
Pagi ini selepas bangun tidur, tubuh Rena terasa seperti di cabik-cabik. Terbiasa tidur di kasur yang mahal membuat tubuh manjanya seolah tidur di atas lantai. Padahal kasur milik Alina tidak terlalu buruk, meski sedikit kaku karena kualitasnya yang tidak sebagus kasur mahal kebanyakan.
Alina tersenyum geli melihat Rena yang cemberut di ruang tamunya sambil memakan sarapannya. Memang untuk orang seperti Rena pasti tidak akan nyaman tidur di kasur murahnya, tapi untuk orang yang sudah terbiasa hidup sederhana, kasurnya termasuk cukup empuk saat ditiduri.
"Awal-awal memang nggak nyaman, tapi kalau sudah terbiasa pasti nyaman sendiri kok."
Rena menghentikan makannya dan menatap ke arah Alina yang baru datang dari arah dapur saat mendengar suaranya.
"Maksud kamu, aku harus…?"
"Ya," jawab Alina yang mengerti maksud Rena meski wanita itu tidak menyelesaikan perkataannya.
Dengan tersenyum kaku, Rena kembali melanjutkan sarapannya tanpa berniat menyahuti perkataan Alina. Baru satu kali bermalam di sini saja sudah membuat tubuhnya terasa dicabik-cabik, apalagi sampai dua hingga berkali-kali. Bisa-bisa tubuhnya remuk dan tak bisa beraktifitas lagi dengan baik. Sepertinya ini akan menjadi yang pertama dan terakhir kalinya dia bermalam di kediaman Alina.
Suara mesin mobil yang terdengar di depan rumah membuat Alina dan Rena melirik ke arah jendela. Rena kembali melanjutkan makannya karena merasa tak mengenal mobil yang baru saja parkir di depan rumah Alina itu, sementara Alina sendiri mendekat ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang ke rumahnya sepagi ini.
Saat dilihatnya jika Alfian yang datang dengan mobil yang berbeda, Alina terlihat heran dan menunggunya di depan pintu.
"Abang ngapain ke sini?" tanya Alina begitu Alfian mendekatinya.
"Mengantar kamu ke kampuslah," jawab Alfian.
"Kok nggak bilang-bilang sih kalau mau jemput Alina."
"Memangnya kenapa? Kamu sudah ada janji dengan Rico ya?"
"Nggak sih. Cuma 'kan Alina belum siap-siap, Bang. Baru juga selesai mandi, Abang juga datangnya tumben cepat banget."
"Abang tadi dari rumah pribadi Abang, jadi sekalian saja jemput kamu ke sini sebelum bekerja."
"Abang menginap di sana?" tanya Alina dengan heran.
"Ada yang harus di cek, jadi terpaksa menginap. Kamu ke kampus jam berapa?"
"Jam sembilan. Ayo masuk dulu, aku sarapan sebentar ya." Alina mengajak Alfian masuk ke dalam rumahnya. "Abang sudah sarapan belum? Nanti Alina belikan nasi uduk di depan," tanya Alina menawarkan.
"Nggak usah, Sayang. Tolong buatkan Abang kopi saja ya, kopi instan Abang kemarin masih ada, 'kan?"
Alfian yang saat itu sudah memasuki rumah membuat Rena mengernyitkan keningnya ketika mendengar kata 'sayang' yang keluar dari mulut pria itu. Rasanya seperti aneh saja mendengarnya, apalagi dia sempat mencurigai kedua orang itu yang mengaku sebagai saudara kandung.
"Masih, Bang. Abang duduk dulu ya."
Alfian mengangguk dan segera mendudukkan tubuhnya di depan Rena. Pandangan mereka bertemu, sejenak mereka melempar senyum sapa sebelum Rena kembali fokus pada nasi uduk miliknya.
"Bagaimana kabarnya, apa sudah lebih baik?"
Rena kembali mendongak mendengar suara Alfian. Dia terlihat bingung karena tak tahu pria itu sedang berbicara dengan siapa. Rena menunjuk dirinya sendiri dan Alfian menganggukkan kepalanya, sebagai arti jika dia memang sedang berbicara dengannya.
"Em, iya. Makasih sebelumnya sudah mau menolongku," ucap Rena dengan suara rendahnya.
"Aku memang nggak tahu apa masalah kamu dengan pria kemarin. Tapi kalau aku boleh kasih saran, jangan pernah terlihat lemah di depan pria. Karena dengan begitu, kamu akan dengan mudah dipermainkan olehnya seperti kemarin."
