Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
120. Sifat Aneh Rico


Pagi hari di kediaman Renaldi, seperti biasa sarapan bersama akan dilakukan bersama anak dan menantunya jika mereka tak menginap di kediaman Wilson. Meski Alina sudah tak mengalami gejala aneh lagi pada kehamilannya, namun Santi akan selalu excited terhadap menantunya itu. Berbeda dengan Zara yang akan terlihat lebih santai pada putrinya. Entahlah, mungkin karena Zara yang telah terbiasa menghadapi situasi seperti ini, sehingga membuatnya lebih santai dalam bertindak.


"Sayang, kapan kita bisa mengetahui gender anak kalian?" tanya Santi kepada menantunya di sela makan mereka.


Alina menatap ke arah ibu mertuanya itu, kemudian diikuti Rico dan Irfan setelahnya. 


"Ma, kamu hampir setiap minggu loh menanyakan hal ini pada Alina. Sabar dulu dong, nanti jika sudah waktunya kita pasti akan mengetahui gender cucu kita," ucap Irfan kepada istrinya itu.


Memang hampir setiap minggu Santi selalu menanyakan tentang hal ini kepada Alina maupun Rico. dia benar-benar sudah tidak sabar ingin mengetahui gender cucu pertamanya itu. 


"Memangnya kenapa sih, Pa? Mama 'kan penasaran, sudah nggak sabar nih mau menyambut kelahiran cucu pertama kita," ucap Santi. Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah Alina.


"Em, akhir bulan nanti Alina ada janji USG dengan dokter Siska, Ma. Mungkin kita bisa menanyakannya saat itu," ucap Alina yang memberi harapan kepada ibu mertuanya itu.


Santi pun yang mendengar jawaban dari menantunya itu lantas tersenyum senang. Setelah enam bulan lamanya, akhirnya sebentar lagi dia akan mengetahui gender cucunya itu. Baiklah, menunggu enam bulan saja dia bisa sesabar ini, jadi tak masalah jika harus menunggu sampai akhir bulan. 


"Mama mau cucu laki-laki atau perempuan?" tanya Rico kepada mamanya itu.


Santi menatap atas, seolah berpikir, kemudiam dia menatap ke atau suaminya.


"Papa maunya laki-laki atau perempuan?" tanyanya kemudian.


"Kalau Papa mah apapun yang dikasih sama Allah pasti menerimanya, yang penting Alina dan bayinya sehat."


Santi menganggukan kepalanya. Benar juga, yang penting bayi dan ibunya sehat hingga persalinan selesai. 


"Mama juga sependapat dengan Papa kamu. Laki-laki atau perempuan, yang penting Alina dan cucu Mama lahir dengan selamat," ucap Santi dengan tersenyum, membuat Alina dan Rico pun ikut tersenyum.


Alina senang mendengarnya, setidaknya kedua orang tuanya itu tidak akan menuntut mereka untuk melahirkan seorang anak dengan gender yang mereka inginkan. Dan dengan begitu, tidak akan ada beban yang harus mereka pikirkan karena mereka juga sebenarnya tidak masalah jika yang akan diberikan oleh Allah nanti seorang anak laki-laki ataupun perempuan.


**


Keesokan harinya, sejak pagi Rico terlihat sibuk dengan dokumen yang akan dia gunakan untuk meeting bersama klien penting hari ini. Wajah pria itu terlihat sangat serius, bahkan dia sampai tak sempat untuk melakukan kegiatan rutinnya saat berpamitan kepada istrinya karena saking terburu-burunya. 


Alina sedikit bersedih karena Rico melupakan kegiatan rutinnya yang selalu mengecup keningnya sebelum pergi dan berbicara dengan anaknya yang ada di perutnya. Namun karena tak ingin menambah beban pikiran, Alina pun memilih untuk berpikir positif tentang suaminya yang sedang sangat sibuk itu. Dia pikir Rico memang terlupa karena saking nervous untuk menghadapi klien di meeting besar hari ini. 


Seperginya Rico, Alina segera melakukan pekerjaannya yang kini telah tersedia di atas meja kerjanya. Agar tak terlalu memikirkan kejadian pagi ini, Alina memilih untuk memfokuskan pikirannya kepada pekerjaannya. 


