
Alfian berlari masuk ke dalam rumah adiknya dengan cemas. Bahkan dia mengabaikan Andi dan Rena yang ada di ruang tamu demi melihat keadaan sang adik tercinta.
Di dalam kamar mandi, Alina terlihat seperti sedang muntah. Alfian segera mendekatinya dan meminta Rico untuk menjauh.
Tak punya pilihan lain, Rico pun mundur secara perlahan. Dia berdiri di depan pintu kamar mandi, melihat keadaan pacarnya yang masih mencoba memuntahkan sesuatu dari dalam perutnya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Alfian sembari mengusap tengkuk adiknya.
Alina menggelengkan kepalanya sebagai jawaban ketidaktahuannya. Selepas bangun tidur perutnya sudah terasa sangat mual, kepalanya juga terasa pusing. Dia ingin menghubungi abangnya ataupun Rico, namun sayang ponselnya kehabisan baterai.
Setelah menyetel musik kemarin sore dengan ponselnya, malam harinya Alina terlupa mengisi daya baterai ponselnya. Ponselnya mati begitu saja saat dia sedang tidur. Hingga saat ini dia hanya bisa meringkuk di atas tempat tidur dan melupakan keadaan ponselnya untuk menghubungi abangnya. Untungnya Rena dan Rico cepat datang, jika tidak, mungkin sampai saat ini dia masih sendirian di dalam kamarnya menahan sakit.
"Apa yang kamu makan semalam? Kamu memakan kue coklat?" tanya Alfian.
Dia memiliki firasat jika mual yang dirasakan adiknya ini akibat kebanyakan memakan kue coklat. Dia baru ingat jika hampir satu tahun lalu Alina pernah mengalami mual seperti ini dan hal itu diakibatkan karena adiknya itu terlalu banyak mengonsumsi makanan manis.
Mendengar pertanyaan abangnya, Alina terduduk di lantai kamar mandi. Dia menatap ke arah abangnya dan menganggukkan kepalanya pelan.
Dan benar saja dugaan Alfian, ternyata hal yang sama kembali terulang setelah kejadian satu tahun lalu sebelum dia mulai posesif kepada Alina mengenai makanan manis.
"Berapa banyak yang kamu makan?" tanya Alfian.
Tanpa bersuara, Alina menunjuk ke arah dinding kamar mandi. Di mana di balik dinding itu terdapat sebuah lemari es berada.
Rico yang sejak tadi memperhatikan interaksi kakak beradik itu lantas dengan inisiatifnya sendiri menghampiri kulkas dan membukanya. Dia melihat satu dari dua box kue coklat yang kemarin Alina pesan. Dia segera membuka box itu yang ternyata hanya berisi setengah kue coklat dari keadaan utuh. Sementara satu box-nya lagi Rico temukan di atas meja makan. Setelah dibuka, ternyata sudah tak tersisa apapun di dalamnya.
Rico membawa kedua box kue itu dan menunjukkannya kepada Alfian yang masih berada di dalam kamar mandi. Saat melihat itu, Alfian hanya bisa menghela nafasnya dengan wajah kesal.
"Kamu makan terlalu banyak, Al. Abang 'kan sudah mengingatkan untuk mengurangi memakan makanan manis. Kalau pun ingin, hanya boleh sedikit. Dan yang kamu makan itu terlalu banyak untuk kondisi kamu yang seperti ini," ucap Alfian.
Meski dia sangat kesal karena adiknya yang ceroboh, tapi suara Alfian masih terdengar lembut di telinga. Semarah apapun dia dengan Alina, Alfian tidak akan pernah bisa meninggikan volume suaranya kepada adik tersayangnya itu.
"Maaf," ucap Alina dengan lirih.
Walaupun Alfian tak pernah membentaknya ataupun meninggikan suaranya, tapi Alina tetap saja takut jika abangnya itu marah padanya. Dia memang lupa dengan kondisinya yang tidak bisa memakan makanan manis berlebih. Semalam dia benar-benar terlena karena sangat tergiur dengan aroma harum coklat yang sangat dia rindukan itu.
