
Sementara kedua orang tua Rico dan Alina mengadakan pertemuan, kedua anak mereka pun juga pergi untuk makan siang bersama temannya yaitu, Andi dan Rena. Saat itu Rico dan Alina sudah berada di restoran lebih dulu. Mereka menunggu kedatangan kedua teman mereka sembari menyantap cemilan yang telah dipesan. Mereka sengaja belum memesan makanan berat karena Rena yang meminta mereka untuk menunggu kedatangan mereka.
Sudah hampir setengah jam duduk di sana, namun kedua temannya itu belum juga kelihatan batang hidungnya. Alina yang belum memakan apapun sejak di rumah kini mulai merasakan lapar.
"Ya ampun kenapa mereka lama sekali sih. Aku sudah lapar nih," ucap Alina sembari memanyunkan bibirnya.
"Kalau kamu sudah lapar, kita pesan duluan saja. Biarin deh mereka menyusul," ucap Rico.
Alina nampak berpikir mendengar ucapan Rico. Dia memang sudah sangat lapar karena terakhir makan saat sarapan tadi pagi, tapi mereka sudah berjanji akan menunggu kedua temannya itu. Namun memikirkan entah kapan kedua orang itu sampai, membuat Alina terpaksa mengiyakan ucapan Rico.
Rico memanggil pelayan di sana untuk memesan makanan, namun belum tiba pelayan tersebut ke mejanya, terlihatlah Andi dan Rena masuk ke dalam restoran itu.
"Itu mereka," ucap Alina yang lebih dulu menyadarj kehadiran dua temannya di depan pintu masuk.
Rico menatap ke arah yang Alina tatap, kemudian dia membiarkan temannya itu masuk dan menghampiri mereka.
"Hai, Al," sapa Rena saat dia sudah tiba dia meja Alina dan Rico. Kemudian mereka mendudukkan tubuhnya di hadapan kedua temannya itu.
"Kalian kenapa lama sekali sih, aku sudah lapar banget nih," ucap Alina dengan sedikit rasa kesalnya.
Mereka yang ada di sana terlihat heran dengan Alina yang menanggapi sapaan ramah Rena dengan sebaliknya. Meski apa yang Alina lakukan tidaklah salah karena dia yang merasa kesal dengan keterlambatan temannya itu, tapi yang membuat mereka merasa aneh dengan sikap wanita itu adalah karena Alina yang selama ini tak pernah seperti itu. Alina selama ini terkenal tak pernah marah dan selalu ramah pada semua orang, bahkan wanita itu mampu bersabar di saat sekitarnya melakukan sebuah kebodohan. Namun hari ini Alina terlihat sangat berbeda, dia terlihat sedang tidak baik-baik saja moodnya.
"Kamu kenapa, Al?" tanya Rena dengan heran.
"Iya, kamu sedang datang bulan ya? Kok jutek gitu sih."
Kini Andi pun ikut menanggapi reaksi tak biasa temannya itu.
"Ah?" Alina kebingungan sendiri dengan pertanyaan kedua temannya itu. Dia yang tidak sadar akan dirinya yang telah bersikap jutek lantas sangat bingung. "Kenapa aku?"
"Sudah jangan dibahas lagi, ayo kita pesan makanannya. Alina sudah kelapatan sejak tadi nungguin kalian lama banget," ucap Rico yang berusaha mengalihkan. Apalagi saat itu pelayan yang dipanggilnya telah berada di samping meja mereka.
Alina yang masih bingung dengan perkataan Rena dan Andi, lantas menatap ke arah Rico.
"Apa maksud Rena dan Andi, Co? memangnya kenapa aku?"
"Sayang, makan dulu ya, nanti lagi bicaranya," ucap Rico.
Kemudian Alina menatap ke arah Rena dan Andi, dia melihat kedua temannya itu mengedikkan bahunya seolah mengatakan tidak tahu. Meski sangat penasaran dengan maksud Rena dan Andi tentang dirinya yang aneh, namun Alina memilih untuk mengabaikannya saja. Seperti apa yang dikatakan Rico, lebih baik dia makan dulu karena saat ini perutnya sudah sangat lapar sekali.
Di salah satu restoran ruang VIP, kedua orang tua Alina dan Rico tampak menyantap makan siangnya sembari bernostalgia semasa mereka sekolah dulu. Saat mereka belum menikah dan terjadinya sebuah masalah yang menyebabkan Thomas dan Zara pergi ke London.
Bicara soal London, Santi kembali penasaran kenapa kakak angkatnya tersebut harus pindah ke luar negeri tanpa berpamitan kepadanya terlebih dahulu. Padahal dulu mereka sudah seperti adik kakak meski Thomas telah menikah sekalipun. Santi mencoba untuk bertanya dan semoga pertanyaannya kali ini tidak sampai membuat teman dan kakak angkatnya itu bersedih seperti pertemuan mereka sebelumnya.
"Kak Thomas, apa aku boleh bertanya?" ucap Santi meminta izin terlebih dahulu.
"Apa kamu mau menanyakan keberadaan Aura?" tanya Thomas dengan menebak.
