
Setiba di toko kue, Alina keluar dari mobil seorang diri untuk membeli kue, sementara Alfian menunggu di dalam mobil. Dia memerhatikan adiknya yang masuk ke dalam dan keluar dari toko kue itu sekitar kurang lebih lima belas menit. Saat keluar dari toko kue, Alfian tampak heran saat melihat adiknya yang berjalan ke arah yang berbeda.
"Alina," panggil Alfian dengan sedikit kencang, namun tak membuat Alina menatap ke arahnya.
Alfian sangat heran ke mana langkah kaki adiknya itu menuju, namun meski begitu dia masih belum beranjak dari tempat duduknya, hanya memantau ke mana adiknya itu pergi dari dalam mobil. Sampai Alina berhenti di depan dua orang pemuda/i yang terlihat bertengkar, Alfian segera turun dari mobil. Melihat sosok seorang pria yang berlaku kasar dengan wanitanya, membuat Alfian sangat takut jika adik kesayangannya itu terlibat masalah karena sudah ikut campur.
Awalnya Alfian masih berjalan dengan normal, namun dia segera berlari saat melihat pria itu hampir saja menampar adiknya. Untungnya saat itu Alina berhasil menangkis tangan pria itu, sehingga wajah cantiknya tidak sampai terkena cap tangan pria kasar itu.
Perbuatan kasar pria yang tak dikenalnya itu tak cukup sampai di sana. Karena Alina yang mencoba melawannya, pria itu dengan kasar mendorong tubuh Alina kebelakang. Membuatnya hampir terjatuh jika saja Alfian tidak cepat menangkapnya.
"Abang," gumam Alina.
Pria yang mendorong Alina itu pun menatap ke arah Alfian, begitu juga dengan wanita yang masih dalam cengkramannya.
Wanita itu adalah Rena. Ya, saat keluar dari toko kue tadi, Alina tak sengaja melihat Rena yang keluar dari dalam hotel sambil berlari. Dia yang sudah curiga dengan keadaan wanita itu lantas menghampirinya tanpa pikir panjang lagi. Apalagi melihat pria yang bersamanya saat itu adalah pria yang sama saat beberapa hari lalu dia temui di resto depan cafe tempatnya bekerja. Saat itu juga Alina memiliki firasat jika Rena sedang tidak baik-baik saja bersama pria itu.
Saat Alina menghampirinya, Rena terlihat sudah menitihkan air matanya. Dia hendak membawa Rena bersamanya, namun pria itu tak mengizinkannya dan justru membentaknya. Hingga saat Alina melawan dan ikut membentak, pria itu langsung mengangkat tangannya untuk memukulnya. Meski pukulan itu bisa dia tangkis, namun dorongannya yang sangat kuat akhirnya membuatnya terdorong ke belakang. Untungnya saat itu Alfian cepat datang, jika tidak, sudah dipastikan Alina akan terjatuh mengenai pembatas jalan.
"Kamu nggak papa, Al?" tanya Alfian.
Alina menggelengkan kepalanya. "Nggak papa, Bang."
Wajah Alfian menjadi merah padam. Emosi mulai keluar dari dirinya saat melihat adik kesayangannya diperlakukan secara kasar seperti itu oleh pria tak tahu diri itu.
Alfian menatap ke arah pria itu, tanpa bersuara dia mendekatinya dan memberikan sebuah bogem mentah pada pipi kirinya. Pukulannya yang sangat kuat membuat pria itu terjatuh ke lantai jalan.
Suara teriakan Alina dan Rena juga berhasil mengundang pandangan sebagian orang yang ada di sekitar mereka.
Setetes darah berhasil keluar dari sudut bibir pria itu dan membuat pria itu terlihat sangat marah pada Alfian. Dia bangkit dari posisinya sembari menahan sakit. "Sial." kemudian sebuah bogem mentah pun dia layangkan pula kepada Fian.
Namun karena Alfian yang sudah membaca serangannya terlebih dahulu, akhirnya pukulan itu melesat begitu saja. Pria itu tak terima melihat Alfian yang menghindar, dia berusaha untuk kembali melayangkan pukulannya dan lagi-lagi hanya angin yang berhasil dia pukul.
"Kenapa? Apa latihan bela dirimu hanya segitu saja? Oh, atau jangan-jangan kamu hanya anak geng jalanan yang suka ikut tawuran dan nggak ngerti ilmu bela diri?"
