
Setelah mengisi perutnya dengan makanan berat, sembari menyelesaikan adzan isya' yang telah berkumandang, Alina mengajak Rico untuk naik ke lantai dua, di mana tempat live music berada.
Sementara Alina bersiap untuk melakukan pekerjaannya sebagai penyanyi cafe, Rico mengambil tempat duduk di meja yang paling dekat dengan posisi panggung live music berada. Di sana dia bisa melihat dengan jelas Alina yang sedang berkutit dengan pekerjaannya.
Dengan ditemani secangkir kopi hitam yang pekat, Rico tampaknya mulai menikmati suasana yang ada. Meski tak terlalu suka dengan tempat yang seperti ini, namun entah kenapa melihat Alina dengan aktifitasnya saja sudah cukup untuknya tetap berada di sana. Rico merasa ada yang berbeda saat dia menatap wanita cantik itu. Dia menyadari keanehan itu namun juga tak ingin cepat mengambil keputusan.
Alat musik mulai dimainkan, suara dari masing-masing benda yang ada di atas panggung pun mulai mengisi pendengarannya. Tak butuh waktu lama untuk orang-orang di sana mengecek sound, kini sebuah alunan lagu mulai diperdengarkan dan suara indah dari seorang gadis yang berperan sebagai vokalis pun mulai terdengar.
Rico tersenyum saat mendengar betapa merdunya suara Alina saat bernyanyi. Namun tak bisa dipungkiri karena saat berbicara saja suara Alina memang terdengar sangat lembut di telinga, apalagi bernyanyi.
Lagu pertama yang Alina dan teman-temannya mainkan saat itu berasal dari band lokal yang bernama Utha Likumahuwa yang berjudul, Sesaat Kau Hadir. Salah satu lagu favorite milik Santi sekaligus favorite Rico juga sejak lima bulan lalu. Sebuah kebetulan Alina memainkannya di awal penampilannya.
Dan sebuah kebetulan lainnya, saat salah satu lirik yang dia sukai dinyanyikan, saat itu juga Alina menatap ke arahnya seolah arti dari lirik tersebut ditujukan kepadanya.
...'Bersama bayanganmu kasih...
...Seakan-akan kuterjaga dari mimpi-mimpi...
...Dari kehidupan yang semu dan melenakanku...
...Membuat kuterlupa akan segala-galanya'...
Rico membuang pandangannya karena dia tiba-tiba merasa malu dengan tatapan wanita itu. Rico kembali meneguk kopinya dan mulai menatap ke arah Alina lagi yang kini sudah tak lagi menatap ke arahnya.
Hampir satu jam Alina bernyanyi, kini wanita itu turun dari sana dan berjalan menghampirinya. Tak lupa Alina mengucapkan beberapa patah yang mengatakan jika dirinya dan team akan beristirahat sejenak agar tak membuat pengunjung bertanya-tanya.
"Hey," ucap Alina sembari mendudukkan tubuhnya di samping Rico.
"Cepat sekali," ujar Rico heran.
"Kekenyangan, capek."
Rico tersenyum mendengarnya. Alina memang belum setengah jam menghabiskan satu piring makanan berat pesanannya dan dia sudah harus mulai bernyanyi. Tak heran jika lelah datang lebih cepat.
"Kamu mau pulang jam berapa?" tanya Alina random.
Dia tidak bermaksud mengusir Rico dengan pertanyaannya, namun sepertinya Rico merasa demikian.
"Kamu ngusir aku?"
"Nggak, aku cuma nanya doang. Kalau kamu merasa nggak nyaman, nggak usah dijawab."
Rico menarik salah satu sudut bibirnya. "Hey, kamu mencuri perkataanku dan itu tidak cocok diucapkan di saat seperti ini."
"Jadi yang cocoknya gimana?" tanya Alina.
"Aku akan menunggu kamu sampai pulang," ucap Rico tanpa menghiraukan pertanyaan Alina.
"Kamu yakin? Aku pulang jam 12 malam loh."
"Its okay," seru Rico dengan santainya.
Alina tersenyum dengan kedua alis yang dinaikkan ke atas. Karena dia merasa sedikit haus, Alina memanggil salah satu pegawai cafe yang merupakan temannya untuk membuatkannya secangkir minuman.
"Kamu mau sekalian pesan sesuatu? Kita masih lama loh di sini," ucap Alina lagi kepada Rico.
"Cemilan saja sama mineral."
Alina mengiyakan dan segera menyebutkan pesanan Rico kepada temannya itu.
"Oh ya, kamu mau request lagu nggak?" tanya Alina setelah pegawai cafe di sana pergi.
"Request?"
"Iya, lagu yang kamu suka mungkin? Siapa tahu aku bisa menyanyikannya atau kamu mau menyanyi sendiri?" Alina menaikkan kedua alisnya.
