Emergency Wedding

Emergency Wedding
Part 149


Keesokan harinya.


Boy yang tertidur di atas sofa terbangun saat merasakan pundaknya ditepuk oleh seseorang, dengan mata yang masih mengantuk ia mencoba membuka matanya dengan perlahan. Dan orang pertama yang dilihatnya adalah wajah Tita yang terlihat memerah dengan tangan yang berkacak pinggang.


"Tit jam berapa ini?" tanya Boy masih dengan setengah sadar.


Namun Tita hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan Boy.


"Oh ya dimana Baby? Apa dia sudah datang?" tanya Boy lagi sembari menatap ke seluruh ruangan.


Tadi malam saat menunggu Baby membeli sate untuk Tita, ia ketiduran diatas sofa dan baru saja terbangun saat pundaknya di tepuk oleh seseorang yang ternyata adalah Tita.


"B kau itu jahat! Tadi malam aku kelaparan menunggu sate, dan kau malah asik tidur di atas sofa tanpa memikirkan aku yang kelaparan." Gerutu Tita dengan wajah yang ditekuk.


"Apa?" Boy begitu terkejut saat mendengar perkataan Tita, ia menatap jam yang ada di atas dinding dan semakin terkejut saat tahu hari sudah pagi. "Di mana Baby?" tanya Boy dengan sangat emosi setelah mendengar Tita yang kelaparan karena menunggu sate.


"Aku belum melihatnya." Jawab Tita dengan ketus, karena kesal Boy tidak menuruti apa yang diinginkannya.


"Sial!" Boy lalu memanggil kepala pelayan untuk memanggil Baby di dalam kamarnya, sementara menunggu kedatangan adiknya Boy pun merayu Tita untuk mau sarapan pagi, karena ia tidak ingin anak yang ada di dalam kandungan istrinya kenapa-kenapa.


"Aku tidak mau makan B." Ucap Tita dengan berbohong karena sebetulnya ia sudah sarapan dengan roti bakar yang dibuat oleh pelayan, tadi Tita berbohong tentang kelaparan hanya karena ingin membuat suaminya itu merasa bersalah.


"Jangan begitu sayang, kasihan bayi kita kelaparan." Boy mengusap perut Tita dengan perlahan. "Baby ..." geram Boy dalam hati, karena adiknya itu sudah berani membuat anak seorang sultan kelaparan.


Saat Boy hendak membujuk Tita lagi untuk mau sarapan pagi, ia melihat kedatangan Pak Nas kepala pelayan mansion berjalan kearahnya.


"Maaf Tuan, Nona Baby tidak ada di dalam kamarnya." Ucap Pak Nas.


"Lalu kemana dia?" tanya Boy dengan penuh emosi.


"Kami tidak tahu Tuan, tapi penjaga mansion bilang dari semalam Nona belum pulang." Ucap Pak Nas dengan menundukkan kepalanya.


"What?" pekik Boy dengan wajah yang terkejut, begitu pun dengan Tita saat mendengar adik iparnya itu semalaman tidak pulang. "Kemana dia?" Boy mengambilnya ponselnya untuk menghubungi adiknya, namun sambungan teleponnya tidak juga diangkat.


"Baby ...." teriak Boy dengan penuh amarah, sampai membuat Tita dan para pelayan yang ada di mansion menutup telinga mereka.


*


*


"Aw..." pekik Baby saat tubuhnya terjatuh dari atas tempat tidur. "A kau jahat sekali!" Baby mengusap bokongnya yang mencium lantai, setelah ditendang dengan sangat kasar oleh Agam.


"Itu hukuman untukmu karena sudah berani tidur di atas ranjangku!" Ucap Agam dengan sangat emosi.


Bagaimana tidak emosi saat terbangun di pagi hari, melihat wanita yang sudah dianggap adik olehnya tengah tidur disampingnya sembari memeluk tubuhnya.


"Ish kau itu pelit sekali." Baby mengerucutkan bibirnya. "Tunggu A!" Baby berlari mengambil ponselnya yang ada di atas nakas, lalu mengarahkan kamera ponselnya kearah Agam.


"Apa yang kau lakukan?" Agam turun dari atas tempat tidur.


"Aku hanya mengambil fotomu." Baby melihat tubuh kekar dan otot six pack milik Agam memenuhi layar ponselnya.


"Hapus foto itu!" Agam hendak merampas ponsel Baby.


"Tidak mau ...." Baby menyembunyikan ponselnya di balik punggung.


"Hapus!" Agam berusaha mengambil ponsel Baby hingga membuat tubuh mereka berdekatan dan jika dilihat dari belakang seperti sedang berpelukkan.


"Tidak mau!" Baby hendak berlari, namun sayangnya Agam terlebih dahulu menarik tangannya hingga membuat tubuhnya menabrak dada bidang pria itu.


Membuat keduanya saling terdiam saat tubuh Agam yang tidak mengenakan kaos menempel dengan tubuh Baby, sehingga tidak ada jarak diantara mereka membuat keduanya saling menatap ke dalam mata masing-masing.


"Oh my God ..." Baby menepuk keningnya.


"Ada apa?" tanya Agam dengan cemas.


"Sate ..." teriak Baby sembari berlari keluar dari kamar saat teringat pesanan kakaknya.


"Sate ...?" Agam menautkan kedua alisnya dengan wajah yang bingung.