Biasanya Alfian akan selalu mendampinginya jika dia ingin memakan jenis makanan manis itu, dan Alfian akan mengingatkan adiknya itu untuk berhenti jika dirasa cukup. Namun semalam Alina benar-benar khilaf, dia tidak sadar jika kue coklat yang dimakannya terlalu banyak untuk dirinya yang disarankan mengurangi makanan manis.
Alfian membawa tubuh lemas Alina menuju kamarnya. Tak lupa dia meminta Rico untuk membawa ember kosong untuk berjaga-jaga jika nanti Alina merasa mual lagi.
"Kamu harus istirahat penuh hari ini. Lupakan masalah pindah rumah, kesehatan kamu lebih penting," ucap Alfian mengingatkan.
"Tapi, Bang. Barang-barang Alina sudah dikemas semua. Nggak enak juga dengan Rico dan Andi yang sudah repot-repot ke sini," seru Alina.
"Al, jangan pikirkan kami. Kamu fokus dengan kesehatan kamu saja ya."
Alina dan Alfian menatap ke arah Rico yang saat itu baru saja masuk ke dalam kamar dengan ember kosong di tangannya. Dia meletakkan ember itu di lantai, tepatnya di ujung kaki Alina dan kemudian mendudukkan tubuhnya di samping Alfian.
"Bang." Alina menatap ke arah Alfian penuh harap. "Alina janji nggak akan ikut mengangkat barang apapun. Jangan tunda kepindahannya ya."
Dia benar-benar tidak bisa membuat kedatangan Rico dan Andi yang sudah berniat baik membantunya menjadi sia-sia karena dirinya. Kedua pria itu adalah seorang pebisnis hebat, tentunya Alina tidak mau membuat waktu berharga kedua pria itu terbuang dengan percuma jika sampai kepindahannya ditunda. Dia tahu betul jika sedetik saja waktu yang mereka korbankan saat ini, sama dengan berjuta-juta uang yang akan masuk ke rekeningnya.
Awalnya Alfian masih tetap dengan keputusannya untuk menunda kepindahan adiknya itu. Dia begitu sangat menyayangi Alina melebihi dirinya sendiri dan dia tidak mau adiknya itu menahan sakit yang berlebih akibat memaksakan dirinya untuk beraktivitas. Namun karena Alina yang terus memohon kepadanya dengan begitu harap, akhirnya Alfian pun terpaksa mengiyakan permintaan Alina. Dia benar-benar tidak bisa melihat adik kesayangannya itu memohon dengan begitu sangat kepadanya.
Tidak hanya sekedar mengiyakan saja, Alfian pun memberikan persyaratan kepada Alina untuk adiknya itu tidak melakukan aktivitas sekecil apapun dan membiarkan mereka para lelaki yang mengerjakan semuanya. Alina tidak menolak karena dengan kondisinya yang seperti ini, dia memang tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya menjadi penonton diantara ketiga pria yang membantunya saat ini.
Dengan di bantu Rena, Alina mengganti pakaiannya yang dia pakai sejak semalam dengan yang baru. Tak butuh waktu lama, Alina kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur setelah semua pakaiannya terpasang sempurna.
"Kamu begini hanya karena kue coklat, Al?" tanya Rena dengan sangat heran.
"Ya. Saat aku di Oxford dulu, aku sering terserang penyakit maag karena pola makanku yang sangat nggak baik. Mungkin karena pertama kali jauh dari orang tua, ditambah tugas kuliah yang menumpuk juga, jadi aku lebih sering memakan jenis kue-kuean dan makanan ringan saja untuk mengusir lapar. Saat sedang mengurus S2-ku di sini, penyakit ini mulai muncul. Aku nggak ngerti apa yang dokter katakan, tapi yang jelas dia bilang kalau aku dilarang mengkonsumsi makanan manis berlebihan. Semalam aku sangat lupa kalau sudah menghabiskan hampir dua box kue coklat dan baru menyadarinya sekarang."
***
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰
.
.