
Beberapa jam kemudian, saat pesawat hendak landing, Alina yang sudah lebih dulu bangun segera membangunkan Rena dari tidur nyenyaknya. Untungnya wanita itu cepat bangun dan Alina tidak butuh efforts lebih untuk membangunkannya.
Melihat wajah Rena yang ternyata belum dibersihkan oleh Andi, Alina hanya menghela nafasnya. Dia hendak memberitahu Rena akan kondisi wajahnya yang terdapat begitu banyak coretan tinta spidol, namun dia menundanya sampai pesawat berhenti dan saat Rena mengetahui jika wajahnya kotor gara-gara Andi dan anak kecil yang ada di pesawat itu, dia pun langsung menghampiri Andi dan mengomelinya.
"Maaf sayang, aku nggak tega melihat anak kecil itu. Dia sepertinya ingin sekali mencoret wajah kamu," ucap Andi tanpa rasa bersalah. Membuat Rena semakin kesal.
"Ayo turun," ucap Alina yang saat itu sedang menurunkan tas.
"Wajahku gimana? Aku nggak mungkin keluar dengan wajah seperti ini," ucap Rena pada Alina.
"Pakai masker dulu saja, nanti di mobil baru dibersihkan," ucapan Alina kemudian.
"Aku nggak punya masker," ucap Rena dan saat itu Rico langsung menyodorkan sebuah masker berwarna hitam kepadanya tanpa bersuara.
Karena semua orang sudah mulai turun dari pesawat, akhirnya Rena dengan terpaksa meraih masker dari Rico dan memakainya untuk keluar dari pesawat. Setiba di dalam taksi yang akan membawa mereka pulang ke rumahnya, Alina langsung memberikan micellar water kepada Rena agar wanita itu segera membersihkan wajahnya dari tinta spidol yang melekat.
"Awas saja ya kamu, aku akan membalasnya nanti," gumam Rena sambil matanya melirik ke arah Andi yang duduk di samping kemudi.
Di depan sana Andi terlihat menyengir dan kembali melayangkan permintaan maafnya kepada Rena, namun tak ditanggapi oleh wanita itu.
...**...
Keesokan hari, Alina bersiap hendak mengunjungi kediaman Rico. Dia sudah berjanji kepada Santi akan berkunjung ke sana sekaligus untuk memberikan oleh-oleh yang dia beli kemarin saat liburan.
Taksi yang di pesan Alina sudah datang, dia segera masuk ke dalam mobil dan meletakkan paper bag di sampingnya. Saat mobil sudah mulai berjalan, Alina meraih ponselnya yang ada di dalam tas untuk menghubungi Rico. Dia memang sengaja pergi sendirian ke rumah pacarnya itu karena tidak mau merepotkannya. Apalagi kemarin mereka baru saja sampai, dia yakin jika Rico butuh istirahat pagi ini.
Tak butuh waktu lama untuk Rico menjawab telepon Alina dan kini panggilan pun telah terhubung
"Halo, Co? Sapa Alina lebih dulu.
"Iya, Sayang. Sudah di mana sekarang?" tanya Rico.
"Aku sudah di taksi, baru saja jalan kok. Mungkin sekitar setengah sampai satu jam akan tiba di sana kalau jalanan nggak macet."
"Kamu sudah sarapan belum?" tanya Rico.
"Sudah kok, tadi bang Fian mampir ke apartemen sekaligus bawa makanan."
"Ada bang Fian ya? Kenapa nggak minta antar bang Fian saja ke sini?"
"Dia hanya mampi sebenter dan langsung pulang."
"Yasudah, hati-hati ya, Sayang. Bilang sama sopir taksinya jangan ngebut-ngebut bawa calon istriku."
Mendengar itu, lantas Alina terkekeh dibuatnya. Terlalu sering memuji, akhirnya kini Alina sudah mulai terbiasa dengan semua itu. Rasa malu itu masih ada, namun hanya saat di depan orang lain. Jika di situasi seperti ini, Alina hanya akan tertawa dan mengiyakan saja semua yang dikatakan Rico.
"Baiklah-baiklah, aku tutup dulu ya, Sayang. Sampai bertemu di sana," ucap Alina sebelum dia menutup panggilannya.
