Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
53. Waktunya Liburan


Perkataan wanita itu ternyata berhasil membuat ketiga temannya itu melongo tak percaya. Sesantai itukah Rena dalam melakukan sesuatu?


Namun tak begitu heran untuk Andi yang telah mengenal Rena lebih lama. Dengan sifatnya itu dan juga kekuatan uang, Rena bisa melakukan apapun sesuai kemauannya. Apalagi hanya masalah schedule, bukan hal besar.


Karena jadwal penerbangan mereka telah diurus oleh orang tua Rena, akhirnya mereka bersantai sejenak di apartemen itu. Melakukan sarapan bersama, berbincang santai dan menonton tayangan televisi sambil menunggu Rena dan Alina bersiap 


Sekitar pukul 09.45 mereka memutuskan untuk segera pergi dan setelah melewati jalanan yang padat, akhirnya mereka tiba di bandara tepat pukul sebelas.


Liburan kali ini, mereka semua menaruh ekspektasi yang sangat tinggi. Terlebih untuk Rico yang ingin memberi surprise kepada pacarnya yaitu, Alina.


Sebenarnya, sampai sekarang Rico masih belum memiliki rencana mau seperti apa surprise yang akan dia berikan kepada Alina. Apakah sebuah little party? Atau Candle Light dinner? Atau hanya sekedar memberinya cincin saat mereka di pantai? Rico benar-benar bingung memikirkan itu karena pengalaman percintaannya sangatlah minim. Mungkin dia harus mencari beberapa rekomendasi melalui internet untuk melamar Alina, karena bertanya kepada Andi pun tak memberi solusi. Pria itu seleranya terlalu tinggi untuk sebuah lamaran sederhana yang diinginkan Alina. Dan dia takut jika Alina tidak menyukainya jika dia memilih saran dari Andi.


...*...


Penerbangan yang memakan waktu hampir tiga jam itu akhirnya berjalan sangat lancar. Saat mereka keluar dari bandara, Rena nampak memanyunkan bibirnya karena dia harus membawa sendiri salah satu koper miliknya. Sementara dia iri melihat Alina tidak membawa apa-apa karena koper yang dibawanya hanya satu telah diambil alih oleh Rico. Bukannya Andi tidak mau membawa koper milik Rena, hanya saja dia sudah membawa koper miliknya dan juga tas besar milik Rena yang akan cukup sulit jika membawanya sekaligus.


"Biar aku yang bawa," ucap Alina yang terlihat geli akan tingkah manja Rena.


Rena sangat senang mendengar penawaran menarik Alina. Namun sayang, baru saja dia hendak menyerahkan kopernya kepada Alina, tiba-tiba dia langsung mengurungkan niatnya saat melihat tatapan peringatan dari Rico. Tatapan itu seolah mengatakan 'jangan pernah sekali-sekali menyusahkan pacarku' padanya. Membuat Rena memutar bola matanya malas. Menyebalkan sekali, pikirnya.


Keluar dari bandara, mereka segera masuk ke dalam taksi yang telah siap menerima penumpang. Di sepanjang perjalanan mereka hanya diam sembari menikmati indahnya kota yang terkenal akan keindahan alamnya itu. Bahkan untuk Rico, dia tidak peduli jika harus menjadi obat nyamuk di samping Andi dan Rena.


Setiba di hotel mereka langsung melakukan check in dan masuk ke kamarnya masing-masing. Rena bersama Alina dan tentunya Rico bersama Andi. Mereka berempat mengistirahatkan tubuhnya sejenak di atas kasur sambil menunggu cuaca tak begitu panas lagi untuk keluar.


Di kamar para wanita, Alina yang saat itu hendak menggantungkan beberapa pakaiannya lantas menoleh saat Rena mengatakan sesuatu.


"Jangan dikeluarkan semua, Al, kita akan pindah hotel besok."


Alina mengernyitkan keningnya mendengar perkataan Rena. Besok?


"Kenapa besok? Bukankah kita akan pindah hotel lagi di hari ketiga?"


"Planning dirubah. Kita akan pindah hotel setiap hari. Bosen kalau di sini terus."


"Baiklah. Aku hanya menggantung dress untuk dipakai nanti malam dan besok pagi. Pakaian kamu nggak dikeluarin? Nanti lecek loh," ucap Alina mengingatkan.