"Salah satu lagu yang aku sukai sudah kamu nyanyikan tadi," ucap Rico.
"Hah, yang mana?" tanya Alina penasaran.
"Sesaat kau hadir." Rico menatap Alina dengan tatapan lembut saat menyebutkan judul lagu tersebut.
"Oh ya? Itu lagu kesukaanku juga loh buy the way," ucap Alina dengan sumringah.
Dari sana obrolan mulai menjadi lebih mengalir dan tanpa sadar setengah jam sudah berlalu dan Alina harus kembali melakukan pekerjaannya untuk menghibur pengunjung cafe dengan bernyanyi.
Rico kembali menikmati alunan lagu yang dimainkan. Suara Alina yang lembut mampu membuatnya terhipnotis, bibirnya bahkan tak sadar sudah menunjukkan senyumnya. Sepertinya dia mulai menyukai wanita itu. Memang aneh menyukai seseorang dalam waktu yang sangat singkat, namun itulah yang dirasakan Rico saat ini.
Namun meski begitu Rico tak mau mengambil keputusan dengan cepat. Dia harus mengenal Alina lebih dulu agar keputusan yang diambilnya ini tidak salah. Apalagi ini pertama kalinya dia memiliki perasaan yang lebih dari sekedar tertarik dengan seorang wanita dalam waktu yang sangat singkat. Dia tidak mau jika kedepannya perasaan itu tumbuh lebih dalam dan tiba-tiba Alina juga tak bisa menerima kekurangannya. Bisa dia tebak jika saat itu tiba, maka rasa sakit yang akan dia rasakan nantinya pasti jauh lebih besar dari semua penolakan yang pernah dia terima sebelumnya. Dan Rico belum siap untuk itu.
Pukul 00.03 akhirnya Alina turun dari stage dan menghampiri Rico dimejanya. Hanya menunggu anak-anak yang lainnya selesai merapikan alat musik di sana, setelah itu mereka segera pulang.
Dalam perjalanan pulang mereka terlihat berbincang santai agar tak bosan. Selain itu juga, kantuk yang mulai menyerang juga mengharuskan mereka untuk terus berbincang agar tidak tertidur.
Jalanan yang sangat sepi membuat mereka tiba dengan cepat di depan kontrakan Alina. Wanita itu segera berpamitan dan turun dari mobil karena dia sudah sangat mengantuk.
"Alina," panggil Rico dari kaca jendela mobilnya.
Alina menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Rico.
"Ada apa?" tanyanya.
"Boleh aku minta nomor ponsel kamu?"
Tanpa berpikir panjang karena rasa kantuk sudah sangat menguasai, Alina segera menghampiri Rico dari samping mobilnya.
Rico yang melihat itu pun segera meraih ponselnya yang ada di atas dashboard dan memberikannya kepada Alina ketika wanita itu telah berada di sampingnya. Tanpa ragu wanita itu menekan tombol yang ada di layar ponsel milik Rico untuk memasukkan nomor ponselnya. Setelah itu dia kembalikan ponsel itu kepada pemiliknya.
"Thanks."
Alina mengangguk dan hendak berbalik, namun belum juga berbalik Rico kembali memanggilnya.
"Ada apa lagi?" tanya Alina.
"Apa nanti aku boleh menemani kamu kerja lagi?"
"Oh ya, apa kapan-kapan aku boleh mengajak kamu keluar? Makan atau jalan gitu?" tanya Rico lagi dengan penuh harap.
"Mau ngajak aku ke rumah kamu juga boleh kok," sahut Alina asal.
Dia benar-benar sudah sangat mengantuk dan Rico malah terus membuang waktunya dengan menanyakan sesuatu yang tak penting baginya.
"Hah?"
"Co, kamu sudah ada nomor ponselku. Bisa bertanyanya nanti saja? Aku sudah ngantuk banget," ucap Alina dengan malas, namun suaranya masih terdengar sopan dan lembut. Seperti sudah dari dalam kandungan wanita itu diajarkan bertutur yang baik. Dia jadi merasa jika sebenarnya Alina berasal dari keluarga yang sangat terhormat di desanya sana.
Karena tak mau membuang waktu lagi dan Rico juga sudah tak tega melihat Alina menahan kantuk, akhirnya dia segera berpamitan dan pergi meninggalkan wanita itu.
*
Esok pagi di sebuah rumah yang cukup mewah, seorang wanita yang tak lain adalah Renata terlihat murung sejak kemarin. Terduduk di sudut kasur sembari memeluk lututnya dengan wajah ditenggelamkan. Suaranya yang serak dan matanya yang sembab, menegaskan jika wanita itu sedang tidak baik-baik saja.
