Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
23. Memutuskan untuk Berteman


Karena keadaan yang belum sepenuhnya baik-baik saja dan juga takut jika Alvin mendatangi rumahnya, Rena memutuskan untuk bermalam di kediaman Alina malam ini. Selain ingin melindungi diri dari Alvin, dia juga ingin lebih dekat lagi dengan Alina sebagai seorang teman. Ya, Rena memutuskan untuk berteman dengan Alina setelah melihat ketulusan dari wanita itu saat menolongnya.


Tentunya Alina tidak menolak untuk Rena bermalam di kediamannya. Hanya saja dia sedikit tidak yakin untuk orang seperti Rena yang mau tinggal di rumah kecil sewaannya ini.


"Kamu ngejek aku?" ucap Rena yang seolah tak suka Alina meremehkannya.


Alina hanya mengiyakan Rena, dia pikir Rena benar-benar bisa tinggal di rumahnya. Namun baru juga wanita itu merebahkan tubuhnya untuk beristirahat sejenak di kamarnya, Rena sudah terlihat tak nyaman. Dia membolak-balikan tubuhnya mencari kenyamanan dalam berbaring, dan hingga Alina selesai mendi pun dia masih belum menemukan posisi nyamannya. Hal itu tak langsung membuat Alina tersinggung, justru Alina tersenyum geli melihatnya. Dia sudah bisa menebak itu meski Rena berkata jika dia bisa tinggal di rumah kecilnya ini.


"Kenapa?" tanya Alina pura-pura tak tahu.


Rena mendudukkan tubuhnya di ujung kasur.


"Kasur ini sudah berumur berapa tahun sih, Al? Kenapa rasanya nggak enak sekali," ucap Rena dengan sedikit berhati-hati, takut Alina tersinggung dengan pertanyaannya.


"Sejak aku pindah ke sini," jawab Alina.


"Sejak kapan?"


"Dua atau tiga tahun lalu, aku lupa. Kasur ini juga bukan aku yang beli, tapi disediakan oleh pemilik kontrakan"


"Hah?" Rena terkejut mendengar jawaban Alina. Tiga tahun lalu dan disediakan oleh pemilik kontrakan?


Rena meringis membayangkan sudah berapa lama usia kasur yang dia tiduri saat ini dan dari mana asalnya kasur ini. Bagaimana bisa Alina tidur di kasur murah yang usianya sudah lebih dari tiga tahun, pikirnya. Sementara dia saja setiap dua tahun sekali selalu mengganti kasurnya. Bahkan dulu dia pernah mengganti kasurnya setiap setahun sekali. 


"Aku 'kan sudah bilang, kamu nggak akan bisa tinggal di rumah kecilku ini, Ren," ucap Alina sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk khusus rambut.


Mendengar perkataan Alina, Rena yang awalnya berniat meminta Alina untuk mengganti tempat tidurnya jadi mengurungkan niatnya. Dia sudah memutuskan untuk berteman dengan Alina, itu artinya dia harus menyesuaikan gaya hidupnya jika sedang berada di lingkungan Alina.


Meski tak pernah merasakan hidup susah sebelumnya, tapi Rena akan mencobanya untuk teman barunya itu. Sial, ini pertama kalinya dia mengalah untuk seorang teman. Karena sebelumnya, justru semua teman-temannyalah yang selalu mengalah dan menuruti kemauannya.


krruukk... krruukk...


Suara perut yang berasal dari Rena saat itu berhasil membuat Alina menghentikan gerakan tangannya yang masih mengeringkan rambut. Dia melirik ke arah Rena dari cermin di depannya, menatap Rena yang juga sedang menatap ke arahnya sambil menyengir.


"Kamu lapar?" tanya Alina.


Rena kembali menyengir, kali ini dia menampakkan deretan gigi putihnya sebagai jawaban 'iya' atas pertanyaan Alina.


"Aku nggak ada makanan berat di rumah. Tapi di kulkas ada buah dan susu, apa kamu mau?"


"Buah dan susu nggak bisa buat kenyang, Al," ucap Rena tanpa tahu malu.


"Makanlah apa yang ada, nanti malam kita makan malam di luar dengan abangku."


"Entahlah, bang Fian yang pilih restorannya. Gimana, mau buah dan susu atau aku pesankan makanan saja?"