"Nantilah, aku masih lelah."


Alina hanya mengiyakan dan mengedikkan bahunya, kemudian dia melanjutkan aktivitasnya tanpa menghiraukan Rena.


Belum selesai dengan aktivitasnya, tiba-tiba ponsel Alina yang ada di atas kasur berdering. Membuatnya segera menjawab panggilan itu karena Rena merasa terganggu akan waktu istirahatnya.


...*...


Di kamar para pria, saat itu Andi sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur, sementara Rico baru saja keluar dari kamar mandi setelah membasuh mukanya. Kemeja yang telah dibuka membuat otot tubuhnya yang dilapisi kaos tipis terlihat nyata.


Rico meraih ponselnya yang ada di atas kasur dan mendudukkan tubuhnya di sofa single yang ada di samping jendela. Dia mencari kontak bernama Alina dan segera melakukan panggilan suara pada pacarnya itu. Panggilan pertama pun langsung dijawab pacarnya itu meski harus menunggu beberapa saat.


"Halo, kenapa, Co?" tanya Alina lebih dulu.


"Kamu lagi apa, Al?" tanya Rico sembari menatap pemandangan indah dari kaca jendela.


"Lagi menggantungkan pakaianku. Ada apa?" tanya Alina lagi.


"Nggak papa, hanya ingin telponan saja."


Mendengar jawaban pacarnya, Alina lantas menaikkan salah satu sudut bibirnya. Rico memang akan selalu menelponnya jika sedang tidak ada kesibukan, meski seharian dan tak melakukan apa-apa pun akan tetap pria itu lakukan. Dan dia baru menyadari jika hari ini pria itu benar-benar sedang memiliki waktu kosong, apalagi pekerjaannya di kantor benar-benar sengaja dia lupakan. Katanya, dia tidak mau waktu liburan ini terganggu akan pekerjaannya.


"Tidur."


"Sama seperti Rena. Mereka kenapa cocok sekali ya," sahutnya dengan sedikit terkekeh.


"Kalau kita cocok nggak?" tanya Rico dengan randomnya.


"Pertanyaan macam apa itu, Co?" tanya Alina dengan geli.


"Ingin tahu jawaban kamu saja sih."


"Em, menurut aku–"


"Jangan dijawab sekarang," sela Rico dengan cepat. "Besok malam saja jawabnya."


Alina mengernyitkan keningnya mendengar jawaban Rico. Kenapa harus besok malam, pikirnya. Alina terlihat heran namun tak menyahutinya lagi karena Rico yang sudah lebih dulu mengalihkan topik.


"Kamu lapar nggak? Makan yuk ke bawah."


"Tapi Rena masih tidur, Co."


"Nggak papa, dia bisa menyusul sama Andi kalau sudah bangun nanti," ucap Rico.


Karena dia juga sudah lapar, akhirnya Alina mengiyakan ajakan pacarnya itu. Dia yang sudah selesai dengan pakaiannya sejak tadi langsung keluar dari kamar. Bersama Rico yang telah menunggunya di depan pintu, mereka berjalan sambil bergandengan tangan menuju restoran yang ada di lantai lima.


Baru saja hendak menyendok makanannya, tiba-tiba ponsel Alina yang ada di atas meja berdering. Suara yang cukup kencang, membuat Alina harus menurunkan volume suara pada dering panggilan itu terlebih dahulu sebelum menjawab panggilan yang berasal dari Rena.


"Ya, Ren?" ucapnya lebih dulu.


"Kamu di mana, Al?" tanya Rena.


"Di restoran. Kamu lapar nggak? Nyusul saja kesini, ajak Andi juga. Aku lagi berdua sama Rico."


"Kenapa nggak ngajak-ngajak sih, 'kan aku lapar juga."


Alina hanya terkekeh mendengar omelan Rena.


"Ya sudah tunggulah disana, aku telpon Andi dulu."


Setelah mengiyakan perkataan Rena, Alina segera menutup panggilannya. Dia meletakkan ponselnya ke atas meja dan melanjutkan kembali makannya yang tertunda.


"Cepat banget dia bangun," ucap Rico heran.


"Entahlah. Mungkin dia belum benar-benar tidur saat aku pergi tadi," sahut Alina.


***


.


Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰


.


.