
Setelah semua yang dibutuhkan di toko pertama berhasil didapat, kini Alina dan keluarganya keluar dari sana untuk memasuki beberapa butik serta tokoh perlengkapan lainnya. Masih banyak yang harus mereka beli, terutama untuk kedua abang Alina, mereka belum menemukan pakaian yang cocok untuk kedua pria itu di toko pertama.
Butuh memutari 2 toko baju lagi sehingga mereka menemukan baju yang cocok untuk dipakai Alfian dan Morgan. Di toko ketiga itu mereka memilih kemeja berwarna abu-abu serta jas dan juga dasi berwarna hitam.
Sebelum bergegas pergi ke toko lainnya, tiba-tiba Alina teringat akan Rico. Dia pun berinisiatif untuk membelikan Rico pakaian yang sama seperti yang akan abangnya pakai di acara kantornya nanti. Sepertinya akan sangat menarik jika Rico memakai pakaian yang sama dengan abangnya. Apalagi di sana Rico akan dikenalkan sebagai calon suaminya, semoga saja rasa insecure pacarnya itu bisa sedikit berkurang dan dia mau memakai pakaian yang dia belikan.
"Kak kalian kalau mau duluan nggak papa, nanti aku nyusul," ucap Alina yang saat itu baru saja menyelesaikan pembayaran.
"Kamu mau ngapain lagi, Al?" tanya Thomas yang ada di sana.
"Aku mau beli baju buat Rico. Nggak papa 'kan kalau dia samaan sama bang Fian dan bang Morgan?" ucap Alina yang seolah meminta izin.
"It's oke. Nggak jadi masalah, Sayang, hanya pakaian doang belikan saja," ucap Thomas.
"Ya sudah kita tunggu di sana ya, Al," ucap Marissa sembari menunjuk sofa tempat pelanggan menunggu.
Setelah Alina mengiyakan, orang tua dan kakak iparnya berlalu menuju sofa tunggu yang disediakan tokoh, sementara Alina mengikuti pelayan di sana yang akan mengambilkan setelan pakaian yang sama seperti sebelumnya dengan size yang berbeda.
Saat sedang menunggu, Alina melihat-lihat pakaian yang tergantung di sekitarnya dan saat itu tiba-tiba seorang wanita tampak berjalan menghampiri Alina.
"Alina."
Alina yang merasa terpanggil lantas menoleh ke belakang. Dia sedikit terkejut saat melihat sosok wanita yang tak asing baginya.
"Kamu?" ucap Alina dengan suara pelan.
"Hai, masih ingat dengan aku, Alina?" ucap wanita yang tak lain adalah Rebecca dengan tersenyum.
Alina masih ingat dengan wajah Rebecca, namun dia lupa dengan nama wanita itu. Lagi pula untuk apa mengingat namanya yang tidak penting, pikirnya.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Alina yang sangat tidak tertarik dengan kehadiran mereka di sana.
"Ini tempat umum, memangnya salah kalau aku ada di sini?" ucap Rebecca dengan kembali menerbitkan senyumnya.
Senyuman yang seolah mengatakan jika dirinya berhak berada di sini. Rebecca menatap ke arah sekitarnya, di mana terdapat begitu banyak pakaian pria yang berjajar dengan merek terkenal yang harganya bisa dibilang cukup mahal. Sejenak Rebecca terlihat heran saat melihat Alina berada di toko ini.
"Kamu mencari pakaian untuk siapa di sini?" tanya Rebecca basa-basi.
Harga pakaian di sini cukup mahal, sementara yang dia tahu Alina bukanlah wanita kaya. Lalu kenapa Alina begitu berani memasuki toko ini?
Rebecca terdiam sejenak, dia jadi curiga jika sebenarnya Alina bukanlah orang miskin karena sejak awal melihat wanita itu, Alina sudah terlihat cukup memukau dengan kesederhanaannya. Meski beberapa pakaian yang digunakannya saat itu bukanlah barang bermerek, tapi semua barang yang melekat di tubuh Alina saat itu benar-benar tidak seperti barang murahan.
Meski saat itu Rebecca tidak berpikir ke sana, namun penampilan Alina hari ini yang benar-benar berbeda dengan saat terakhir mereka bertemu membuatnya semakin yakin jika Alina sebenarnya bukan orang sembarangan. Dilihat dari atas ke bawah juga Rebecca sudah tahu jika semua yang ada di tubuh Alina saat ini merupakan barang mahal.
"Untuk Rico," jawab Alina singkat.
Dia terlihat tidak menyukai interaksinya bersama Rebecca, namun dia juga tidak bisa menghindarinya.
Mendengar jika Alina sedang membeli pakaian untuk Rico, Rebecca pun cukup terkejut dibuatnya. Sekali lagi rasa penasarannya kini semakin bertambah, jika Alina benar-benar orang miskin, lantas kenapa dia berani sekali membelikan Rico pakaian di tempat seperti ini? Apakah Alina menerima uang dari Rico untuk berbelanja pakaian di sini, atau jangan-jangan Alina sengaja membelikan Rico barang mahal hanya untuk menarik perhatian keluarga Renaldi?
