
Pagi hari di kediaman keluarga Wilson, sarapan pagi bersama anggota keluarga sudah menjadi rutinitas wajib di keluarga mereka. Sesibuk apapun aktifitas setiap harinya, mereka akan selalu menyempatkan diri untuk sarapan bersama di rumah. Karena bagi mereka, kesempatan seperti ini sangatlah langkah, mengingat sebagian anak di keluarga itu sudah tidak tinggal bersama mereka lagi.
Sepanjang sarapan, selalu saja ada pembahasan yang dibicarakan. Entah mengenai pekerjaan, kegiatan pribadi, bahkan sampai hal tidak penting lainnya. Seperti saat ini, anak ketiga dari keluarga itu sedang membicarakan sesuatu yang membuat kedua orang tuanya harus menggelengkan kepalanya.
"Mam, kapan ya aku bisa bertemu wanita secantik Mama. Rasanya hidupku terasa hampa tanpa seorang wanita seperti Mama. Aku jadi ingin menikahi Mama saja kalau begitu, karena nggak ada–"
Plak!
Sebuah pukulan berhasil didapatkan oleh pria bernama Morgan. Pukulan yang didpat dari sang papa membuat Morgan berteriak dengan spontan.
"Aww!"
"Mau menikah dengan siapa, hah? Dia istriku," ucap papanya dengan mata yang dibuat melotot.
"Pinjam bentar bisa kali, Pa," ucap Morgan yang masih dengan keisengannya.
"Pinjam gigimu. Kamu kira istriku itu barang apa."
Morgan dan papanya masih terus memperdebatkan kebodohan yang tidak penting itu. Sementara wanita cantik bernama Zara di sana yang menjadi bahan rebutan hanya bisa menggelengkan kepalanya sejak tadi. Jika kedua orang itu sudah bersatu, maka sudah dipastikan jika Zara harus mempersiapkan obat pusing di saku bajunya.
Dia sangat heran, kenapa sosok tak banyak bicara seperti suaminya itu bisa menjadi sosok lain yang aneh dan menyebalkan saat bertemu dengan putra ketiga mereka yang terkenal keisengannya itu.
Namun jika tidak ada Morgan bersama mereka, rasanya rumah tampak sepi sekali. Suaminya akan kembali pada setelan pabriknya dan tak ada lagi yang akan membuat suasana menjadi ramai seperti saat ini.
Untung saja Morgan tidak mengikuti jejak adiknya yang ingin hidup sendiri dan juga belum menikah seperti abangnya. Jadi rumah masih terasa ramai meski hanya pria itu seorang yang menemani kedua orang tuanya di rumah.
"Kalian mau sampai kapan berdebat di depan makanan hah?" ucap Zara selaku korban rebutan antara anak dan suaminya.
"Sayang, anakmu ini sudah gila–"
"Mas, jangan mengatai anak kita seperti itu," sela Zara. "Sudah tahu Morgan hanya becanda, kenapa kamu anggap serius sih."
Morgan yang dibela mamanya pun terlihat menyengirkan giginya di depan papanya. Dia merasa bangga karena sudah dibela oleh mamanya, sehingga membuat papanya yang bernama Thomas itu menghela nafas.
"Maaf, Sayang."
"Papa memang nggak asik, Mam. Nggak bisa diajak bercanda," ucap Morgan lagi yang tak habis ingin meledek papanya.
Thomas hendak menyahuti kembali ledekan putranya itu, namun dia mengurungkan niatnya saat melihat istrinya yang melotot kepadanya.
"Morgan, cukup. Jangan mengganggu Papamu lagi. Cepat habiskan makananmu, kamu ada rapat 'kan setelah ini?" ucap Zara lagi kepada putranya yang masih menertawakan Thomas.
"Yes, Mam."
Mereka kembali menikmati makanannya, namun kali ini sedikit hening karena kedua pria di sana tak berani bersuara setelah dimarahi oleh seorang wanita yang memiliki kasta tertinggi di keluarga itu.
