Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
9. Cemburu?


Weekend kali ini Rico di minta Santi untuk menemaninya belanja bulanan di salah satu supermarket yang ada di mall. Sebenarnya yang biasa mengurus kebutuhan dapur di rumah itu adalah asisten rumah tangga mereka, namun kali ini Santi ingin melakukannya sendiri bersama anak kesayangannya. Katakan saja quality time bersama anggota keluarga kecuali, Irfan. Pria paruh baya itu tidak bisa ikut mereka karena ada janji bermain golf bersama teman dekat sekaligus rekan kerjanya.


Rico yang hari ini tak ada janji dengan siapapun, dengan senang hati menemani mamanya itu belanja. Sejak dulu memang dia sangat dekat dengan Santi dan sering bepergian bersama papanya juga. Namun ketika dia sudah mulai dipercaya Irfan untuk menjadi bagian dari RR Corps, Rico jadi lebih sering berada di kantor untuk mengurus pekerjaannya. Waktunya semakin berkurang hanya sekedar untuk mengajak Santi quality time. Jika pun dia punya waktu luang, mamanya itu yang justru sibuk dengan geng arisannya. Dan hari ini untungnya mereka sama-sama sedang luang, jadi harus dimanfaatkan dengan baik waktu yang ada.


"Abang, nanti sore Abang mau pergi nggak?" tanya Santi kepada Rico. Saat ini mereka baru saja masuk ke dalam supermarket sembari mendorong keranjang belanja.


"Em, rencananya mau keluar sama teman, Ma, nanti malam. Kenapa? Apa mama mau minta temani Rico ke suatu tempat?" tanya Rico balik.


"Mama mau ngajak kamu makan malem bersama tante Lulu, Nak. Tapi kalau kamu sudah ada janji yasudah, kapan-kapan saja kita makan malamnya," ucap Santi dengan tersenyum tipis.


Rico terlihat tidak enak hati karena tanpa sengaja dia sudah menolak ajakan mamanya itu. Sejak dulu Rico paling tidak bisa menolak apapun itu dari Santi karena sesayang itu dia dengan mamanya, kecuali jika ada pekerjaan penting yang memang tidak bisa ditunda. Namun kali ini dia melakukannya hanya karena sesuatu yang sebenarnya bisa ditunda ataupun dibatalkan. Sebaiknya dia membatalkan saja rencananya yang ingin mengajak Alina pergi nanti malam.


"Rico baru berencana saja, Ma, belum janjian sama dia kok. Kalau gitu Rico ikut Mama saja ya."


Santi yang saat itu sedang memilah sayuran, lantas menoleh ke arah Putranya itu.


"Kamu mau pergi sama wanita?" tanya Santi dengan sedikit penasaran.


"Hanya teman, Ma. Nggak terlalu penting kok. Rico ikut Mama saja," ucap Rico lagi.


Santi tersenyum lembut. "Kamu pergilah saja, Sayang. Mama nggak mau mengganggu waktu pribadi kamu. Selama ini 'kan kamu selalu sibuk bekerja, nggak papa kalau mau pergi dengan teman wanita kamu. Mama justru senang kalau kamu sudah bisa move on dari Angel."


"Hah?" Rico terlihat heran dengan perkataan Santi yang seolah tahu jika dia sedang mendekati seorang wanita. Padahal dia belum memberitahunya apapun pada mamanya itu.


Rico mengusap belakang lehernya. "Em, Ma, Rico dan Alina hanya berteman kok."


"Namanya Alina?"


Rico membelalakkan matanya, dia terkejut karena tanpa sadar sudah menyebut nama wanita itu di depan mamanya. Rico tersenyum kaku karena bingung harus bagaimana menanggapi mulutnya yang bocor. Bukannya tak mau memberitahu Santi tentang dengan siapa saja dia sedang dekat, namun dia hanya tidak mau jika Santi mengira dirinya suka bergonta ganti wanita, padahal belum genap 1 bulan dia putus hubungan dengan Angel. 


Namun di satu sisi Rico sangat heran karena sebelumnya Santi mengatakan dia senang jika Rico sudah bisa move on.


Santi yang melihat anaknya tampak malu-malu lantas tersenyum geli. Kemudian dia berlalu meninggalkan Rico yang masih terlihat salah tingkah.


Rico menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mengikuti Santi dari belakang sembari bergumam pelan. "Rico, Rico."


Setelah berkeliling supermarket untuk mencari kebutuhan rumah, kini Santi dan Rico memutuskan untuk pulang ke rumah. Mereka memilih untuk langsung pulang karena sudah berjanji akan makan siang bersama di rumah. Kebetulan waktu makan siang sebentar lagi tiba.


Saat sedang berjalan menuju mobilnya diparkirkan, tiba-tiba Rico tak sengaja melihat seseorang yang dia kenal. Seseorang yang ternyata adalah Alina.