Rena menggigit bibir bawahnya dan mengiyakan begitu saja apa yang Alfian katakan. Dia memang bukan wanita yang pemberani, apalagi dengan seorang pria yang tenaganya jauh diatasnya. Dia bahkan tidak tahu harus bagaimana jika nanti harus bertemu kembali dengan Alvian. Semoga saja dengan dia berkata jujur kepada Andi nanti, pria itu bisa melindunginya dari Alvian.
Alina datang dari dapur dengan membawa segelas kopi hitam untuk Alfian. Setelah itu dia kembali ke dapur untuk mengambil nasi uduk miliknya yang belum sempat dimakan karena baru selesai bersih-bersih. Dia mendudukkan tubuhnya di samping Rena dan mulai menyantap sarapannya.
"Ya, Co?" ucap Alina.
"Sayang, kamu sudah pergi kuliah?" tanya Rico di seberang sana.
"Aku masih di rumah. Ada Bang Fian juga di sini. Kenapa?" tanya Alina.
"Siapa, Al?" tanya Alfian saat dia sudah duduk di tempat duduknya semula.
"Rico, Bang."
Alfian menganggukkan kepalanya dan membiarkan adiknya itu berbicara dengan pacarnya.
"Al, aku sudah dapat tempat tinggal untuk kamu. Dua hari lagi kamu sudah bisa pindah ya, Sayang. Nanti aku dan Andi bantu memindahkan barang-barangmu ya," ucap Rico di seberang sana.
Alina yang mendengar itu lantas tak jadi memasukkan nasi uduknya ke dalam mulut. Dia meletakkan sendoknya ke atas piring dan hal itu ternyata berhasil membuat Alfian heran melihatnya. Dia memerhatikan adiknya yang sedang berbincang dengan pacarnya dalam diam. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, dia akan bertanya setelah Alina selesai dengan perbincangannya.
"Co, kamu seriusan?" tanya Alina dengan terkejut.
"Tentu saja. Apa menurut kamu, aku hanya bercanda?"
Alina benar-benar tidak percaya jika Rico serius dengan ucapannya yang ingin mencarikan tempat tinggal untuknya. Apakah gosip yang tetangganya itu katakan sangat mengganggu Rico dan keluarganya?
"Tapi, Co, kenapa cepat sekali? Aku bahkan belum mempersiapkan semuanya, barang-barang di rumahku sangat banyak loh."
"Kamu tenang saja, biar itu menjadi urusanku. Kamu hanya perlu mempersiapkan diri untuk tinggal di kediaman yang baru."
Alina menghela nafasnya mendengar ucapan pacarnya itu. Sejak awal dia berusaha untuk menolak niat baik pacarnya itu, tapi Rico selalu memaksanya untuk pindah dari sana dengan alasan lingkungan yang menurutnya kurang sehat. Dia pikir Rico tidak benar-benar serius dengan perkataannya, makanya dia santai saja dan tidak terlalu memikirkan perkataan pria itu. Namun siapa yang menyangka jika dalam waktu satu hari saja Rico sudah berhasil menemukan tempat tinggal baru untuknya. Dia jadi penasaran di mana Rico menemukan tempat tinggal untuknya.
"Di mana tempatnya, Co?" tanya Alina.
"Nggak jauh dari kampus kamu kok. Kamu bahkan bisa berjalan kaki menuju kampus, hitung-hitung sekalian olahraga saat pagi."
"Kontrakan dekat kampus mahal-mahal, Co. Kenapa kamu mencari di sekitar sana? Aku nggak akan bisa membayarnya," ucap Alina.
Kos-kosan ataupun kontrakan di area kampusnya memang terkenal cukup mahal untuk dia yang masih dengan kondisi seperti ini. Jika ada yang murah pun pasti memiliki ruang yang kecil. Dia tidak mungkin tinggal di tempat yang lebih kecil dari kediamannya yang sekarang. Bukan bermaksud apa-apa, hanya saja mau diletakkan di mana semua barang-barangnya ini?
Rena dan Alfian yang mendengar perkataan terakhir Alina pun terlihat heran. Alina akan pindah? Begitu yang mereka duga dari apa yang baru saja mereka dengar.
"Al, kamu nggak usah mikir soal biaya. Pokoknya kamu kemasilah barang-barang pribadimu mulai malam ini, nanti aku dan Andi yang urus sisanya. Aku harus segera pergi ke kantor, nanti kita bicara lagi ya."
Alina menghela nafasnya, kemudian dia mengiyakannya dan segera menutup panggilannya setelah menjawab salam perpisahan dari Rico. Dia meletakkan ponselnya ke atas meja dan kembali menghela nafasnya setelah meneguk minumannya.
"Siapa yang mau pindah, Al?" tanya Alfian yang sudah sangat penasaran akan percakapan adiknya tersebut bersama pacarnya.
***
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰
.
.