Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
10. Teman Pria Renata


Hari ini Rico sedang ada pertemua di salah satu perusahaan yang kebetulan milik orang tua Rena. Saat itu dia datang sebagai perwakilan dari papanya yang tidak bisa hadir karena terdapat pekerjaan lain yang tidak bisa ditinggalkan.


Rico baru saja turun dari mobilnya, saat itu sebuah mobil berwarna hitam mentalik juga baru saja masuk ke halaman Java Group. Rico mengabaikan mobil tersebut dan hendak melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam perusahaan itu, namun wanita cantik yang keluar dari sana bersama seorang pria membuatnya terpaksa mengurungkan niatnya dan berhenti.


"Rena? Dengan siapa dia?" tanya Rico dengan dirinya sendiri.


Ya, wanita itu adalah Rena yang entah sedang bersama siap. Rico tidak pernah melihat pria itu sebelumnya. Apa jangan-jangan pria itu adalah saudara jauhnya, sama seperti Alina kemarin?


Rico masih berdiri di posisinya, melihat interaksi kedua orang itu yang tampak akrab. Apalagi senyuman Rena yang terlihat seolah wanita itu sedang baik-baik saja. Seperti bukan Rena yang dia lihat beberapa hari lalu, saat datang ke kantornya dengan wajah sembab.


Saat pria yang bersama wanita itu masuk kembali ke dalam mobil dan melajukan kendaraannya pergi dari sini, Rena yang hendak masuk ke dalam kantor tiba-tiba terdiam karena melihat dirinya yang masih menatap ke arah wanita itu. Tak lama Rena berjalan menghampirinya dengan raut wajah yang sudah tak seceria sebelumnya. Rena berhenti tepat di hadapan Rico dan raut kesedihan di wajahnya kembali terlihat seperti saat beberapa hari lalu. Membuat Rico terheran melihatnya.


"Rico, kamu di sini?" tanya Rena basa-basi.


"Tadi siapa?" tanya Rico tanpa berniat menyahuti pertanyaan Rena.


"Em, dia temanku," ucap Rena yang membuat Rico saat itu mengernyitkan keningnya.


"Teman?" Rico menyunggingkan senyumnya. "Kamu berteman dengan seorang pria?"


"Apa maksud kamu?" tanya Rena yang masih belum mengerti.


"Kamu nggak lupa 'kan apa yang menjadi alasan hubunganmu dan Andi bisa terhenti?" Rico menjeda ucapannya sejenak. "Oh, atau jangan-jangan kalian memang benar-benar sudah tidak bersama lagi?"


Rena terdiam mendengar perkataan Rico. Dia mencoba memahami setiap kalimat yang pria itu katakan dan kembali mengingat apa alasan Andi memutuskan hubungan mereka.


Rena menundukkan kepalanya. Tidak, dia tidak lupa dengan alasan Andi yang memutuskannya. Dia tidak akan pernah lupa karena sampai saat ini dia masih belum bisa menerima kenyataan itu. Namun dirinya saat ini? Rena seketika tersadar jika apa yang dia lakukan ternyata sama halnya yang Andi lakukan kepadanya selama ini. Berteman dengan lawan jenis. Bahkan sudah dua hari ini dia pergi bersama teman prianya dan baru menyadari itu sekarang saat Rico mengingatkannya.


"Rena, apa kamu sengaja membuat Andi memutuskanmu agar kamu bisa terlepas darinya?"


Rena seketika menegakkan kepalanya ketika mendengar tuduhan yang Rico layangkan kepadanya.


"Apa maksud kamu, Co? Aku sangat mencintai Andi lebih dari yang kamu tahu, bagaimana bisa aku sengaja melakukan hal bodoh seperti itu?" ucap Rena dengan suara yang terdengar emosi.


"Lalu kenapa kamu melakukan hal yang sama, di saat kamu sendiri nggak suka jika Andi berteman dengan wanita lain selain dirimu? Apa kamu seegois ini?"


Rena menggelengkan kepalanya dengan cepat, namun dia tak menyahuti ucapan Rico kali ini. Dia akui jika dirinya salah, namun dia benar-benar tidak menyadari itu. Dia sendiri tidak tahu kenapa bisa dengan mudahnya pergi dengan seorang pria di saat hubungannya bersama Andi sedang tidak baik-baik saja. Dia merasa sangat bodoh dengan apa yang sudah dia lakukan. Bagaimana jika Andi melihatnya bersama teman prianya itu? Apakah Andi akan cemburu dan marah kepadanya seperti dia yang marah kepada pria itu? Atau Andi justru akan diam saja karena kecewa dengan perbuatannya.