Dia melihat Alina baru saja keluar dari mobil bersama seorang pria. Dia tidak tahu siapa pria yang bersama Alina itu karena pria itu menutupi wajahnya dengan masker dan juga topi. Fokus Rico terganggu, apalagi saat melihat Alina menggandeng tangan pria itu. Dia mulai memikirkan hal-hal yang selama ini tak terbesit di pikirannya.


Apa Alina sudah memiliki pacar?


Selama berteman dengan wanita itu, Rico memang belum pernah bertanya apakah Alina sudah memiliki teman spesial atau belum. Sebelumnya dia cukup yakin jika Alina masih sendiri karena niat Andi mengenalkannya pada wanita itu semata-mata agar mereka menjalin hubungan yang lebih. Namun kini pertanyaan itu memenuhi isi kepalanya. Membuatnya benar-benar terus terpikirkan akan perlakuan khusus Alina kepada pria misterius itu.


Entah kenapa dia benar-benar terganggu dengan pemandangan yang dia lihat siang itu. Meski dia sangat tertarik kepada Alina, namun perasaannya saat ini sedikit berbeda. Dia merasa seperti orang yang sudah lama menaruh hati kepada Alina dan cemburu dengan pria lain yang mendekati wanita itu. Bahkan Rico mengurungkan niatnya untuk mengajak Alina keluar malam ini karena perasaannya sedang tidak enak.


Saat malam tiba, Rico mencoba menanyakan kepada Andi mengenai status Alina. Namun sayang, jawaban yang dia terima adalah sebuah ketidakpastian.


"Setahu aku sih nggak ada, tapi nggak tahu ya kalau dia nggak cerita sama aku."


Begitu info yang Rico dengar dari Andi.


Seharian Rico memikirkan hal itu dan keesokan harinya, saat dia sedang melakukan pertemuan bersama kliennya di sebuah restoran. Lagi-lagi Rico melihat Alina bersama seorang pria.


Pria dengan penampilan yang sama seperti yang dia lihat kemarin dan dia yakin itu adalah pria yang sama. Mereka baru saja masuk ke dalam resto dan mendudukkan tubuhnya di meja paling sudut dengan posisi duduk si pria membelakanginya.


Rico sangat penasaran siapa dan ada hubungan apa pria itu dengan Alina. Bahkan Rico hampir kehilangan fokusnya karena terus memikirkan Alina dan pria misterius itu. Namun untungnya dia masih bisa menyelesaikan pertemuannya dengan kliennya itu hingga tuntas. 


"Terima kasih, Tuan Rico. Senang bekerja sama dengan Anda," ucap klien Rico sembari berdiri dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Rico tersenyum tipis sembari ikut berdiri dan menerima uluran tangan kliennya yang berpamitan untuk pergi. Setelah kliennya itu pergi, Rico kembali mendudukkan tubuhnya di atas kursi. Dia belum beranjak dari sana dan masih menatap ke arah Alina.


Cukup lama Rico dengan posisinya itu, hingga sampai Alina tak sengaja melihat kehadirannya dan menatap ke arahnya, Rico akhirnya membuang pandangannya. Perasaan Rico sangat tidak enak, seolah dia benar-benar cemburu melihat Alina dekat dengan pria lain. Apalagi kemarin Alina sempat menggandeng tangan pria itu.


Mulutnya memang diam, namun hatinya mengatakan jika dia tidak menyukai perlakuan khusus itu.


Karena merasa terganggu dengan pemandangan yang tak inginkannya itu, akhirnya Rico memilih untuk pergi dari sana. Dia berjalan pelan meninggalkan mejanya tanpa berniat menghampiri Alina ataupun menyapanya, meski dari kejauhan sekalipun.


Baru saja hendak membuka pintu resto, tiba-tiba dari arah belakang seseorang memegang bahu kanannya. Rico menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah belakang.


Di sana dia melihat Alina berdiri menatap ke arahnya.


"Hei," sapa Alina lebih dulu.


Rico tersenyum tipis. "Ada apa?"


Mendengar pertanyaan Rico, Alina lantas mengernyitkan keningnya.


"Em, kamu kenapa?" tanya Alina balik dengan heran.


Dia sangat heran karena hari ini Rico terlihat berbeda kepadanya. Tidak ada raut ramah pada wajah pria itu saat menatap ke arahnya. Apalagi beberapa saat lalu sebelum pria itu beranjak dari duduknya, mereka sempat saling pandang namun anehnya Rico bukannya menghampirinya ataupun sekedar hanya menyapanya lewat senyuman, tapi pria itu berlalu begitu saja seolah tak melihatnya.


Sejauh dia mengenal Rico beberapa hari ini, Alina bisa sedikit menilai jika Rico adalah pria yang ramah. Namun hari ini Rico tak seramah biasanya, pria itu terlihat seperti sedang menahan sesuatu untuk tak berekspresi lebih padanya.


"Kamu menghindariku?" tanya Alina lagi.


"Siapa yang menghindar?"