"Lalu apa masalahnya kalau dia bukan anak kandung paman Irfan?" tanya Alina yang kini menatap ke arah Rebecca.
"Nggak ada masalah sih buat aku, tapi seharusnya kamu berpikir dengan lebih baik, Alina. Kamu melakukan semua ini akan sia-sia saja karena Rico nggak akan memberi feedback yang sesuai sama kamu saat dia sudah keluar dari keluarga Renaldi nanti."
"Memangnya kenapa? Aku nggak berharap feedback apapun dari dia kok," ucap Alina. Dia yang awalnya tidak tertarik untuk meladeni Rebecca, entah kenapa kini dia jadi kelepasan dan menanggapi setiap perkataan wanita itu.
Rebecca tersenyu m sinis mendengar jawaban Alina.
"Kamu jangan munafik, Alina. Di zaman sekarang ini, mana ada orang yang benar-benar tulus dan nggak mengharapkan feedback dari apa yang telah dia lakukan."
"Itu menurut versi kamu, tapi aku nggak akan seperti itu," sahut Alina lagi dengan cepat.
Di tengah perdebatan antara Alina dan Rebecca, dari kejauhan Marissa yang melihat Alina sedang berbincang dengan seseorang lantas menghampirinya. Dia terlihat penasaran karena wajah Alina tidak menunjukkan keramahan saat berbincang dengan wanita itu.
"Ada apa, Al?" tanya Marissa setiba di sana.
Alina dan Rebecca yang mendengar perkataan Marissa lantas menatap ke arah wanita itu.
"Em, nggak papa, Kak," ucap Alina yang berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
Memang sebenarnya dia baik-baik saja, hanua saja mood-nya yang sedikit terganggu akan kehadiran Rebecca.
Rebecca yang saat itu melihat kedatangan Marissa menatapnya dari atas hingga bawah, memperhatikan penampilan dari setiap jengkal di tubuh Marisa. Dia melihat Marissa yang terlihat begitu berkelas dengan penampilannya, bahkan kulitnya pun terlihat sangat putih dan bersih, layaknya seseorang yang selalu melakukan sebuah perawatan rutin. Apalagi melihat seorang gadis kecil yang digendong Marissa, membuatnya semakin heran karena Gadis kecil itu terlihat seperti memiliki wajah blasteran. Dia sangat penasaran, siapa wanita cantik yang bersama Alina saat ini.
Jika benar Alina berasal dari keluarha kaya, sepertinya dia tidak boleh bersikap jutek lagi pada wanita ini. Namun saat ini dia belum tahu kebenarannya seperti apa. Rasanya ingin sekali bertanya, namun itu tidak mungkin karena dia tidak mau mempermalukan dirinya sendiri dengan sok akrab kepada Alina.
Karena merasa terganggu dengan kehadiran Marissa di sana, akhirnya Rebecca memilih untuk segera pergi dari sana dengan wajah kesal dan juga penasaran akan sosok Alina dan juga wanita yang ada di sampingnya itu.
"Dia siapa Al?" tanya Marissa.
"Mantan Rico, Kak."
"Ada apa dengannya, kenapa sepertinya kalian seperti memperdebatkan sesuatu?" tanya Marissa lain dengan penasaran.
"Nggak tahu, dia kayaknya nggak suka deh aku memiliki hubungan dengan Rico. Dia selalu ngingetin akun untuk hati-hati karena Rico bukan anak kandung dari keluarga Renaldi."
"Kenapa dia sangat care sekali sama kamu? Apa kalian berteman sebelum ini?"
"Kita nggak saling kenal, dia tahu aku menjalin hubungan dengan Rico beberapa minggu lalu saat aku menghadiri acara arisan bibi Santi."
Saat itu seorang pelayan datang menghampiri Alina, membuat percakapan di antara mereka terhenri. Pelayan itu menunjukkan satu set pakaian yang sama seperti milik Alfian dan Morgan dengan dua size yang berbeda.
Alina membentangkan kedua pakaian tersebut untuk melihat perbedaan size. Sebelumnya Alina memang belum pernah membelikan Rico pakaian, jadi dia tidak tahu size apa yang dipakai pacarnya itu, sementara dia tidak mau menghubungi Rico karena saat ini Rico sedang ada pekerjaan penting yang membuat Alina tidak bisa menghubunginya.
"Kak, size yang mana kira-kira yang cocok untuk Rico ya?" tanya Alina meminta pendapat kepada Marissa.
Marisa melirik pada kedua pakaian yang ada di depannya. Berhubung postur tubuh Rico tak jauh berbeda dengan Morgan, jadi Marissa memutuskan untuk memilih size yang mirip dengan adik iparnya itu. Semoga saja pilihannya ini pas di tubuh Rico, pikirnya. Setelah berhasil mendapat apa yang mereka cari, mereka segera pergi dari toko baju tersebut untuk mencari kebutuhan lainnya.