Hingga jam makan siang tiba pun, Alina tak sadar jika dia sudah setengah hari di dalam ruangan itu. Bahkan saking fokusnya dengan pekerjaannya, Alina juga sampai terlupa jika hari ini suaminya belum juga menghubunginya sama sekali. 


Setelah Rico tiba di kantor, biasanya pria itu akan selalu menelponnya ataupun melakukan panggilan video saat mereka sedang bekerja. Namun hari ini suaminya itu tak ada sekalipun menghubunginya, meskipun hanya sekedar memberi kabar. Alina tak ingin membesarkan apa yang saat ini tengah dia pikirkan, namun pikirannya yang tak bisa diajak bekerjasama menuntunnya untuk memikirkan keanehan pada suaminya itu yang membuatnya seketika menjadi bersedih. 


Alina menatap layar ponselnya yang menyala. Dia melihat beberapa pesan masuk dari grup chat, rekan kerja, dan juga beberapa nomor tak dikenal.


Alina menghela nafasnya panjang saat sudah hampir 5 menit menatap layar ponselnya, namun tak juga mendapati pesan ataupun panggilan dari suami tercintanya itu. 


"Mas Rico ke mana sih? Sudah jam makan siang kenapa dia belum juga menghubungi aku. Apa meetingnya belum selesai juga?" gumam Alina.


"Tapi walaupun belum selesai, setidaknya 'kan tadi pagi dia bisa memberi aku kabar kalau sudah tiba di kantor. Tapi kenapa sampai sekarang dia nggak ada menghubungiku sama sekali?" Alina kembali menghela nafasnya. 


"Sebenarnya mas Rico ke mana sih," ucapnya lagi dengan kesal.


Dia meletakkan ponselnya secara kasar di atas meja, kemudian melempar tubuhnya pada punggung kursi. Alina melihat pada perut buncitnya dan mengelusnya dengan lembut.


"Papa kamu ke mana sih, Sayang? Kenapa dia nggak ada kabar sama sekali sejak tadi pagi," ucapan Alina kepada anak yang berada di dalam perutnya itu. 


Saat sedang melamun, tiba-tiba dering panggilan suara dari ponselnya membuat Alina terkejut dan membuatnya dengan segera meraih ponselnya yang ada di atas meja. Dia terlihat bersemangat untuk menjawab panggilan itu, namun saat melihat yang menelponnya adalah Rena, Alina pun melemaskan bahunya sembari menghela nafas kecil. Dia pikir Rico yang menghubunginya saat itu, namun ternyata bukan. Alina segera menjawab panggilan dari temannya itu, dia berdehem sejenak untuk menormalkan emosinya agar suaranya tak terdengar kesal. 


"Halo, Ren," sapa Alina lebih dulu.


"Halo, Al. Al, kamu lagi di mana?" tanya Rena. 


"Di kantor, kenapa?"


"Makan siang bareng yuk. Kamu lagi sama Rico nggak?" tanya Rena lagi.


Mendengar nama suaminya disebut, Alina pun kembali menghela nafas untuk kesekian kalinya. Hembusan nafasnya itu ternyata berhasil membuat Rena mengernyitkan keningnya dengan heran.


"Kamu kenapa, Al?" tanya Rena sebelum Alina menjawab.


"Aku lagi sendiri, ke sini saja kalau mau makan bareng. AKU nggak mungkin keluar tanpa izin masa Rico. Kamu lagi sama Andi?" tanya Alina kemudian yang mengalihkan pertanyaan Rena.


"Nggak. Andi lagi meeting, makanya aku nelpon kamu untuk ngajakin lunch bareng."


"Ya sudah ke sini saja, aku tunggu di kantor."


Setelah Rena mengiyakan, mereka pun segera menutup panggilannya. Alina memutar tubuhnya menghadap jendela, dia menatap kosong pada pemandangan di luar sembari bertanya-tanya akan keberadaan dan aktivitas apa yang sedang dilakukan suaminya saat ini.


sebuah ketukan pintu dari luar saat itu membuat Alina tersadar dari lamunannya dan berbalik menatap ke arah pintu Setelah dia bersuara, pintu pun terbuka dan muncullah Morgan dari sana.


