Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
52. Terlambat Bangun


Drriinggg… drriinngggg…


Tubuh Rena dan Alina menggeliat saat mendengar suara alarm yang menyala. Karena merasa jika mereka baru memejamkan matanya selama beberapa menit, Rena mematikan alarm tersebut dan melanjutkan tidurnya. Begitupun dengan Alina yang tak lagi mendengar suara berisik, dia juga kembali tertidur tanpa mengingat jika pagi ini mereka harus bergegas mengejar penerbangan pagi menuju kota tempat mereka akan berlibur.


Dua jam kemudian, Alina sedikit tersadar dan kini dia menggeliat karena telinganya mendengar suara ponsel yang berdering dan juga suara bel yang berbunyi. Dia pikir semua itu hanyalah suara yang berasal dari mimpinya, namun saat merasa suara tersebut terasa nyata di pendengarannya, Alina lantas membuka sedikit matanya.


Hampir satu menit dia berdiam untuk kembali memastikan pendengarannya, sekatika Alina langsung tersadar jika suara bel dan suara dering ponsel yang kembali menyala itu benar-benar nyata. Alina seketika bangkit dari rebahannya dan meraih ponselnya yang ada di atas nakas.


Saat melihat nama Rico pada layar ponselnya, Alina sangat yakin jika yang membunyikan bel apartemennya saat ini adalah Rico dan Andi. Apalagi saat melihat jam yang sudah menunjukkan hampir pukul sembilan, membuat mata Alina terbelalak kaget. Pantas saja kedua pria itu sudah datang, karena seharusnya saat ini mereka sudah dalam perjalanan menuju bandara.


"Oh God," gumamnya sambil menelan salivanya.


Melihat Rena yang masih tertidur pulas, Alina lantas mengabaikan panggilan suara serta ketukan pintu rumahnya tersebut. Dia memilih untuk membangunkan Rena terlebih dahulu karena takut Rena susah dibangunkan.


"Rena, ayo bangun. Ini sudah hampir jam sembilan, kita sudah terlambat banget nih."


Alina memanggil Rena sembari mengguncang tubuh wanita itu. Meski memerlukan waktu lebih, namun Alina tetap berusaha membangunkan temannya itu sampai terbangun. Dan hampir lima kali memanggilnya, akhirnya Rena menggeliatkan tubuhnya.


"Apaan sih, berisik banget," gumamnya sedikit tak jelas.


"Bangunlah, ini sudah jam sembilan. Rico dan Andi sudah di depan. Cepatlah mandi, aku mau membukakan pintu untuk mereka," ucap Alina yang berhasil membuat Rena membelalakkan matanya dengan seketika.


Mendengar jika Rico dan Andi sudah ada di depan, saat itu juga Rena tersadar jika pagi ini mereka harus pergi untuk memulai liburannya.


"Mereka sudah datang? Ini jam berapa?" tanya Rena sebelum Alina pergi meninggalkan kamar.


"Jam sembilan, cepatlah mandi atau kita akan ketinggalan pesawat."


"Penerbangan kita pukul 10.45, Al, waktu kita nggak akan cukup untuk tiba di sana kalau harus mandi dulu."


"Kalau begitu kita nggak usah mandi. Bersiaplah, setelah itu kita langsung pergi," ucap Alina seolah tanpa beban. Namun Rena yang mendengar itu jelas saja tak setuju dengan usul Alina. Tidak mandi? Yang benar saja, pikirnya.


Sebelum Rena melayangkan protesnya kepada Alina, Alina sudah lebih dulu keluar dari kamar karena suara bel apartemen itu terus mengganggu pendengarannya dan panggilan suara pun kembali dilakukan oleh kedua pria itu.


...*...


Di depan sana, Rico dan Andi terlihat gelisah karena Rena dan Alina tidak ada kabar sama sekali sejak pagi. Panggilan serta pesan yang mereka kirim juga tidak ada tanggapan sama sekali dari kedua wanita itu.


"Apa mereka masih tidur?" tanya Andi kepada Rico.


