
Keesokan hari setelah menyelesaikan sarapan bersama keluarganya, Rico berpamitan untuk pergi ke kantor. Waktu yang masih sangat pagi membuat Irfan dan Santi sedikit heran karena tak biasanya Rico pergi ke kantor di jam seperti ini jika tidak ada pekerjaan yang penting. Dan seingat Irfan, tidak ada pertemuan apapun sepagi ini.
"Kenapa cepat sekali perginya, Bang? Apa ada pekerjaan yang sangat penting?" tanya Santi.
"Nggak ada, Ma. Rico hanya mau mengantar Alina ke kampus, jadi sekalian saja setelah itu Rico pergi ke kantor," ucap Rico.
Dia memang sudah berjanji akan mengantar pacarnya itu pergi ke kampus hari ini. Walaupun Alina berkata tidak mau merepotkannya, namun tetap saja dia mau melakukan hal kecil itu. Kesibukan yang mereka berdua miliki membuat Rico harus berinisiatif menyempatkan diri disela waktu sibuknya untuk bertemu wanita cantik itu, meski hanya sebentar.
Santi pun yang mendengar perkataan putranya itu lantas tersenyum. Sebelumnya dia tidak pernah melihat putranya bersikap manis seperti ini dengan wanita manapun kecuali dirinya. Sepertinya Rico sangat mencintai Alina sampai rela mau meluangkan waktunya hanya untuk mengantar wanita itu ke kampusnya. Padahal lokasi kampus Alina lebih jauh dari pada kantor tempatnya bekerja jika diukur dari rumahnya ini.
"Yasudah, hati-hati ya, Bang. Salam untuk Alina," ucap Santi.
Rico mengiyakan perkataan mamanya dan setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya, Rico segera berlalu dari sana.
Setiba di kontrakan Alina, Rico turun dari mobil dan hendak menghampiri rumah wanita itu. Banyaknya warga yang sedang berbelanja dari tukang sayur keliling membuat Rico harus menyapanya terlebih dahulu. Sapaan dari senyuman manisnya itu disambut dengan hangat oleh warga sekitar, namun setelah dia berjalan menjauh, telinganya tiba-tiba tak sengaja mendengar sekumpulan ibu-ibu di sana berbicara dengan menyebut nama Alina.
"Pagi kuliah, malam kerja, hampir setiap hari banyak pria kaya yang datang. Siapa sih sebenarnya si Alina itu?"
"Dia bilang sih cuma anak petani."
"Lalu siapa para pria itu? Semuanya terlihat kaya-kaya dengan mobil mewahnya, termasuk pria ini."
"Nggak tahu, semua pria yang berkunjung ke kontrakannya pada pake masker sama topi semua, jadi nggak bisa lihat wajahnya."
"Iya ya, heran deh."
"Tapi yang ini nggak pake masker. Apa ini pria yang sama?"
"Kayaknya bukan deh, soalnya bentuk tubuhnya beda walaupun yang kemarin-kemarin juga bagus badannya."
Meski tak begitu jelas tapi, Rico masih bisa mendengar percakapan itu karena dia memperlambat laju jalannya. Pria bermasker dan bertopi? Apa maksud para warga itu menyebut ciri-ciri pria misterius yang pernah dia lihat itu? Apa Alina mengajak pria itu ke kontrakannya juga? Tapi bukankah pria itu adalah saudaranya? Jika benar pria misterius itu saudaranya, maka tak jadi masalah, bukan?
Begitu banyak pertanyaan di kepala Rico mengenai perbincangan para ibu-ibu di sana. Namun dia mencoba untuk tetap tenang dan tak mau berpikir negatif kepada pacarnya itu. Dia yakin jika pria misterius itu benar adalah saudara laki-laki Alina. Dan mereka sengaja mengunjungi Alina untuk melihat keadaan saudaranya itu di kota rantau ini.
Rico masih mencoba untuk berpikir positif menganai pacarnya. Namun perkataan ibu-ibu di sana kembali berputar di kepalanya mengenai jika semua pria yang datang menggunakan mobil mewah dan terkesan seperti orang kaya.
"Nggak semua orang desa itu miskin, Rico. Come on, banyak petani yang bergelimang harta. Jangan memandang rendah para petani," ucapnya kepada diri sendiri.
Lagi-lagi Rico harus mengesampingkan pikiran negatifnya karena dia percaya jika Alina tak mungkin melakukan hal yang tidak baik dengan mendatangkan para pria ke rumahnya.
Tookk… Tookk…
Pintu rumah diketuk oleh Rico setelah dia tiba di sana. Dan tak lama pintu pun terbuka dan muncullah sosok seorang Alina dari dalam sana dengan penampilan yang terlihat anggun. Dress pendek dengan sedikit corak pada bagian dadanya terlihat sangat cocok ditubuhnya.
Ya, meski Rico sendiri tahu jika semua pakaian akan terlihat cocok dan mewah jika sudah berada di tubuh wanita cantik itu.
