Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
55. Sangat Penasaran


"Bukan siapa-siapa kok," ucap Rico kemudian.


Alina mengernyitkan keningnya mendengar jawaban Rico yang tidak seperti sebuah jawaban.


"Maksudnya apa, Co? Kenapa bukan siapa-siapa?"


Rico pun terkekeh mendengar pertanyaan terakhir Alina.


"Memangnya kamu berharap dia siapa, Sayang?" tanyanya sambil menyentuh hidung mancung Alina dengan jari telunjuknya.


"Ih, aku serius loh, Co." Alina melepas rangkulan Rico, kini mereka telah tiba di depan pintu kamar Alina. "Dia siapa? Kenapa kamu menamainya spesial? Apa dia begitu spesial sampai kamu harus menjawab teleponnya jauh dariku?"


"Sayang, jangan mikir macam-macam ya. Sebaiknya kamu masuk dan tidur, besok kita mau ke pantai untuk melihat sunrise dan setelah itu kita akan pindah hotel."


Rico mengetuk pintu kamar Alina dan tak lama dari itu Rena terlihat muncul dari sana setelah pintu terbuka.


"Masuklah. Selamat tidur," ucapnya sembari mengusap pipi tirus wanita tercintanya itu.


Melihat kepergian Rico tanpa jawaban yang memuaskan, Alina hanya bisa menahan rasa penasarannya di dalam hati. Dalam hati dia berdoa, jika itu sesuatu yang buruk, maka dia ingin semuanya segera berakhir. Namun jika itu adalah hal yang baik, dia ingin hatinya menjadi tenang, setidaknya setelah bangun tidur nanti. Sebaiknya sekarang dia segera tidur dan berharap hal baik terjadi besok pagi, sehingga dia tidak perlu curiga kembali kepada Rico.


...*...


Sebelum pukul enam, Alina sudah membangunkan Rena untuk mengajaknya pergi ke pantai untuk menikmati sunrise yang akan muncul beberapa menit lagi. Mereka harus bersiap dari sekarang jika tidak ingin ketinggalan momen terbitnya matahari yang sangat ditunggu-tunggu.


Meski sulit untuk membangunkan Rena, namun Alina berhasil melakukannya dengan sedikit ancaman akan meninggalkan wanita itu sendirian di hotel. Karena jelas saja tidak mau melewatkan momen indah seorang diri, dengan terpaksa Rena bangkit dari tidurnya dan segera mencuci muka.


Baru saja Rena keluar dari kamar mandi, suara ketukan pintu terdengar. Alina bergegas membuka pintu dan terlihat dua orang pria yang mendatangi mereka. Ternyata Andi dan Rico sudah lebih dulu bersiap dari mereka. Tidak menyangka jika para pria itu lebih tepat waktu dari mereka yang perempuan.


"Tunggu sebentar ya, Rena lagi ganti baju," ucap Alina tanpa meminta kedua pria itu untuk masuk.


"Rena baru bangun?" tanya Andi dan diiyakan Alina.


Alina kembali masuk ke dalam kamarnya dan meninggalkan kedua pria itu untuk menunggu di depan.


"Ren, ayo. Kita nanti terlambat loh," ucap Alina saat melihat Rena sedang menyisir rambutnya.


"Sabar, Al. Kamu juga sih kenapa baru bangunin aku."


"Lah?" Alina terlihat melongo mendengar perkataan Rena. Apa dia tidak salah dengar? Bukannya dia sudah membangunkan wanita itu sejak setengah jam lalu, namun Rena-nya saja yang memang sulit dibangunkan.


Namun karena malas menyahuti perkataan Rena, Alina memilih untuk mengabaikannya saja. Dia meraih ponsel, kamera dan juga tripod yang sudah dia persiapkan di atas meja, lalu membawanya keluar. Saat dia membuka pintu, kedua pria yang menunggu mereka di depan lantas menghampirinya.


"Mana Rena?" tanya Andi.


"Lagi dandan," jawab Alina asal. Kemudian dia menyerahkan tripod serta kamera yang dibawanya kepada Rico.


