
Sementara itu Tita yang sudah terbangun dari tidurnya, menatap ke sekeliling ruangan dengan wajah yang bingung.
"Aku di mana?" Tita yang baru menyadari saat ini dirinya berada di dalam pesawat, sampai mengusap matanya untuk memastikan yang dilihatnya itu adalah nyata. "Bukankah tadi aku berada di dalam mobil? Kenapa sekarang ada di dalam pesawat." Tita bergumam pada dirinya sendiri, dan saat tersadar jika ia seorang diri berada di ruangan tersebut, Tita langsung beranjak keluar untuk mencari sosok pria yang sudah membawanya kabur dari kamar hotel.
Ehem ...
Tita sengaja berdeham dengan keras agar pria tampan yang berstatus sebagai suaminya itu menatap kearahnya.
"Kau sudah bangun?" Boy menengok kearah Tita. "Kemarilah!" Ia menepuk ke-dua pahanya, menyuruh wanita itu untuk duduk dipangkuannya.
"Tidak! Aku duduk di sana saja." Tita menunjuk kursi yang ada disebelah suaminya.
Ia berjalan menuju kursi tersebut, namun saat hampir sampai tangannya tiba-tiba saja ditarik oleh Boy hingga membuatnya terjatuh di pangkuan pria itu.
"B lepaskan!" Tita berusaha membebaskan dirinya dari rengkuhan Boy Arbeto.
"Jangan banyak bergerak! Apa kau ingin membuat sesuatu yang ada di bawah sana terbangun." Bisik Boy dengan tangan yang merengkuh pinggang Tita dengan erat, menahan tubuh itu agar tidak bergerak.
"Di bawah yang mana? Siapa yang terbangun?" Tita menatap kebawah dan mencari sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apa itu.
Melihat sikap polos Tita yang sudah lama tidak dilihatnya, sontak membuat Boy tertawa dengan lepas.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Tita dengan mengerutkan keningnya.
"Karena kau lucu." Boy terus tertawa sambil mengusap wajah wanitanya dengan perlahan.
"Tapi aku tidak sedang melucu." Tita menepis tangan Boy dari wajahnya. "Sekarang katakan kita itu mau kemana?" Tita menatap wajah suaminya dengan tatapan yang menyelidik.
"Berlibur?"
Boy menganggukkan kepalanya. "Apa kau bahagia?"
"Tentu saja aku bahagia." Seru Tita dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. "Oh ya, pulau pribadi milik keluargamu itu dimana?"
"Nanti juga kau akan tahu." Boy menjawab pertanyaan Tita tanpa memutus kontak matanya yang tengah menatap wajah wanita itu, wajah yang sudah beberapa hari ini selalu membuatnya marah dan kesal.
"Ya tapi dimana, B? Karena aku ingin memberitahu ayah unta, kak Eve, Mom Luna dan Lea keberadaan kita, agar mereka bisa menyusul kita secepatnya." Ucap Tita dengan penuh semangat.
"What? Kau ingin menyuruh mereka menyusul kita?"
Tita menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Ck, kenapa tidak sekalian saja kau ajak A, Liam, dan Mars." Sahut Boy dengan sinis.
"Ah iya kau benar, semakin banyak orang tentu semakin seru acara liburan kita." Seloroh Tita dengan tawa dibibirnya, namun suara tawa itu langsung menghilang dan berganti dengan suara mengaduh, saat tubuhnya terjatuh kebawah karena Boy berdiri dengan tiba-tiba. "B sakit tahu ...!" Tita mengusap pantatnya.
"Itu salahmu sendiri, sekarang aku lelah dan ingin beristirahat jadi jangan menggangguku!" Boy berjalan begitu saja melewati Tita dengan tatapan mata yang dingin, tanpa berniat sama sekali untuk membantu wanitanya berdiri.
Ia merasa sangat kesal pada Tita, karena bisa-bisanya wanita itu ingin menghubungi semua orang dan meminta mereka untuk menyusul ke tempat liburan, di saat dirinya ingin membawa Tita jauh dari keluarganya terutama Agam.
"Dia itu kenapa? Tadi begitu baik kepadaku tapi tiba-tiba kembali galak." Tita yang merasa kesal langsung berdiri dan duduk di tempat yang tadi di duduki oleh suaminya. Ia menatap punggung pria itu yang semakin menghilang di balik pintu. "Andai saja kita pergi untuk berbulan madu aku pasti bahagia." Gumam Tita dengan senyum sinis dibibirnya.
Walau saat ini mereka pergi bukan untuk berbulan madu tapi Tita tetap harus bersyukur, karena setidaknya Boy mengajaknya berlibur dari pada tidak sama sekali. Apalagi Tita diajak berlibur di pulau pribadi milik keluarga suaminya, dan pastinya itu akan menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi seorang Tita Anggara, karena ia belum pernah melihat pulau pribadi milik keluarga Arbeto.