Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
94. Habis Dikejar Hantu


Satu minggu sebelum pernikahan tiba, Rico dan Alina masih belum menemukan rumah yang cocok untuk mereka tinggal setelah menikah nanti. Karena sudah tidak ada pilihan lain, akhirnya Alina dan Rico memutuskan untuk mengambil rumah yang menjadi opsi terakhir mereka. Meskipun sedikit jauh dari rumah kedua orang tua mereka, namun tak jadi masalah daripada mereka harus mencari lagi dalam waktu yang tidak mereka ketahui.


Hari ini Rico dan Alina akan mendatangi rumah tersebut, mereka sudah menghubungi pengurus rumah tersebut sebelumnya. Saat mereka sudah berada di sana, seorang pria yang mengurus penjualan rumah tersebut menghampiri Rico dengan wajah tak enak hati. Rico yang memiliki filing tidak enak berusaha untuk berpikir positif. Dia pikir pria itu hanya memiliki masalah pribadi, namun saat dia mendengar perkataan pria itu setelahnya, Rico dan Alina justru yang dibuat kecewa karenanya.


"Maafkan saya, Mas Rico, saya benar-benar nggak tahu kalau rumah ini sudah ada yang membelinya. Kemarin ada orang yang membelinya langsung dari pemilik rumah ini dan bapak baru memberitahu saya tadi pagi, Mas. Tepat banget setengah jam setelah Mas Rico menelpon saya untuk meminta datang ke sini."


"Kenapa dijual Pak? Bukankah saya sudah berjanji akan memberi keputusan untuk membeli rumah ini sebelum tanggal sepuluh, saat ini 'kan masih tanggal dua."


"Saya tahu, Mas Rico, tapi saya minta maaf banget karena saya nggak tahu kalau Bapak sudah menjual rumah ini kepada orang lain."


"Sudahlah, Co, nggak usah diperdebatkan. Kita bisa tinggal di rumah orang tuaku dulu kalau kamu mau. Nanti kita cari yang lain saja, mungkin bukan rezeki kita untuk memiliki rumah ini," ucap Alina yang berusaha memberi pengertian.


Sebelum ini mereka memang memiliki keraguan untuk membeli rumah tersebut. Jika saja tidak memikirkan bahwa waktu pernikahan yang sudah dekat, maka mereka akan memilih rumah yang lain. Mungkin keraguan ini juga yang mengantarkan mereka pada sebuah kebenaran yang di mana tidak baik jika kita memilih sesuatu yang membuat hati kita ragu. 


"Tapi aku…" Rico menjeda kalimatnya yang belum sempat dia ucapkan, kemudian dia langsung mengalah nafasnya dan mengiyakan perkataan Alina.


Rico meminta maaf karena telah berdebat dengan pria yang menjadi perantaranya untuk membeli rumah tersebut. Setelah itu mereka segera pergi dari sana. 


"Kenapa tiba-tiba sekali rumah itu dijual, padahal 'kan kita sudah melakukan perjanjian," ucap Rico yang saat itu sambil fokus menyetir.


Mereka saat ini sedang berada dalam perjalanan pulang.


"Sudahlah, Co, mungkin bukan rezekinya kita untuk tinggal di sana. Lagipula lokasi rumah itu cukup jauh dengan rumah orang tua kita, apalagi kita harus ke kantor setiap pagi. Kita cari rumah yang lokasinya dekat dengan kantor dan rumah orang tua saja ya."


"Baiklah. Nanti kita cari lagi nanti ya. Sementara ini kita tinggal di rumah orang tuaku dulu saja. Apa nggak papa?" tanya Rico kepada Alina. 


"Rumah papa kamu?"


"Ya. Di rumah kamu ada Morgan dan terlalu ramai. Lebih baik di rumah orang tuaku saja, mereka pasti merasa kesepian dan akan sangat senang kalau kita tinggal di sana sementara waktu."


Alina tersenyum mengiyakan. Rico benar, Santi dan Irfan pasti akan merasa kesepian karena kehilangan Rico yang merupakan satu-satunya anak yang mereka miliki selama ini.


***


Siang itu Alina terburu-buru keluar dari ruangannya, dia akan pergi menemui Rico yang sudah menunggunya di depan kantor untuk melakukan makan siang bersama. Alina berjalan dengan tergesa karena tidak mau membuat Rico menunggu, namun karena kecerobohannya itu juga Alina malah tak sengaja menabrak karyawan di sana yang sedang memegang setumpuk kertas di tangannya. Mereka berdua sama-sama terkejut dan Alina dengan gerakan cepat langsung berjongkok untuk meraih tumpukan kertas yang bertebaran di atas lantai.