"Al, kamu nggak makan siang? Rico mana?" tanya Abangnya itu sembari berjalan menghampirinya.


"Aku lagi nunggu Rena. Dia lagi dalam perjalanan ke sini untuk lunch bareng," jawab Alina tanpa merubah posisinya.


Dia sangat malas bergerak karena moodnya yang sedang tidak baik-baik saja. 


"Kamu kenapa?" tanya Morgan saat melihat adiknya itu yang tidak bersemangat.


Ini bukan Alina yang dia kenal. Meskipun Alina bukan seorang wanita yang pecicilan, namun adiknya itu tidak pernah terlihat selemah ini meski sedang sakit sekalipun. 


"Kamu sakit ya, Al?" tanya Morgan lagi. 


"Nggak kok. Aku nggak sakit, aku hanya lagi bad mood saja," ucap Alina dengan tersenyum hambar. 


Seolah mengerti apa yang dimaksud oleh adiknya itu, Morgan pun mengiyakannya saja. Benar-benar respon yang sangat menyebalkan untuk seorang abang.


"Mau makan bareng Abang nggak? tanyanya menawarkan.


"Boleh, tapi tunggu Rena dulu ya. Dia lagi dalam perjalanan ke sini."


"Ya sudah, kalau begitu Abang tinggal ke ruangan dulu ya. Nanti kalau teman kamu sudah datang telepon saja."


Alina mengiyakan dan setelah itu Morgan pun pergi dari ruangannya.


**


"Al, kamu kenapa kayak nggak bersemangat gitu hari ini? Ada apa?" tanya Rena yang sejak tadi sangat penasaran melihat temannya itu yang sangat tidak bersemangat.


Sama seperti yang Morgan pikirkan, Alina memang bukan wanita yang aktif seperti dirinya, tapi yang dia tahu Alina juga tidak pernah sediam ini sebelumnya. Dia curiga jika ada sesuatu yang membuat temannya itu kehilangan mood-nya siang ini, namun entah apa yang membuat temannya itu kehilangan moodnya, Rena harus mencari tahu karena dia sangat penasaran akan hal itu.


"Nggak papa. Aku lagi nggak mood saja," ucap Alina dengan tersenyum tipis. 


"Aku tahu kamu lagi nggak mood, tapi kenapa? Apa alasannya?"


Morgan yang duduk di seberangan kedua wanita itu hanya sesekali melirik pada mereka sembari menikmati hidangannya. Seolah tak berniat untuk menimpali perkataan kedua wanita itu, dia hanya menjadi pendengar di antaranya. 


"Nggak papa, Ren. Aku cuma lelah saja, kayaknya kecapean deh," ucap Alina beralasan. 


Rena tahu jika bukan itu alasan mood Alina menjadi seperti ini, karena dia sangat tahu jika wanita itu bukan tipikal seseorang yang mudah menyerah hanya karena rasa lelah. Pasti ada sesuatu yang mengganjal pada temannya satu itu, namun dia tak tahu apa. Saat melihat Morgan yang sesekali menatap ke arah mereka, Rena berpikir jika Alina tidak akan terbuka kepadanya jika masih ada pria itu di sana. Dan saat Morgan berpamitan untuk pergi lebih dulu ke ruangannya, Rena pun kembali melempar pertanyaan serupa kepada temannya itu karena rasa penasarannya saat ini benar-benar harus segera dituntaskan


"Al, kamu jujur sama aku, ada apa? Kamu nggak biasanya loh kayak gini, aku jadi takut kamu kenapa-napa, Al." 


Alina yang awalnya masih tak mau angkat bicara, namun Rena terus memaksanya akhirnya wanita itu pun luluh juga. Alina menghela nafasnya setelah meneguk jus buah miliknya.


"Aku kesal dengan Rico, Ren." 


"Kenapa dengan Rico?' tanya Rena.


" Aku nggak tahu, hari ini dia aneh banget tau gak."


"Aneh? Aneh kenapa?" tanyanya lagi yang tidak sabarnya. 


