Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
33. Apartemen Senilai Dua Ratus Ribu Rupiah


Satu jam lebih tertidur, kini Alina membuka kembali matanya. Pandangannya yang masih samar membuatnya tak menyadari jika saat ini dia sedang berada di kamar barunya yang memiliki luas hampir dua kali lipat dari kamarnya yang sebelumnya.


Alina memejamkan matanya kembali, bukan untuk melanjutkan tidurnya, melainkan untuk lebih fokus mengatur nafasnya sekaligus mengumpulkan kembali kesadarannya yang belum terkumpul sepenuhnya. Setelah dirasa cukup, Alina kembali membuka matanya.


Yang dia lihat pertama kali saat matanya terbuka adalah langit-langit kamar. Di sana Alina langsung menyadari jika dia sedang berada di suatu tempat yang tidak dikenalinya. Pandangan mata Alina kemudian mengelilingi seisi ruangan, dia benar-benar tidak tahu di mana dirinya saat ini berada. 


Alina mendudukkan tubuhnya, namun saat itu perutnya tiba-tiba saja terasa mual kembali. Mata Alina kembali berkeliling mencari sesuatu yang bisa dijadikannya untuk tempat muntah. Namun sayang, setelah mengitari seisi ruangan itu dia tidak menemukan apapun yang bisa dijadikannya sebagai sebuah wadah. Karena tak ingin mengotori kamar yang tidak dikenalinya itu, akhirnya Alina memilih untuk keluar dari sana dan berlari menuju toilet.


Dia yang tidak tahu di mana toilet berada lantas berlari tak tahu arah. Setiap pintu yang dia lewati dibukanya, namun bukan toilet yang dia dapati, melainkan sebuah kamar dan juga gudang. Melihat adanya anak tangga menuju lantai bawah, Alina segera menuruti tangga itu dengan kaki yang sudah terasa sangat lemas.


Karena sudah tak tahan menahan mual, tanpa dia inginkan akhirnya Alina memuntahkan isi perutnya pada tiga anak tangga terakhir. Meski hanya sedikit air yang keluar dari mulutnya, tapi itu sudah cukup membuatnya bernafas lega untuk sementara.


Suara Alina yang sedang muntah tersebut ternyata didengar oleh tiga orang pria yang ada di meja makan. Mereka yang sangat terkejut dan langsung melompat dari duduknya untuk melihat apa yang sedang terjadi. Begitu melihat Alina terduduk lemas di anak tangga, mereka semua segera menghampiri Alina dengan wajah cemas.


"Alina!"


Tak memiliki tenaga untuk menanggapi ketiga pria itu, Alina memilih diam dengan posisinya.


"Astaga, Al, kamu kenapa turun ke bawah?" ucap Alfian cepat.


"Dia muntah," ucap Rico kemudian saat melihat cairan putih di tangga.


"Rena mana?" tanya Andi setelahnya.


Alina masih diam, dia benar-benar tidak memiliki tenaga untuk menjawab semua ucapan pria-pria itu.


Alfian pun yang melihat adiknya terkulai lemas lantas mengangkat tubuhnya menuju sofa yang ada di lantai satu dan diikuti Rico di sampingnya. Sementara Andi naik ke lantai dua untuk mencari keberadaan Rena. Saat mereka sampai di apartemen tadi, mereka mempercayai Rena untuk menjaga Alina di dalam kamar. Namun sekarang entah di mana wanita itu berada sampai Alina bisa berada di anak tangga dengan cairan putih yang telah mengotori tangga.


Saat Alina usai dibaringkan di atas sofa, Rico berinisiatif mengambil air mineral hangat. Setelah itu segera memberikannya kepada Alfian.


"Minumlah," ucap Alfian kepada adiknya.


Alina sedikit mengangkat kepalanya dengan bantuan kedua pria di sana, kemudian dia meneguk air hangat itu dengan perlahan. Setelah kembali merebahkan tubuhnya, Alina menghela nafasnya berulang. Rasanya lega sekali setelah meneguk air hangat tersebut.


"Kamu kenapa turun ke bawah, Al?" tanya Alfian setelah dirasa adiknya sudah tak selemas sebelumnya.


"Aku mual, Bang. Aku sedang mencari toilet," ucap Alina.


"Toilet? Toilet ada di dalam kamar, Al. Ngapain kamu mencari toilet sampai ke bawah? Lalu, di mana Rena? Bukankah dia tadi bersama kamu di kamar?" tanya Rico pula dengan herannya.


Alina menggelengkan kepalanya tak tahu. Dia benar-benar tidak tahu di mana Rena, dia juga tidak tahu jika di dalam kamar itu terdapat toilet. Mungkin karena rasa mual yang mengganggunya sampai membuatnya tak menyadari kedua hal itu.


Belum Alina menjawab, terlihat Rena dan Andi baru saja menuruni anak tangga.


