
Dua hari sudah Alina dan Rico berada di Norwegia, hingga saat ini Alina masih belum puas melihat pemandangan alam yang terjadi di malam hari di sana. Setiap pukul enam sore wanita itu selalu menanti datangnya aurora untuk dia pandangi semalaman penuh. Meski hanya duduk diam dengan menatap ke arah langit, namun tak membuat Alina merasa bosan, justru dia sangat ingin melakukan hal itu berulang-ulang setiap malamnya.
Karena dua hari lagi dia sudah harus pulang, Alina terlihat menyayangkan hal itu, tapi untuk lebih lama berada di sini pun tidak mungkin karena ada kewajiban yang harus dia lakukan di kota asalnya itu. Dia harus melakukan kegiatan rutinnya yaitu, bekerja. Begitupun dengan Rico, mereka tidak mungkin meninggalkan pekerjaannya terlalu lama. Mungkin saja kedua orang tua mereka mau mengusahakan untuk menambah waktu liburannya tapi mereka tidak mau seegois itu untuk membebani seseorang dengan pekerjaannya, sementara mereka bersenang-senang di sini.
Siang itu di dalam kamar, Alina terlihat lelap sekali dalam tidurnya. Tak seperti biasanya jika setelah melakukan kewajiban suami istri Alina akan tidur sebentar lalu bangun untuk mengisi perutnya yang kosong, namun siang ini entah kenapa Alina sangat malas sekali untuk bangkit dari tidurnya.
Dia sudah terbangun sejak 1 jam lalu namun entah kenapa matanya selalu ingin tertutup dengan tubuh yang selalu menempel di atas kasur dengan selimut tebal yang menghangatkan. Rico yang mengira jika istrinya itu hanya kelelahan akibat perlakuannya lantas mendekati istrinya itu sembari mencium keningnya.
"Maaf ya kalau kamu kelelahan gara-gara aku."
Alina tak menyahuti perkataan suaminya itu dia hanya menggeliat dengan mata tertutup.
"Sayang, apa kamu benar-benar enggak mau bangun? Setidaknya kita makan siang dulu, setelah itu kamu bisa lanjut tidur lagi," ucap Rico lagi.
Sama seperti sebelumnya, Alina tak menjawab perkataan suaminya itu. Dia masih dengan posisinya sambil sesekali menggeliat karena sentuhan suaminya.
"Baiklah, aku akan bawakan makanan ke sini saja ya. Kamu harus makan sedikit saja, jangan nggak makan, nanti sakit."
Tanpa menunggu respon dari istrinya, Rico pun beranjak dari duduknya untuk menelpon Louis agar membawakan makan siang mereka ke dalam kamar. Sambil menunggu makanan mereka datang, Rico kembali mendekati istrinya di atas kasur. Dia mendudukan tubuhnya di samping istrinya yang sedang berbaring sembari mengusap kepala Alina dengan penuh cinta.
Rico yang merasa istrinya itu tertidur kembali, hendak membangunkannya dan saat itu juga Rico memiliki ide untuk mengusili istrinya agar istrinya itu terbangun. Dia harus membuat istrinya itu bangun agar bisa segera mengisi perutnya yang kosong.
"Co, bisa nggak usah ganggu dulu nggak sih. Kepalaku pusing banget ini."
Mendengar ucapan istrinya yang bersuara pelan, membuat Rico seketika menghentikan keusilannya. Dia menegakkan duduknya sembari menyentuh beberapa bagian tubuh istrinya untuk mengecek suhu tubuhnya.
"Sayang, kamu kenapa? Apa kamu sakit?" tanya Rico dengan khawatir.
Sejak kemarin Alina selalu merasa pusing, namun tak lama pusingnya langsung merendah. Sudah hampir dua hari istrinya itu mengalami pusing seperti ini dan hari ini Rico benar-benar khawatir jika Alina benar-benar sakit. Namun saat dia menyentuh kening dan juga leher Alina, dia tak mendapati rasa panas seperti orang yang sedang sakit. Suhu tubuhnya terasa normal baginya.
