
Saat kembali ke mejanya, Rico langsung mendapatkan tatapan tidak menyenangkan dari istri dan juga kakak iparnya. Dia terlihat bingung saat di tatap seperti itu.
"Kalian kemapa melihat aku seperti itu?" tanya Rico dengan heran.
Tak mendapatkan jawaban, Rico pun kembali bingung. Dia bertanya-tanya dalam hati apa yang membuat kedua wanita itu sampai menatapnya dengan tajam seperti itu. Namun saat menyadari jika dirinya baru saja berbicara dengan Calista, dia pun mulai menebak jika kedua wanita di depannya itu marah kepadanya gara-gara hal itu.
"Sayang, kamu tadi lihat aku berbicara dengan Calista ya?" tanya Rico dengan ragu.
"Oh, jadi namanya Calista?" ucap Marissa dengan tiba-tiba.
Dan bener saja dugaannya, ketika Rico mendengar perkataan Marissa itu dia langsung menghembuskan nafasnya dengan berat.
"Astaga. Kak, aku beneran nggak sengaja bertemu dengan Calista di sana. Dia yang duluan kok tadi yang menegur aku," ucap Rico kepada Marissa.
"Kenapa harus menjelaskannya ke saya. Jelaskan sana sama istri kamu," ucap Marissa dengan sedikit acuh, kemudian wanita itu fokus kepada Lala kembali untuk menyuapinya.
Rico pun kembali menatap kepadanya Alina yang memasang wanita datar. Dari raut wajahnya, Rico sangat takut jika Alina salah paham padanya karena melihatnya bersama Calista.
Kini Rico jadi merasa bersalah karena telah meneladani obrolan Calista meskipun hanya sebentar.
"Sayang, aku beneran nggak sengaja bertemu dia di sana. Dia mendatangiku hanya untuk memberi selamat atas kehamilan kamu, itu saja. Aku juga nggak mengobrol banyak kok sama dia, hanya sekedar berterima kasih saja atas ucapan selamatnya," ucap Rico yang mencoba menjelaskan agar istrinya itu tak marah lagi padanya.
"Selamat?" ucap Alina sembari menaikan salah satu alisnya.
"Ya. Kalau kamu nggak percaya, kita bisa menemuinya lagi untuk memastikan–"
"Ngapain menemuinya lagi?" sela Alina dengan cepat. "Kamu sengaja ya ingin bertemu dengannya lagi dan mengobrol? Apa belum puas mengobrolnya?"
Rico memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya. Lagi-lagi dia salah bicara yang membuat istrinya itu salah paham.
"Sayang, bukan begitu maksudnya. Kita menemui dia agar kamu nggak salah paham saja dengan apa yang kamu lihat tadi. Sumpah, aku nggak berniat sama sekali untuk ngobrol dengannya. Apa kamu melihat aku tersenyum dengannya? Nggak" 'kan? aku beneran hanya berterima kasih atas ucapan selamatnya kepada kehamilan kamu, itu saja kok, nggak lebih."
Rico benar-benar dibuat salah tingkah oleh istrinya yang cemburu itu. Sejak awal mengenal Alina hingga sekarang, baru kali ini Rico melihat istrinya itu cemburu padanya sampai segitunya. Dia tahu jika istrinya itu bukanlah tipe wanita yang suka cemburu. Namun entah kenapa hari ini hanya mengobrol sebentar saja dengan Calista, istrinya itu sampai cemburu padanya. Apa ini karena kehamilannya yang membuat hormon wanita itu menjadi berubah-ubah?
"Sudah ah, kamu alasan terus dari tadi, aku jadi males," ucap Alina sembari menggeser piring makanannya untuk segera disantap.
Rico yang melihat istrinya seakan acuh padanya tersebut benar-benar dibuat bingung. Dia tak tahu lagi harus bagaimana membujuk istrinya itu, dia sudah bicara jujur namun Alina masih tak percaya dengan kata-katanya. Rico pun terus meminta maaf kepada Alina meskipun istrinya itu selalu mengabaikannya dan fokus pada makanannya.
Sementara Alina sendiri, dia menikmati hidangan yang dibawa oleh suaminya itu sembari menahan senyum. Alina tahu jika Rico tidak mungkin sengaja mengobrol dengan mantan pacarnya itu, apalagi kenangan yang tidak menyenangkan yang membuatnya tidak menyukai semua wanita yang pernah berhubungan dengannya dulu.
