
"Sayang, kenapa dengan rumah itu? Kamu terlihat ragu sepertinya," ucap Rico.
Saat ini mereka berada di dalam mobil. Rico belum menjalankan mobilnya karena dia sangat penasaran kanapa Alina terlihat ragu dengan rumah itu, padahal dia menyukainya.
"Entahlah, aku merasa aneh saja dengan suasana di sana. Apa rumah ini bekas pembunuhan atau semacamnya?" tanya Alina kemudian.
Rico pun yang ditanya seperti itu lantas tertawa geli. Ada apa dengan pacarnya, kenapa Alina berpikir demikian? Aneh sekali, pikirnya.
"Aku nggak tahu. Kamu kenapa berpikir seperti itu?"
"Aku hanya merasa nggak nyaman saja, padahal aku suka dengan keunikan desain rumah itu."
"Baiklah. Daripada kamu ragu, lebih baik kita mencari rumah lain saja. Atau kamu mau rumah kemarin saja, opsi terakhir kita?"
Alina menatap cukup lama kepada Rico.
"Kita cari lagi saja. H-7 baru putusan apakah harus memilih rumah itu atau dengan pilihan baru."
Rico menghela nafasnya, kemudian dia tersenyum tipis. Baiklah, lebih baik begitu dari pada membuat Alina tidak nyaman dengan pilihan yang tergesa. Jika pun mereka belum memiliki rumah untuk ditempati, mereka bisa tinggal bersama Santi dan Irfan terlebih dahulu untuk sementarawaktu. Orang tua Rico pasti tidak akan keberatan akan hal itu karena Rico yakin jika Santi akan sangat senang jika dia tinggal dengannya.
Kini Rico menyalakan mesin mobilnya, memutar kemudi menuju kediaman Alina yang hanya berselang beberapa komplek dari sana.
Dia harus mengantar Alina ke rumahnya karena mereka harus menjemput Zara untuk menemani mereka fitting baju pengantin.
Setiba di kediaman Alina, mereka masuk ke dalam rumah. Alina membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum mereka pergi. Tubuhnya yang sedikit berkeringat membuatnya tak nyaman dan mengharuskannya untuk segera mandi dan berganti pakaian.
*
Dua jam kemudian, kini mereka telah tiba di sebuah rumah pengantin yang menyediakan berbagai gaun pengantin serta kebutuhan pengantin lainnya. Jam temu yang terlambat tak membuat mereka kehilangan kesempatan untuk fitting karena pemilik rumah pengantin tersebut tak lain adalah teman baik Santi.
Santi juga sudah ada di sana bersama sang suami. Irfan memaksa ingin ikut bersama istrinya, padahal Santi sudah memaksa untuk pergi sendiri, namun suaminya itu sangat posesif padanya.
"Pa, apa Papa nggak sebaiknya pulang saja?" ucap Santi kepada suaminya.
"Papa akan menemani Mama sampai selesai."
"Ini akan lama, Pa. Papa pasti bosan menunggu."
"Papa bisa mengobrol dengan Rico kalau bosan. Dia nggak mungkin memilih pakaian berjam-jam, 'kan?"
Santi menghela nafasnya. Tak mau melakukan debat panjang, akhirnya dia membiarkan suaminya berada di sana.
Selagi Alina mencoba beberapa gaun yang menjadi pilihan mama serta calon mertuanya, Rico dan Irfan menunggu di ruang tunggu. Rico menemani papanya sebelum dipanggil untuk melihat gaun apa yang akan dipakai calon istrinya di acara pernikahan mereka beberapa minggu lagi nanti.
"Pa."
Irfan mengalihkan pandangannya saat putranya memanggilnya.
"Apa saat Papa menikah dulu juga seribet ini? Mengurus gedung, pakaian, dan lainnya."
Irfan tersenyum mendengar pertanyaan putranya. Dia memiringkan duduknya dan menatap lurus kepada putranya.
"Dulu bahkan pernikahan Papa lebih ribet daripada kamu yang sekarang. Mama kamu dulu lebih banyak maunya, nggak seperti Alina yang lebih santai dan apa adanya."
"Oh ya?"