"Sayang, aku panggil dokter saja ya," ucap Rico dengan tergesa. Tanpa menunggu sahutan dari istrinya itu, Rico segera meraih ponselnya untuk kembali menghubungi Louis dan Sasha.
Dia meminta kedua orang yang selalu membantu mereka itu untuk memanggilkan dokter agar bisa mengecek kondisi istrinya. Dia benar-benar takut jika kondisi istrinya benar-benar menurun. Membayangkannya saja Rico sudah tidak kuat, dia benar-benar tidak bisa melihat orang yang dia cintai jatuh sakit meskipun hanya sakit ringan sekalipun.
Tak lama dari itu suara ketukan pintu dari luar terdengar. Dengan cepat Rico berlari untuk membuka pintu tersebut. Saat melihat Louis dan Sasha yang datang dengan troli makanan, Rico oun segera menerimanya.
"Kapan dokternya akan datang, Louis? tanya Rico kepada Louis.
"Secepatnya Tuan. Kita sudah menghubungi dokter setempat, mungkin sekarang dia sudah di jalan."
"Baiklah kalau begitu. Nanti langsung antar ke kamar saja kalau dokternya sudah datang."
Louis mengiyakan, saat dia dan Sasha hendak pergi Rico pun kembali memanggilnya, sehingga membuat mereka menghentikan jalannya.
"Ada apa, Tuan?"
"Louis, Sasha, tolong jangan bilang apapun ke mama dan papaku kalau aku memanggil dokter ke sini. Aku nggak mau membuat mereka khawatir."
Louis dan Sasha saling tetap sejenak kemudian mereka langsung mengiyakannya. Setelah itu mereka langsung pergi dari sana dan Rico pun masuk ke dalam kamar dengan membawa troli makanan mendekati istrinya.
"Sayang, ayo makan dulu. Sebentar lagi dokter akan datang."
"Perutku mual," ucap Alina.
"Kamu harus makan, walaupun sedikit. Kondisi kamu saat ini sedang tidak baik, aku takut terjadi sesuatu sama kamu. Ayo aku bantu."
Rico membantu istrinya itu untuk duduk dan Alina pun hanya bisa pasrah dengan tubuhnya yang terasa sangat lemah itu. Entah kenapa tiba-tiba saja setelah bangun tidur tadi tubuhnya sangat lemah sekali, Padahal sebelum ini dia masih bersemangat melakukan kegiatannya bersama suaminya itu. Bahkan kini dia tak berselera untuk makan karena rasa mual yang mendera, meskipun perutnya saat ini sangat lapar sekali.
"Sedikit saja," ucap Alina saat melihat Rico mulai menyendokkan makanan yang ada di atas piring.
Rico mengiyakan dan dia langsung menyuapi istrinya itu dengan porsi yang sedikit, layaknya orang sakit. Baru satu suapan yang Alina terima, tiba-tiba saja rasa mual kembali muncul, membuatnya ingin segera memuntahkan isi perutnya.
"Kamu mau muntah? Ayo aku bantu ke kamar mandi."
Rico hendak menggendong Alina, namun ditahan oleh wanita itu.
"Nggak usah, aku minta minum saja."
Rico segera mengambilkan air minum hangat untuk istrinya itu.
"Apa masih mual?" tanya Rico.
"Mualnya datang saat makanan masuk ke dalam perut. Sepertinya sudah cukup, Sayahg," ucap Alina dengan suara lemah.
"Ayo dua suap lagi ya, Sayang. Kamu baru makan satu suap loh."
"Perutku mual, Co. Aku nggak sanggup Sayang."
"Aku tahu, tapi kamu harus tetap makan walaupun pada akhirnya nanti harus muntah. Tubuh kamu nggak boleh kosong begitu saja, kalau nggak, kamu akan benar-benar jatuh sakit loh."
