Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
104. Honeymoon lV


Dering ponsel yang kencang membuat tidur Alina dan Rico sedikit terganggu. Mereka menggeliat di bawah selimut yang menghangatkan, tak ingin beranjak dari posisi nyamannya, namun tak bisa juga mengabaikan suara ponsel yang berisik itu. Mau tak mau Rico harus bangkit dari tidurnya untuk melihat siapa yang menelponnya.


Saat melihat bahwa orang tua mereka yang menelpon, Rico pun segera menjawab panggilannya tanpa berpikir panjang. Semenjak mereka menginjakkan kakinya ke benua Eropa, sejak saat itu juga mereka kehilangan kontak dengan keluarga mereka yang ada di Indonesia. Orang tua serta abang Alina, tak satupun dari mereka yang menjawab telepon ataupun membalas pesan mereka. Keluarga mereka seolah ditelan bumi karena tak ada kabar sama sekali. Saat melihat panggilan dari mamanya, Rico jelas saka terlihat sangat senang untuk menjawab panggilannya. 


"Assalamualaikum, Ma," ucap Rico terlebih dahulu.


"Waalaikumsalam, Bang. Kalian lagi apa?" tanya Santi di seberang sana. 


"Em, kita sedang tidur, Ma. Mama apa kabar?" tanya Rico.


"Kita semua di sini baik-baik saja, Bang. Bagaimana kalian di sana? Mana Alina?" tanya Santi sekaligus.


"Kita di sini juga baik-baik saja. Alina masih tidur, Ma."


"Kenapa belum bangun tidur, kalian semalaman begadang ya?" tanya Santi penuh arti.


Rico pun yang belum menyadari pertanyaan mamanya tersebut hanya mengiyakannya. Membuat semua orang yang mendengar jawaban itu tersenyum senang. 


"Baiklah, jangan dibangunkan Alina ya, Bang. Biarkan Alina istirahat. Oh ya, gimana liburan kalian, apa kalian menyukainya?" tanya Santi.


"Tentu saja, Ma, kami menyukainya. Terima kasih banyak sudah mempersiapkan ini semua untuk kami berdua."


"Sama-sama, Bang. Kamu nggak perlu mengucapkan terima kasih, sudah semestinya kami memberikan hadiah yang penuh arti kepada kalian. Ngomong-ngomong gimana kabar Alina, apa sudah ada tanda-tanda darinya?" 


Rico mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan mamanya itu. Tanda-tanda apa yang dimaksud tanda oleh mamanya itu  pikirnya. Dia benar-benar tidak mengerti akan pertanyaan mama itu.


"Maksud Mama tanda-tanda gimana?"


"Hamil."


Sebuah sahutan dari seberang sana yang terdengar samar membuat Rico kembali mengernyitkan keningnya dengan heran. Seketika saat itu suara di ponselnya yang terdengar ramai, membuat Rico menebak jika terdapat lebih dari 2 orang yang berada di sana. Dia curiga jika saat ini orang tuanya beserta mertuanya sedang bersama.


"Ma, Mama lagi sama siapa? Sepertinya ramai sekali di sana," ucap Rico penasaran.


"Kita lagi berkumpul, Sayang. Kalian apa kabarnya di sana?"


Kini suara Zara akhirnya terdengar.


"Kalian berkumpul seperti ini ada acara apa?" tanya Rico penasaran.


"Kami hanya ingin tahu keadaan kalian saja di sana. Kami juga penasaran sama Alina, apa dia sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kehamilan?"


Rico pun yang mendengar perkataan mertuanya seperti itu lantas menatap ke arah Alinah. Hamil? Apa secepat itu, mereka saja baru menikah selama 3 minggu.


"Kita saja di sini baru 3 minggu, Ma, nggak mungkin Alina secepat itu langsung hamil."


