Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
115. Mau Belajar Memasak


Percakapan terhenti saat Alfian memutuskan untuk pulang. Istrinya sudah menelpon dan mengatakan jika anaknya rewel dan tak bisa tidur karena terus mencari papanya, jadi terpaksa pria itu pergi lebih cepat dari kediaman orang tuanya. Anggota keluarga yang lain pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat. Terlebih Alina yang harus banyak istirahat, tak diperkenankan untuk menghabiskan waktu lebih lama dengan situasi yang seperti ini. Zara takut jika putrinya itu akan menjadikannya pikiran jika mereka terus membicarakan hal ini dan menyalahkan mereka berdua.


Di dalam kamar, Alina merasa bersalah kepada suaminya yang telah disalahkan oleh keluarganya. Dia merasa sangat bersalah, karena harus menuruti kemauannya suaminya itu jadi kena imbasnya. Namun mau bagaimana lagi, Alina melarang Rico untuk menegur orang yang sudah menggosipinya karena tak mau mencari ribut di kantor abangnya. 


"Sayang, maafin aku ya. Gara-gara aku, kamu jadi dimarahi oleh papa dan bang Fian," ucap Alina dengan wajah bersedih.


Mereka yang saat ini baru saja merebahkan tubuhnya di atas kasur lantas saling pandang. Rico menatap istrinya itu dengan senyum manisnya, seolah senyuman tersebut mengatakan jika dirinya baik-baik saja.


"Sudahlah, Sayang. Memang sejak awal aku yang salah karena nggak tegas, wajar kalau mereka marah padaku."


"Tapi 'kan kamu begitu juga karena aku. Aku tahu kalau sebenarnya kamu itu diam saja karena nggak mau buat aku kecewa, tapi sekarang justru aku yang buat kamu kecewa."


Rico mengusap lembut pipi istrinya itu.


"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Sebaiknya kita tidur saja ya, kamu harus istirahat, kegiatan hari ini pasti melelahkan sekali," ucap Rico yang mencoba untuk menghentikan pembicaraan. Sebisa mungkin dia harus membuat istrinya tak memikirkan hal yang tak seharusnya dipikirkan.


"Maafin aku, ya," ucap Alina lagi.


Rico pun tersenyum. "Iya. Sudah, jangan minta maaf terus. Lebaran masih lama, tahu."


Mendengar candaan suaminya itu, Alina lantas memanyunkan bibirnya. Lagi-lagi suaminya itu harus meniru sikap abang keduanya, selalu menyematkan candaan di saat seseorang sedang serius. Untung saja Rico hanya seperti itu di depannya, jika di depan Alfian atau papanya, mungkin pria itu benar-benar akan menjadi santapan empuk dua macan di keluarganya itu.


Agar istrinya tak lagi berbicara, Rico pun berpura-pura tidur. Memeluk istrinya seperti kebiasaan rutinnya ketika mereka tidur.


***


Pagi ini entah kenapa gejala morning sickness yang Alina rasakan tak lagi separah sebelumnya. Namun wanita itu masih rutin keluar masuk kamar mandi untuk menuntaskan rasa mualnya yang sering datang dengan tiba-tiba.


Setelah merasa lebih baik, Alina dan Rico segera turun untuk menikmati sarapannya bersama keluarga mereka. Di tengah waktu mereka menikmati sarapannya, entah kenapa tiba-tiba saja Alina teringat akan sesuatu. Melihat makanan di atas meja dan juga Zara bersama beberapa pelayan di sana menyajikan makanan, Alina tiba-tiba teringat dengan niatnya yang ingin belajar memasak. 


Berhubung saat ini dia sedang cuti dan tidak ada kegiatan juga di rumah, Alina pun berniat untuk belajar memasak mulai hari ini. Namun dia harus meminta izin kepada orang tua dan suaminya terlebih dahulu. Dengan kondisinya yang sekarang, Alina ragu jika keluarganya ini tidak akan membiarkannya memasak. Jujur saja, Alina sedikit kesal jika keluarganya itu benar-benar melarang dia melakukan semua hal kecuali beristirahat. Namun sebelum berburuk sangka, dia harus bertanya terlebih dahulu.


"Oh ya, Ma, hari ini Alina boleh ya belajar memasak."


Perkataan Alina ditengah makannya itu membuat semua orang menatap ke arahnya.


"Belajar memasak?" tanya Zara.


