
Sebelum matahari terbit, Alina dan Rico sudah stay di sofa ruang tamu untuk menikmati sarapan pagi mereka sembari menunggu matahari terbit. Setelah menyelesaikan ibadah subuhnya, mereka memilih untuk tetap terjaga agar tak terlewat menikmati indahnya sunrise dan pemandangan sekitar.
"Sayang," ucap Rico yang membuat istrinya menatapnya di sela seruputannya.
"Kamu mau kita punya anak berapa?"
Alina meletakkan gelas tehnya sebelum menjawab pertanyaan suaminya.
"Lagi? Kita 'kan sudah membahas hal ini sebelumnya, Sayang. Kenapa kamu bertanya lagi?" tanya Alina heran.
"Nggak papa, hanya ingin bertanya saja. Siapa tahu kamu berubah pikiran."
Alina mengernyitkan keningnya. Berubah pikiran?
"Maksud kamu apa? Kamu beneran mau punya anak banyak?" tanya Alina.
Rico menyengir kuda dan hal itu jelas saja membuat Alina mendapatkan jawabannya secara tidak langsung.
"Sayang, kamu serius?" tanya Alina lagi yang tak percaya.
Dia benar-benar tidak percaya jika Rico serius dengan ucapannya yang ingin memiliki anak banyak. Sebenarnya Alina bukannya tidak mau, hanya saja dia merasa jika dirinya tidak akan kuat jika harus melahirkan lebih dari 4 orang anak.
"Kalau kamu nggak mau nggak papa, Sayang. Apa kita mengadopsi anak saja ya? Dengan begitu kamu nggak perlu pusing memikirkan hamil dan melahirkan, kita bisa mencari anak dari panti asuhan saja."
Alina menelan salivanya sembari menghela nafas.
"Sayang, bukan aku nggak setuju dengan permintaan kamu, tapi aku nggak yakin kalau harus mengadopsi anak."
"Kenapa?" tanya Rico dengan heran.
"Gimana ya…" Alina menggigit bibir bawahnya, dia terlihat bingung ingin menjelaskan seperti apa kepada Rico.
"Sayang, selama ini aku hanya tinggal seorang diri dan jauh dari keluarga, apalagi anak-anak. Meskipun aku menyukai anak kecil, tapi aku belum terbiasa merawatnya. Menjaga Lala seharian di rumah saja rasanya kepalaku sudah hampir pecah. Aku sadar kalau merawat seorang anak nggak semudah yang kita pikirkan dan aku ingin semua anak-anakku kelak bisa aku rawat dan kudidik dengan baik."
Alina kembali menghela nafasnya, dia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan apa yang ada di pikirannya kepada Rico.
"Sayang, sama seperti orang tua kita, aku pun menginginkan seorang anak dalam waktu dekat, namun akan berbeda rasanya jika kita memiliki anak dari darah daging kita sendiri ataupun bukan. Maaf … aku nggak bermaksud menyinggung perasaan kamu tentang hal ini, aku hanya belum bisa saja jika kita harus mengadopsi seorang anak," ucap Alina yang takut jika suaminya itu akan tersinggung dengan perkataannya.
Rico tersenyum mendengar penjelasan istrinya itu. Jujurnya saja dia tidak ada perasaan tersinggung sama sekali atas pernyataan Alina, dia bahkan tidak pernah berpikiran ke sana saat Alina mengatakan hal itu padanya.
Karena tidak mau memperpanjang obrolan yang akan membuat istrinya tidak nyaman, akhirnya Rico mengalihkan pembicaraan dengan rencana liburannya selama 1 bulan ini. Mereka harus merencanakan akan ke mana setelah menikmati hari di sekitar pegunungan ini. Tidak mungkin jika selama satu bulan mereka hanya akan berada di sana karena itu pasti akan sangat membosankan.
Sambil menikmati biskuit dan juga teh hangat yang membantu menghangatkan tubuh mereka di pagi hari, tak lupa pelukan hangat pun Rico benamkan kepada istri tercintanya itu. Beberapa menit kemudian suasana di luar Villa mulai terlihat, Rico segera mengajak Alina untuk berdiri di balkon kamarnya untuk menikmati pemandangan di sana.
Sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang mereka berdua menikmati udara pagi yang bersamaan dengan datangnya pemandangan indah di depan mata. Pemandangan yang mungkin tidak akan pernah mereka lihat saat di kota asalnya tinggal.
Saat ini pemandangan di depan mereka terlihat sangat menyejukkan, di mana segumpal awan berbaris rapi menutupi dataran rendah yang ada di bawah pegunungan di sana. Rico dan Alina benar-benar menikmati pemandangan yang tidak akan berlangsung lama itu.
Saat matahari mulai terbit, awan pun mulai menjauh, hingga matahari telah naik ke atas, awan-awan di sana pun mulai menghilang. Meski tak ada lagi awan dan suasana terlihat normal, namun keindahan alam di sana tak akan membuat sepasang kekasih itu kecewa sama sekali, mereka justru sangat betah berlama-lama berada di belakang kamar untuk menikmati pemandangan yang indah itu.
Cukup lama berada di balkon, suara keras dari panggilan telepon yang ada di atas kasur membuat Rico maupun Alina teralihkan fokusnya pada pemandangan yang ada di depan mereka.
"Aku angkat dulu ya," ucap Rico. Dia terpaksa meninggalkan momen terindah di balkon kamar demi menjawab panggilan telepon yang tak tahu dari siapa karena dia takut jika yang menghubunginya ternyata adalah pihak Villa yang ingin melakukan sesuatu ataupun memberi informasi pada mereka.
Kurang lebih dua menit Rico berbicara dengan seseorang di balik telepon yang berdering, kini pria itu kembali menuju balkon kamar untuk menghampiri istrinya.
"Siapa?" tanya Alina penasaran.
"Pengurus Villa, dia bilang kita harus sarapan satu jam lagi. Sebaiknya kita mandi sebelum keluar kamar," ucap Rico.
Alina menghela nafasnya saat mendengar kata mandi dari suaminya itu. Sebelum shalat subuh tadi dia sudah mandi untuk melaksanakan ibadahnya, dan kini dia harus mandi kembali dan juga berkeramas agar bisa melakukan ibadah di siang hari nanti.
Alina merasa tak kuat sekali jika harus mandi untuk dua kalinya di waktu kurang dari tiga jam. Namun jika mereka tidak mandi, maka mereka tidak akan bisa melakukan ibadah wajib pada siang hari nanti.