Alfian tersenyum miring mengejek. Dan pria itu yang tak terima dengan ejekannya pun lantas ingin melayangkan kembali pukulannya, namun kali ini Alfian tidak lagi menghindar, tapi pria itu menangkis tangan pria kasar itu dengan wajah datarnya.
"Kamu berani memukulku atau kedua wanita itu, akan aku pastikan dalam beberapa hari kedepan kamu sudah ada di dalam penjara," ucap Alfian kemudian dengan suara yang terdengar mengancam namun nyata. Membuat pria itu seketika terdiam.
Dia cukup terkejut mendengar ancaman Alfian, sampai beberapa detik kemudian pria itu mengira jika Alfian hanya mengancamnya agar dirinya takut.
"Jangan ikut campur urusanku," ucap pria itu sembari memenghempaskan tangan Alfian yang masih menggenggam tangannya.
"Kamu hampir menampar adikku dan membuatnya terjatuh, apa menurutmu aku nggak akan ikut campur?"
Pria itu menatap ke arah Alina sejenak, kemudian pandangannya dia alihkan kembali menatap Alfian.
"Itu karena adikmu sudah ikut campur urusan–"
"Aku nggak peduli dengan alasan apapun itu. Kalau kamu masih mau mengganggu mereka, jangan salahkan aku jika hidupmu kubuat hancur," sela Alfian dengan tatapan dingin.
"Apa hobimu hanya mengancam saja?" Pria itu tersenyum miring, seolah mengejek Alfian yang dikiranya hanya bisa mengancamnya agar dia tidak berani padanya.
Alfian masih dengan tatapan dinginnya, lalu dia berjalan mendekat ke arah pria itu. Semakin mendekat hingga pria itu berjalan ke belakang untuk menghindari tubuh Alifan agar tak menabraknya.
"Boleh saja kalau mau bukti," ucapnya seperti berbisik. "Pukullah salah satu dari mereka atau aku. Besok pagi aku akan segera mengirimkan buktinya."
Pria itu menelan salivanya, suara Alfian terdengar sangat menakutikan ditelinganya, tatapannya juga seperti mengisyaratkan jika dirinya tidak main-main dengan perkataannya. Kini tiba-tiba dia merasa ada ketakutan dalam dirinya akan perkataan Alfian. Sepertinya Alfian tidak sedang bercanda, pikirnya. Karena tak ingin mengambil resiko jika apa yang Alfian katakan benar, akhirnya pria itu memutuskan untuk pergi dari sana.
Namun sebelum pergi, pria itu menatap ke arah Alina sejenak. Tentunya Rena pun tak lepas dari pandangannya juga, dia bahkan menatap ke arah wanita itu cukup lama sehingga membuat Rena membuang pandangannya dengan ekpresi yang terlihat takut.
Sepergi pria itu Alina segera menghampiri Rena, sementara Alfian hanya berdiri menatap adiknya itu dalam diam.
Tubuh Rena terlihat sedikit bergetar dan berkeringat. Saat Alina menyentuhnya, tiba-tiba saja wanita itu menghambur ke dalam pelukannya. Dia memeluk tubuh Alina dengan erat, tubuhnya yang bergetar begitu terasa dan tak lama dari itu pun Alina merasakan basah pada bahunya.
Rena menangis dalam pelukan Alina dengan suara kecil. Menumpahkan rasa takutnya akan kejadian yang baru saja terjadi padanya.
Alina yang tidak tahu apa yang menjadi masalah antara Rena dengan pria itu, serta apa yang membuat Rena menangis, hanya bisa diam. Memberi waktu kepada Rena untuk melepaskan rasa sesak di hatinya sembari mengelus punggung wanita itu untuk membantu menenangkannya.
Cukup lama mereka dengan posisi seperti itu, hingga sampai Alfian mendekati mereka dan memberi kode kepada adiknya untuk pergi dari sana karena banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka.
Alina memutar pandangannya mendengar hal tersebut, dia benar-benar tidak menyadari jika dirinya dan Rena saat ini sudah menjadi tontonan gratis di tempat umum. Alina melepas pelukannya dengan perlahan, dan Rena yang saat itu masih menyisakan sedikit tangisnya mengusap wajahnya dengan tangannya.
"Ayo aku antar pulang," ucap Alina dengan suara rendah.
Butuh waktu sekitar satu menit untuk Rena menjawab perkataan Alina dengan dia yang terlihat berpikir.