"Maafkan aku. Maaf, aku nggak sengaja."


Sekitar dua detik tidak ada sahutan, namun setelah itu Alina langsung menghentikan gerakan tangannya saat seseorang menyebut namanya.


Alina mendongak menatap suara seorang pria tersebut.


"Andre?" ucap Alina dengan terkejut.


"Hey, Al," ucap pria bernama Andre yang tadi di tabrak oleh Alina. 


Andre adalah teman kampus Alina yang sejak dulu menyukai wanita itu. Semenjak mereka tidak kuliah lagi, dia sangat kesulitan menghubungi Alina. Wanita itu sangat jarang membalas pesannya, apalagi panggilannya tidak pernah dijawab oleh Alina.


Saat mengetahui jika kantor tempat dia bekerja saat ini adalah perusahaan milik keluarga Alina, Andre merasa sangat senang karena dia merasa bisa dekat dengan wanita yang disukai itu. Namun semakin berjalannya hari, dia tidak pernah melihat kehadiran Alila di sana. Posisinya yang kurang menguntungkan membuatnya kesulitan untuk menemui teman sekaligus atasannya tersebut. 


Kini saat dia tak sengaja bertemu dengan Alina, Andre pun merasa sangat senang sekali. Meskipun tahu jika Alina akan menikah dalam waktu dekat, namun hal itu tak membuat Andre kehilangan semangat untuk mendekati wanita itu. Baginya, sebelum janur kuning melengkung, Alina masih milik bersama dan dia tidak akan menyerah begitu saja sebelum Alina sah menjadi istri dari seorang pria bernama Rico. 


"Kamu kerja di sini?" tanya Alina.


Andre pun ikut berjongkok dan membantu Alina untuk mengemasi kertas-kertasnya yang terjatuh.


"Iya, aku bekerja di sini. Pamanku manajer pemasaran di sini, jadi nggak sulit untukku diterima di perusahaan ini," ucapnya yang seolah mengatakan jika dirinya memiliki orang dalam yang bekerja di ZW Corps.


Alina bukannya bangga ataupun senang, dia bahkan terlihat heran karena Andre bisa masuk ke sini karena ada orang dalam. Apakah orang yang merekrut pegawai di perusahaannya ini bisa dengan seenak hati mempekerjakan orang-orang yang mereka kenal, bukan karena rekrutan yang sesuai seperti yang abangnya maksudnya. Meski dia tahu jika Andre memiliki otak yang cerdas, namun hal seperti ini jelas tidak dibenarkan. Sepertinya Alina harus menanyakan hal ini kepada abangnya saat bertemu nanti. 


Karena tidak ingin berbasa-basi dengan Andre dan juga tidak mau membuat Rico menunggunya lebih lama, Alina pun berpamitan dengan Andre untuk segera pergi.


"Tunggu, Al," ucap Andre yang menahan tangannya. Alina yang tidak nyaman dengan hal itu tak sengaja menipis kasar tangan Andre, membuat pria itu terbengong karena perlakuannya.


"Em, maaf. Aku harus pergi, calon suamiku sudah menunggu di luar," ucap Alina dengan tidak enak hati. Dia melirik sekitar yang terdapat dua orang yang sedang menatap ke arahnya.


Pers3t4n dengan tatapan itu, dia tidak peduli jika ada yang membicarakannya di perusahaannya sendiri. Dia tidak sengaja menepis kasar tangan Andre dan itu bukan salahnya karena Andre juga yang sudah tidak sopan memegang tangannya tanpa izin. 


Alina segera pergi dari sana, tak mempedulikan Andre yang masih menatap ke arahnya.


Alina berlari kecil menuju mobil Rico, setiba di dalam mobil Rico terlihat heran saat melihat wanitanya yang terlihat ngos-ngosan.


"Kamu kenapa lari-lari? Habis dikejar hantu"? tanya Riko dengan asal.


" Ya, hantunya serem banget. Yasudah ayo jalan, aku sudah lapar banget nih." ucap Alina yang berusaha mengalihkan tapi obrolan. 


Rico pun yang tidak berniat untuk meneruskan candaannya, menganggukan kepalanya dan segera melanjutkan kendaraannya menjauhi kantor itu menuju restoran yang telah dia sepakati bersama Alina.