"Abang, Mama dulu setelah menikah sudah mulai merasakan gejala kehamilan sekitar 3 minggu. Kalian di sana juga sudah sekitar 3 minggu, Mama penasaran apa Alina sudah menunjukkan tanda-tanda kehamilan juga," ucap Santi memberitahu sekaligus penasaran akan kondisi menantunya.


"Kita belum tahu, Ma. Alina belum merasakan gejala apapun dan kita juga belum sempat mengeceknya."


Semua orang yang mendengar perkataan mereka menghela nafasnya dengan kecewa. Alina belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan, apakah itu berarti mereka belum dipercayai untuk menimang cucu dengan cepat? 


Karena hanya ingin memastikan kabar serta kondisi anak dan menantunya. Santi pun memutuskan untuk mengakhiri percakapan. Mereka juga sengaja tidak membangunkan Alina untuk bergabung dalam obrolan singkat mereka karena tak ingin mengganggu waktu istirahat Alina. Mereka tahu jika Alina pasti sangat kelelahan dengan waktu liburannya, jadi mereka tidak mau mengganggu. 


Setelah panggilan terputus, Rico meletakkan ponselnya ke atas nakas. Dia pun langsung masuk ke dalam selimut dan memeluk tubuh istrinya dari belakang.


Sejenak Rico terdiam dalam pelukannya, memikirkan perkataan kedua orang tuanya akan kondisi Alina. Menyadari hal itu, Rico pun sangat penasaran apakah istrinya itu sudah merasakan tanda-tanda kehamilan.


Namun setelah dipikir-pikir, sepertinya tidak mungkin secepat ini karena sampai detik ini pun Alina tak pernah mengeluhkan sesuatu yang menandakan jika wanita itu sedang mengandung buah hatinya. Tak ingin larut dalam pikirannya, akhirnya Rico memutuskan untuk kembali tidur. Mengistirahatkan kembali tubuhnya setelah menghabiskan momen indah beberapa menit lalu.


**


Siang hari Alina dan Rico menghampiri dua orang yang menjadi tangan kanan kedua orang tuanya. Mereka hendak mengatakan niatnya yang ingin pergi ke Norwegia untuk melihat aurora sebelum pulang ke Indonesia. 


"Sayang, aku lupa memberitahu kamu kalau tadi mama menelpon."


Mendengar perkataan suaminya, Alina langsung menatapnya dengan terkejut.


"Mama menelpon? Kapan?"


"Tadi pagi, saat kamu tidur."


"Sayang, kenapa kamu nggak bangunin aku. Aku pengen banget ngomong sama mama loh, aku kangen sama mereka."


"Mereka menelpon nggak lama kok, hanya Menanyakan kabar kita dan juga kondisi kamu."


"Kondisi aku?" tanya Alina heran.


"Iya, mama sepertinya sudah nggak sabar ingin kita memiliki anak. Mereka menanyakan kondisi kamu apakah sudah ada tanda-tanda akan kehamilan."


Alina menghentikan jalannya, dia menundukkan seperti bersedih.


"Sepertinya belum ada. Apakah aku akan terlambat, Sayang?" tanya Alina yang pesimis akan kondisinya.


Dia pun kini bertanya-tanya, kenapa belum ada tanda-tanda akan dirinya hamil setelah hampir satu bulan menikah.


"Jangan bilang seperti itu, kita 'kan belum mengeceknya, jadi nggak tahu apakah kamu sudah mengandung buah hatiku atau belum. Lagi pula kalau terlambat memangnya kenapa? Hei, Tuhan itu memiliki rencana yang paling baik untuk semua hambanya, jadi jangan pernah khawatir jika Tuhan belum memberikan apa yang kita inginkan."


Alina membenarkan perkataan suaminya itu, meski sebenarnya dia sendiri sedikit pesimis akan hal itu.


"Waktunya sangat singkat, aku nggak sempat mengatakan hal itu kepada mama."


"Ya sudah  kita bilang saja sama Louis dan Sasha saja."


Rico mengiyakan, setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanannya menuju ruang tamu untuk menemui Louis dan Sasha. 


