
Kehamilan pertama kalinya ini benar-benar membawa berkah untuk keluarga kecilnya. Di mana setelah satu bulan Alina melahirkan, saat itu Irfan mulai meresmikan Rico sebagai pewaris keluarga Renaldi. Saat itu Rico resmi menjadi pemimpin perusahaan Rens Group. Rico tidak lagi menolak pemberian orang tuanya itu, kini dia mulai mengerti jika sebuah penolakan akan niat baik seseorang, merupakan sebuah bentuk penghinaan secara halus.
Tak ada yang bisa Rico lakukan selain berterima kasih sebesar-besarnya kepada orang tuanya itu. Dia benar-benar tidak menyangka jika musibah yang menimpa keluarganya beberapa tahun lalu akan membawa dia kepada sebuah kesuksesan seperti yang saat ini dia rasakan.
Rico sangat bersyukur karena Tuhan telah menitipkan dirinya kepada orang yang tepat. Kepada Irfan dan Santi yang begitu amat sangat baik padanya. Bahkan Tuhan juga memberikan dia seorang istri yang sangat cantik dengan latar belakang keluarga yang luar biasa. Tidak pernah Rico membayangkan hal ini terjadi padanya, terlebih dirinya hanyalah seorang anak kecil yang berasal dari desa dengan latar belakang keluarga yang memiliki keterbatasan dalam segi perekonomian.
Seolah kebahagiaan datang bertubi-tubi pada keluarga kecil Alina dan Rico, pada bulan berikutnya rumah yang selama ini Rico bangun sejak dia belum menikah akhirnya telah terselesaikan. Sesuai harapan Rico, semua request-an yang dia ajukan kepada arsitek yang menangani istananya itu, membuat dia merasa lega, bahkan Alina pun sangat menyukainya.
Hari ini Rico dan Alina akan melakukan pindahan dari kediaman Renaldi ke rumah pribadi mereka. Mereka sudah tidak sabar ingin menempati rumah barunya yang selama ini telah dinanti. Sementara Irfan dan Santi mereka terlihat bersedih karena anak dan menantunya akan pergi dari kediamannya.
"Mama jangan sedih ya. Nanti 'kan kita bisa menginap di sini, Ma," ujar Alina kepada mertuanya itu.
"Iya, Ma. Atau Mama dan Papa bisa menginap di kediaman kita juga kok," seru Rico pula.
"Kalian janji akan sering menginap di sini?" tanya Santi yang terlihat posesif.
"Iya, Ma, kita janji kok. Lagian rumah kita 'kan nggak jauh, kapan saja kita bisa berkunjung kalau luang," ucap Alina meyakinkan.
Santri pun akhirnya hanya bisa menghela nafasnya.
"Baiklah kalau begitu. Kalian hati-hati ya, nanti Mama kirim beberapa orang untuk membantu kamu," ucap Santi kemudian.
Sudah sejak lama Santi mengatakan pada Alina jika dia akan memberikan salah satu pegawainya untuk membantunya di kediaman barunya itu. Selama ini Alina selalu menolaknya, namun kali ini dia tidak ingin Mama mertuanya itu kecewa dengan niat baiknya.
Alina pun akhirnya menyetujui perkataan Santi agar wanita itu senang.
Saat semua keperluannya telah siap, Alina pun masuk ke dalam mobil bersama sang suami untuk pergi menuju rumah baru mereka.
Irfan dan Santi mengikuti mereka dari belakang dengan kendaraan pribadinya. Sementara keluarga Alina saat itu juga sudah dalam perjalanan menuju lokasi rumah baru anak mereka. Mereka akan bertemu di sana dan membantu kepindahan anak-anak mereka.
***
Saat itu Alina dan keluarga Rico tiba lebih dulu di kediamannya. Setelah beberapa menit mereka menunggu, akhirnya keluarga Alina pun tiba juga di sana.
Melihat hanya kedua orang tua dan keluarga Alfian saja yang datang, Alina pun mengernyitkan keningnya dengan heran.
Setahunya, abang keduanya itu sudah berjanji akan ikut datang bersama orang tuanya untuk membantu dia beberes di rumah barunya ini. Namun saat ini yang terlihat hanya Alfian dan juga orang kedua orang tuanya saja. Dia jadi curiga jika abangnya itu hanya membual.
Namun belum lama Alina berburuk sangka tentang abangnya itu, saat itu sebuah mobil yang dikenalnya masuk ke dalam halaman rumah Alina. Terlihat Morgan keluar dari sana dan di susul oleh seorang wanita yang turun dari pintu samping kemudi.
Semua orang menatap penasaran akan wanita yang dibawa pria usil itu. Dalam hati mereka bertanya-tanya akan siapa wanita cantik itu.
Saat Morgan mendekat bersamanya, dia langsung dihujani dengan begitu banyak pertanyaan akan wanita yan dia bawa. Namun bukan Morgan jika menjawab pertanyaan keluarganya dengan serius dan formal. Dia justru menjawab pertanyaan keluarganya dengan santai dan terkesan bercanda.
"Dia pacarku. Kenapa kalian banyak bertanya sekali, apa di sini hanya kalian saja yang boleh punya pasangan?"
Jawaban yang sedikit mengesalkan, namun juga sesuatu yang tak diduga jika pria itu akan membawa seorang wanita yang diakuinya sebagai pacar kepada keluarganya. Terlebih Alina, yang dia tahu jika abangnya itu hanya suka mempermainkan wanita, namun tak disangka jika pria usil itu ternyata bisa menjalin hubungan dengan wanita secara serius.
Ya, Alina mengakui jika abangnya itu akan menseriusi hubungannya dengan wanita yang di bawahnya itu. Karena tak mungkin Morgan hanya ingin bermain-main jika sudah melibatkan keluarganya. Namun Alina yang tak asing dengan wajah wanita yang dibawa abangnya itu, terlihat menatapnya dengan penuh pertanyaan. Dia seperti pernah melihat wajah wanita itu, namun tak tahu di mana dan kapan.
"Apa kita pernah bertemu?" tanya Alina kemudian. Dia sudah tak bisa membendung rasa penasarannya dan memutuskan untuk bertanya.
"Aku Elsa. Kamu Alina, 'kan?"
Perkataan Elsa membuat Alina dan yang lain terkejut. Elsa sudah mengenal Alina? Apa Morgan yang menceritakannya atau memang mereka pernah bertemu sebelumnya?
"Apa Bang Morgan pernah bercerita tentangku?" tanya Alina.
"Kita pernah bertemu di parkiran Mall. Saat itu aku menolong kamu dari mobil yang melaju kencang, apa kamu ingat?"
Alina menbelalakkan matanya, kini dia ingat jika dia pernah bertemu dengan Elsa. Tak disangka jika wanita yang dikencani abangnya itu adalah seorang wanita yang pernah menolongnya beberapa bulan lalu.
Alina sangat senang mendengarnya. Setidaknya dia lega karena abangnya mendapatkan sosok wanita baik seperti Elsa, bukan Calista. Meskipun sebenarnya dia tak terlalu mengenal Calista, tapi menurut perasaannya, lebih baik abangnya itu bersama dengan Elsa saja.
*
~TAMAT~