"Astaga, Al. Kamu nggak papa?" tanya Rena sembari menghampirinya dengan cepat. Raut wajahnya terlihat sangat cemas dan merasa bersalah, membuat Rico maupun Alfian tak sampai hati untuk menyalahkannya yang sudah meninggalkan Alina. Apalagi Andi mengatakan jika saat Alina keluar kamar, saat itu Rena sedang berada di dalam kamar mandi.


Kondisi perut Alina perlahan sudah mulai membaik setelah memuntahkan isi perutnya yang berupa cairan pekat. Kini dia sedang duduk di ruang tamu bersama yang lainnya.


"Kita di mana, Co?" tanya Alina yang baru teringat jika seharusnya siang ini di harus pindahan.


"Di tempat tinggal barumu, Al," sahut Rico.


Pandangannya kembali mengelilingi setiap sudut ruangan, rumah ini terlihat cukup besar untuk lantai bertingkat. Barang-barang yang ada di sana pun terlihat bukan seperti barang murahan. Bagaimana mungkin Rico mencarikan tempat tinggal untuknya sebagus ini? Mengingat tempat ini yang cukup bagus dan sangat elegan, Alina sekejap berpikir, kira-kira berapa biaya sewa rumah ini per tahunnya. Namun saat dia bertanya, jawaban Rico sungguh membuatnya terkejut.


"Jangan pikirkan biaya, Apartemen ini bisa kamu pakai sampai kapanpun."


"Apartemen?" gumam Alina pelan.


Dia sangat terkejut saat Rico mengatakan jika saat ini dirinya berada di sebuah apartemen. Alina hendak berdiri, dia ingin melihat ke arah jendela untuk memastikan apa benar jika dirinya saat ini sedang berada di sebuah apartemen. Namun sayang, belum juga berdiri tapi Rico dan yang lainnya lebih dulu melarang dia untuk bangkit dari duduknya. 


"Kamu beneran memilihkan aku sebuah apartemen?" tanya Alina tak percaya.


"Tentu saja, Al."


Alina menatap ke arah Alfian sejank dengan tatapan yang tak dimengerti Rico. Namun saat Alfian menggelengkan kepalanya, Alina langsung menatal kembali ke arah Rico.


"Tapi aku nggak punya cukup uang untuk biaya sewa apartemen ini, Co? Kenapa nggak cari kontrakan saja atau aku balik ke kontrakan sebelumnya saja? Aku masih bisa balik ke sana karena uang sewaku berakhir 5 bulan lagi," ucap Alina.


"Al, apartemen ini punyaku dan kamu tidak perlu memikirkan biaya sewa lagi karena aku meminjamkannya kepadamu dengan gratis."


Alina kembali menatap ke arah Alfian yang berada di sisi kirinya dan saat itu Alfian menganggukkan kepalanya kepada adik tersayangnya itu. 


"Terima saja Al, kamu akan lebih aman berada di sini. Abang nggak mau kamu tinggal di lingkungan yang toxic seperti sebelumnya. Di sini nggak akan ada yang memfitnah kamu seperti yang tetangga kamu sebelumnya tuduhkan."


"Tapi, Bang. Rico bilang, dia meminjamkan apartemen ini gratis untuk Alina. Alina nggak mau tinggal gratis begitu saja, Bang."


Kemudian Alina menatap ke arah Rico yang berada di sisi kanannya.


"Co, aku nggak mau tinggal gratis begitu saja. Bagaimanapun aku harus membayar sewa apartemen ini," ucap Alina.


"Al, aku nggak munggkin menerima uang sewa dari pacarku sendiri."


"Tapi aku juga nggak bisa seenaknya tinggal di sini, Co."


Mereka berdua masih sibuk memperdebatkan biaya sewa, membuat Alfian pusing melihatnya. Sementara Andi dan Rena, mereka berdua tampak santai dengan percakapannya sendiri yang dilakukan dengan suara yang terdengar seperti berbisik.


Sampai saat Alfian kembali bersuara, akhirnya Alina dan Rico menghentikan perdebatannya. Agar tidak terjadi perdebatan kembali, akhirnya Alfian yang mengambil keputusan untuk membayar biaya sewa apartemen tersebut. Meski awalnya Rico sempat menolak usul dari Alfian, namun pada akhirnya dia tidak bisa mendebat pria itu yang kekeh ingin membayar sewa apartemennya dengan ancaman akan membawa Alina pergi ke tempat lain. Sebagai syarat mengiyakan perkataan Alfian, Rico tak segan meminta pria itu membayar apartemennya seharga 500.000/bulan.


Saat itu kesepakatan terjadi, baik Alfian maupun Rico menganggap semuanya selesai sampai di sini. Begitupun dengan Alina, meski sebenarnya sangat tidak masuk akal membayar sewa apartemen senilai Rp500.000 namun itu lebih baik daripada gratis.


***


.


Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰


.


.