Sambil menunggu kedatangan kedua orang itu, Alina dan Rico menikmati makan siangnya yang terlambat. Tak lama setelah Louis dan Sasha datang, mereka langsung mengutarakan kemauannya untuk pergi ke Norwegia. 


"Baiklah Tuan, saya akan mengatakan hal ini kepada Tuan Wilson."


Alina dan Rico mengiyakan dan setelah setengah jam menunggu kabar, akhirnya Louis kembali datang dan mengatakan jika mereka akan pergi ke Norwegia besok pagi. 


Alina sangat senang mendengarnya, akhirnya dia bisa mengunjungi negara yang sangat ingin dia datangi itu sejak lama untuk melihat betapa indahnya keindahan alam yang sangat menakjubkan yaitu, aurora.


**


Menurut sumber terpercaya, biasanya aurora borealis bisa dilihat sore hari sekitar jam 6 sore sampai pukul 1 malam. Untuk tiba di di sana sebelum jam 6 sore, Alina dan Rico memutuskan untuk berangkat pada malam hari agar tak ketinggalan momen berharga mereka di sana. Walaupun masih banyak waktu untuk mereka menikmati pemandangan alam yang indah itu selama beberapa hari kedepan, tapi Alina tetap tidak mau kehilangan sedetikpun momen indah yang telah dia nantikan selama ini.


Perjalanan yang memakan waktu hampir setengah hari perjalanan itu kini akhirnya mengantarkan Alina dan Rico ke tempat terakhir yang akan mereka kunjungi pada liburannya kali ini. Alina sangat senang sekali setelah pesawat yang membawanya telah tiba di bandara.


Karena ingin mempersiapkan diri untuk melihat keindahan aurora yang ditunggu-tunggunya, Alina dan Rico segera menuju salah satu pedesaan yang dilansir merupakan tempat terbaik untuk melihat fenomena aurora di sana. Meski biaya yang mereka keluarkan sangatlah besar untuk menuju ke sana, namun hal itu tak menjadi penghalang bagi Alina dan Rico untuk menuntaskan liburan mereka. Apalagi kedua orang tua mereka yang merupakan pebisnis hebat sangatlah berperan dalam setiap perjalanan mereka, tentunya hal itu tidak akan menjadi masalah besar.


Tak butuh waktu lama, sekitar satu jam perjalanan menggunakan mobil yang disewa oleh tangan kanan orang tua mereka, kini mereka telah tiba di tempat tujuan mereka. Alina yang sudah tak sabar menanti waktu malam lantas terus mendongak ke atas. Membuat Rico tersenyum geli melihat hal itu.


"Sabar, Sayang. Ini masih siang loh," ucap Rico mengingatkan. 


Alina terkekeh kepada suaminya, saking tidak sabarnya dia terus melihat ke langit sepanjang perjalanan menuju pintu hotel.


Sambil menunggu sore tiba, Rico mengajak Alina untuk mengistirahatkan tubuhnya terlebih dahulu di dalam kamar hotel. Mereka memilih untuk tidur sejenak karena selama di pesawat mereka kesulitan untuk tidur, apalagi Alina yang tidak sabar untuk melihat fenomena alam impiannya, wanita itu bahkan terus bertanya kepada Rico mengenai waktu tiba mereka. 


"Tuan, Nona, apa ada sesuatu yang kalian inginkan?" tanya Sasha kepada Alina dan Rico saat sudah berada di depan kamar mereka. 


"Sepertinya nggak ada. Nanti kita telepon saja kalau kita butuh sesuatu," ucap Rico. 


Sasha pun menganggukan kepalanya, dia dan Louis membiarkan Alina dan Rico masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat, sementara mereka berdua harus mempersiapkan kebutuhan kedua orang atasan mereka itu untuk nanti sore sebelum ikut beristirahat juga.