Bagaimana untuk baik-baik saja jika dia yang diputusin oleh Andi secara sepihak ternyata tak bisa menerimanya sampai saat ini. Dia ingin sekali menghubungi Andi untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungannya, namun dia tidak berani melakukan itu. Dia takut jika Andi masih marah padanya dan tak mau memaafkannya. Rena sangat pusing memikirkan hubungannya yang terhenti itu, apalagi dia yang menjadi penyebab semua ini.
"Apa yang harus aku lakukan, Tuhan?" tanyanya seorang diri.
Rena menatap figur dirinya bersama Andi yang ada di atas meja riasnya, kemudian dia kembali menelungkupkan wajahnya di atas lutut. Apa dia harus mengizinkan Andi berteman dekat dengan Alina agar hubungannya membaik? Tapi bagaimana caranya, sementara dia sendiri selalu dihantui rasa curiga jika melihat kedekatan pacarnya itu bersama Alina. Apa yang harus dia lakukan?
Rena meraih ponselnya yang ada di atas kasur. Galeri foto dia buka dan terlihatlah begitu banyak foto dirinya bersama sang kekasih. Foto saat mereka berlibur, saat mereka di Ofxford, foto saat mereka sedang merayakan anniversary, sampai foto mereka saat sedang karaoke bersama Rico dan Nita, teman baiknya.
Rena terdiam melihat foto-foto mereka, kemudian pikirannya mengatakan jika dia harus curhat kepada teman baiknya itu. Namun seketika Rena menggelengkan kepalanya kembali. Dia tidak mungkin cerita kepada Nita yang di mana wanita itu sedang ada di luar negeri. Tidak mungkin dia bercerita melalui kontak suara saja karena itu tidak akan memuaskan rasa sedihnya.
Rico?
Entah kenapa tiba-tiba Rena terpikir untuk menghubungi pria itu. Namun setelah dipikir dengan matang, sepertinya tidak ada salahnya jika dia bercerita dengan Rico.
Rico adalah teman baik Andi selain Alina. Mungkin pria itu bisa sedikit membantunya, pikirnya.
Rena mencari kontak Rico dan menghubunginya. Setelah dipastikan Rico berada di kantor, dia segera membersihkan dirinya di dalam kamar mandi sebelum menghampiri pria itu di kantornya. Dia juga harus mengompres matanya yang sembab itu agar tak begitu terlihat jelas, meski sebenarnya dia tak yakin jika sembabnya bisa disamarkan dalam waktu singkat, meski dengan make up sekalipun.
Setelah satu jam lebih bersiap, Rena segera meminta sopir yang ada di rumahnya untuk mengantarnya ke kantor Rico. Setiba di sana dia segera naik ke lantai lima belas, di mana ruangan Rico berada. Untungnya Rico sudah memberi pesan kepada pegawainya yang ada di bawah, sehingga Rena dapt dengan mudah untuk masuk menemuinya.
Tookk… tookk…
Dua kali pintu diketuk dan setelah mendapat izin dari si pemilik ruangan, Rena segera membuka pintu tersebut. Dia masuk ke dalam ruangan dan mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di samping salah satu jendela setelah mendapat arahan dari Rico.
Rena terduduk sendiri di sana selama hampir lima menit, karena Rico masih menyelesaikan pekerjaannya. Setelah di rasa apa yang pria itu kerjakan bisa ditunda, Rico segera menghampiri Rena dan duduk di samping wanita itu.
"Kenapa, Ren? Tumben banget nyamperin aku," tanya Rico dengan heran.
Bagaimana tidak heran, meski Rena adalah pacar dari sahabatnya namun mereka tidak sedekat itu untuk hanya sekedar berteman. Dan beberapa jam lalu Rena tiba-tiba menghubunginya dan mengatakan ingin berbicara dengan dirinya saat itu juga. Membuatnya sangat heran, sekaligus penasaran. Apalagi dia mengatakan untuk tidak memberi tahu Andi akan kedatangannya saat ini.
"Aku putus dengan Andi."
"Hah?" Rico terlihat tak mengerti dengan perkataan Rena.
"Andi mutusin aku kemarin, setelah dari restoran. Dia mutusin aku hanya karena Alina, Co."
"Kenapa kamu menyalahkan Alina?" tanya Rico dengan kening mengkerut.
"Ya karena kehadiran Alina, aku sering bertengkar dengan Andi, Co. Dan Andi mutusin aku karena nggak suka kalau aku cemburu dengan kedekatan mereka," ucap Rena dengan air mata yang hampir tumpah.
Rico memandang cukup lama wajah wanita yang ada di hadapannya itu. Sudah bisa dia tebak jika Rena sudah menangis cukup lama dengan mata yang terlihat sembab itu.
"Matamu bengkak. Sudah berapa lama kamu menangis?" tanya Rico tanpa menyahuti perkataan Rena.