Namun karena ingin membalas keusilan suaminya selama ini, Alina dan Marissa pun merencanakan untuk berpura-pura merajuk kepada Rico karena telah berbicara dengan wanita lain selain dirinya. Alina tidak menyangka jika semenyenangkan ini membuat suaminya itu cemas karena keusilannya.
**
Hari ini Alina dan Rico berencana untuk pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli kebutuhan calon anaknya. Meskipun masih ada sekitar 4 bulan lagi Alina melahirkan, namun mereka sudah tak sabar melakukan kegiatan menyenangkan itu. Selain untuk membeli kebutuhan anaknya, Alina juga ingin sedikit bersenang-senang di luar untuk mengusir bosan karena kesibukannya di kantor setiap harinya yang melelahkan.
Satu jam sebelum makan siang, Alina dan Riko sudah berada di perjalanan menuju mall terdekat. Mereka sengaja pergi di jam seperti ini agar bisa menikmati makan siang di luar dan bisa pulang di sore hari. Rico tidak mengizinkan Alina untuk pulang lewat dari jam 06.00 sore karena kondisi istrinya itu yang saat ini sedang berbadan dua. Lagipula Rico ingin Alina beristirahat penuh di waktu malam hari dan tidak memporsir energinya untuk sesuatu yang tidak terlalu penting.
Setelah tiba di dalam parkiran Mall, Alina dan Rico segera turun dari mobil. Alina yang turun lebih dulu tanpa menunggu suaminya itu menjemputnya hampir saja tertabrak mobil yang melaju kencang di belakang mobilnya. Jika saja seorang wanita tak segera mendorong tumbuhnya, mungkin saja saat ini Alina sudah bersimbah darah.
Alina yang terkejut pun berteriak dengan spontan, membuat Rico yang baru saja menutup pintu mobilnya segera berlari untuk menghampiri istrinya.
"Sayang, kamu nggak papa?" tanya Rico dengan cemas.
Alina yang menyadari jika tidak terjadi apa-apa dengan dirinya menggelengkan kepalanya. Kemudian pandangannya tertuju pada seorang wanita yang tadi mendorongnya dan kini telah terduduk di atas lantai.
"Mas, wanita itu," ucap Alina sembari menunjuk wanita itu.
Rico pun melihat ke arah wanita yang ditunjuk oleh istrinya. Saat melihat seorang wanita yang terduduk di atas lantai dengan meringis kesakitan, dia pun segera menghampirinya dan diikuti Alina dari belakang.
"Nona, kamu nggak papa? Astaga, kamu terluka," ucap Rico dengan khawatir saat melihat luka pada lengan dan kaki wanita itu.
"Mas kita bawa ke rumah sakit saja. Kasihan dia, aku takut nanti lukanya akan semakin parah kalau nggak segera diobati," ucap Alina memberi saran.
Rico yang setuju pun mengiyakannya, dia hendak menuntun wanita itu untuk masuk ke dalam mobilnya, namun wanita tersebut dengan cepat menolak karena tidak mau untuk dibawa ke rumah sakit.
"Nggak usah, Mas, Mbak, aku nggak papa kok. Hanya luka ringan saja, nanti bisa diobati di rumah," ucap wanita itu.
Memang wanita itu hanya mengalami luka goresan pada lengan dan juga lututnya, namun meski begitu Rico dan Alina tetap tidak tega membiarkannya begitu saja pulang dengan keadaan terluka. Apalagi luka pada lututnya membuat celananya robek dan goresan di lengannya pun cukup panjang.
"Luka kamu cukup panjang, nanti takutnya akan infeksi kalau nggak segera diobati. Ayo, kita ke rumah sakit saja ya. Kamu tenang saja, semua biaya kami yang tanggung kok," ucap Rico. Dia kembali hendak membantu wanita itu berdiri, namun wanita itu tetap menolak niat baiknya yang ingin bertanggung jawab.
"Nggak usah, Mas. Walaupun ingin bertanggung jawab, setidaknya orang yang membawa mobil tadi yang melakukannya, bukan kalian."
Mendengar perkataan wanita itu, Rico pun baru tersadar jika orang yang hampir menabrak istrinya dan wanita itu kini telah melarikan diri. Seharusnya dia lebih dulu mengejar mobil itu tadi agar segera bisa dimintai pertanggungjawaban.