Alina kembali menggelengkan kepalanya, berusaha untuk menolak karena merasa takut jika harus memasukkan kembali makanan ke dalam mulutnya.
"Sayang, please, dua suapan lagi ya, setelah itu aku nggak akan maksa kamu buat makan."
Dua detik terdiam, kemudian Alina langsung mengiyakannya dan Rico pun segera memasukkan suapan kedua kepada istrinya itu dengan porsi kecil. Alina mengunyahnya dengan cukup lama, kemudian dia telan makanan itu dengan paksa.
"Bagaimana? Apa masih mau muntah?" tanya Rico lagi dan dibalas Alina dengan gelengan kepala kepala.
"Ayo satu kali lagi."
Sebelum menerima suapan ketiganya, Alina menghela nafasnya panjang. Dia membuka mulutnya lebar-lebar dan setelah itu makanan masuk ke dalamnya. Di suapan ketiga ini rasanya sulit sekali untuk Alina menelan makanan tersebut.
Rico pun yang menyadari itu langsung memberi istrinya air hangat untuk membantu makanan masuk ke dalam mulutnya. Dan dengan bantuan air hangat tersebut, makanan itu dengan cepat berhasil ditelan oleh Alina.
"Aku ambil pakaian bersih dulu ya. Setelah itu kamu istirahat sampai dokternya datang."
Alina menganggukkan kepalanya, dia menutup matanya dengan posisi tubuh bersandar pada punggung kasur.
**
Setelah memakaikan pakaian kepada istrinya, Rico membantu Alina untuk berbaring. Dia menemani istrinya itu di sebelahnya sambil memeluknya erat.
"Maaf ya kalau sudah membuat kamu kelelahan sampai sakit begini," ucap Rico.
"Kenapa harus minta maaf,.aku sakit bukan karena kamu, tapi karena memang tubuhku yang terlalu lemah."
"Tapi kamu juga kelelahan gara-gara aku yang memaksa kamu untuk terus melakukannya."
"Sayang, kamu nggak memaksaku, tapi aku sendiri yang mau melayani kamu. Kamu itu suami aku, nggak mungkin aku menolak ajakan kamu."
"Tapi tetap saja semua salahku. Kalau saja aku nggak terlalu sering–"
Tok tok tok …!!
Suara ketukan pintu berhasil menghentikan perkataan Rico. Dia mengira jika dokter yang dipanggilnya sudah datang lantas bangkit dari posisi nyamannya.
"Sepertinya dokternya sudah datang. Aku buka pintu dulu ya, Sayang."
Alina mengangguk lemah, setelah itu Rico bergegas membuka pintu. Saat melihat Louis dan Sasha datang bersama seorang dokter, Rico langsung meminta mereka untuk masuk. Dengan perasaan cemas Rico langsung menyuruh dokter itu untuk memeriksa kondisi istrinya. Setelah 10 menit memeriksa dengan memberi beberapa pertanyaan mengenai siklus haid dan juga keluhan Alina selama beberapa hari ini.
Setelah mengetahui apa penyebab dari kondisi Alina saat ini, akhirnya dokter itu pun tersenyum kepada sepasang suami istri itu. Rico terlihat heran saat dokter itu tersenyum pada mereka. Ada apa, pikirnya.
"Tuan, sepertinya istri anda sedang mengandung."
"Apa? Hamil? Apa.maksudnya, Dok." tanya Rico yang tiba-tiba menjadi bodoh dalam waktu singkat.
Dokter itu pun kembali tersenyum.
"Ya. Untuk lebih tepatnya sebaiknya kalian segera pergi ke rumah sakit untuk pengecekan lebih lanjut."
"Ta–tapi, Dok. Bagaimana bisa? Kita baru menikah satu bulan loh. Kenapa cepat sekali?" tanya Rico dengan bingung.