Emergency Wedding

Emergency Wedding
Part 77


Sudah Lima hari ini kerjaan seorang Tita Anggara hanya duduk diam menonton drama Korea kesukaannya, jika sebelumnya Tita hanya diberi ijin tidak masuk kerja selama satu hari, tapi pada kenyataannya sudah lima hari ini ia dilarang untuk keluar dari apartemen.


Dan selama lima hari ini tidak banyak yang ia kerjakan di apartemen, selain menyibukkan diri di siang hari dengan duduk santai, dan pada malam harinya ia akan sibuk berolahraga panas di atas ranjang.


Semenjak malam panas kedua yang mereka lakukan, malam-malam berikutnya menjadi malam panas terpanjang bagi seorang Tita, karena suaminya itu tidak pernah berhenti jika sudah menyentuh dirinya. Kadang Tita sampai berpikir tenaga pria itu terbuat dari apa? Karena suaminya itu tidak pernah ada kata lelah sedikitpun.


Argh ...


Tita melempar remote televisi yang sedang dipegangnya dengan wajah yang kesal.


"Membosankan sekali." Gerutu Tita lalu mengambil ponsel miliknya yang ada di atas tempat tidur.


Ia menekan nomer ponsel Liam untuk berbicara dengan suaminya, jangan tanyakan kenapa Tita tidak langsung menghubungi nomer ponsel Boy saja? Karena jawabannya sampai detik ini Tita tidak mengetahui nomer ponsel pria yang berstatus sebagai suaminya itu.


Bagaimana ia bisa tahu nomer ponsel suaminya, jika setiap kali Tita meminta nomer ponsel Boy, pria itu selalu menjawab rahasia! Dan jawaban selanjutnya mampu membuat emosi Tita menjadi naik.


"Ponselku ini terlalu mahal untuk menerima suara cemprengmu."


Itulah jawaban yang diberikan oleh seorang Boy Arbeto dengan raut wajah datar dan dingin, membuat Tita kesal dan tidak pernah lagi ingin bertanya berapa nomer ponsel suaminya itu.


"Halo Lia, dimana B?" tanya Tita saat ponselnya diangkat oleh asisten pribadi suaminya.


"Liam .. namaku L-I-A-M Nona Tit." Jawab Liam dengan menghela napasnya.


Liam lagi-lagi menghela napasnya.


"Ada apa Nona? Apa Anda butuh sesuatu?" Liam berjalan menjauh dari tuan Boy dan juga nona Eve yang sedang berdiskusi di sofa tengah yang ada di ruangan kerja tersebut.


"Ada apa ya aku menghubungimu?" Tita balik bertanya dengan kening yang berkerut, ia mendadak lupa apa yang tadi ingin dibicarakannya. "Oh ya, bisa aku bicara dengan B?"


"Sebentar Nona." Liam menatap tuan Boy yang masih berdiskusi sesuatu yang penting dengan Eve. "Nona apa yang ingin Anda sampaikan? Nanti biar aku yang menyampaikan langsung pada Tuan B."


"Em .. sampaikan pada B Tita mau pergi ke rumah ayah unta, apa boleh?"


"Baik, tunggu sebentar!" Liam berjalan mendekati tuan Boy lalu menyampaikan keinginan nona Tita.


Dan setelah mendapatkan jawaban dari tuannya, Liam pun menyampaikan pada nona Tita dan segera menutup ponselnya setelah tidak ada lagi yang ingin dibicarakan oleh istri tuannya.


"Oh ya ampun, sopan sekali dia." Gerutu Tita saat menyadari sambungan teleponnya di tutup begitu saja oleh Liam. "Biarlah yang penting hari ini aku bisa keluar dari apartemen." Seru Tita sambil berjalan menuju walk in closet.


Setelah selesai mengganti pakaiannya, Tita berjalan mencari ikat rambut miliknya yang sempat ia taruh di atas nakas samping tempat tidur.


"Apa ini?" Tita membolak-balik strip obat yang ada di dalam laci nakas. "Dari bentuknya seperti obat yang aku telan." Tita terdiam sesaat lalu memasukkan obat itu ke dalam tasnya.


Tita memutuskan untuk pergi ke kantor Boy terlebih dahulu sebelum ke rumah ayah unta, ia ingin bertanya langsung obat apa yang diberikan oleh Boy padanya.