Perasaan Rena tiba-tiba jadi tak menentu, air matanya tiba-tiba menguap ke permukaan, hampir saja jatuh membasahi pipinya jika saja Rico tak menegurnya.


"Jangan menangis di sini, Ren. Apa kamu mau melihat aku dituduh karena sudah membuat anak seorang Ferdian Melto menangis?"


Rena segera menutup matanya, menghela nafas untuk mengatur emosinya agar tak terlepas saat itu.


"Maaf," ucap Rena dengan suara lirih.


"Andi masih menunggumu, Rena. Kalau kamu memang sudah melupakan dia dan ingin menjalin hubungan dengan pria lain, aku akan mengatakan padanya untuk segera moveon agar dia nggak terus di posisi sulit seperti ini.


Rena kembali menatap Rico. Dia menggelengkan kepalanya dengan tatapan yang terlihat memohon.


"Aku benar-benar nggak ada hubungan apapun dengan pria lain, Co. Aku masih sangat mencintai Andi."


"Tapi yang kamu lakukan nggak sama seperti yang kamu katakan, Ren. Kamu justru pergi berdua dengan pria lain dan tertawa bersama, seolah nggak ada apa-apa. Mungkin kamu juga masih dengan sifatmu yang suka cemburu buta itu. Bagaimana cara kamu mencintai dia?"


"Asal kamu tahu, Ren. Sejak kalian berpacaran, Andi benar-benar meninggalkan semua wanita yang sempat dekat dengannya. Bahkan hingga saat ini dia masih dengan dirinya yang sama. Malahan justru kamu sekarang yang bepergian dengan pria lain."


"Tapi dia masih berhubungan dengan Alina, Co," protes Rena tanpa pikir.


"Mereka berteman sejak dulu, Ren. Sejak sebelum dia mengenalmu."


"Aku dan pria itu juga hanya berteman, Co."


"Tapi Andi tidak pernah mengambil kesempatan untuk tertawa dan bepergian bersama dengan Alina di saat hubungannya bersama kamu sedang rentan, Ren. Lalu kamu?"


Rico membuang nafasnya dengan kesal.


"Sudahlah, kamu nggak akan pernah mengerti jika yang kamu pikirkan hanya diri kamu sendiri, Ren."


Trriinngg... Trriinngg...


Dering ponsel pada saku jas Rico membuat pria itu terpaksa menghentikan ucapannya yang belum selesai. Dia meraih ponselnya dan melihat nama kontak papanya yang menghubunginya. Tanpa berpikir panjang dia segera menjawab panggilan itu.


"Iya, Pa. Rico sudah ada di kantor om Ferdi. Baru saja mau masuk," ucap Rico setelah mendengar perkataan papanya.


"Baik, Pa."


Rico menutup panggilannya. Dia benar-benar terlupa dengan tujuannya ke sini untuk apa karena melihat Rena. Untungnya papanya menelepon, setidaknya dia masih memiliki waktu 10 menit sebelum pertemuan dimulai. Namun sebelum masuk ke dalam gedung tinggi itu, Rico kembali menatap ke arah Rena.


"Rena, aku sudah terlambat untuk melakukan pertemuan. Maaf jika perkataanku tadi sempat melukaimu. Aku hanya ingin mengatakan, jika kamu benar-benar ingin berpisah dari Andi, makan katakanlah padanya agar dia tidak menunggumu lagi. Tapi jika kamu ingin hubungan kalian membaik seperti semula, hanya dua hal yang perlu kamu lakukan. Pertama, cobalah untuk mengontrol perasaan kamu terhadap rasa cemburu yang berlebihan karena sifat itu akan membuat kamu menyesal nantinya. Dan yang kedua, jika kamu nggak bisa menghilangkan sifat itu, cobalah untuk menghindar dari berteman dengan selain Andi. Aku akan coba berbicara dengannya jika kamu mau. Tapi kalau kamu butuh sebuah saran, aku menyarankan untuk kamu melakukan pilihan pertama yaitu, berubah."


*


Malam hari Andi mengajak Rico untuk bertemu di salah satu club yang ada di kota itu. Awalnya Rico menolak keras karena pria itu selama ini memang selalu menjauhi tempat-tempat yang tidak bermanfaat semacam club. Namun karena Andi yang memaksanya dan mengancam akan memberitahu Santi jika dulu dia pernah pergi ke club, maka dengan terpaksa Rico mengiyakan ajakan pria itu.


"Ingat, nggak ada alkohon di minumanku ataupun minuman kamu. Jika tidak, aku nggak akan membantu kamu dan Rena untuk berbaikan."