Karena tak terlalu suka dengan keheningan yang panjang, akhirnya Zara membuka suara lebih dulu. Ada sesuatu yang dia lupakan yang ingin ditanyakannya kepada suaminya itu.
"Mas, kapan kita kembali ke Indonesia?"
Thomas seketika menghentikan makannya ketika mendengar pertanyaan itu. Dia meletakkan alat makannya di atas piring dan menatap istrinya.
Zara tak menyahuti perkataan suaminya.
"Apa kamu benar-benar sudah siap kembali ke sana?" tanya Thomas kemudian.
Zara tersenyum tipis. "Aku rindu kampung halaman, Mas. Aku juga rindu kedua anak perempuanku."
"Sayang." Thomas berucap cepat, agar Zara tak melanjutkan perkataannya. Dia menggeser kursinya sedikit ke kanan agar bisa lebih dekat dengan istrinya, kemudian dia bawa tubuh istrinya itu ke dalam rangkulannya.
"Tenanglah. Secepatnya kita akan kembali ke sana," ucap Thomas sembari mengusap punggung istrinya.
Morgan yang melihat mamanya bersedih, diapun ikut bersedih juga. Seolah apa yang dirasakan mamanya otomatis ter-transfer ke dirinya. Karena merasa tak kuasa melihat pemandangan di depannya itu, akhirnya Morgan memilih untuk segera pergi dari sana. Dia berpamitan untuk pergi ke kantor dengan alasan bahwa dia sudah terlambat.
...***...
Sementara di tempat lain, Rico sedang dalam perjalanan menuju rumah kontrakan Alina untuk menjemputnya. Seperti pagi-pagi sebelumnya, jika tidak ada kesibukan di kantor Rico akan menyempatkan sebagian waktunya untuk mengantar Alina ke kampus. Dia senang melakukan itu meski harus bolak-balik untuk bisa sampai ke kantor nantinya.
Setelah sampai di kontrakan Alina, Rico segera turun dari mobil dan mulai mengetuk pintu rumahnya. Tak perlu menunggu lama untuk Alina membuka pintu karena dia sudah mendengar suara mobil Rico dan siap untuk pergi.
Seperti biasa, sebelum masuk kedalam mobil, mereka menyempatkan untuk menegur para warga yang sedang berbelanja dari gerobak sayur keliling. Meski sapaan hanya dibalas dengan senyum kaku yang sangat singkat, namun tak membuat Alina maupun Rico mengabaikannya. Mereka tahu apa yang sedang dipikirkan para warga di sana mengenai Alina, namun mereka memilih untuk tidak mencari masalah dengan meladeninya.
Saat mobil mulai melaju, Rico kembali melirik pada spion mobilnya. Melihat para warga di belakang sana yang tadi disapanya seperti sedang bergosip, jika dilihat dari caranya mengobrol. Dibandingkan Alina yang cuek menghadapi orang-orang itu, Rico di sini justru terlihat sangat tidak nyaman dan ingin Alina segera mencari tempat tinggal baru agar terhindar dari lingkunan yang tak sehat seperti itu.
"Aku nggak bisa, Co."
Begitu jawaban Alina saat dia mengutarakan pendapatnya.
"Kenapa, Al? Apa kamu nggak risih melihat mereka yang terus mencurigai kamu seperti tadi?"
"Hitungan bulan lagi aku akan segera lulus. Saat aku sudah selesai dengan kuliahku, aku baru akan pergi dari kontrakan itu."
"No. Masih terlalu lama, Al."
"Aku nggak bisa pindah begitu saja, Co. Lokasi kontrakan itu yang paling dekat dengan kampus dan juga tempat kerjaku."
"Aku akan mencarikan tempat yang lebih baik dari pada itu," ucap Rico cepat.
"Co, aku beneran nggak–"
"Al," sela Rico cepat. "Please. Aku nggak mau melihat orang-orang di sana terus membicarakanmu seperti tadi. Kalau kamu bisa cuek dengan mereka, nggak dengan aku. Aku nggak mau mereka melakukan itu lagi denganmu. Please, mengertilah."
***
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰
.
.