"Nggak perlu membahas mataku. Katakan saja, Co, apa Andi dan Alina memang memiliki hubungan khusus? Kenapa dia mutusin aku secara sepihak hanya karena aku cemburu," desak Rena agar Rico menjawab pertanyaannya.
Rico menghela nafasnya mendengar itu.
"Rena, seharusnya kamu intropeksi diri terlebih dahulu sebelum menuduh yang tidak-tidak tentang orang lain. Hubungan kalian sudah berjalan lama, bukan? Lalu kenapa kamu masih nggak percaya dengan Andi?"
"Apa maksud kamu, Co?" tanya Rena tak mengerti.
"Aku nggak tahu bagaimana cara mengatakannya, tapi yang harus kamu tahu, Andi bukanlah tipe pria yang suka mempermainkan wanita. Yang aku tahu, Andi bertemu lebih dulu dengan Alina dari pada denganmu. Alina adalah wanita yang cantik, jika Andi menyukainya, kenapa nggak dari dulu saja mereka jadian? Kenapa dia malah menjadikan kamu pacarnya?"
"Selama aku berteman dengan Andi, hanya kamu wanita yang selalu dia sebut namanya di depanku. Sementara Alina? Aku memang pernah mendengar nama itu beberapa kali saat dia masih di Oxford, tepatnya saat awal kalian berpacaran, tapi setelah kembali ke Indo, aku nggak pernah lagi mendengar dia menyebut nama wanita itu. Bahkan aku saja nggak ingat kalau dia punya teman wanita bernama Alina. Dan asal kamu tahu, kemarin Andi mengenalkan aku dengan Alina hanya karena kamu."
"Aku?" tanya Rena dengan bingung ketika Rico menyebut dirinya.
"Ya. Dia nggak mau kamu terus-terusan cemburu, jadi dia berinisiatif mengenalkan aku kepada Alina. Bukankah kamu sendiri sudah tahu bagaimana kedekatan mereka? Kalau kamu tahu itu, kamu pasti tahu 'kan kalau mereka hanya berteman saja."
Rena terdiam mendendengar kebenaran itu. Ya, dia mengakui semua itu di dalam hatinya, namun tidak dengan pikirannya.
"Seharusnya kamu bersyukur, Ren, karena sudah mendapatkan sosok pria setia seperti Andi. Sementara di luar sana banyak pria yang dengan mudahnya berselingkuh. Asal kamu tahu, sesuatu yang dilakukan secara berlebihan nggak akan pernah berjalan baik. Sama seperti yang kamu lakukan kepada Andi. Dia memang pria yang setia, tapi cemburu kamu yang berlebihan bisa saja membuatnya benar-benar melakukan sebuah perselingkuhan."
Rena menatap ke arah Rico dengan tatapan terkejut.
"Aku memang nggak tahu bagaimana hubungan kalian saat ini karena Andi juga nggak cerita apapun. Tapi untuk seorang pria bucin seperti dia, jika dia sudah memutuskan untuk berpisah, itu artinya dia sudah lelah dengan cemburu buta kamu itu. Saranku, lebih baik kamu ubah sifat kamu yang mudah cemburu itu."
"Apa salah kalau aku cemburu saat melihat pacarku dengan dengan wanita lain, Co?" tanya Rena. Suaranya terdengar bergetar karena tak bisa menahan sesak di dadanya.
"Nggak ada yang salah, tapi cemburu kamu sudah kelewat batas, Ren. Kalau kamu masih seperti ini, kamu akan benar-benar kehilangan Andi. Lebih baik kamu intropeksi diri dengan baik, jika pikiran kamu sudah tenang dan merasa lebih baik, temuilah Andi. Bicara baik-baik dengannya, aku yakin Andi pasti masih sayang sama kamu."
Kalimat terakhir yang Rico ucapkan berhasil membuat Rena menitihkan air matanya yang sejak tadi tertahan di kelopak mata. Andi masih sayang dengannya? Ada sedikit rasa senang di hatinya, meski sesak kembali datang saat mengingat wajah Andi kemarin yang terlihat kecewa padanya.
Apa dia harus mengikuti perkataan Rico untuk mengubah sifatnya yang sangat cemburuan itu? Rena masih bingung dengan ini semua. Demi apapun dia masih sangat sayang dengan Andi dan dia tidak mau hubungannya yang telah berlangsung lama berhenti begitu saja hanya karena cemburu buta yang merasukinya.
Ya, Rena mulai sadar jika dia sudah berlebihan mencemburui pacarnya itu. Benar kata Andi kemarin, pacarnya itu memang memiliki hak untuk berteman dengan siapapun termasuk Alina. Jangan sampai dia benar-benar kehilangan Andi hanya karena cemburunya yang berlebihan ini, seperti apa yang Rico katakan juga barusan.
***
.
Jangan lupa tinggalin LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰
.
.