"Kamu sudah datang," ucap Alina.
"Kamu ke kampus dengan pakaian seperti ini?" tanya Rico dengan nada tak percaya.
Meski dia menyukai penampilan pacarnya yang seperti ini, namun ini terlalu seksi menurutnya. Apalagi jika dipakai untuk ke kampus.
"Tentu saja. Kenapa? Apa nggak pantas di tubuhku?" tanya Alina.
"Sangat pantas. Tapi ini terlalu seksi, Sayang. Apa nggak ada pakaian yang lebih tertutup?"
Alina menatap tubuhnya sejenak. Apa ini terlalu seksi?
"Setidaknya coba pakai celana yang sedikit panjang. Aku nggak suka jika ada pria lain yang melihat lekuk tubuhmu itu."
"Celana panjang?"
Alina terlihat ragu dengan permintaan Rico. Apa cocok jika dressnya itu dipadukan dengan celana panjang? Sepertinya tidak, karena dress selutut ini memang tidak cocok jika dipadukan dengan celana. Namun meski begitu dia mengiyakan saja ucapan Rico dan kembali masuk ke dalam rumahnya untuk merubah penampilannya.
Padahal dia sudah biasa memakai pakaian seperti itu. Namun mau bagaimana lagi, dia tahu jika Rico sedang cemburu dengan pakaiannya, jadi dia menurut saja selagi apa yang Rico minta adalah sesuatu yang baik.
Alina menghela nafasnya, entahla, kenapa dia menurut dengan perkataan pria itu.
Butuh hampir 10 menit untuk Alina merubah penampilannya, kini wanita itu telah kembali dan Rico tersenyum saat melihatnya mengenakan jens selutut dengan dress yang sama.
"Apa cocok?" tanya Alina sembari memerhatikan penampilannya.
"Apapun yang kamu pakai pasti cocok kok," ucap Rico dengan jujur.
Memang style apapun yang dipakai Alina akan selalu cocok. Seperti saat ini, Alina sangat cocok dengan penampilannya yang mungkin jika digunakan di tubuh wanita lain akan terlihat aneh. Bagaimana tidak aneh, dress yang terlihat sangat feminim selutut itu dipadukan dengan jens yang sepuluh centi dibawahnya. Dan hebatnya, Alina justru terlihat bagus saat memakainya.
"Kok aku merasa aneh ya," ucap Alina dengan sedikit tidak percaya diri. Dia sebenarnya hanya iseng saja memakai celana itu, tapi siapa yang menyangka jika Rico akan menyukainya.
"Nggak ada yang aneh. Ayo pergi, nanti kamu terlambat loh."
Alina mengedikkan kedua bahunya dan mengiyakan ucapan Rico. Dia harus percaya diri dengan penampilannya, Rico tidak mungkin berbohong dan sengaja mempermalukannya. Setelah mengunci pintu rumahnya, Alina dan Rico segera berjalan menuju mobil Rico yang terparkir di sisi jalan.
Rico melajukan mobilnya dengan pelan dan tanpa diketahui Alina, diam-diam Rico melirik ke arah spion dalam dan luar mobil secara bergantian. Di sana dia kembali melihat para ibu-ibu yang seperti sedang berbincang, dengan sesekali mata mereka terlihat melirik ke arah mobilnya. Rico menghela nafas dengan pelan, meski dia mencoba untuk berpikir positif, namun hatinya tak bisa dibohongi. Dia merasa para ibu-ibu di sana sedang membicarakan Alina lagi.
Alina yang melihat Rico menghela nafas seolah seperti ada yang dipikirkan, lantas menegurnya.
"Kenapa, Co?"
Rico menatap ke arah Alina sejenak, kemudian dia tersenyum untuk menutupi perasaannya.
"Nggak papa kok, Sayang. Oh ya, kamu pulang kuliah jam berapa dan mau ke mana?" tanya Rico mengalihkan.
"Jam 2 mungkin sudah selesai dan nggak ke mana-mana juga. Kenapa?"
"Aku mau ngajak kamu makan siang. Sekalian kita lunch bareng Andi dan Rena."
"Sorry ya, Sayang, sepertinya siang ini aku mau istirahat dulu deh. Gimana kalau besok saja?"
"Besok? Nanti aku tanya Andi dulu ya," ucap Rico dan langsung diiyakan Alina.
*
Dan keesokan harinya, sesuai janjinya kepada Rico. Sepulang kuliah Alina segera bersiap untuk pergi lunch bersama sang pacar dan juga Andi dan Renata. Sebelum Rico datang menjemputnya, Alina sedikit memoles wajahnya dengan make-up tipis agar tidak terlihat pucat. Merasa telah sempurna, dia segera beranjak dari meja rias kecilnya menuju sofa ruang tamu. Namun baru saja mendudukkan tubuhnya di atas sofa, suara mobil yang diyakininya milik Rico telah terdengar.
Alina bangkit kembali dari duduknya dan tanpa berniat membuang waktu lagi, dia segera meraih tas selempangnya untuk segera pergi.