Meski Santi juga sangat penasaran akan anak pertama kakaknya itu, tapi Santi ingin mengetahui lebih dulu alasan kepindahan kakaknya itu dari negaranya ini.
"Aku juga mau menanyakan itu, tapi sebelumnya aku sangat penasaran kenapa kalian pergi dari sini tampa berpamitan sama kami lagi," ucap Santi.
"Maaf kalau kami nggak sempat memberi kabar kepada kalian. Kami pindah ke London karena alasannya tertentu."
"Apa itu?" tanya Santi dengan tak sabar
Sebelum menceritakan alasan kepindahan mereka ke London, Thomas menatap kepada istrinya terlebih dahulu untuk meminta izin sebelum menceritakan pengalaman pahit mereka. Saat Zara menganggukkan kepalanya, Thomas pun tersenyum dan menatap ke arah Santi dan Irfan.
Saat memutuskan untuk bertemu kembali dengan Santi dan Irfan, Thomas dan Santi sudah lebih dulu mempersiapkan dirinya untuk mengungkit kembali masalah yang sangat menyakitkan bagi keluarga mereka. Seperti nasihat yang diberikan oleh putra sulungnya, Zara mencoba untuk berdamai dengan masa lalu dengan mencoba menerima semua yang telah terjadi. Meskipun sulit untuk dirinya tidak bersedih saat mengingat kejadian beberapa puluh tahun lalu, namun Zara berusaha untuk mengikuti kata putranya itu. Jika dia masih terlihat tersedia akan masa lalunya, maka dia tidak akan pernah bisa menatap ke depan dan menghadapi hal baru yang mungkin akan lebih pahit dari sebelumnya.
"Kami memutuskan untuk pergi dari sini karena kematian Aura yang disebabkan oleh Zaki."
Thomas menghentikan perkataannya di kalimat pertama. Dia ingin melihat reaksi Irfan dan Santi atas kalimat yang diucapkan. Dan sesuai dugaan kedua orang itu, Santi dan Irfan terlihat sangat terkejut mendengar perkataan singkatnya.
"Zaki? Ada apa dengan Zaki, Kak?" tanya Santi dengan sangat penasaran.
Zaki adalah saudara jauh Santi. Pria itu memang sudah sejak lama menyukai Zara. Saat di bangku sekolah, Zaki hanya bisa menyimpan perasaannya kepada Zara dalam diam karena merasa tak pantas jika harus bersaing dengan Thomas yang merupakan cucu dari yayasan sekolah tersebut dan menjadi murid kebanggaan para guru di sana. Saat dia dan Zara memasuki masa kuliah, dia semakin insecure dengan Thomas yang menjadi kakak tingkatnya sebagai idola di kampus. Awalnya dia yang terlihat lega karena Thomas lebih dulu keluar dari sekolah, kini Zaki kembali tidak berani mendekati Zara karena Thomas yang selalu dekat dengannya.
Lebih banyak waktu di kampus, semakin sering juga Zaki bertemu dengan Zara di sana dan perasaan Zaki pun semakin bertambah pula. Rasanya dia seperti sangat ingin mengungkap perasaannya kepada Zara, namun saat itu dia masih belum berani karena masih ada Thomas sebagai pacarnya dan juga kini ada Irfan dan saudaranya Santi yang menjadi teman wanita itu.
Cukup lama lelaki itu memendam perasaannya tanpa diketahui siapapun dan saat Thomas lulus kuliah lebih dulu dari mereka, saat itu juga Zaki mulai memberanikan diri untuk mendekati Zara. Dia pikir ini sudah saatnya dia mendekati wanita itu karena Thomas sudah tak setiap hari bersamanya di sana.
Dia mendekati Zara dengan diam-diam agar tidak ada orang yang mengetahui aksinya tersebut. Dia melakukan itu karena masih ada rasa tidak enak hati kepada saudaranya Santi yang menjadi teman Zara. Zara yang memang tidak pernah merespon semua pria yang mendekatinya membuat Zaki tampak gusar karena tak mendapat tanggapan apapun dari Zara.
Karena saat itu dia mendekati Zara melalui sebuah pesan teks, dia pikir Zara tidak melihat pesan yang dia kirimkannya atau takut jika ketahuan Thomas karena telah chattingan bersama pria lain, akhirnya lelaki itu memutuskan untuk menelpon wanita itu di jam khusus seperti jam delapan malam ke atas. Dia tahu jika di waktu tersebut Zara sudah tidak bersama Thomas lagi, alias sudah berada di rumahnya.
Beberapa kali Zaki menghubungi Zara, namun panggilannya selalu berada di panggilan lain. Dia pikir saat itu Zara sedang telponan bersama Thomas dan dia tak mau menyerah begitu saja. Di hari berikutnya dia lembali menghubungi Zara saat itu Zara menjawab teleponnya yang membuat Zaki merasa sangat senang sekali. Perasaannya yang selama ini berbunga saat melihat wanita itu di kampus, kini semakin merekah saat mendengar suara merdu Zara melalui speaker ponselnya.