Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
35. Menjenguk Alina


Keesokan harinya Santi dengan diantar suaminya dan bersama putranya sedang dalam perjalanan menuju apartemen Alina. Maksudnya, apartemen yang menjadi tempat tinggal Alina saat ini.


Setiba di tujuan, Santi segera turun dari mobil dan segera masuk ke dalam gedung bertingkat itu setelah berpamitan kepada suami dan anaknya. Sementara Rico dan Irfan, mereka harus menghadiri acara pernikahan anak dari rekan kerjanya. Santi sengaja tidak ikut dalam acara tersebur karena dia harus menepati janjinya yang semalam untuk menjenguk Alina yang sedang sakit. Lagi pula dia malas sekali datang ke acara itu, yang di mana sebagian dari acara tersebur tak lain hanya untuk ajang pamer harta semata.


Setiba di depan kamar apartemen Alina, Santi segera menekan bel yang ada di sisi pintu. Hampir satu menit akhirnya pintu pun terbuka, menampilkan sosok seorang pria tampan dari balik pintu tersebut. Santi tersenyum kepadanya, dia tidak terkejut lagi melihat sosok Alfian karena Rico sudah mengatakan padanya jika Alina malam ini ditemani oleh abangnya di sana.


"Halo," sapa Santi lebih dulu.


"Em, Halo. Ada yang bisa dibantu, Nyonya?" tanya Alfian ramah.


"Saya mama-nya Rico. Apa Alina ada di dalam?"


Menyadari jika wanita itu adalah orang tua Rico, Alfian segera membuka pintu lebih lebar dan mempersilahkan Santi masuk ke dalam.


"Alina ada di kamar, Nyona. Mau saya panggilkan?"


"Boleh saya yang menghampirinya ke sana? Kasihan kalau disuruh turun ke sini," ucap Santi pengertian.


Alfian langsung mengiyakan permintaan Santi. Memang benar, Alina harus banyak beristirahat dan mengurangi aktifitasnya agar cepat sembuh. Alfian mengantar Santi ke kamar Alina yang berada di lantai dua, sebelum masuk ke dalam, dia mengetuk pintu kamar adiknya terlebih dahulu. Dan setelah Alina mengizinkannya masuk, Alfian segera membuka pintu itu.


"Al, ada mama Rico mau jenguk kamu. Abang suruh masuk ya?"


Mendengar Santi datang untuk menjenguknya, Alina langsung mengiyakannya.


"Silahkan, Nyonya."


Santi tersenyum ramah, kemudian masuk ke dalam kamar Alina. Namun sebelum itu, dia menatap ke arah Alfian sejenak sampai pria itu menghilang dari pandangannya.


Saat Alina melihat Santi masuk ke dalam kamarnya, dia tersenyum senang dan langsung mendudukkan tubuhnya di sisi punggung kasur.


"Bibi, kenapa repot-repot," ucap Alina lebih dulu.


"Nggak repot, Sayang. Bibi 'kan sudah janji mau mampir ke sini." Santi mendudukkan tubuhnya disamping Alina. "Bagaimana perut kamu? Apa sudah baikan?"


"Masih sering mual, Bi. Tapi sudah nggak separah hari pertama kemarin kok."


"Apa ada gejala lain selain mual?" tanya Santi lagi yang sudah seperti seorang perawat.


"Ya biasanya kepala Alina sering merasa pusing kalau mualnya kambuh, Bi. Tapi nggak jadi masalah kok, itu terjadi hanya beberapa menit saja. Kalau sudah minum air hangat, pusing dan mualnya berangsur hilang."


"Bagus deh kalau begitu. Oh ya, ini Bibi bawakan air jahe. Air jahe sangat bagus untuk mengurangi mual loh. Bibi siapin mau ya?" ucap Santi dengan ramah.


Tanpa berpikir panjang, Alina menganggukkan kepalanya. Dulu juga mamanya sering membuatkannya air jahe saat penyakitnya ini kambuh, namun sayangnya Alfian saat ini belum sempat membeli jahe ke market dan hanya mengandalkan air hangat saja.