*


Pukul lima sore Alina bangun lebih dulu dari Rico. Rasanya nyaman sekali tidur di samping perapian yang menghangatkan tubuh mereka di tengah cuaca salju yang mengitari kota mereka tinggali itu. Sebelum melaksanakan ibadahnya yang berlangsung satu jam mendatang, Alina meraih telepon hotel dan menelpon kepada pihak hotel untuk membawakan mereka cemilan hangat ke dalam kamar mereka. 


Setelah makan di dalam pesawat hingga sampai saat ini, mereka belum memakan apapun dan rasanya perut Alina sudah sangat lapar saat ini. Sambil menunggu pesanannya datang, Alina membangunkan suaminya yang masih tertidur lelap di atas kasur. 


Tak sulit untuk membangunkan Rico, apalagi di cuaca dingin seperti ini. Tangannya yang sangat dingin membuat suaminya itu langsung menggeliat dan segera membuka matanya. 


"Ada apa, Sayang?" tanya Rico dengan suara khas bangun tidurnya sembari meraih pergelangan tangan istrinya. Dia menarik tangan istrinya sehingga membuat Alina terduduk di sampingnya. 


"Ayo bangun, apa kamu nggak lapar?" tanya Alina sembari mengusap lembut wajah suaminya. 


"Ini jam berapa? Apa sudah masuk Ashar?" tanya Rico.


"Satu jam lagi. Sekarang kita mandi dulu saja, setelah itu makan."


"Apa auroranya belum muncul?" tanya Rico yang kini matanya sudah terbuka sempurna dan menatap wajah cantik sang istri yang baru saja bangun tidur. 


"Belum. Sekitar 1 jam lagi mungkin. Ayo kita mandi dan makan, aku ingin menikmati fenomena alam yang indah ini dengan keadaan tubuh yang sudah segar."


Rico senyum melihat semangat istrinya yang ingin melihat fenomena alam yang langkah itu. 


"Baiklah, ayo kita mandi bersama," ucap Rico sembari bangkit dari duduknya. 


"Mandi bersama? Nanti lama, di sini dingin banget, Sayang," ucap Alina yang menolak secara tidak langsung.


"Aku janji nggak lama kok. Ayolah, besar pahalanya jika suami istri mandi bersama."


"Tapi aku sudah memanggil layanan kamar untuk membawakan cemilan untuk kita. Gimana kalau mereka datang sebelum kita selesai mandi?"


Mendengar perkataan istrinya itu, Rico pun menghela nafasnya.


Baiklah, masih ada hari esok untuk mereka melakukan kegiatan menyenangkan itu bersama. Namun karena tak ingin kehilangan momen romantis, akhirnya Rico tetap mengajak Alina untuk mandi bersama.


"Hanya mandi saja, janji," ucapnya kemudian kepada sang istri.


Alina pun yang diberi janji oleh suaminya itu lantas mengiyakan. Dan benar saja, sepuluh menit kemudian mereka telah keluar dari kamar mandi dan bersamaan saat itu seseorang mengetuk pintu kamar mereka dari luar. 


"Biar aku saja," ucap Rico.


Alina mengiyakan, dia segera menuju koper milik mereka untuk berpakaian, sementara Rico sendiri menuju pintu keluar untuk melihat siapa yang datang. 


Saat melihat Sasha dan Louis di depan pintu kamarnya sembari memegang sebuah troli makanan, Rico pun langsung meraihnya untuk membawanya masuk. Namun sebelum itu dia memberikan tatapan peringatan kepada Sasha yang menatap lebih dari 3 detik pada tubuhnya yang sedikit terbuka. 


Sasha pun yang ditatap sedemikian dengan Rico lantas menundukkan pandangannya. Dia menggigit bibir bawahnya karena takut Rico akan marah padanya. Sungguh, dia benar-benar tidak sengaja melihat roti sobek yang ada di depan matanya itu.


"Jangan cari gara-gara," gumam Louis kemudian setelah Rico menutup pintunya.


"Aku nggak sengaja," sahut Sasha. Kemudian dia segera berlalu dari sana dan mengabaikan Louis yang menggelegkan kepalanya.