"Cantik banget sih. Kita cuma mau lunch aja loh, Al," ucap Rico saat Alina baru saja terduduk di sampingnya.
"Lebay banget sih. Aku cuma pakai jeans dan kaos doang loh," ucap Alina dengan heran.
"Oh iya, aku lupa. Kamu 'kan selalu terlihat cantik setiap detiknya."
Seketika Alina terdiam malu mendengar gombalan receh Rico. Belum juga satu menit duduk di sampingnya, pria itu sudah mengeluarkan gombalannya saja. Alina menggelengkan kepalanya dengan senyuman yang masih terlukis jelas di wajahnya.
"Co, aku tiba-tiba kenyang loh mendengar gombalan kamu. Apa kita urungkan saja lunch-nya?" ucap Alina bercanda.
"Satu gombalan saja kamu sudah kenyang, gimana kalau aku gombalin setiap hari saat kita sudah menikah nanti?"
Wajah Alina kini memerah mendengar gombalan lainnya dari Rico. Pria itu kenapa suka sekali membuatnya salah tingkah dengan kata-kata garingnya. Dia jadi curiga, Rico pasti banyak belajar menggombal dari Andi. Secara 'kan, temannya satu itu sangat pandai merayu wanita sebelum bersama Rena.
"Masih mau ngegombal?"
Rico terkekeh melihat ekspresi Alina yang terlihat malu bercampur kesal.
"Iya-iya, sorry. Ayo kita pergi."
Rico kembali fokus pada kemudinya dengan laju kecepatan sedang. Tak sampai setengah jam mereka kini sudah tiba di salah satu restoran bintang lima yang ada di pusat kota. Restoran itu dipilih oleh Renata karena menurutnya, makanan di sana sangat enak, sesuai dengan seleranya.
Alina dan Rico segera masuk ke dalam sana dan mereka langsung disambut oleh pelayan restoran begitu memasuki restoran itu. Mereka di antar ke meja yang telah dipesan begitu menyebut nama Rena yang sebagai orang yang mereservasi.
Dari kejauhan terlihat Rena dan Andi yang telah duduk manis menunggu kedatangannya. Mereka saling melempar senyuman sebagai bentuk sapaan dari jauh.
Satu bulan lalu Andi dan Renata sudah berdamai dengan keadaan. Sesuai dengan perkataan Rico dan negosiasinya bersama Andi, Rena memutuskan untuk menjauhi teman lelakinya karena dia tidak mau jika Andi melakukan hal yang sama. Karena tidak mungkin untuk Andi menjauhi Alina mengingat bagaimana dan sejauh mana pertemanan mereka, jadi Rena terpaksa harus berusaha untuk memercayai Andi dengan kedekatannya bersama Alina. Dia juga berjanji akan menjaga rasa cemburunya terhadap Alina dan memercayai pria yang dicintainya itu.
Namun tak adil jika hanya Rena yang berjanji. Saat itu Rena juga meminta Andi untuk tidak bepergian bersama Alina jika hanya berdua saja. Dan Andi langsung mengiyakan perkataan Rena karena dia sadar jika mereka harus sama-sama memperbaiki diri untuk mengurangi kesalahpahaman dan pertengkaran.
Rasa cinta yang begitu besar dari masing-masing kedua insan itu juga yang membuat mereka dengan mudah saling berjanji.
"Hei, apa kita terlambat?" tanya Rico setiba mereka di meja tersebut.
"Nggak juga. Kita baru tiba lima menit lalu kok," ucap Andi.
Andi dan Rico saling berjabat tangan, sementara Alina dan Rena cipika-cipiki seperti sapaan para wanita pada umumnya. Kemudian mereka mendudukkan tubuhnya pada kursi yang tersedia dan segera memanggil pelayan restoran untuk memesan makanan.
"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Andi dan Rico secara bersamaan kepada pasangannya masing-masing. Hal itu membuat mereka berempat saling pandang, kemudian tersenyum geli kecuali, Rena.
"Aku samain saja sama kamu," ucap Alina kemudian kepada Rico.
Rico mengiyakan dan segera menyebutkan pesanannya dan juga Alina kepala pelayan restoran. Setelah itu giliran Andi dan Rena yang menyebutkan pesanan pilihannya kepada pelayan. Setelah pelayan itu pergi, mereka berbincang santai sambil menunggu pesanan mereka datang. Namun di sana Rico dan Andi lebih mendominasi obrolan karena Alina yang menghormati Rena yang sejak tadi lebih banyak diam.
Rena yang sejak awal memang tidak suka dengan kehadiran Alina di sisi pacarnya, jelas saja jika dia banyak diam saat berada di jarak terdekat dengannya. Meski dia sudah berjanji kepada Andi untuk tidak akan atau mengurangi sifat cemburu butanya kepada Alina, namun perasaannya tidak akan bisa dibohongi begitu saja jika rasa tidak suka itu masih ada didirinya.
***
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰
.
.