
Keesokan malam, Alfian berkunjung ke kediaman adiknya. Dia hendak menanyakan alasan Alina yang tidak memberitahunya perihal rencana liburan mereka. Dia perlu tahu itu karena di sini dia yang bertanggung jawab atas semua yang dilakukan adiknya itu. Jangan sampai orang tua mereka menyalahkannya karena terjadi sesuatu kepada Alina dan dia tidak mengetahuinya.
Setiba di apartemen, Alina mengajak abangnya untuk makan malam bersama. Dan tanpa berniat mengundur waktu karena takut lupa, Alfian segera menanyakan kepada adiknya itu mengenai planning liburannya.
"Al, kata Rena kemarin, minggu depan kalian mau liburan ya?"
Alina cukup terkejut mendengar pertanyaan dari abangnya. Alina seketika menghentikan gerakan mulutnya yang sedang mengunyah, lalu dia menatap ke arah Alfian dengan wajah takut.
"Em, maaf, Bang, Alina lupa memberitahu Abang," jawab Alina sembari menundukkan kepalanya. Seketika dia merasa bersalah karena tak lagi meminta izin kepada abangnya untuk pergi berlibur bersama Rico dan dua teman lainnya.
Alfian menghela nafasnya. "Kalian hanya pergi berempat saja?" tanya Alfian lagi.
"Iya, Bang. Em, apa Alina boleh pergi?" tanya Alina kemudian. Walaupun sudah mengiyakan ajakan Rico, tapi saat ini dia harus meminta izin lagi kepada abangnya.
Alfian meletakkan alat makannya di atas piring. Dia menatap ke arah Alina dengan raut muka yang terlihat seperti sedang ingin menasehati.
"Abang nggak akan pernah melarang kamu untuk pergi, Al. Tapi tolong ya, kalau mau pergi, beritahu Abang terlebih dahulu. Di sini Abang yang bertanggung jawab atas diri kamu. Jika terjadi sesuatu dengan kamu di sana dan Abang nggak tahu, bagaimana? Bukan hanya mama dan papa yang akan menyalahkan Abang, tapi mereka juga pasti akan sangat sedih dan Abang pun akan sangat merasa bersalah."
Alina hanya bisa diam dengan kata maaf yang sesekali keluar dari mulutnya. Dia tidak bermaksud menyembunyikan hal ini dari abangnya, tapi dia benar-benar lupa.
"Ya sudahlah, lain kali jangan diulangi ya. Ayo kita lanjutkan kembali makannya," ucap Alfian kemudian. Dia jadi tidak tega melihat adiknya itu tertunduk merasa bersalah seperti itu.
...**...
Di kediaman Renaldi…
Malam itu Irfan tengah menjamu teman lama sekaligus rekan kerjanya dengan melakukan makan malam bersama di rumahnya. Pria yang bernama Darius Antonio itu mengajak sang putri dalam makan malamnya karena hanya Calista yang dia punya saat ini, sementara istrinya telah meninggalkan dirinya bersama pria lain saat Calista masih berusia sepuluh tahun.
Ya, Darius adalah ayah dari Calista. Mantan pacar Rico yang kini sering ditemuinya di kantor. Kerjasama antar perusahaan mereka membuat Rico mau tak mau harus berjumpa dengan Calista di suatu momen tertentu.
Mengetahui jika Calista akan berkunjung ke rumahnya, Rico pun terpaksa berbohong kepada kedua orang tuanya. Dia mengatakan jika sudah memiliki janji dengan Andi dan tidak bisa ditunda. Untungnya saat itu Irfan dan Santi percaya dengan perkataannya dan mereka langsung mengizinkan Rico untuk pergi.
Calista yang saat itu tidak melihat keberadaan Rico lantas memberanikan diri untuk bertanya kepada Irfan dan Santi.
"Paman, Bibi, kemana Rico? Kenapa dia nggak ikut makan malam?"
"Rico sedang ada janji dengan temannya, Cal," jawab Santi.