Sebelum memberi Alina air jahe buatannya, Santi beranjak menuju dapur terlabih dahulu untuk mengambil sendok, setelah itu barulah dia menyuapi Alina dengan air jahe yang masih hangat itu.


"Terima kasih ya, Bi. Alina jadi merepotkan Bibi deh," ucap Alina dengan tidak enak hati.


Dia benar-benar merasa seperti merepotkan Santi yang sudah jauh-jauh datang ke sini hanya untuk menyuapinya air jahe. Namun di sisi lain juga Alina sangat senang karena masih ada orang yang mau perhatian dengannya selain keluarganya. Tak salah jika pasangan kekasih yang tak lagi muda ini sangat terkenal akan kebaikan hatinya.


Saat Santi dan Alina sedang asik berbincang sambil menghabiskan air jahenya, tiba-tiba Alfian mengetuk pintu kamarnya untuk berpamitan. Dia berpamitan untuk pergi mengurus sesuatu yang harus dia selesaikan dalam beberapa bulan kedepan nanti.


Seperginya Alfian, Santi dan Alina kembali melanjutkan perbincangannya. Cukup banyak yang mereka bicarakan, mulai dari kegiatan Alina di kampus, pekerjaan Alina, hubungannya bersama Rico, hingga menceritakan masa kecil Rico yang sangat lucu dan pintar.


Saking asiknya menceritakan masa kecil Rico, membuat Santi tak sengaja mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dia katakan kepada Alina.


"Beruntung saat itu Surti membawa Rico ke kediaman kami, jika ti...."


Alina yang sudah mengetahui semua cerita itu dari Rico sejak tadi hanya diam saja mendengarkan. Namun ternyata Santi cepat menyadari kesalahannya sehingga membuatnya terdiam dengan sendiri. Dia terlihat bingung, tak tahu apa yang harus dikatakannya kepada Alina atas keteledorannya.


Selama ini dia sangat menutup rapat kebenaran itu agar tidak ada orang lain yang bisa mengejek Rico atas statusnya itunya. Namun sekarang, justru dia sendiri yang tanpa sadar mengatakan hal yang akan membuat Alina yang merupakan pacar Rico penasaran.


Bukan hanya penasaran, Santi takut jika Alina berpikir macam-macam kepada Rico atas perkataannya. Namun saat Alina mengucapkan sebuah kalimat, dia dibuat terkejut mendengarnya.


"Alina sudah tahu semuanya, Bi."


"Kamu sudah tahu?" tanyanya tak percaya.


Alina tersenyum. "Belum lama ini Rico menceritakan semuanya kepada Alina, Bi. Dia bilang, dia ingin Alina tahu semua tentang dirinya."


"Sayang…"


"Alina nggak masalah kok, Bi. Alina justru senang karena Rico mau jujur dengan Alina."


Santi yang mendengar itu tersenyum haru. Dia menarik tubuh Alina dan memeluknya dengan sayang. Perasaan takut jika Alina akan merendahkan Rico seketika terganti dan justru membuatnya menyayangi wanita itu. Santi sangat terharu, dia merasa jika Tuhan sangat sayang kepada dirinya karena sudah menghadirkan orang-orang baik di sekitarnya.


"Sayang, makasih ya sudah mau menerima Rico apa adanya. Bibi senang sekali Rico mendapatkan wanita baik seperti kamu," ucap Santi dengan mata yang berkaca-kaca.


Santi menarik pelukannya dari Alina, kemdudian dia menangkup kedua pipi Alina dengan kedua tangannya.


"Bibi doakan, semoga hubungan kalian bisa berlanjut hingga ke kenjang pernikahan dan bahagia hingga maut memisahkan."


"Terima kasih, Bibi. Doa yang baik kembali kepada Bibi juga," sahut Alina.


Setelah saling melempar doa dan air jahe yang ada di dalam gelasnya habis, Santi mengajak Alina untuk menemaninya menonton film di lantai bawah. Dia pikir Alina akan merasa bosan jika hanya berdiam di dalam kamar saja, jadi dia sengaja mencarikan hiburan untuk mengisi waktu luang mereka.


"Kamu bisa berjalan, Sayang?" tanya Santi sebelum Alina turun dari tempat tidurnya.


"Bisa, Bi."