"Aku nggak mungkin pulang dengan kondisi seperti ini."
Rena terdiam sejenak, kemudian menggelengkan kepalanya. Dia tidak mungkin pulang ke rumahnya dengan kondisi yang kacau seperti ini, bisa-bisa keadaannya yang seperti ini akan membuat orang tuanya khawatir. Dia juga tidak mungkin pergi ke kediaman Andi. Dia bingung mau pergi ke mana, sementara dia tidak memiliki teman dekat yang bisa dipercaya untuk membantu menenangkan dirinya.
Alina yang sudah terlihat tidak nyaman dengan keberadaan mereka di sana yang masih menjadi tontonan orang-orang di sekitar, terpaksa berinisiatif untuk membawa Rena ke kediamannya. Awalnya Rena sempat menolak, mengingat mereka yang tidak dekat bahkan terkesan tidak akur. Namun karena tidak memiliki pilihan lain dan Alina juga sepertinya tulus menolongnya, maka Rena mengiyakan ajakan Alina.
Dia mengikuti Alina menuju mobilnya yang tak jauh dari sana. Dengan Alfian yang menjadi pengemudi, dia duduk diam seorang diri di kursi belakang. Pandangannya melirik seisi ruangan itu, kemudian dia menatap ke arah kursi kemudi. Pandangannya berfokus pada Alfian yang sedang fokus pada jalanan di depan, dia baru menyadari kehadiran pria itu bersama mereka setelah sekian menit mengikuti Alina.
Dari kaca spion mobil, Rena menatap wajah tampan Alfian. Wajah pria yang sangat tampan dan terlihat seperti sosok pria berdarah campuran. Siapa pria ini, pikir Rena.
Kemudian pandangannya menatap ke arah Alina yang duduk di samping pria itu. Dia menatap Alina dan Alfian secara bergantian dalam diam, dia mulai menebak-nebak siapa pria yang bersama Alina. Apa teman dekat Alina? Lalu bagaimana dengan Rico? Apa Rico tahu tentang pria ini? Rena mulai menerka-nerka dengan pikirannya. Dia yang awalnya tidak peduli dengan semua yang berhubungan dengan sosok Alina tiba-tiba saja jadi penasaran dengan apa yang ada di depan matanya. Rasanya ingin bertanya, namun tak mungkin. Dia cukup malu untuk bertanya mengenai hal pribadi wanita itu, apalagi selama ini dia yang selalu menjaga jarak dari Alina. Sebaiknya dia abaikan saja karena semua ini tak ada hubungan dengan dirinya juga.
Tak butuh waktu lama kini mobil yang Alfian kendarai telah tiba di depan rumah kontrakan adiknya. Dia mematikan mesin mobilnya dan turun lebih dulu dari mobil.
"Ayo turun," ucap Alina sembari melirik ke arah Rena sejenak.
Alina hendak membuka pintu mobil, namun gerakan tangannya terhenti saat Rena bersuara.
"Makasih, Al."
Alina tersenyum tipis dan kembali menatap Rena.
"Its okay. Ayo turun."
Alina turun dari mobil lebih dulu dan disusul oleh Rena setelahnya. Rena mengikuti Alina berjalan memasuki sebuah rumah berlantai satu yang sangat kecil jika dibandingkan dengan rumahnya. Pandangannya menyusuri isi ruangan di sana, menatap setiap sudut ruangan yang membuatnya terheran karena Alina mau tinggal di tempat kecil seeprti itu.
Meski isi rumah kontrakan Alina terlihat sangat rapih dan juga bersih, namun tetap saja kecil baginya. Dia tidak yakin jika Alina merasa nyaman tinggal di sana. Mungkin karena masalah ekonomi yang membuat wanita itu terpaksa tinggal di sana, pikirnya. Secara tidak sadar muncul rasa prihatin di hati Rena atas kehidupan wanita itu yang sangat sederhana.
Rena masih berdiri mematung di samping sofa yang diduduki Alfian, sampai Alina yang tadinya masuk ke dalam kamar telah keluar dengan sebuah handuk dan satu set baju di tangannya dan meleburkan lamunan Rena pada rumah itu.
"Pakaian kamu basah. Gantilah dengan bajuku atau kamu akan masuk angin," ucap Alina sembari mengulurkan handuk dan pakaian di tangannya.