"Gimana ya … sejak tadi pagi wajah Rico terlihat serius sekali, nggak ada ramah-ramahnya denganku. Dalam perjalanan menuju kantor saja dia seperti nggak berniat untuk menanggapi perkataanku. Setelah mengantar aku sampai ruanganku, dia pergi begitu saja tanpa menciumku atau mengelus perutku. Dia juga nggak ngabarin aku kalau sudah tiba di kantor, bahkan sampai sekarang aku nggak tahu kabar dia gimana. Bahkan panggilan aku saja nggak di jawabnya, pesanku juga nggak dibacanya sampai sekarang. Dia sudah kaya orang yang tinggal di pedalaman, susah banget untuk dihubungi. Aku bahkan nggak tahu dia saat ini masih hidup atau enggak," ucap Alina panjang lebar dan diakhiri dengan candaan. 


"Mungkin dia lagi sibuk kali, Al. Kamu bilang 'kan, sejak pagi dia terlihat serius, mungkin memang sedang ada pekerjaan yang cukup serius yang harus dia kerjakan hari ini.,


"Iya sih, memang hari ini dia ada meeting dengan klien penting di kantornya. Ya … aku nggak tahu sepenting apa klien itu baginya, tapi apa harus sampai ngabari aku sama sekali? Meski hanya sebuah pesan singkat jika dirinya telah tiba di kantor."


Mendengar cerita temannya itu, Rena tak langsung memberi tanggapan kepada Alina. Dia terdiam dan berpikir tentang alasan Rico mengabaikan istrinya begitu saja. Apakah pria itu memang sedang ada urusan yang sangat penting sampai melupakan keluarganya? Jika benar seperti itu, mungkin bisa dimaklumi, tapi … apakah harus bersikap cuek terhadap istrinya juga? Jika dia berada di posisi Alina saat ini, sepertinya dia akan marah besar kepada Andi.


Kini Rena pun jadi ikut memikirkan tentang hal itu. Dia sangat penasaran kenapa Rico bisa secuek ini, apalagi suaminya pernah berkata jika Rico adalah tipe pria yang sangat family man. Meskipun diluar terlihat cuek dengan sekitarnya, tapi untuk keluarga Rico selalu akan menomorsatukannya. 


"Ren, kenapa kamu diam saja?" tanya Alina sembari menyentuh bahu temannya itu yang sedang melamun.


"Gimana ya, Al, aku juga bingung. Yang aku tahu dari Andi, Rico itu family man banget. Nggak mungkin dia mengabaikan keluarganya begitu saja hanya karena pekerjaan, apalagi terhadap istrinya yang sangat dia cintai. Aku jadi bingung dengan sikap Rico hari ini yang benar-benar aneh," serunya. 


Kedua wanita itu kini kembali terdiam dengan pikirannya masing-masing. Namun tak sampai dua menit, tiba-tiba Rena bereaksi dengan spontan sehingga membuat Alina terkejut bukan main. 


"Astaga, kamu kenapa sih, Ren, ngagetin saja," ucap Alina.


"Al, ini tanggal berapa?" tanya Rena dengan hebohnya.


"Tanggal? Ini ... sebentar, aku lihat kalender dulu." Alina membuka ponselnya untuk melihat tanggalan pada kalender yang ada di dalam sana. Saat menyadari tanggal dan bulan pada hari ini, Alina pun seketika terdiam. Dia menatap Rena dengan tatapan sedihnya, sehingga membuat Rena heran.


"Kenapa, Al?" tanya Rena. Padahal dia sudah sangat excited memikirkan jika hari ini adalah ulang tahun Alika dan mengira jika Rico sengaja cuek kepada istrinya karena ingin memberi kejutan, namun dari reaksi Alina yang seperti itu, sepertinya dia salah. 


"Ren, ternyata ini adalah hari ulang tahunku, tapi kenapa Rico nggak kasih ucapan selamat ya? Apa dia nggak mengingatnya?"


Dan benar saja dugaan Rena jika ini adalah hari ulang tahun Alina. Dia pikir tebakannya salah, ternyata benar. Ternyata Rico sengaja bersikap seperti itu untuk mengusili istrinya yang sedang berulang tahun untuk memberikan kejutan padanya. Rena sangat tahu trik lama ini, karena Andi sering melakukannya saat mereka berpacaran dulu. Pantas saja sikap Rico sangat aneh sekali hari ini. 


