Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
70. Semoga Masuk Surga


Cukup lama mereka berada di restoran ini, Rico pun akhirnya mengajak Alina untuk berkeliling menghabiskan sore hari yang tampak sejuk ini.


"Sayang, kapan aku bisa bicara dengan orang tua kamu mengenai keseriusanku?" tanya Rico.


"Terserah kamu. Sekarang aku akan selalu siap menerima kedatangan kamu ke rumah."


"Oh ya? Apa kamu sudah nggak sabar mau menikah sama aku?"


Alina mengerlingkan matanya mendengar perkataan Rico, kemudian dia tertawa geli. 


"Bukannya kamu yang nggak sabar karena sudah sejak lama ingin menikahiku?" tanya Alina balik yang membuat Rico tertawa.


"Ya, memang aku sudah sangat tidak sabar ingin menjadikanmu istriku. Sangat-sangat tidak sabar, karena takut nanti wanita cantik ini direbut sama pria lain."


Mereka tertawa bersama perasaan bahagia menyelimuti hati. Membuat senyum di wajah mereka satu sama lain selalu merekah sepanjang perjalanan. 


"Oh ya, Sayang," ucap Rico kemudian saat dia mengingat sesuatu yang hendak dibicarakan kepada Alina.


"Ada apa?" tanya Alina.


"Kamu tahu nggak kalau kedua orang tua kita sebenarnya sudah saling kenal sejak dulu?"


Alina menatap Rico dengan tatapan tak percaya. Saling mengenal?


"Apa maksud kamu, Co?" tanya Alina heran. 


"Kamu ingat saat kamu pergi ke London tanpa memberitahu aku? Saat itu aku sangat cemas memikirkan kamu karena kamu nggak ada kabar sama sekali dan satpam apartemen pun mengatakan kalau kamu pergi dengan bang Fian setelah aku mengantar kamu pulang. Kepergian kamu tanpa kabar membuat aku benar-benar pusing, cemas, takut dan rindu tahu nggak."


"Beberapa hari dari itu aku dan Andi melacak nomor ponsel kamu dan kita menemukan lokasi ponsel kamu di rumah bang Fian. Aku awalnya terkejut saat tahu ponsel kamu berada di rumah rumah itu, apalagi 'kan di sana merupakan komplek perumahan elit, sedangkan kamu bilang kalau kalian berasal dari pedesaan. Bukan maksud ingin merendahkan, tapi kayak nggak masuk akal saja gitu, bang Fian tinggal di komplek perumahan elit sementara kamu tinggal di kontrakan sederhana."


"Tetangga di sana mengatakan kalau kalian pergi ke London dan hal itu membuat aku benar-benar kebingungan. Karena sudah nggak tahu lagi mau mencari kami ke mana, akhirnya aku coba-coba melihat akun sosial media kamu. Awalnya aku nggak menemukan apa-apa di akun sosmed kamu, begitu pun dengan akun bang Fian. Sampai aku mengulik lebih jauh dari foto tag, aku menemukan akun istrinya dan melihat foto keluarga kalian di pernikahan bang Fian."


"Sebelumnya mama pernah mengatakan kalau Bang Fian itu mirip dengan kakak angkatnya saat sekolah dulu dan cara bicaranya juga mirip sekali, jadi aku berinisiatif untuk memperlihatkan foto pernikahan bang Fian kepada mama dan papa. Siapa tahu apa yang mama rasakan memang benar. Dan saat mama melihat foto yang kutunjukkan, di sana aku terkejut banget mama bilang kalau sepasang paruh baya yang berdiri di samping istri bang Fian adalah teman mereka yang salah satunya adalah kakak angkat mamaku yaitu, paman Thomas."


Alina menatap tak percaya akan perkataan Rico.


"Wow, kenapa bisa kebetulan sekali," ucap Alina menanggapi cerita Rico.


"Nggak ada yang kebetulan, Al. Semua sudah menjadi takdir dari yang di atas."


Alina tersenyum mendengar perkataan Rico. Ya, memang tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semuanya sudah menjadi rencana Tuhan, mulai dari dia yang hidup sendiri di Oxford, lalu bertemu dengan Andi, hingga kini dipertemukan dengan Rico juga.


