalam kamarnya tadi siang.
"Entahlah. Papa nggak bilang mau ke mana, tapi kita dimintanya untuk bersiap sebelum jam tujuh pagi."
Alina menganggukkan kepalanya. Baiklah jika sudah begitu, mereka hanYa harus mengikuti perkataan orang tua Rico saja. Mungkin orang tua Rico ingin mengajak mereka ke suatu tempat, atau… entahlah, Alina tak bisa menebak.