Tak mau diancam begitu saja dengan Andi, Rico pun ikut mengancam temannya itu sebagai sebuah kesepatakan. Sebenarnya Rico tak peduli jika Andi mau minum alkohol atau tidak, namun akan bahaya jika pria itu sampai mabuk. Andi pun menyetujui kesepakatan yang dibuat Rico karena dia sangat butuh Rico untuk membantu memulihkan hubungannya bersama Rena.


Bukannya dia tidak bisa berjuang sendiri, hanya saja sepertinya Rena banyak cerita dengan Rico mengenai hubungan mereka setelah perpisahan ini.


"Kenapa ngajak bertemu di sini?" tanya Rico kepada Andi saat mereka baru saja mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di dalam club.


"Nggak papa. Asik saja duduk di sini," ucap Andi santai.


"Asik gigimu. Yang ada kepalaku pusing mencium bau alkohol dan musik nggak jelas."


"Norak banget sih, Co," sahut Andi sembari meneguk minumannya.


"Terus, mau ngapain di sini? Duduk-duduk doang sambil melihat orang mabuk?" tanya Rico lagi.


Dia terlihat tidak nyaman berada di sana. Meski club bukanlah hal yang baru karena saat kuliah dulu dia beberapa kali dipaksa temannya berkunjung ke tempat seperti ini, namun tetap saja tempat seperti ini bukanlah dunianya.


"Aku bosen di rumah, jadi ngajak kamu saja ke sini."


Dan benar saja, ternyata Andi mengajaknya ke tempat terkutuk itu hanya untuk bersantai tidak jelas.


"Benar-benar kamu ya, Ndi. Apa nggak ada tempat lain selain club untuk bersantai?" 


"Sudahlah, Co. Sekali ini saja," ucap Andi sembari merangkul baju temannya itu. Namun Rico dengan kesalnya menepis tangan pria itu dari pundaknya.


"Gimana kamu dan Alina? Ada kemajuan apa lagi?" tanya Andi lagi. Kali ini dia ingin tahu sejauh mana temannya itu berproses mendekati sahabat wanitanya yang cantik itu. Dia yakin jika Rico sudah mulai menyukai Alina.


Rico pun yang mendengar nama Alina disebut lantas teringat dengan pertemuan mereka kemarin saat di resto. Dia sangat penasaran dengan pria misterius yang dianggap Alina sebagai saudaranya. Entah itu benar atau tidak, sebaiknya dia menanyakan hal itu kepada Andi. Semoga saja Andi mengetahui siapa pria misterius itu.


"Ndi, kamu tahu nggak kalau Alina punya saudara laki-laki?" tanya Rico dengan mengabaikan pertanyaan Andi sebelumnya.


"Saudara laki-laki?" Andi tampak berpikir. "Em, kayaknya aku pernah mendengar Alina mengatakan kalau dia mau menelepon abangnya. Mungkinkah dia saudara laki-laki yang kamu maksud? Kenapa memangnya?"


"Kemarin aku melihat dia makan siang dengan seorang pria di restoran. Pria itu misterius sekali, menggunakan masker dan topi. Alina bilang, pria itu saudaranya. Sebelum hari itu juga aku melihat Alina di mall dengan pria yang sama."


"Mungkin itu benar saudaranya kali, Co. Kamu kayaknya curiga banget, kenapa? Cemburu ya kalau Alina sudah punya pacar?" tanya Andi bermaksud menggoda.


"Aku cuma nggak mau mendekati wanita yang sudah punya kekasih. Aku nggak mau merusak hubungan orang lain," ucap Rico.


"Kamu suka sama Alina?"


Rico yang saat itu sedang meneguk minumannya lantas terdiam mendengar ucapan Andi. Dia menengok ke arah pria itu dan mengiyakannya tanpa ragu.


"Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo tembak," ucap Andi sedikit bersemangat.


Ternyata benar tebakannya, jika Rico sudah mulai menyukai Alina. Syukurlah, pikirnya. Semoga saja Alina juga menyukai Andi. Meski dia tidak yakin karena Alina sangat sulit menyukai seseorang, namun dia beharap besar akan hal itu.


"Tapi apa benar dia belum punya pacar?" tanya Rico lagi dengan bimbang. Jangan sampai dia menyatakan perasaan kepada wanita yang sudah memiliki kekasih. This is not him style.


"Ya kamu tanya dululah kalau gitu. Basa-basi kek atau gimana gitu."


"Dia bilangnya sih nggak ada."


"Nah, kalau dia bilang nggak ada, berarti memang nggak ada," sela Andi dengan cepat.


Rico menatap heran ke arahnya. Kenapa temannya itu excited sekali, pikirnya.


"Nantilah," ucap Rico dengan suara yang terdengar cuek.


Rico kembali meneguk minumannya dan mengabaikan Andi yang terheran dengan jawabannya.


***


.


Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰


.


.