"Nggak mungkin, Alina nggak pernah bangun di atas jam enam," sahut Rico dan langsung dibenarkan Andi.


Andi yang sudah lama berteman dengan Alina jelas tahu jika temannya satu itu sangatlah rajin dan tak pernah bangun tidur di atas jam enam pagi. Sama halnya dengan Rico, seringnya berkomunikasi dengan pacarnya itu membuat dia perlahan mengetahui aktifitas sehari-hari Alina. Begitupun sebaliknya.


Karena tak tahu harus mencari kemana lagi, akhirnya Rico dan Andi terus mengetuk pintu apartemen sembari menekan bel yang ada di samping pintu. Panggilan telepon pun juga mereka lakukan secara berulang, berharap salah satu dari wanita itu menjawabnya, meski sejak tadi tak ada tanggapan sama sekali.


Hampir setengah jam berdiri di depan pintu, baik Rico maupun Andi terlihat mulai kehilangan kesabaran. Mereka menghentikan usahanya dan mendudukkan tubuhnya di depan pintu sambil bersandar.


Rico menendang kaki Andi saat mendengar tebakan tak berguna temannya itu.


"Bicara yang benar, jangan mendoakan sesuatu yang buruk," ucapnya dengan tatapan penuh peringatan. Membuat Andi hanya menyengir tanpa dosa.


"Jadi gimana? Apa kita pulang saja?"


Bersamaan dengan ucapan Andi, saat itu pintu apartemen pun terbuka. Andi dan Rico dan bersandar pada pintu langsung tersungkur ke belakang.


Alina pun yang terkejut dengan kejadian itu lantas memundurkan langkahnya dengan cepat agar tubuh kedua pria itu tak menabraknya.


"Aww…"


"Sorry. Kalian berdua ngapain sandaran di pintu?" tanya Alina.


Andi dan Rico berdiri dan menatap ke arah Alina. Saat melihat Alina yang masih memakai piyama dengan rambut sedikit berantakan, kedua pria itu lantas saling pandang sejenak sebelum menatap Alina kembali. Mereka menebak jika Alina saat ini baru saja bangun tidur dan Rena? Rena pun pasti demikian.


"Kamu baru bangun tidur?" tanya Rico.


Alina menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sorry, semalam kita tidur jam dua."


Dan benar saja tebakan mereka. Rico dan Andi menghela nafasnya, bagaimana kedua wanita itu bisa teledor begini, padahal pagi ini mereka ada jadwal penerbangan. Dan Alina juga kenapa bisa-bisanya bangun kesiangan di saat seperti ini, padahal di hari biasa wanita itu tidak pernah seperti ini.


Belum lama terkejut dengan keterlambatan wanita itu, tiba-tiba saja Rena terlihat menuruni anak tanggan dengan begitu santainya. Membuat Alina serta dua pria di sana terheran karenanya.


"Kamu belum siap-siap?" tanya Alina saat melihat wanita itu masih dengan piyama dan wajah bantalnya.


"Sarapan dulu, Al. Laper banget," ucap Rena setelah tiba di anak tangga terakhir. Dia berjalan hendak mendekati meja makan yang tak jauh dari sofa ruang tamu berada dengan wajah tanpa dosanya.


"Kita sudah terlambat banget loh, Ren. Kita bisa sarapan di mobil. Ayo cepetan ganti baju," ucap Alina. Dia terlihat cemas untuk bergegas pergi, namun Rena terlihat sangat santai sekali.


"Sayang, kita mau pergi loh. Kita sudah terlambat, kenapa kamu santai banget?" Kini Andi pun ikut heran melihat pacarnya itu yang sangat santai. Seolah masih banyak waktu yang mereka miliki untuk sekedar bersantai.


"Penerbangan kita di ubah jadi jam dua belas siang. Papa yang akan mengurus semuanya. Sebaiknya kita sarapan dan bersantai dulu lah," ucap Rena dengan santai sambil mengutak-atik ponselnya.


***


.


Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰


.


.