Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
22. Berdamai


Rena memejamkan matanya mengingat kejadian yang telah lama berlalu itu. Rasanya sangat sakit saat mengingat perlakuan tidak sopan Alvin padanya.


Alina pun yang mendengar itu lantas membuka mulutnya dengan spontan. Dia sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Rena sampai tak bisa berkata-kata.


"Saat itu aku sempat terdiam karena sangat terkejut dengan perlakuan Alvin. Setelah mendengar suara kamera yang ternyata Alvin sedang memotret kami berdua, aku langsung tersadar dan menjauhkan tubuhnya dariku. Bukan hanya memotret, ternyata dia juga merekam perbuatannya itu padaku. Dengan diamku itu, Alvin berhasil membuat video dan foto tersebut menjadi seolah jika kami memang sedang berciuman dengan sengaja." Mata Rena kini jadi berkaca-kaca mengingat hari sialnya itu. "Sejak itu Alvin selalu memaksa aku untuk menemuinya jika nggak mau foto dan video sampah itu sampai ke ponsel Andi."


Rena menatap Alina dengan wajah sedihnya. "Aku nggak bisa berbuat apapu, Al." Dia tiba-tiba menggenggam tangan Alina dengan erat. Seolah sedang menunjukkan jika dirinya benar-benar tidak memiliki pilihan lain selain menuruti kemauan Alvin.


"Aku nggak mau Andi melihat video dan foto itu. Aku nggak mau. Aku takut Andi akan marah dan memutusiku untuk kedua kalinya. Aku benar-benar nggak mau, Al."


Mata Rena semakin berkaca-kaca, bahkan tak butuh waktu lama untuknya menitihkan air mata. Membuat Alina dengan segera meraih tubuh wanita itu dan memeluknya. Dia usap punggung Rena untuk menenangkannya.


Dia tahu bagaimana berada di posisi Rena meski tak pernah merasakannya, dia juga mengerti kenapa Rena melakukan semua itu. Tapi di sisi lain dia tidak bisa membenarkan semua keputusan Rena yang membuatnya harus terjebak dalam permainan pria bernama Alvin itu.


Namun untuk menghakimi Rena yang telah memberi ruang kecil untuk Alvin masuk pun sepertinya tidak mungkin. Rena adalah manusia normal, dia rasa apa yang dilakukan Rena tidak sepenuhnya salah. Mengingat semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan, dia pikir Rena hanya khilaf di saat kerapuhan datang padanya dulu. 


Setelah beberapa saat Rena menumpahkan tangisnya kepada Alina, Alina melepas pelukannya dengan perlahan. Kemudian dia mengusap kedua pipi Rena yang basah oleh air matanya.


"Kenapa kamu nggak cerita dengan orang tua kamu? Bukankah lebih nggak baik kalau kamu memendamnya sendiri? Diamnya kamu ini pasti membuat teman kamu itu merasa jika dirinya menang. Memangnya kamu mau sampai kapan seperti ini terus?" tanya Alina dengan lebih dari satu pertanyaan.


"Aku nggak berani, Al. Aku terlanjur malu dengan kejadian itu. Aku juga nggak mau jika sampai papaku menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang sudah terjadi padaku," ucap Rena dengan lirih.


Alina menghela nafasnya.


"Lalu kamu mau bagaimana sekarang?" tanyanya.


Di todong pertanyaan seperti itu, bibir Rena bergetar karena tak tahu harus menjawab apa. Dia ingin sekali terbebas dari Alvin, namun dia juga tidak mau jika sampai Andi mengetahui semua ini. Sudah cukup satu kali saja Andi memutuskannya karena satu kesalahannya dan sekarang dia tidak mau Andi marah lagi dengannya. Dia benar-benar bingung harus bagaimana caranya agar Alvin tak lagi mengganggunya.


"Rena?" panggil Alina sembari menyentuh punggung tangannya.


"Ah?" Rena tersadar dari lamunannya begitu suara dan sentuhan Alina mengejutkannya. Dia menatap ke arah Alina, namun masih tanpa suara.


"Kamu nggak boleh diam saja begini kalau ingin semuanya berakhir."


"Aku harus bagaimana, Al? Kalau aku nggak mau nurutin Alvin, dia akan menyebarkan video dan foto itu kepada Andi," seru Rena dengan bergetar.


"Kalau begitu, kamu harus menceritakan semuanya kepada Andi lebih dulu sebelum foto dan video itu dikirim Alvin padanya."


Rena mengernyitkan keningnya mendengar perkataan Alina. Cerita dengan Andi? Apa maksud Alina, pikirnya.


"Maksud kamu apa?" tanyanya tak mengerti.


"Ya, kamu harus menceritakan semua yang telah kamu ceritakan padaku ini kepada Andi. Dia harus tahu semuanya dari mulut kamu langsung sebelum mengetahui semuanya dari bukti tak jelas itu. Sama halnya denganku, Andi pasti juga akan mengerti keadaan kamu jika kamu jujur dengannya. Aku sangat mengenal Andi, dia pria yang baik, Ren. Dia nggak akan semudah itu mengambil keputusan yang salah jika kamu jujur dengannya sedari awal, apalagi di sini bukan kamu yang menginginkan kejadian itu."


Alina menggenggam lebih erat tangan Rena.