Dengan perlahan Santi membantu Alina turun dari kasurnya dan menuruni anak tangga dengan sangat hati-hati. Meski membutuhkan waktu yang cukup lama untuk tiba di lantai satu, tapi itu tak jadi masalah asalkan Alina baik-baik saja.


Setelah mendudukkan tubuhnya di kursi, Santi dan Alina segera memilih sebuah film pada layar TV di depan mereka. Setelah menemukan sebuah film yang mereka berdua sepakati, Santi segera menekan tombol 'oke' pada remote yang dia pegang. Film yang mereka pilih saat itu adalah sebuah film interlokal bergenre drama komedi. Sebenarnya mereka memilih film tersebut bukan karena genre ataupun ceritanya yang menaik, melainkan karena salah satu aktor utama yang bermain di film tersebut adalah idola mereka.


Film yang berdurasi 2 jam tersebut mulai diputar, baik Alina maupun Santi terlihat fokus dengan layar kaca di depan mereka. Cerita yang ternyata sangat menarik tersebut membuat kedua wanita itu fokus pada setiap adegan yang dimainkan. Pada beberapa bagian dalam cerita itu mereka tertawa terbahak-bahak karena melihat adegan yang sangat lucu, dan pada 30 menit terakhir tawa Santi dan Alina berubah menjadi rasa tegang yang di mana pada menit berikutnya mata mereka mulai berkaca-kaca. Sad ending pada cerita tersebut seharusnya membuat Santi dan Alina menumpahkan air mata sedihnya, namun sayang mereka tidak sampai pada ******* film tersebut karena suara bel apartemen yang tiba-tiba berbunyi di saat yang tidak tepat.


Untuk mengabaikan bel tersebut dan melanjutkan tontonan pun tidak bisa, karena suasana telah berubah dengan seketika. Santi terlihat kesal dan segera beranjak dari duduknya untuk melihat siapa yang mengganggu kesenangannya bersama Alina.


Saat dia membuka pintu, terlihat Irfan dan Rico berdiri di depan sana dengan tersenyum tipis. Mereka terheran saat melihat raut wajah Santi yang terlihat kesal.


"Mama kenapa?" tanya Rico heran.


"Kalian kenapa datangnya cepat sekali?" tanya Santi dengan mengabaikan pertanyaan Rico.


Mendengar pertanyaan itu, baik Rico maupun Irfan dibuat heran karenanya. Namun saat Santi mengatakan jika kedatangan mereka mengganggu kesenangannya yang sedang menonton, Irfan dan Rico bukannya merasa bersalah, mereka malah tersenyum geli.


Sejak dulu, Santi sangat dikenal dengan kelembutannya karena dia yang tidak pernah marah dengan segala situasi yang dihadapi. Namun untuk aktifitasnya yang satu ini, yaitu menonton, mood wanita itu bisa saja berubah dalam satu detik jika saja ada yang mengganggunya.


Siapapun orang yang mengganggu aktifitasnya itu, biasanya Irfan yang akan selalu menjadi sasaran Santi dalam bad mood mode on nya. Meski tidak akan meluapkan emosinya, namun wanita itu akan terlihat kehilangan moodnya dan berujung cemberut. Namun meski begitu, Santi tidak akan lama cemberut kepada suaminya itu. Apalagi Irfan yang sangat pandai meluluhkan hati istrinya itu.


Seperti saat ini, dengan memeluknya saja Santi sudah tersenyum kembali. Dia memang tidak pernah bisa marah ataupun cemberut dalam waktu lama kepada pria tercintanya itu. Entah mengidam apa orang tuanya saat mengandung Santi, tapi yang jelas, kemarahan selalu menjadi opsi terakhir Santi jika dia sedang emosional.


Rico yang tak ingin melihat pemandangan yang akan membuatnya iri itu lantas meninggalkan kedua orang tuanya dan memilih untuk masuk ke dalam aparteman.


Di atas sofa, dia melihat Alina yang setengah berbaring dengan posisi dirinya memeluk perutnya. Menyadari jika mual Alina kembali kambuh, Rico berjalan cepat menghampiri pacarnya itu dan berteriak menyebut namanya.


"Alina!"


***


.


Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰


.


.