Dengan terpaksa Rena meraih pakaian dari tangan Alina. Setelah itu dia dia mengikuti Alina yang menunjukkan letak kamar mandi berada. Setelah Rena masuk ke dalam kamar mandi, Alina beralih ke dapur untuk membuat dua gelas air teh hangat.
Begitu teh hangat selesai dibuat dia segera membawanya ke ruang tamu. Memberikannya kepada Alfian dan yang satunya lagi untuk Rena yang masih di dalam kamar mandi.
Alina mendudukkan tubuhnya di samping Alfian dengan menyandarkan tubuhnya yang lelah pada punggung sofa. Dia menghela nafas panjang sehingga membuat Alfian terlihat heran.
"Kenapa?" tanyanya pada sang adik.
"Kue cokelatku hancur," gumamnya tanpa menatap sang abang.
Ya, gara-gara pria yang bersama Rena tadi mendorongnya, kue cokelat yang ada di tangan Alina terlepas dari tangannya dan terjatuh ke atas lantai jalanan. Saat itu dia memang tidak memikirkan kue cokelat yang baru saja dia beli karena terlalu fokus pada Rena, namun sekarang dia sangat menyayangkan kue cokelatnya yang sekarang mungkin masih berada di jalanan sana.
Alfian yang mendengar hal itu hanya tersenyum tipis. Dia meletakkan gelas teh yang baru saja diseruputnya itu, kemudian menatap sang adik.
"Nanti besok setelah pulang kuliah Abang belikan lagi. Jangan cemberut gitu, kue-nya hancur karena kamu menolong temanmu, bukan karena sengaja terjatuh," ucapnya dengan lembut. Membuat Alina menghela nafasnya dan mengiyakan meski sebenarnya dia sangat ingin sekali makan kue cokelat sore ini. Namun karena situasi yang tidak memungkinkan, dia terpaksa harus menunggu hari esok.
Di dalam kamar mandi, setelah membersihkan tubuhnya Rena segera mengganti pakaiannya dengan milik Alina. Pakaian rumahan berupa t-shirt over size berwarna putih dan juga celana selutut yang terlihat biasa saja baginya. Bukan pakaian mahal seperti miliknya, namun cukup nyaman ditubuhnya. Wajar saja jika hanya pakaian ini yang Alina punya, mengingat cerita dari Andi yang mengatakan jika ekonomi Alina tak sama seperti mereka.
Namun Rena cukup memuji Alina karena wanita itu memiliki selera yang lumayan tinggi, dilihat dari cara berpakaiannya sehari-hari yang cukup modis, meski tanpa harus membeli pakaian mahal.
Setelah selesai berpakaian, Rena beranjak keluar dari kamar mandi dan menghampiri Alina dan Alfian yang sedang duduk berbincang di ruang tamu. Kehadirannya di ruangan yang kecil itu sangat mudah diketahui Alina dan Alfian, mereka menatap ke arah Rena dan menyuruhnya untuk duduk bersama mereka.
"Minumlah selagi hangat," ucap Alina setelah Rena mendudukkan tubuhnya di sofa samping mereka. Gelas berisi teh pun dia dekatkan ke hadapan Rena agar wanita itu lebih mudah menggapainya.
"Terima kasih," ucap Rena. Kemudian dia mulai meneguk teh hangat buatan Alina dengan perlahan.
Sedikit demi sedikit dia meneguk minuman manis itu sembari menatap ke arah Alina dan Alfian secara bersamaan. Membuat Alina yang menyadari itu terpaksa harus memperkenalkan abangnya itu kepada Rena untuk menuntaskan rasa penasaran Rena, menurut apa yang dia lihat.
"Em, Ren, kenalin, dia Abangku. Namanya Alfian," ucap Alina setelah Rena selesai dengan minumannya dan meletakkan gelas teh itu ke atas meja.
Alfian yang diperkenalkan oleh adiknya itu berinisiatif mengulurkan tangannya kepada Rena dan langsung dibalas oleh wanita itu sembari menyebutkan nama masing-masing.
Rena yang sejak tadi penasaran dengan sosok Alfian kini terlihat lega. Dia pikir Alfian adalah teman Alina atau selingkuhan Alina yang tidak sengaja ketahuan olehnya, namun ternyata pria itu adalah abangnya. Rena tidak curiga dengan Alfian yang diketahuinya sebagai abang kandung Alina, selain karena tidak ada perasaan curiga juga menurutnya tidak penting.
***
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰
.
.