Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
61. Akan Pulang


Saat melihat wajah dan juga dress yang dikenakan Alina, awalnya Rebecca mengira jika Alina adalah anak orang kaya. Awalnya juga Rebecca berniat untuk menghasut Alina agar menjauhi Rico dan menjadikan Alina temannya, namun saat mendengar perkataan Alina dan melihat jika heels yang digunakan wanita itu bukanlah barang bermerek, Rebecca seketika itu juga memandang rendah Alina.


Dia pikir jika pakaian yang Alina pakai saat itu hanyalah pemberian dari Rico ataupun Santi. Mungkin saja Santi memberikan pakaian itu untuk Alina kenakan malam ini agar tidak memalukan keluarga Renaldi.


Ya, seperti itulah kira-kira yang ada di kepala Rebecca.


Karena sudah tidak tertarik lagi dengan sosok Alina, Rebecca pun terlihat hendak meninggalkan wanita itu untuk bergabung kembali bersama orang tuanya yang berada di meja makanbbersama teman-temannya. Namun baru dua langkah dia berjalan, tiba-tiba saja perkataan Alina berhasil menghentikan langkahnya.


"Rico pria yang cerdas. Jikapun suatu saat harus meninggalkan keluarga ini, aku yakin Rico pasti akan sukses seperti paman Irfan. Kamu tahu sendiri bagaimana baiknya keluarga ini, bukan? Jikapun Rico memulai semuanya dari awal, paman Irfan nggak akan membiarkannya sendirian. Dia pasti akan membantu Rico hingga berhasil. Terlebih untuk bibi Santi yang sangat menyayangi Rico sejak kecil, dia tidak akan membiarkan Rico kesulitan seorang diri."


Alina tersenyum puas saat mengatakan hal itu. Apalagi saat melihat wajah kesal Rebecca akan perkataannya.


Rebecca yang tidak suka mendengar perkataan Alina lantas kembali mendekati wanita itu.


"Rico adalah anak seorang pembantu, Alina. Setinggi apapun dia terbang dan dengan siapapun dia berada, nasib dia akan tetap kembali seperti orang tuanya yaitu, sebagai seorang pembantu. Kamu nggak bisa mengabaikan kenyataan itu. Kalau kamu mau merubah kehidupanmu, carilah pria yang benar-benar kaya, bukan yang berpura-pura kaya dengan menjadi anak orang kaya. Setidaknya manfaatkan tubuh kamu untuk merayu pria kaya diluar sana, jangan bodoh hanya karena cinta. Cinta saja nggak akan membuat kamu bahagia."


Setelah mengatakan hal itu, Rebecca langsung pergi dari sana. Dia berjalan dengan angkuh dan cepat karena terlihat kesal dengan Alina yang selalu membela Rico. Entahlah, dia sendiri tidak tahu kenapa bisa sekesal itu saat ada orang lain yang membela ataupun memuji Rico.


Melihat kepergian Rebecca, Alina hanya bisa diam. Sebenarnya dia cukup kesal dengan perkataan wanita itu, namun lebih baik dia memilih untuk diam saja karena tidak ingin mencari ribut di acara orang tua dari pacarnya itu.


Alina menghela nafasnya, dia meraih gelas minum yang ada di atas meja dan meneguknya dengan sekali tegukan. Perdebatan kecil antara dirinya dan Rebecca membuatnya merasa sangat haus.


Ddrrrtt… ddrrrtt…


Getar pada ponsel milik Alina yang sedang dipegangnya membuat wanita itu dengan segera menatap layar ponselnya. Terlihat nama kontak 'Bang Fian' yang muncul pada layar ponselnya. Tanpa menunggu lama Alina segera menjawab panggilan dari abangnya tersebut.


"Halo, Bang."


"Al, kamu masih di rumah Rico ya?" tanya Alfian.


"Iya, Bang. Ada apa?"


"Nggak papa, Abang cuma mau mastiin saja kok. Oh ya, jangan pulang malam-malam ya, besok kita ada penerbangan pagi. Kamu nggak lupa 'kan kalau besok kita harus pulang," ucap Alfian mengingatkan.


"Iya, Bang. Alina nggak lupa kok, nanti setelah acaranya selesai Alina segera pulang."


"Yasudah, kalau begitu Abang tutup dulu ya, Al. Ingat, jangan pulang malam-malam dan jangan tidur terlalu larut."


"Iya, Abangku sayang. Nggak usah bawel deh, aku bukan anak kecil lagi tahu."


Alfian di seberang sana terkekeh mendengar ucapan adiknya itu.


"Tapi bagi Abang, kamu tetap Alina kecil kita yang dulu."


Alina terkekeh mendengarnya, tiba-tiba saja mood Alina kembali membaik setelah berbincang sejenak bersama Abangnya.


"Baiklah-baiklah. Aku tutup dulu ya, Bang."


Setelah Alfian mengiyakan, mereka langsung menutup panggilannya masing-masing. Setelah itu Alina pun kembali ke meja tempat berkumpulnya Santi dan teman-temannya, dia tidak mau berlama-lama berada di sana karena takut Santi akan mencari keberadaannya.


Belum jauh dia berjalan, getar pada ponsel Alina kembali dia rasakan. Kali ini sebuah pesan masuk dari Rico dia terima.


"Nelpon siapa sih, asik banget sampe tertawa gitu?"