"Katakanlah padanya, buktikan kalau kamu benar-benar nggak menginginkan semua permasalahan ini. Buktikan kalau kamu benar-benar mencintainya, aku yakin Andi akan mudah mengerti. Kalau kamu mau, aku akan menemanimu bertemu dengan Andi. Aku yakin, dia nggak akan marah sama kamu. Dia akan melindungi kamu dari pria bernama Alvin itu."


Mendengar perkataan Alina, mata Rena kembali berkaca-kaca. Dia terharu mendengar setiap kalimat yang Alina ucapkan. Rasanya setiap perkataan yang keluar dari mulut Alina terdengar tulus di telinganya, bahkan terasa sampai ke hatinya. Dia jadi heran, kenapa Alina bisa sebaik ini padanya, padahal sejak lama dia selalu menanam rasa ketidaksukaan terhadap wanita itu.


Rena jadi merasa bersalah dengan wanita yang kini duduk di sampingnya. Dia merasa jika selama ini dia memang sudah terlalu berlebihan mencemburui Alina dengan pacarnya. Saat ini dia sangat malu karena perbuatan buruknya justru dibalas Alina dengan kebaikan yang bahkan sampai membuat hatinya sedikit bergetar haru. Rena benar-benar merasa telah kehilangan wajahnya di depan Alina, dia sangat malu dan merasa bersalah sampai air matanya kembali membasahi pipinya.


"Maafkan aku, Al," ucap Rena. Kemudian dia memeluk tubuh ramping Alina dengan perasaan tak menentu.


Alina membalas pelukan itu dalam diam dengan senyuman tipis menghiasi wajahnya.


"Its okay, Ren," ucap Alina sembari mengusap punggung belakang Rena. "Aku nggak pernah marah dengan semua yang kamu lakukan padaku kok. Justru aku mau minta maaf karena nggak bisa ngertiin perasaan kamu terhadap Andi."


Rena menggelengkan kepalanya dan melepas pelukannya.


"Nggak, Al. Kamu nggak perlu minta maaf apapun. Di sini aku yang salah, aku yang selalu bertingkah berlebihan atas semua yang aku inginkan. Aku selalu egois, aku selalu ingin Andi melakukan apapun yang aku mau tanpa memikirkan perasaannya."


"Sudahlah, jangan menangis lagi." (Bacanya jangan sambil nyanyi ya)


Alina kembali mengusap pipi Rena yang basah.


"Yang lalu biarla berlalu. Sekarang yang harus kamu lakukan adalah, menyelesaikan masalah kamu bersama pria bernama Alvin itu. Jujurlah kepada Andi, insyaa Allah dia akan mengerti keadaan kamu. Apa kamu mau aku ikut bicara dengan Andi? Dia nggak akan berani ngapa-ngapain kamu kalau ada aku," ucap Alina dengan sedikit bercanda pada akhir kalimatnya agar Rena tak bersedih lagi.


Rena tersenyum tipis.


"Aku akan menemuinya sendiri. Sekali lagi makasih banyak ya, Al. Aku berhutang banyak dengan kamu," ucap Rena dengan tulus.


"Jangan dipikirkan," ucap Alina.


Mereka kembali berpelukan dengan perasaan yang sedikit lega. Saat itu Rena memutuskan untuk berdamai dengan Alina. Dia tidak mau lagi berpikiran buruk kepada wanita itu. Alina adalah wanita yang baik, dia bisa merasakan itu meski baru beberapa menit berinteraksi intens bersama.


Apalagi sudah jelas jika sekarang Alina berpacaran dengan Rico. Untuk wanita sebaik Alina, dia yakin jika Alina tidak akan mungkin melakukan hal bodoh dengan mengkhianati Rico. Begitupun dengan Andi yang sangat mencintainya, pacarnya itu tidak mungkin mengkhianati cintanya dan juga sahabatnya.


Mereka kembali melepas pelukannya. Alina terlihat heran saat melihat raut ragu pada wajah Rena. Seperti ada sesuatu yang ingin dikatakan wanita itu padanya.


"Kenapa, Ren?" tanya Alina.


"Em… kamu beneran nggak ada hubungan apa-apa 'kan dengan Andi?" tanya Rena sambil menggigit bibir bawahnya. Dia tidak bermaksud untuk curiga karena sudah memutuskan untuk percaya kepada Alina. Namun dia hanya ingin bertanya saja, untuk memastikan agar hatinya benar-benar lega.


"Kamu masih mencurigai kami?" tanya Alina tak percaya.


"Bu–bukan begitu. Aku hanya ingin memastikan saja," ucapnya sambil tersenyum kaku.


"Aku dan Andi hanya teman, Ren. Lagi pula aku 'kan sudah punya pacar. Untuk apa aku mencari pria lain lagi?"


"Apa kamu sangat mencintai Rico?" tanya Rena.


"Belum bisa sebesar rasa cintanya padaku, tapi aku benar-benar menyayanginya."


"Apa saudaramu sudah mengetahui hubungan kalian?" tanya Rena.


"Tentu. Bahkan abangku menyukainya," ucap Alina dengan tersenyum senang.


Hal itu tentu saja membuat Rena ikut senang mendengarnya. Sekarang dia semakin yakin jika Alina dan Andi benar-benar tidak memiliki hubungan apapun selain pertemanan. Akhirnya dia bisa bernapas lega setelah hatinya bisa meyakini kenyataan yang tak seperti apa yang dia pikirkan sebelumnya.


***


.


Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰


.


.