"Iya. Boleh 'kan, Sayang?" tanya Alina kemudian kepada Rico dan langsung diiyakannya.


"Gimana, Ma?" tanya Alina lagi kepada mamanya. 


Dia sangat berharap mamanya membolehkannya belajar memasak dan saat mendengar mamanya mengiyakan permintaannya dengan begitu saja, Alina pun tersenyum senang.


"Boleh banget dong, Sayang. Belajar dengan koki saja ya, kamu tahu sendiri kalau Mama nggak jago masaknya."


"Walaupun nggak jago, tapi aku tetap suka masakan kamu, Sayang," ucap Thomas dengan suara pelan, namun tetap bisa didengar semua yang ada di meja makan itu.


Zara hanya tersenyum singkat, lalu kembali menatap kepada putrinya.


"Iya, nggak papa, Ma. Nanti Alina belajar memasak setelah sarapa selesai ya, biar nanti bisa memasak untuk makan siang kita nanti."


"Jangan terlalu lelah, Sayang. Ingat kesehatan kamu loh," ucap Rico menyarankan.


Alina menatap suaminya itu dengan tersenyum. "Pasti, Sayang," sahutnya.


"Mimpi apa kamu mau belajar memasak?" tanya Morgan tiba-tiba yang saat itu sangat heran dengan permintaan adiknya.


"Memangnya kenapa kalau aku mau belajar memasak, salah?"


"Ya salahlah. Kamu bertahun-tahun merantau saja nggak ada niatan mau memasak, tumben banget sekarang mau belajar memasak," ucap Morgan.


"Dulu dan sekarang 'kan beda, Bang. Dulu aku masih single, tapi sekarang aku sudah punya suami. Aku mau memasak untuk suamiku tercinta ini," ucap Alina sembari memeluk suaminya yang ada di sampingnya. Dia juga sengaja menjulurkan lidahnya kepada Morgan, mengejeknya seolah mengatakan jika dirinya saat ini telah memiliki pasangan yang harus dia layani dengan sepenuh hati.


"Dih, mentang-mentang sudah punya suami, mau belajar masak. Telat tahu nggak, seharusnya kamu tuh belajar sejak beberapa tahun yang lalu."


"Nggak ada yang namanya terlambat dalam belajar. Kamu kalau ngomong, ya dipikir dulu," ucap Thomas dengan cepat yang menyahuti perkataan putranya. "Dari pada ngusilin adik kamu, lebih baik kamu cari pasangan sana. Sudah tua kok masih saja betah sendiri. Mau jadi bujang tua apa?"


Alina tertawa kecil, sementara Morgan membelalakkan matanya saat mendengar kalimat terakhir dari papanya itu. Dia menggelengkan kepalanya, tega sekali papanya mendoakan dia menjadi bujang tua, pikirnya.


"Wah. Ma, lihat Papa, Ma." Morgan mengadu kepada mamanya. "Masak aku di doakan menjadi bujang tua. Tega banget sih jadi orang tua."


"Heh, kerjaan kamu cuma bisa mengadu ya," ucap Thomas dengan cepat. Jangan sampai istrinya itu ikut berbicara sebelum perdebatan mereka selesai, karena jika istrinya telah berbicara, maka pasti dialah yang akan disalahkan.


Namun meski dirinya telah lebih dulu berucap, tapi tetap saja suara istrinya itu tak akan terasingkan jika sudah berucap, meski dengan suara pelan sekalipun. Seperti saat ini, Zara menyela di tengah-tengah perkataan suaminya sehingga membuat suaminya itu terdiam dengan seketika.


"Kepala Mama ini lama-lama Bisa pecah juga mendengar keributan yang kalian berdua ini lakukan ya. Apa kalian nggak bisa akur sehari saja hem?"


"Nggak bisa, Ma," ucap Thomas dan Morgan yang tanpa sengaja dilakukan secara bersamaan.


Zara pun yang mendengar jawaban anak dan suaminya itu lantas membelalakkan matanya. Tak menyangka jika perkataannya akan disahuti oleh Tom and Jerry itu.


Thomas dan Morgan menyengir kuda. Karena takut jika mamanya itu akan meledak, mereka berdua pun segera berlari dari sana. Meninggalkan makanan mereka yang masih tersisa sedikit di atas piring demi keselamatannya.


"Papa, Morgan, habiskan makanan kalian," teriak Zara kemudian.


"Sudah habis, Ma," sahut kedua ayah dan anak itu yang lagi-lagi secara bersamaan pula.