Dia tidak menyangka jika rencana awal yang hanya untuk membawa orang tuanya kembali ke kota ini dengan berkuliah di sini, membuatnya berada dalam suatu keadaan yang tidak di sangka ini. Semua ini memang jauh dari rencana Alina, namun begitulah Tuhan menciptakan sebuah rencana yang begitu indah untuk semua hambanya yang dia cintai. 


"Oh ya Sayang, gimana kalau kita adakan pertemuan untuk dua orang tua kita, tapi jangan beritahu mereka. Kita rahasiakan dan memberikan kejutan untuk mereka, apalagi 'kan orang tua kamu belum tahu kalau orang tuaku adalah teman mereka," usul Rico kemudian.


"Boleh. Nanti aku cari waktu kosong ya, soalnya bang Fian masih sibuk ngurusin perusahaan. Sebentar lagi akan ada acara untuk ZW Corps."


...*...


Saat itu mereka melewati sebuah taman yang berada di samping danau. Rico pun berinisiatif untuk menepikan mobilnya dan mengajak Alina duduk menikmati angin sore di samping danau tersebut. Begitu turun dari mobil, mereka langsung mencari tempat terbaik untuk menjadi tempat bersantai sebelum memutuskan untuk pulang.


Pandangan lurus menatap danau sembari kedua tangan mereka yang saling bertaut satu sama lain. Sejenak mereka menikmati udara sore tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sampai akhirnya seorang gadis kecil penjual tisu mendatangi mereka dan membuyarkan lamunan mereka.


"Tisunya, Om," ucap gadis kecil itu menawarkan.


Saat itu Rico hendak menolak karena saat itu mereka memang sedang tidak membutuhkan tisu tersebut, namun sebelum Rico menolak dagangan gadis kecil itu, ternyata Alina lebih dulu mengiyakan tawarannya untuk membeli beberapa tisu darinya.


"Untuk apa, Al? Tisu 'kan ada di mobil," ucap Riko kepada Alina.


"Nggak papa, Sayang. Kasihan anak kecil itu, sudah sore masih harus mencari uang."


Mendengar perkataan Alina yang begitu tulus, membuat Rico tersenyum senang. Dia tidak tahu bagaimana lagi cara mengungkapkan pujian untuk wanitanya itu karena Alina begitu sempurna dengan semua kebaikan hatinya kepada siapapun.


"Adik kecil, boleh tolong belikan Om minuman di sana?" tunjuk Rico kepada penjual minuman yang tak jauh dari mereka duduk.


"Boleh, Om."


Setelah gadis kecil itu mengiyakan, Rico pun segera memberikan uang senilai dua puluh ribu kepadanya. Tak lama dari itu gadis kecil itu kembali menghampiri Rico dan Alina dengan dua botol minuman berwarna merah jambu dan coklat dan memberikannya kepada Rico.


"Terima kasih, ucap Rico. Kemudian dia memberikan selembar uang seratus ribu untuk gadis kecil itu.


Gadis kecil itu terlihat bingung melihat uang yang bernilai cukup besar itu. Dia sempat menolak karena merasa tidak pantas mendapatkan uang sebanyak itu, namun Rico dan Alina yang memaksa membuatnya dengan terharu menerima uang satu lembar tersebut.


"Terima kasih, Om, Tante. Semoga kalian masuk surga."


Rico dan Alina terkekeh mendengar doa gadis kecil itu, kemudian mereka mengaminkannya sebelum gadis kecil itu pergi dari sana.


Saat itu Rico hendak membantu Alina membukakan buat tutup dari botol minumannya, namun allina dengan sigap menarik botol tersebut yang hendak diraih Rico.


"Kamu ngejek aku ya, buat buka tutup botol saja nggak bisa," ucap Alina.


"Bukan ngejek, Sayang. Aku cuma berusaha untuk menjadi pria yang sweet aja, biar kayak orang-orang gitu loh."


Mendengar itu, Alina terkekeh dibuatnya.


"Dasar norak," gumamnya dalam hati.