Lagi-lagi Rico menjawab pertanyaan Alina dengan sebuah pertanyaan lainnya. Membuat Alina sedikit kesal mendengarnya. Seharusnya dia tadi tidak bertanya dan lebih baik mengabaikan pria itu saja.


"Kamu tadi melihatku duduk di sana." Alina menunjuk ke arah tempatnya tadi duduk bersama seorang pria. "Tapi kenapa nggak menghampiri aku atau menegur. Tersenyumpun nggak sama sekali."


Rico menatap ke arah yang Alina tunjuk, kemudian tatapannya kembali dia fokuskan kepada Alina.


"Oh, aku hanya nggak mau ganggu waktu kamu bersama pacarmu saja."


"Hah, pacar?"


Alina terdiam sejenak, kemudian dia tertawa geli. Jadi Rico bersikap aneh padanya karena menganggap dirinya sudah memiliki pacar? Benar-benar tidak masuk akal, pikirnya.


"Apa semua orang yang berjalan berdua dengan lawan jenisnya selalu dianggap berpacaran?" tanya Alina.


"Apa nama selain berpacaran jika dua orang lawan jenis saling bergandeng tangan?"


Alina mengernyitkan keningnya mendengar Rico yang lagi-lagi melempar pertanyaan padanya. Kemudian entah kenapa Alina teringat dengan dirinya yang merangkul tangan pria yang saat ini sedang duduk bersamanya kemarin. Apa Rico melihat itu?


"Kamu melihat aku di–"


"Ya, aku melihat kamu di mall kemarin siang. Kamu seperti sangat nyaman merangkul tangannya saat memasuki mall. Bukankah kalian berpacaran?" tanya Rico lagi.


Mereka saat ini sudah seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar karena melihat salah satu pasangannya yang kepergok berjalan dengan pria lain. Terdengar lucu sekali di telinga Alina. Dia merasa jika saat ini Rico sedang cemburu kepadanya.


"Kamu cemburu?" tanya Alina dengan menaikkan kedua alisnya sembari menahan senyum.


"Jadi benar, kamu sudah punya pacar?"


Untuk kesekian kalinya Rico kembali menjawab pertanyaan Alina dengan sebuah pertanyaan. Namun kali ini Alina tidak kesal karena dia mulai paham dan merasa tebakannya benar jika Rico sedang cemburu padanya. Kenapa pria itu camburu, sementara mereka tak memiliki hubungan khusus. Apa jangan-jangan Rico memiliki perasaan padanya?


"Aku nggak punya pacar, Co. Dia bukan pacarku," ucap Alina sembari kembali menunjuk ke arah tempat duduknya.


"Oh ya? Jadi siapa dia?" tanya Rico yang sangat penasaran.


"Bukan siapa-siapa kok."


Rico mengernyitkan keningnya. Kenapa jawaban Alina jadi tidak jelas seperti ini, pikirnya.


"Bukan siapa-siapa? Alina, maaf, aku nggak mau mengganggu kamu jika kamu sudah memiliki pacar. Aku bukan tipe pria yang suka mendekati wanita yang sudah memiliki pacar."


"Jadi kamu sedang mendekatiku?" tanya Alina dengan menahan tawanya.


Rico terdiam sejenak. "Maaf kalau aku sudah lancang," ucapnya kemudian.


"Lancang kenapa?"


"Alina–"


"Co, dia bukan pacarku, tapi dia saudaraku," ucap Alina memotong perkataan Rico.


Rico kembali terdiam mendengar ucapan Alina. Saudara? Dia kembali melirik pria misterius yang duduk di sudut meja sana. Apa benar pria itu adalah saudara Alina? Jika benar, lalu kenapa penampilan pria itu terlihat keren sekali, bukankah Alina berasal dari desa? Apalagi dari kejauhan Rico bisa melihat jika sepatu yang dikenakan pria adalah salah satu bermerek.


Rico tak tahu harus percaya atau tidak dengan perkataan Alina. Sebaiknya dia menanyakan hal ini kepada Andi, apa benar Alina memiliki saudara laki-laki.


Rico melirik kepada jam tangannya. Waktu yang sudah menunjukkan hampir pukul 1 membuat Rico harus segera pergi dari sana. Dia hampir saja terlupa jika masih ada pertemuan setelah ini.


"Alina, maaf, aku harus pergi sekarang. Aku masih ada pertemuan di luar," ucapnya kemudian.


Kali ini suara Rico tak secuek sebelumnya. Entah kenapa bisa begitu, mungkin karena sudah menemukan jawaban jika Alina tidak memiliki pacar. Sepertinya Rico benar-benar cemburu dengan Alina.


"Baiklah. Maaf sudah mengganggu waktumu," ucap Alina.


"Maaf juga sudah berburuk sangka denganmu."


"Its okay."


"Aku pergi dulu." Rico berbalik dan segera pergi dari sana, namun sebelum itu dia kembali melirik sejenak kepada pria yang diakui Alina sebagai saudaranya. Semoga saja memang pria itu adalah saudaranya, pikir Rico.


***


.


Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰


.


.