"Alina cuma bercanda, kamu pagi-pagi sudah serius amat," ucap Rico yang menanggapi reaksi berlebihan temannya itu. "Nih pegang." Kemudian dia melempar tripod kepada Andi dan langsung ditangkap oleh pria itu dengan tidak siap.


Pintu kamar terbuka, terlihat Rena keluar dari sana dengan pakaian semalam yang mereka pakai saat pergi ke pasar kuliner. Bukan hanya Rena yang memakai pakaian semalam, tapi Alina dan kedua pria disana pun begitu. 


Andi yang melihat pacarnya itu keluar dari kamar lantas mendekatinya.


"Kata Alina kamu dandan dulu ya?"


Pertanyaan bodoh itu Andi layangkan dan membuat Alina serta Rico mengalihkan pandangannya dengan malas. Bodoh sekali, pikir mereka.


"Nggak kok, cuma pake lipstik doang biar nggak pucat," ucap Rena.


"Udah ayo cepetan, matahari sebentar lagi terbit nih," ucap Rico kemudian. Dia dan Alina memimpin jalan dan diikuti kedua temannya dari belakang.


Setiba di pantai, Rico dan Andi mengatur posisi tripod dan juga kamera, sementara Alina dan Rena sibuk ber swafoto menggunakan ponsel Rena. Meskipun masih sedikit gelap, namun dengan menggunakan flash pada kamera ponselnya, foto mereka tetap terlihat cantik.


Begitu matahari terbit dan kamera pun telah di setting dengan tepat, mereka mulai mengatur timer untuk pengambilan foto bersama. Sama seperti kemarin, mereka pun bergantian mengambil foto secara berpasangan dan juga sendiri-sendiri.


Waktu yang tak terasa cepat berlalu, membuat mereka melakukan sesi foto tersebut dengan cepat. Sekali lagi, untungnya look mereka sangat menarik sehingga meski banyak foto yang diambil dengan cepat, namun hasilnya akan tetap terlihat sempurna.


Saat langit mulai terang, mereka berempat merebahkan tubuhnya di atas pasir pantai dengan memejamkan mata. Pagi ini mereka sangat menikmati hari dengan senyum tawanya. Bahkan Alina sampai tak ingat jika semalam dia sempat menaruh curiga kepada Rico akan panggilan telepon yang berasal dari nama kontak 'spesial' pada ponsel Rico.


Suara perut salah satu dari mereka yang tiba-tiba, membuat mereka membuka matanya dengan terkejut. Semua menatap ke arah Alina yang terlihat menyengir tipis.


"Kamu lapar?" tanya Rico dan dijawab Alina dengan anggukan kepala.


"Ayo makan, aku juga sudah lapar," ucap Andi yang menanggapi rasa lapar Alina. Dia bangkit dari rebahannya dan diikuti Alina serta yang lain.


Mereka semua memutuskan untuk menikmati sarapan di restoran hotel, namun sebelum pergi mereka membersihkan tubuhnya terlebih dahulu dari pasir yang menempel di pakaian dan rambut mereka.


Setiba di hotel dan mengambil makanan, mereka mulai menyantap makanannya dengan santai. Di tengah-tengah momen sarapannya, tiba-tiba ponsel Rico kembali berdering. Bukan panggilan suara, namun kali ini sebuah pesan singkat yang masuk ke dalam ponselnya. Posisi ponselnya yang berada di ujung meja membuat Alina tidak bisa melihat siapa yang mengirim pesan kepada pacarnya itu. Entah kenapa Alina tiba-tiba saja jadi teringat akan panggilan suara dari kontak bernama 'spesial' semalam, padahal sejak bangun tidur tadi dia sudah lupa akan hal itu.


Saat melihat Rico tersenyum sendiri kepada ponselnya, perasaan curiga Alina kembali hadir. Dia ingin bertanya siapa dan apa yang membuat pria itu tersenyum senang, namun sepertinya tidak sekarang. Dia tidak mau mengganggu waktu sarapannya dengan sesuatu yang akan membuat moodnya hancur, meski sebenarnya dia sangat penasaran.


***


.


Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰


.


.