Zara menghela nafasnya sembari menggelengkan kepalanya. Dia sangat heran sekali melihat suami dan anak keduanya itu yang begitu mirip. Entah dari segi kepintaran, kekompakan, bahkan hingga golongan darahnya sekalipun.


Memikirkan hal itu, Zara jadi teringat dirinya yang sempat membenci suaminya saat hamil Morgan beberapa puluh tahun lalu. Apa karena keanehannya itu yang membuat anaknya menjadi seperti ini? Jika benar begitu, seharusnya dia tidak melakukan itu agar setidaknya putranya itu bisa menjadi seperti Alfian yang tenang dan lebih sering serius dari pada bercanda. 


Namun setelah dipikir-pikir, jika tidak ada Morgan yang seperti ini, maka keluarga mereka pasti akan sangat monoton sekali karena tidak ada yang bisa mencairkan suasana seperti pria itu. 


Aish, Zara jadi pusing sendiri memikirkan hal itu.


**


Setelah sarapan selesai, Alina hendak meminta koki yang ada di rumahnya untuk mengajarinya memasak. Namun sebelum itu dia harus menunggu terlebih dahulu karena para pelayan di rumah sedang membersihkan meja makan dan mencuci piring kotor di dapur. 


Sembari menunggu para pelayan yang sedang memakai dapur, Alina memilih untuk merapikan tempat tidurnya terlebih dahulu yang belum sempat dia rapikan saat bangun tidur tadi. Alina sengaja tidak mau meminta pelayan di rumah untuk merapikan kamarnya karena dia tidak mau ada yang mengusik kamar dia bersama suaminya. 


"Assalamualaikum, Sayang. Ada apa?" tanya Rico yang berbicara lebih dulu.


"Waalaikumsalam. Sayang, kamu sudah sampai kantor?"


"Aku masih di jalan, tapi sudah dekat dengan kantor. Ada apa?" tanya Rico lagi.


"Dokumen untuk meeting kamu tertinggal di kamar. Apa kamu sengaja meninggalkannya" tanya Alina. 


Rico yang saat itu sedang mengemudikan mobilnya lantas segera menepikannya ke pinggir jalan. Dia mengecek tas kerjanya dan saat menyadari jika dokumen yang akan dipakainya untuk meeting pagi ini tidak ada di sana, lantas meminta istrinya itu untuk segera mengirimkannya melalui jasa kirim barang. 


"Lain kali diperiksa dulu kalau mau pergi. Jangan sampai ada yang tertinggal seperti ini. Untung saja aku cepat masuk kamar, kalau nggak, kamu pasti akan kebingungan mencari dokumen ini," ucap Alina yang seperti mengomel.


"Iya, Sayang, maaf ya. Aku tadi terburu-buru soalnya papa sudah mengirim pesan untuk segera datang ke kantor," ucap Rico memberi alasan.


"Memangnya ada apa papa minta kamu cepat-cepat datang ke kantor? Bukannya ini masih pagi ya."


"Nggak tahu. Sepertinya ada yang ingin dibahas."


Alina kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah mengerti dengan apa yang suaminya itu katakan.


"Oh ya, Sayang, apa kamu masih muntah-muntah?" tanya Rico sembari kembali mengemudikan kendaraannya.


"Untuk saat ini belum. Terakhir saat kamu pergi tadi saja, itu juga dibantu mama kok."


"Kalau masih pusing atau muntah-muntah, ditunda saja belajar memasaknya ya. Jangan dipaksakan, aku takut nanti terjadi sesuatu sama kamu di dapur," ucap Rico yang menasehati istrinya.


"Iya, kamu tenang saja, nanti ada mama juga kok yang ikut membantu di dapur. Kamu tenang saja, fokus bekerja saja ya, nggak usah mikirin aku di rumah. Di sini banyak orang, jadi aku nggak akan kenapa-napa."


Rico tersenyum mendengar perkataan istrinya itu. Dibandingkan dengan beberapa hari yang lalu, hari ini Rico terlihat sedikit lebih tenang karena tak lagi memikirkan keadaan istrinya yang sedang bekerja dengan kondisi yang belum fit. Hari ini Rico bisa sedikit lebih santai karena istrinya itu saat ini sedang bersama keluarganya di rumah. Jika saja Alina kembali mengalami morning sickness ataupun pusing dan sebagainya, setidaknya ada orang tuanya yang akan membantunya di rumah.