Namun karena dia pikir orang yang membawa mobil tersebut belum keluar dari area Mall, Rico pun segera berlari menuju pintu parkir keluar. Dengan informasi berupa jenis mobil dan plat pada kendaraannya, Rico berlari mencari ke sekitar area mall itu. Dia berharap orang yang hampir mencelakai istrinya itu masih berada di sana sehingga dia bisa meminta pertanggungjawaban darinya.
Seperginya Rico, Alina membantu wanita itu untuk berdiri dan mendudukkan tubuhnya di kursi mobilnya. Sambil menunggu Rico kembali, Alina mengambil botol air mineral yang sengaja dia bawa dari rumah untuk membasuh luka wanita itu.
"Aw," ringis wanita itu saat lukanya terkena air.
"Maaf ya, karena sudah membantuku, kamu jadi terluka seperti ini," ucap Alina dengan tidak enak hati.
"Nggak papa, Mbak. Sudah sepantasnya kita sebagai sesama manusia untuk saling tolong-menolong. Lagi pula aku akan sangat merasa bersalah kalau nggak menolong Mbak tadi. Apalagi Mbak sedang hamil saat ini, pasti lukanya bakal lebih parah hari ini kalau aku nggak menolong Mbak."
Alina Tersenyumlah. Sepertinya dia sangat beruntung bertemu wanita itu hari ini. Jika tidak, mungkin benar katanya, luka yang akan dia dapatkan dari kejadian ini mungkin bukan hanya sekedar luka goresan saja. Membayangkan hal itu, Alina jadi sangat takut.
"Nggak usah, Mbak. Lagian aku sudah mau pulang, nanti saat di rumah lukanya bisa segera diobati."
"Ngomong-ngomong, kamu tinggal di mana? Mau kita antar saja?" tanya Alina sekaligus menawarkan.
"Rumahku nggak jauh kok dari sini. Aku bawa motor, jadi Mbak nggak usah repot-repot."
"Kamu bawa motor? Gimana cara membawanya, sedangkan kaki kamu saja terluka seperti ini? Kita antar saja ya, nanti motornya kita antar ke rumah kamu."
"Nggak usah repot-repot, Mbak. Aku bisa sendiri kok."
"Kamu serius nggak apa-apa?" tanya Alina yang kembali memastikan.
"Iya, Mbak. Aku bahkan pernah mengalami luka lebih dari ini, jadi Mbak tenang saja," ucap wanita sembari tersenyum, seolah menunjukkan jika dirinya benar-benar baik-baik saja di depan Alina.
"Oh ya, ngomong-ngomong nama kamu siap" tanya Alina sembari mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Namaku Elis, Mbak."
"Aku Alina. Kamu udah kerja di dalam mall sini, Elis?" tanya Alina saat menyadari baju dibalik jaket yang dikenakan wanita itu seperti baju seragam.
"Iya, aku sales di salah satu toko perhiasan di dalam, Mbak."
Belum selesai obrolan kedua wanita itu, kini terlihat Rico berjalan menghampiri mereka. Pria itu terlihat ngos-ngosan setelah berlari mengejar mobil yang di hampir menabrak istrinya.
"Gimana, Mas? Apa kamu bertemu dengan orangnya?" tanya Alina setelah suaminya itu berhasil mengatur nafasnya.
Rico menggelengkan kepalanya.
"Nggak, Sayang. Mas kehilangan mobilnya, mungkin dia sudah pergi."
"Ya sudah, nggak apa-apa, Mbak. Mungkin aku memang lagi dikasih ujian saja sama Allah. Kalau begitu saya pamit ya, Mbak," ucap Elis sembari berdiri.
"Mau ke mana? Ayo kita ke rumah sakit dulu," ucap Rico yang membuat Elis berhenti.
"Nggak usah, Mas. Aku langsung pulang saja, nanti diobati di rumah kok sama ibu," tolak Elis untuk kesekian kalinya.
"Tapi kami nggak enak lho sama kamu. Kamu sudah menyelamatkan istri saya, masa saya diam saja?"
"Nggak papa, Mas. Anggap saja Mbak Alina sedang beruntung karena disamakan oleh saya. Kalau begitu saya pergi ya, Mbak, Mas."
"Tunggu dulu," ucap Rico dengan cepat.
Lagi-lagi Elis kembali menghentikan langkahnya dan menatap ke arah pria itu. Dia melihat Rico yang merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompet dari sana. Saat Rico mengeluarkan uang dari dompetnya, Elis pun curiga jika pria itu ingin memberinya uang.
"Ini buat kamu, buat berobat. Mohon diterima ya," ucap Rico sembari mengulurkan beberapa lembar uang kepada Elis.