Rico terlihat excited mendengar cerita papanya. Entah kenapa sekarang dia sangat penasaran bagaimana pernikahan kedua orang tuanya dulu. Apalagi mereka sudah sangat terkenal pada masanya saat itu. Pasti pernikahan kedua orang tuanya saat itu sangatlah meriah dan dihadiri dengan beribu tamu undangan yang di mana rata-rata di antara mereka adalah bisnis terkenal.
"Sebenarnya Mama kamu bukan wanita yang ribut dengan hidupnya. Namun entah kenapa saat kita memutuskan untuk menikah, Mama kamu sangat excited sekali. Dia bahkan sampai tiga kali mengganti jasa WO karena merasa kurang tertarik dengan pelayanan dan ide desain WO tersebut. Papa juga sangat pusing karena harus menemani Mama kamu hampir 10 kali bolak-balik untuk fitting pakaian."
"Sepuluh kali?" Ngapain saja 10 kali fitting pakaian?" tanya Rico penasaran.
"Kita melakukan dua kali acara, yang pertama di kota ini dan yang kedua di kota nenek kamu berada Bali. Setiap harinya memiliki tiga acara berbeda, yang di mana kita harus mengganti pakaian sebanyak 3 kali dalam satu hari. Benar-benar memusingkan karena mama kamu ingin melaksanakan dengan adat budayanya, sementara nenek kamu ingin semuanya serba internasional. Papa nggak ngerti kenapa mereka mau melakukan acara sebanyak itu, tapi Papa nggak bisa apa-apa dan hanya bisa menuruti kemauan Mama kamu, wanita yang Papa cintai. Melihatnya bahagia dengan pernikahannya, Papa pun turut bahagia meskipun harus berlelah-lelah dengan prosesnya."
"Apa kamu merasa repot dengan pernikahanmu, Bang?" tanya Irfan kepada putranya.
"Tadinya begitu, tapi setelah mendengar cerita dari Papa, sepertinya nggak juga."
Mereka tertawa geli mendengar itu. Tak lama dari itu tawa mereka terhenti tatkala Santi keluar dari sebuah ruangan dan menghampiri mereka.
"Rico, kamu bisa masuk sekarang, Sayang."
"Apa aku juga boleh masuk?" tanya Irfan kepada Santi.
"Kamu di sini saja."
"Kenapa? Aku 'kan calon Papa Alina, Rico juga anakku, kenapa aku nggak boleh masuk?" tanya Irfan.
"Hanya calon suami dan wanita yang boleh masuk ke dalam, kamu bukan termasuk salah satu diantaranya, jadi tunggu saja di sini oke," ucap Santi.
Kemudian dia berbalik dan masuk ke dalam ruangan setelah Rico lebih dulu masuk ke sana.
Irfan hanya bisa menghela nafasnya. Sepertinya dia sudah salah menolak perkataan Santi tentang dirinya yang seharusnya pulang. Tapi mau bagaimana lagi, daripada dia pulang di tengah waktu menunggunya, lebih baik dia sabar menunggu sampai beberapa menit ke depan.
Di dalam sebuah ruangan, Rico terlihat terpukau melihat Alina yang keluar dari ruang ganti dengan sebuah gaun yang sangat mewah di tubuhnya. Tubuh Alina yang ideal dan kecantikannya yang natural membuat pakaian yang dikenakannya terasa tampak hidup.
Alina yang menggunakan pakaian itu, terlihat bak seorang bidadari yang menghipnotis pandangannya. Rico bahkan hampir tak bisa berkedip menatap calon istrinya itu dibalik gaun mewah tersebut. Tak perlu menunggu Alina untuk berdandan, wajahnya yang pucat setelah dibersihkan dari make up itu sudah cukup membuatnya terpukau akan penampilannya saat ini.
"Baiklah, sepertinya gaun ini cocok untuk Alina. Kita pilih yang ini saja, Ma," ucap Rico kepada Santi dan Zara.
"Masih ada dua gaun lagi, Bang. Setelah itu baru kalian putuskan mau yang mana."
Rico yang tadinya tersenyum terpukau menatap penampilannya Alina kini dibuat terkejut dengan perkataan mamanya. Dua gaun lagi? Sudah hampir setengah jam dia menunggu, Alina baru memakai satu gaun dan mamanya kini meminta Alina untuk mencoba dua gaun lagi? Yang benar saja, pikirnya.