Jalanan yang tidak terlalu padat membuat Alina tiba lenih cepat di kediaman Rico. Dia segera turun dari mobil dan begitu penjaga di sana melihat Alina, pintu gerbang pun langsung dibuka.
"Selamat pagi Non Alina," sapa penjaga di sana saat Alina berhasil melewati pagar.
"Selamat pagi, Pak. Saya masuk dulu ya."
"Silahkan, Non. Bapak, ibu, dan Mas Rico sudah menunggu di dalam."
Alina tersenyum mengangguk dan segera berjalan masuk.
"Ayo masuk. Mama dan Papa sudah menunggu di dalam," ucap Rico sembari mengulurkan tangannya untuk Alina gandeng. Alina pun tersenyum dan meraih tangan pria itu, kemudian mereka segera masuk ke dalam rumah.
Santi yang saat itu sedang berada di ruang keluarga bersama Irfan lantas tersenyum dan berdiri saat melihat kedatangan putranya bersama Alina.
"Alina, akhirnya kamu datang juga ya sayang," ucap Santi.
"Bibi apa kabar?" ucap Alina saat dia sudah berada di hadapan wanita itu dan menyalaminya beserta Irfan.
"Bibi baik, Sayang. Apa yang kamu bawa ini?" tanya Santi saat melihat sebuah paper bag di tangan Alina.
"Ini oleh-oleh yang Alina beli saat liburan kemarin, Bi. Maaf hanya bisa membeli sedikit."
Alina memberikan paper bag tersebut kepada Santi dan langsung diterimanya.
"Ya ampun, Sayang, seharusnya kamu nggak perlu repot-repot gitu dong. Kalian pulang dengan selamat saja Bibi sudah sangat senang sekali."
Santi merangkul bahu Alina dan mengajaknya duduk.
"Nggak repot kok, Bi. Alina justru senang membelikan oleh-oleh ini untuk Bibi dan Paman."
"Terima kasih ya, Sayang. Bibi terima hadiahnya ya," ucap Santi setelah mengintip isi dari paper bag yang dia pegang tersebut.
"Sama-sama, Bi."
Belum sampai 2 menit pertemuan mereka, tiba-tiba Santi tak sengaja melihat sebuah cincin yang tersemat di jari manis Alina. Sebelumnya Alina tidak pernah memakai perhiasan di tubuhnya selain anting di telinganya. Dan cincin yang Alina pakai saat ini sebenarnya bisa saja hal yang biasa bagi wanita kebanyakan, namun entah kenapa Santi curiga jika telah terdapat sesuatu di balik cincin tersebut. Karena penasaran, Santi pun akhirnya berbasa-basi bertanya kepada Alina dan berharap apa yang dicurigainya saat itu menjadi kenyataan.
"Sayang, kamu beli cincin di mana?" tanya Santi sembari melirik kepada jari manis Alina.
Mendengar pertanyaan Santi, Alina serta Rico dan Irfan pun menatap ke arah cincin yang ada di jari manis Alina. Berbeda dengan Santi yang penasaran, Irfan justru mengira jika istrinya mungkin tertarik dengan cincin yang Alina kenakan tersebut. Sementara Rico, dia yang sejak semalam memang berniat untuk memberikan kejutan kepada orang tuanya pagi ini hanya diam saja sembari tersenyum tipis. Sepertinya mamanya itu memiliki filling yang kuat akan kejutan yang akan dia berikan hari ini.
"Cincin ini bukan Alina yang beli, Bi," ucap Alina.
Dia tidak tahu mau menjawab apa pertanyaan Santi karena semalam Rico mengatakan jika dia yang akan mengatakan semuanya kepada kedua orang tuanya itu.
"Oh ya? Apakah itu pemberian keluarga kamu?" tanya Santi lagi yang berusaha mencari tahu.
Alina terlihat berpikir sambil sesekali matanya melirik ke arah Rico yang tersenyum kepadanya. Melihat interaksi tatapan kedua orang itu, Santi pun semakin curiga dan kini dia menatap ke arah putranya.
"Abang, apa kamu yang membelikan cincin itu untuk Alina?" tanya Santi kepada Rico
Rico pun yang ditanya semakin melebarkan senyumnya dan tanpa basa-basi dia langsung mengiyakannya.
"Ma, Pa, sebenarnya Rico mau memberitahu Mama dan Papa kalau tiga hari yang lalu Rico sudah melamar Alina."
***
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰
.
.