Dan benar saja dugaannya. Karena benar-benar tak berniat untuk menerima balasan dari kedua orang itu, lagi-lagi Elis harus menolak bantuan dari Rico.
"Nggak usah, Mas. Aku beneran nggak apa-apa kok. Ini hanya luka ringan saja, diobati dengan obat oleh, satu minggu juga lukanya akan menghilang."
"Elis, kami mohon terima uangnya ya. Setidaknya kalau kamu nggak mau kami bawa ke rumah sakit, terima pemberian dari kami ini," ucap Alina pula dengan sedikit memaksa.
Elis terdiam sejenak saat melihat keseriusan pada kedua orang itu. Karena merasa tidak enak hati, lantas Elis pun menerima uang dari Rico dengan terpaksa. Seumur-umur dia memang tidak pernah menerima imbalan dari siapapun atas kebaikan yang telah dia lakukan. Dan hari ini entah kenapa rasanya tidak enak sekali jika harus menolak kebaikan dari Alina dan Rico untuk kesekian kalinya. Elis merasa jika Alina akan merasa bersalah padanya jika dia tidak menerima uang itu.
"Mbak Alina, terima kasih banyak ya. Aku beneran nggak berniat untuk meminta imbalan sama kalian. Aku tulis kok membantu Mbak Alina. Kebetulan kakak ipar saya juga sedang hamil, jadi saya memposisikan Mbak Alina sebagai kakak ipar saya saat menolong Mbak."
"Kita tahu kalau kamu baik, Elis, tapi kita juga mau bertanggung jawab atas kejadian menimpa kamu ini."
Elis tersenyum senang mendengar perkataan Alina. Mereka benar-benar orang baik. Dia sangat beruntung di hari ini sudah bertemu dengan mereka. Elis merasa di balik musibah yang menyimpannya hari ini, terdapat sebuah kenikmatan yang Allah berikan padanya melalui Alina dan Rico. Kebetulan sekali dia sedang membutuhkan uang dan gajiannya pun masih lama. Dengan uang pemberian dari Rico dan Alina, dia jadi bisa menggunakan uang itu untuk keperluan mendesaknya.
Karena merasa harus segera pergi, Elis pun segera berpamitan untuk pergi dari sana. Jangan sampai ada rekan kerjanya yang melihat dia masih berada di parkiran, sementara sejak setengah jam lalu dia sudah izin untuk pulang lebih awal karena sebuah masalah yang cukup mendesak memaksanya untuk pulang.
Melihat kepergian Elis, Alina pun menghela nafasnya sembari mengelus perutnya yang membesar itu.
"Ternyata masih ada orang sebaik Elis ya, Mas. Aku bisa melihat dari raut wajahnya dan cara bicaranya kalau dia benar-benar tulus menolong, tanpa berharap imbalan."
Rico tersenyum kepada istrinya.
"Tuhan yang telah baik kepada kita, Sayang. Dia sengaja mendatangkan Elis untuk menolong kamu dan anak kita dari insiden itu."
Alina tersenyum dan membenarkannya. Tuhan memang baik kepada mereka. Jika Tuhan tidak mendatangkan Elis saat itu, entah apa yang akan terjadi kepada Alina dan kandungannya.
"Oh ya, kamu beneran nggak apa-apa, 'kan?" tanya Rico lagi sembari mengelus perut istrinya dan mengecek sekitar tubuhnya.
"Nggak papa kok, Mas. Elis tadi hanya sedikit mendorongku ke belakang mobil, jadi hanya punggungku saja yang tersentak belakang mobil," ucap Alina menjelaskan.
"Syukurlah kalau begitu. Tapi besok kita harus tetap periksa ke rumah sakit ya, Sayang. Walaupun kamu bilang nggak papa, aku nggak mau kita sampai terlambat bertindak."
Karena tak mau membuat suaminya itu merasa tak nyaman dengan kondisinya, Alina pun mengiyakannya saja. Dia belajar dari yang sudah-sudah, tak mau meremehkan hal kecil yang akan berakibat besar pada mereka.
"Jadi, apa kita masih mau belanja?" tanya Rico pada istrinya.
"Jadi dong. 'kan aku nggak kenapa-napa. Ayo," ucap Alina sembari menggandeng tangan suaminya.
Rico pun mengiyakan dan mereka segera masuk ke dalam mall untuk melanjutkan niat awalnya datang ke mall itu yang ingin berbelanja keperluan untuk anak mereka nanti.