Alina cukup terkejut melihat isi pesan tersebut. Kemudian dia memutar pandangannya dan saat itu dia melihat Rico yang sedang berdiri di ambang pintu. Alina tersenyum kepada pria itu, kemudian dia langsung mengabaikannya dan melanjutkan langkahnya untuk menghampiri Santi. 


Ternyata saat dia telponan bersama abangnya tadi, Rico sudah memperhatikannya dari pintu.


...**...


"Maaf, Ma. Besok Alina harus pulang bersama bang Fian."


"Kamu mau pulang?"


Alina mengiyakan.


"Alina harus menghadiri wisuda abang kedua Alina, Ma. Sekaligus untuk berpamitan kepada keluarga di sana, soalnya mulai minggu depan keluarga Alina akan mulai menetap di sini," ucap Alina sedikit menjelaskan.


"Kamu punya abang selain Alfian, Al?" tanya Rico yang saat itu baru tahu.


Memang dia belum tahu banyak akan keluarga pacarnya ini karena juga Alina belum memberitahunya. Alina memang penuh rahasia, namun Rico yakin jika Alina tidak pernah ada niatan untuk menyembunyikan semuanya darinya. Dan dia juga yakin jika Alina memiliki alasan yang tepat atas semua keputusannya ini.


Alina tersenyum mengiyakan pertanyaan Rico.


Kemudian Santi ikut mempertanyakan akan ketidaktahuan putranya itu. Apakah Rico dan Alina belum jujur satu sama lain? Jika benar begitu, kenapa? Bukankah mereka sudah memutuskan untuk melanjutkan hubungannya ke jenjang yang lebih serius, yang di mana artinya mereka sudah seharusnya sama-sama jujur satu sama lain. Tak ada rahasia di antara masing-masing agar dikemudian hari tidak ada kesalahpahaman.


"Em, sepertinya Rico lupa, Ma. Alina sudah memberitahu Rico sejak lama saat memperkenalkan bang Fian, tapi karena jarak dan komunikasi yang minim, Rico jadi melupakan abang Alina yang bersama keluarganya."


Rico terpaksa berbohong, benar-benar terpaksa. Dia tidak mungkin mengatakan jika Alina memiliki rahasia yang belum dia ketahui. 


Sebentar lagi keluarga Alina akan datang ke sini dan Alina sudah berjanji akan mengatakan semua rahasianya padanya.


Dan beruntungnya Santi dan Irfan percaya akan perkataannya, membuat dia akhirnya bisa bernafas lega.


Alina pun yang melihat itu hanya diam saja. Sebenarnya juga dia merasa bersalah karena tidak berkata jujur kepada Rico, sehingga harus membuat pria itu berbohong kepada kedua orang tuanya. Namun bagaimana lagi, Rico sudah mengatakan kebohongannya kepada Santi dan Irfan. Tidak mungkin jika dia mengatakan semuanya sekarang dan mempermalukan Rico di depan orang tuanya sendiri.


"Baiklah kalau begitu, Mama titip salam untuk keluarga kamu di sana ya, Sayang. Kabari kita kalau kalian sudah kembali ke sini. Mama sekalian mau mengundang keluarga kamu untuk makan malam di sini, sekaligus berkenalan dan membahas hubungan kalian," ucap Santi dengan begitu penuh harap.


Alina mengiyakan, setelah itu dia langsung  berpamitan kepada Santi dan Irfan untuk pulang.


...**...


Saat dalam perjalanan menuju apartemen Alina, tiba-tiba saja Rico teringat akan Alina yang diterima bekerja di ZW corps. Seingatnya, perusahaan itu telah mulai beroperasi sejak beberapa hari lalu, namun kenapa Alina sampai sekarang belum masuk bekerja? Hal yang sangat ingin Rico tanyakan kepada pacarnya itu sejak beberapa hari lalu namun selalu terlupakan olehnya. Dan kini dia memutuskan untuk bertanya, sekaligus menuntaskan rasa penasarannya.


"Sayang bukannya kata kamu kemarin, kamu diterima kerja di ZW corps ya?"


"Iya, kenapa?" tanya Alina yang masih belum paham tujuan Rico bertanya.


"Perusahaan itu sudah berjalan sejak beberapa hari yang lalu loh, kenapa kamu nggak kerja?"


Alina menatap ke arah Rico. Dia terdiam beberapa detik sebelum berkata.


"Dua minggu lagi aku masuk."


"Kenapa dua minggu lagi? Memangnya kamu bekerja di divisi apa?" tanya Rico yang mulai penasaran.


"Posisi yang sangat menguntungkan," jawab Alina dengan tersenyum tipis. Membuat Rico semakin penasaran akan jawabannya itu.


"Apa, Sayang? Kenapa kamu suka sekali sih main rahasia-rahasiaan sama aku."


Alina tertawa melihat raut penasaran di wajah pacarnya itu. Sebenarnya dia mau saja memberitahu Rico akan yang sebenarnya, namun jika dikatakan di situasi seperti ini, sepertinya Rico tidak akan percaya dengan semua perkataannya. Jikapun pria itu percaya, Rico pasti akan salah paham dan mengatakan jika dirinya membohonginya atas semua tentang dirinya.


Memang benar jika dirinya berbohong, namun dia memiliki alasan atas semua kebohongannya ini. Sementara sebentar lagi mereka akan sampai di apartemen, Alina tidak memiliki banyak waktu untuk menjelaskannya sekarang.


"Maaf ya. Setelah aku kembali ke sini lagi, kamu akan tahu semuanya kok, Co," ucap Alina kemudian.