Emergency Wedding

Emergency Wedding
Part 59


"Ayah jangan marah-marah seperti itu, lebih baik kita lanjutkan sarapan paginya." Pinta Eve, mengusap tangan ayahnya dengan lembut.


Membuat Bayu menghela napasnya, lalu menuruti perkataan Eve dengan meneruskan sarapan paginya.


Sementara itu Tita yang melihat bagaimana kakak nya bisa menenangkan ayah unta, hanya dengan mengusap tangannya, ingin mencoba melakukan hal yang sama pada Boy.


"Jangan coba-coba!" peringat Boy saat tahu apa yang ingin dilakukan oleh Tita.


"Ish .. kau itu menyebalkan sekali." Tita yang kesal memilih untuk melanjutkan sarapan paginya.


"Jadi bagaimana B? Apa ada pekerjaan untuk Eve?" tanya Bayu kembali setelah mereka selesai sarapan.


Boy menatap Tita lalu menatap Eve.


"Kau bisa menjadi sekretaris ku, kebetulan posisi itu sedang kosong."


"Really?" tanya Eve dengan wajah tak percaya.


"Ya, dan besok kau bisa mulai bekerja." Boy berdiri dari duduknya, hendak pergi dari ruangan tersebut.


"B .. terima kasih." Ucap Eve dengan senyum diwajahnya.


Boy hanya menjawab dengan anggukan kepala, lalu berjalan menuju pintu keluar. Sementara itu Tita yang sejak tadi diam, langsung berjalan menghampiri suaminya.


"B tunggu!"


Boy menghentikan langkahnya, lalu menatap pada Tita yang kini berdiri dihadapannya.


"Kau menerima kak Eve menjadi sekretaris mu?"


"Ya." Jawab Boy dengan singkat.


"Lalu aku bagaimana? Apa itu artinya aku dipecat?" tanya Tita.


"Kalau aku bisa memecatmu, sudah lama aku lakukan." Boy kembali melangkahkan kakinya.


Membuat Tita terdiam dengan wajah yang bingung.


"Kenapa kau masih diam di situ? Cepat kita berangkat."


"B apa itu artinya aku tidak dipecat?" tanya Tita tanpa mempedulikan ajakan suaminya.


Membuat Boy menghela napasnya dengan kasar.


"Aku tidak bisa memecatmu walaupun sangat ingin aku lakukan."


"Ah .. sayang sekali." Gumam Tita dengan raut wajah yang kecewa.


"Apa kau mengatakan sesuatu?" Boy menatap tajam pada Tita.


"Ck, kalau begitu ayo kita berangkat." Boy hendak kembali berjalan.


"Tunggu B! Boleh tidak hari ini aku tidak masuk kerja?" pinta Tita dengan sorot mata yang memohon.


Boy menatap wajah Tita dengan intens selama beberapa detik.


"Hanya hari ini." Boy lalu berjalan tanpa menengok kebelakang.


"Terima kasih B ... " Teriak Tita dengan wajah yang bahagia.


Tita pun kembali berjalan menuju ruang makan, bergabung dengan ayah unta dan Kak Eve. Setelah mengantar ayah unta berangkat kerja, Tita dan Eve memilih untuk berbincang dari hati ke hati.


"Bagaimana kabar mom?" tanya Tita yang saat ini sedang duduk bersama kak Eve di ruang tengah.


"Keadaan Mom baik, dan Mom menitipkan salam untukmu." Jawab Eve.


"Benarkah?"


Tita sangat bahagia saat mendengar mom Daniela menitipkan salam untuknya, itu berarti Mom Daniela masih mengingat dirinya.


Eve menganggukkan kepalanya.


"Kak apa kau punya foto Mom?"


"Tentu saja, apa kau ingin melihat Mom? Aku bisa menghubunginya." tawar Eve.


"Tidak, aku hanya ingin melihat fotonya." Sahut Tita.


Ia masih belum siap berbicara dengan Mom Daniela, karena yang Tita inginkan mereka bertemu dan berbicara secara langsung.


"Sebentar." Eve mengambil ponselnya lalu menunjukkan semua foto dirinya dan juga Mom Daniela.


"Mom masih sangat cantik." Lirih Tita dengan rasa sesak dihatinya, melihat semua foto kebersamaan Kak Eve dan Mom Daniela tanpa ada dirinya.


"Kak, kenapa selama ini kalian tidak pernah datang ke Jakarta? Atau setidaknya menghubungi kami melalui ponsel? Apa kalian tidak pernah merindukan aku dan ayah?" tanya Tita dengan bibir yang bergetar, menahan tangis yang hampir keluar dari bibirnya.


"Tita ...." Eve yang tahu adiknya bersedih, langsung memeluk dan mengusap punggung Tita. "Percayalah aku sangat ingin ke Jakarta atau setidaknya berbicara dengan mu lewat ponsel, hanya saja—" Eve terdiam.


"Hanya saja kenapa?"


Eve menggelengkan kepalanya lalu tersenyum tipis pada adiknya.


"Lebih baik kita membicarakan hal yang lain saja." Eve lalu bercerita masa kecilnya yang ia jalani selama tinggal di Paris.


Sementara Tita mendengarkan cerita kak Eve dengan hati yang bersedih sekaligus bahagia, ia begitu iri dengan kakaknya yang bisa tinggal bersama dengan Mom Daniela, namun ia juga tidak menyesal tinggal bersama ayah Unta, karena bagi Tita ayah nya adalah sosok pria terbaik dan penuh kasih sayang, serta tanggung jawab.