"Sayang, sudah dulu ya, sepertinya kamu sedang menyetir. Lebih baik kamu fokus saja pada kemudi, nanti aku kirimkan dokumennya ke kantor." 


Rico pun mengiyakan, setelah itu mereka segera menutup panggilannya masing-masing. Baru saja Alina meletakkan kembali ponselnya ke atas meja, tiba-tiba saat itu ponselnya kembali berdering. Kini dia melihat panggilan suara yang berasal dari teman dekatnya yaitu, Rena. 


Sudah hampir tiga minggu ini mereka tidak bertemu karena kesibukan masing-masing. Dan kini entah kenapa Alina sangat merindukan temannya itu. Tanpa menunggu waktu lama, Alina pun segera menjawab panggilan dari temannya itu.


"Halo, Ren," ucap Alina lebih dulu.


"Hai, Al. Kamu apa kabarnya?" tanya Rena dengan suara yang terdengar bersemangat.


"Baik. Kamu kenapa, kayak lagi senang gitu," ucap Alina dengan heran.


Rena terkekeh di ujung sana.


"Iya, aku lagi seneng banget tahu."


"Kenapa tuh, kepo nih," ucap Alina dengan diiringi kekehan kecil.


Rena hendak mengatakan sesuatu kepada temannya itu, namun tiba-tiba suara ketukan pintu kamar Alina membuat wanita itu meminta Rena untuk menunggunya lebih dahulu membuka pintu. Rena pun mengiyakan dan segera mengurungkan niatnya yang ingin berbicara.


Tak sampai satu menit Alina meninggalkannya, kini wanita itu telah kembali pada panggilan ya g masih terhubung.


"Sorry ya, Ren," ucap Alina.


"Siapa yang ngetuk, Al? Mertua kamu ya?" tanya Rena.


"Aku lagi di rumah orang tuaku. Tadi pelayan yang ngetuk, cuma memberitahu kalau koki di dapur sudah siap untuk ngajarin aku masak," ucap Alina sedikit menjelaskan.


"Kamu mau belajar memasak?" tanya Rena dengan nada tak percaya.


"Memangnya kenapa? Aku 'kan sudah bersuami sekarang, jadi harus belajar memasak. Kata orang sih, masakan seorang istri itu salah satu dari sekian banyaknya cara untuk menyenangkan hati suami."


"Oh ya?" tanya Rena dan langsung diiyakan Alina.


Rena terdiam sejenak, setelah itu dia meminta izin pada Alina untuk ikut belajar memasak bersamanya. Alina yang tak percaya dengan apa yang dikatakan temannya itu seketika tertawa geli. Bagaimana bisa seorang Rena ingin belajar memasak?


"Kenapa kamu tertawa?" tanya Rena dengan heran.


"Nggak papa. Nggak nyangka aja kalau kamu mau belajar memasak juga. Ada angin apa tiba-tiba mau belajar memasak juga?" tanya Alina dengan penasaran.


Rena diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Alina.


"Ya nggak papa. Pengen belajar saja. Apa boleh aku belajar memasak denganmu?" tanya Rena lagi.


"Tentu saja. Kamu bisa datang sekarang, sebentar lagi aku akan turun ke bawah untuk mulai belajar."


"Tunggu aku, aku ke sana sekarang."


"Kamu nggak kerja?" tanya Alina.


"Bisa diatur. Pokoknya jangan memulai sebelum aku datang oke."


Alina mengiyakannya.


"Oh ya, Ren," ucap Alina sebelum Rena menutup panggilannya.


"Kenapa?" tanya Rena.


"Kamu tadi mau bilang apa sebelum ini?" tanya Alina.


"Yang mana?"


"Katanya lagi senang. Senang apa? Kamu tadi mau menjawab pertanyaanku itu loh, tapi nggak jadi."


"Oh, nanti saja aku beritahu saat di rumah kamu. Sekarang aku mau jalan, bye."


Rena menutup panggilannya dan Alina pun mengedikkan bahunya begitu panggilan terputus.


Karena akan menunggu Rena terlebih dahulu, Alina memilih untuk bersantai sejenak di kamarnya. Bermain game diponselnya dan juga membuka akun sosial medianya yang jarang dimainkan untuk mengisi waktu kosong. Namun belum sempat membuka aplikasi permainan di ponselnya, perut Alina tiba-tiba terasa mual kembali. Dia pun segera bangkit dari duduknya dan berlari menuju toilet yang ada di kamarnya.