"Em, aku makan buah saja. Nanti malam 'kan mau makan makanan berat, jadi nggak boleh kenyang sekarang," ucap Rena dengan tersenyum senang.


Setelah mendengar jawaban Rena, Alina beranjak dari meja rias sederhananya untuk mengambilkan buah segar dan susu untuk tamunya itu. Dia memotong buah semangka menjadi ukuran sedang dan meletakkannya di atas piring. Setelah itu dia memberikannya kepada Rena yang sudah menunggunya di ruang tamu.


Rena yang melihat buah semangka yang dibawa oleh Alina terlihat melongo. Pasalnya, buah yang dibawa Alina saat itu berjumlah sangat sedikit. Tidak akan bisa mengganjal perutnya yang sedang lapar karena tidak diisi sejak siang tadi.


"Kenapa dikit sekali?" tanya Rena dalam hati.


"Maaf, hanya ada ini. Stok buah di kulkas habis, aku lupa belanja," ucap Alina dengan tersenyum tipis.


Rena menghela nafasnya mendengar itu. Dari pada tidak memakan apapun, lebih baik dia makan apa yang ada saja. Meski dia tahu buah semangka itu tidak akan bisa memuaskan rasa laparnya, tapi setidaknya masih ada makanan yang masuk ke dalam perutnya daripada tidak sama sekali.


Rena mulai memasukkan buah itu ke dalam mulutnya. Meski hanya semangka dengan potongan sedang, tapi rasa dari buah berwarna merah itu sangatlah segar di mulutnya. Bahkan rasa manis dari semangka itu seperti terasa berbeda dengan semangka yang pernah dia makan sebelumnya. Memang terdengar aneh, tapi begitulah yang dirasakan oleh orang yang sedang kelaparan. Semua makanan jenis apapun yang masuk ke dalam mulutnya pasti akan terasa jauh lebih nikmat dari pada sebelumnya.


Setelah menghabiskan semangka dan juga susu full cream yang diberikan Alina, Rena merasa perutnya sangat begah. Bagaimana tidak, meski buah yang dia makan tidaklah banyak, tapi susu yang wanita itu minum sangatlah banyak. Rena menghabiskan hampir satu liter susu yang Alina berikan. Dia pikir dengan banyak meminum susu, maka rasa laparnya akan sedikit teratasi. Namun ternyata tidak, bukannya kenyang tapi perutnya menjadi kembung karena kebanyakan minum.


Rena menyesali keputusannya yang meminum susu sebanyak itu, kini perutnya terasa mual namun tak juga memuntahkan apapun. Setelah hampir lima belas menit menahan kembung, mata Rena mulai terasa mengantuk. Dia memilih merebahkan tubuhnya di atas kasur milik Alina dan tanpa butuh waktu lama dia sudah tertidur di atas sana. Matanya yang berat membuat wanita itu tertidur lebih cepat tanpa harus memikirkan kenyamanan pada posisi tidurnya. Bahkan rasa lapar yang masih terasa tak menjadi penghalang untuknya menuju dunia mimpi.


Alina yang saat itu baru selesai menyapu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Rena yang sudah tak sadarkan diri di atas kasurnya. Kemudian dia beranjak menuju dapur untuk mengambil minuman dan membiarkan Rena beristirahat sejenak. Kejadian hari ini pasti membuat wanita itu sangat lelah, pikirnya.


Setengah jam kemudian Rena yang masih tertidur merasakan tubuhnya sedikit berguncang. Dia menggeliat karena mulai merasa tak nyaman dengan guncangan itu, bahkan tubuhnya dengan perlahan juga mulai tak nyaman berbaring di atas kasur yang menjadi tempatnya tidur saat itu.


"Ren, ayo bangun. Bang Fian sudah dalam perjalanan ke sini. Kamu nggak mau ikut kita makan malam?"


Suara Alina yang terdengar sedikit samar membuat Rena tersadar dari tidurnya, namun tak sampai membuatnya membuka mata. Tak tahu sudah berapa lama dia tertidur di sana, namun rasanya dia seperti baru saja memejamkan matanya beberapa detik lalu.


"Rena," panggil Alina untuk kesekian kalinya.


"Hey, ayo bangun. Kalau kamu nggak mau bangun, beneran aku tinggal ya."


***


.


Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰


.


.