Emergency Wedding

Emergency Wedding
Part 103


Deg


"Tadi kau bilang apa?" Tita begitu terkejut saat Boy memanggilnya dengan sebutan sayang.


Namun Boy hanya diam tidak mempedulikan pertanyaan Tita, karena saat ini dirinya sedang sibuk merobek kemeja wanita itu dan membuangnya secara asal.


"B ...." Tita kembali mendesah saat pria itu berhasil melucuti semua yang ada ditubuhnya, hingga membuatnya polos tanpa sehelai benangpun. "Jangan B!" Tita masih berusaha berpikiran jernih dengan menahan dirinya agar tidak lemah oleh sentuhan Boy.


Namun semua itu sia-sia saat otak dan tubuhnya saling bertentangan, karena jelas sekali tubuhnya begitu menginginkan sentuhan suaminya yang sudah lama tidak ia rasakan.


Hingga akhirnya penyatuan itu terjadi saat Boy memasukinya dengan perlahan dan penuh kelembutan, hingga membuat Tita menahan mulutnya yang hendak mengeluarkan suara *******.


"Jangan di tahan sayang ..." Boy mengecup bibir Tita dan memulai percintaan mereka.


Pergumulan panas pun terjadi saat keduanya larut dalam gairah yang membara, ******* dan erangan saling bersahutan membuat hawa panas disekitarnya menjadi semakin panas tak terkendali.


Dan malam itu menjadi saksi dimana kedua manusia yang sedang mereguk kenikmatan dunia, saling memberi dan menerima dengan alunan kata-kata sayang yang terus terucap dari bibir seorang Boy Arbeto pada wanitanya, membuat Tita tersenyum bahagia walaupun bukan kata cinta yang terucap dari bibir pria itu.


Karena bagi Tita Anggara kata sayang saja sudah cukup baginya, karena setidaknya pria itu bercinta dengannya dengan rasa sayang tidak hanya karena rasa ***** semata.


"Tita Anggora entah apa yang aku rasakan padamu, tapi satu yang pasti aku tidak ingin kehilanganmu." Boy mengecup kening Tita yang tertidur pulas di dalam dekapannya, setelah sesi percintaan panas mereka yang panjang berakhir.


"Tubuh ini hanya milikku," Boy mengusap tubuh polos Tita dengan perlahan. "Wajah ini, bibir ini, mata ini dan semua yang ada di dirimu hanya milikku." Boy mengecup ke seluruh wajah wanitanya, hingga membuat Tita melenguh karena tidurnya terusik.


"B diamlah aku sangat lelah." Tita membuka ke-dua matanya dengan perlahan saat merasakan wajahnya di kecup.


"Tit bangun dulu." Boy semakin semangat menganggu wanitanya.


"B .... "Tita yang kesal karena tidurnya diganggu langsung menatap tajam pada Boy yang masih memeluk tubuhnya dengan erat. "Mana obatnya? Berikan padaku!" Ucap Tita dengan ketus, karena ia baru teringat belum meminum obat yang selalu Boy berikan setelah mereka selesai bercinta.


"Obat?" Boy mengerutkan keningnya.


"Ya obat, bukankah kau membangunkan ku hanya untuk itu?" Dengan tubuhnya yang terasa remuk dan lelah Tita berusaha untuk duduk.


"Ck .. kau itu." Boy menjitak kepala Tita dengan pelan. "Aku membangunkanmu agar kau membersihkan tubuhmu dulu sebelum tidur."


"Apa! Jadi kau membangunkan aku hanya untuk menyuruhku membersihkan tubuh?" Tita menatap tak percaya saat Boy menganggukkan kepalanya.


"Cepat bersihkan tubuhmu! Kau begitu lengket."


"Oh ya ampun B." Tita yang kesal langsung memukul pria itu. "Tubuhku lengket juga karena dirimu!" ketus Tita dengan wajah yang ditekuk, namun ekspresi wajah itu berubah bahagia saat dirinya mengingat sesuatu. Bahwa Boy Arbeto tidak menyuruhnya lagi minum pil kontrasepsi, dan itu artinya pria itu sudah mengijinkan dirinya untuk mengandung anaknya.


"Kalau begitu kita bikin semakin lengket saja, bagaimana?" Boy mengerlingkan matanya, menggoda Tita untuk kembali bercinta dengannya.


"B ...." Tita mengambil bantal tidurnya dan melemparnya kearah Boy Arbeto.


Boy tertawa saat melihat kemarahan Tita yang terlihat mengemaskan, namun di dalam hatinya ia merasa sangat bersalah saat Tita mengungkit tentang obat yang pernah ia berikan.


"Mudah-mudahan kau tidak pernah tahu obat itu untuk apa." Boy bergumam dalam hati.