"Al, kamu beneran ulang tahun hari ini?" tanya Rena meyakinkan.


"Ya, tapi untuk apa aku berulang tahun, sementara suamiku sendiri saja nggak ingat dengan tanggal lahirku."


"Astaga Alina, kenapa kamu bodoh sekali sih."


Alina mengernyitkan keningnya dengan heran.


"Maksud kamu apa?"


"Kamu hari ini ulang tahun, 'kan?" Alina mengangguk. "Nah, aku yakin Rico sengaja nggak menghubungi kamu karena ingin memberi kejutan untuk kamu nanti?"


"Kejutan?" Alina yang masih belum paham maksud temannya itu lantas membuat Rena menepuk keningnya dengan kesal.


"Gini, sebenarnya Rico tuh sengaja bersikap cuek sama kamu agar kamu bersedih. Dan saat sore atau malam hari nanti, dia akan memberikan kamu kejutan sehingga membuat kamu terharu. Dulu Andi sering sekali memberi aku kejutan dengan trik seperti itu, bahkan aku sampai hafal kalau dia mendiamkanku di hari ulang tahunku, pasti dia akan memberikan kejutan. Nah mungkin saja Rico juga seperti itu. Dia sengaja nggak menghubungi kamu karena ingin memberi kejutan untuk kamu nantinya."


Alina terdiam memikirkan perkataan Rena yang panjang lebar itu. Apakah temannya itu benar? Namun setelah dipikir-pikir, ada benarnya juga apa yang dikatakan Rena. Selama ini Rico tak pernah bersikap seperti ini, dan kebetulan ini adalah hari ulang tahunnya. Bisa jadi suaminya itu diberi saran trik oleh Andi dan mencontohkannya langsung padanya.


"Tapi, kalau dia benar-benar mau memberiku kejutan, kenapa harus dengan cara seperti ini sih?" ucap Alina dengan heran. 


"Entahlah. Mungkin dia mengikuti cara Andi,  karena cara seperti ini selalu berhasil membuat aku terharu."


Alina yang tadinya bersedih akan bersifat suaminya yang berbeda, kini berubah menjadi kesal. Dia benar-benar kesal karena suaminya itu ternyata sengaja mendiamkannya sejak tadi pagi.


"Awas aja, nanti akan aku balas kamu," gumam Alina pelan, namun berhasil didengar oleh Rena yang berada di sampingnya.


"Gimana kalau kita kerjain Rico balik?"


Perkataan Rena saat itu membuat Alina menoleh ke arahnya.


"Kerjain balik? Gimana caranya?" tanya Alina.


"Kamu tetap berpura-pura nggak tahu saja dengan rencana dia ini. Saat kamu bertemu dengan Rico nanti, kamu harus mengikuti akting dia yang berpura-pura cuek."


"Maksud kamu, aku harus cuek juga dengannya?"


"Iya, biar dia stres tuh. Aku yakin dia pasti merasa bersalah karena telah mendiamkan kamu sejak pagi."


"Oke, terus?" tanya Alina yang kini mulai penasaran dengan rencana selanjutnya temannya itu.


"Kalau memang benar Rico mau memberikan kejutan sama kamu, saat kejutan itu kamu dapatkan, kamu harus bereaksi sedatar mungkin. Nggak boleh bereaksi dengan mengeluarkan air matahari ataupun tersenyum senang. Pokoknya kamu harus berakting bahwa kamu nggak suka dengan kejutan itu."


Rena terus memberitahu rencananya itu kepada Alina. Rencana yang pernah dia lakukan kepada Andi di surprise terakhirnya dua tahun lalu. 


Alina yang setuju dengan rencana Rena lantas mengiyakannya. Sebagai bentuk kepura-puraannya, Alina kembali mengirimi pesan kepada suaminya untuk menanyakan keberadaannya. Meskipun tahu jika Rico tidak akan membalas pesannya, namun Alina tetap melakukan itu seolah dia masih belum mengetahui rencana suaminya itu.


Saking percayanya dengan Rena, Alina bahkan tak berpikir pada sisi lain dari sifat suaminya hari ini. Bagaimana jika yang membuat suaminya itu cuek padanya bukan karena hari ulang tahunnya?