Calista menganggukkan kepalanya mengerti. Dia tak bertanya lagi ataupun melanjutkan obrolan mengenai Rico karena takut jika kedua orang tua Rico berpikir macam-macam tentang dirinya. Mereka berdua memang mengetahui jika dia dan Rico pernah ada hubungan dulu dan Calista tak ingin jika mereka mengira dia masih memiliki perasaan dengan Rico dengan membahas pria itu lebih jauh.
Walaupun pria itu saat ini dikenal sebagai anak dari keluarga Renaldi, tapi semua itu hanyalah status sementara baginya. Tidak adanya ikatan darah membuat Calista dengan yakin jika Rico tidak akan mendapatkan sepeserpun harta dari orang tua angkatnya itu. Seandainya saja Rico anak kandung Irfan Renaldi, maka Calista tidak akan menyia-nyiakan pria itu sedikitpun.
Cukup lama acara makan malam itu berlangsung dengan obrolan panjang serta canda tawa antara Darius dan Irfan. Kini Darius berpamitan untuk pulang kepada temannya itu.
Saat Irfan dan istrinya mengantar kedua tamunya itu ke depan, bersamaan juga saat itu sebuah mobil yang dikendarai Rico masuk ke dalam halaman rumah mereka. Rico yang melihat jika tamu orang tuanya baru saja hendak pulang, langsung mendecakkan lidahnya. Padahal dia sengaja menghindar dari acara makan malam ini agar tak bertemu dengan mantan pacaranya itu, namun kenapa semesta masih mempertemukannya. Seharusnya dia kembali setengah jam kemudian saja, pikirnya. Namun karena tak mungkin tetap di dalam mobil sampai tamu itu pergi, jadi Rico langsung saja keluar dari mobilnya.
Saat pria itu keluar dari mobil, Calista menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Antara tertarik akan ketampanannya dan juga kesal akan statusnya, semua itu menjadi satu di hati Calista. Sampai Rico tiba di hadapan mereka, Calista masih tak mengalihkan pandangannya dari Rico. Membuat Rico merasa tak nyaman ditatap oleh wanita itu dengan sangat intens.
"Sudah pulang, Bang?" tanya Santai kepada sang putra.
"Sudah, Ma. Selamat malam, Paman," sapa Rico kemudian kepada Darius.
Rico mengajak Darius untuk berjabat tangan, namun dibalas Darius dengan sebuah pelukan singkat.
"Kenapa nggak ikut makan malam bersama, Co?" tanya Darius. Meski sudah tahu jawabannya, namun dia hanya berusaha untuk ramah saja dengan berbasa-basi.
"Maaf, Paman, Rico sudah ada janji dengan Andi."
"Lain kali kita makan bersama ya, Co. Kamu dan Alina 'kan dulu pernah dekat. Paman ingin kalian kembali dekat seperti dulu," ucap Darius kemudian.
Irfan dan Santi yang mendengar perkataan Darius hanya bisa saling pandang dengan wajah yang terlihat serba salah. Untuk Calista, dia tidak memberi respon apapun terhadap perkataan ayahnya karena fokusnya masih pada wajah tampan Rico.
Sementara Rico sendiri, dia rasanya tidak nyaman dengan perkataan Darius. Namun dia berusaha untuk bersikap tenang dengan mengiyakan perkataan pria paruh baya itu karena tak ingin membuat suasana menjadi canggung. Apalagi Darius tidak tahu jika dirinya saat ini sudah memiliki pacar. Mungkin setelah dia berhasil melamar Alina nanti, dia harus lebih banyak mengajak Alina ikut dalam beberapa pertemuan agar orang-orang yang termasuk Darius tahu jika dirinya sudah memiliki kekasih.
Setelah itu mata Rico tertuju kepada Calista. Karena tak ingin membuat malu keluarganya dengan mengabaikan wanita itu, terpaksa Rico menegur Calista dengan senyuman singkatnya. Senyuman yang benar-benar sangat singkat dan justru terlihat datar pada sorot matanya.
***
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰
.
.