
Setelah pulang dari rumah sakit dengan drama panjang yang dilalui oleh Tita, karena Boy meminta istrinya itu untuk tetap berada di ruang rawat inap. Tapi karena Tita yang bersikeras untuk pulang akhirnya Boy mengabulkan permintaan istrinya itu.
Dan saat ini mereka sudah sampai di mansion utama, karena Mom Luna yang menyuruh mereka untuk tinggal di mansion tersebut setelah mengetahui menantunya tengah hamil. Mom Luna mengatakan akan lebih baik jika Tita tinggal di mansion utama, karena ada banyak pelayan di mansion yang akan menjaga menantunya itu. Terlebih lagi di mansion itu ada Lea dan juga Baby yang akan ikut menjaga Tita.
"B aku ini sedang hamil bukan sedang sakit." Keluh Tita saat dirinya menggunakan kursi roda untuk masuk ke dalam mansion utama.
Bayangkan saja saat tadi di rumah sakit Tita yang masih bisa berjalan dipaksa untuk menggunakan kursi roda, dan jika ia memaksa tidak mau menggunakannya maka Boy akan menggendongnya sampai ke dalam mobil.
"Kau itu sedang hamil sayang, dan aku takut kau kenapa-kenapa atau pingsan lagi." Boy terus mendorong kursi roda yang dikenakan oleh Tita.
Tita yang tidak ingin berdebat lagi dengan suaminya yang pemaksa dan maunya menang sendiri itu, memilih untuk diam dan berharap cepat sampai di dalam ruang tengah agar bisa terbebas dari kursi roda yang dikenakannya.
"Loh kalian sudah sampai?" tanya Boy saat melihat Agam dan Baby sudah ada di ruang tengah, padahal saat tadi ia pulang dari rumah sakit adik dan sepupunya itu masih berada di sana.
"Tentu saja kami sudah sampai, kalian itu kemana dulu? Kenapa lama sekali?" tanya Baby panjang lebar.
"Bagaimana kami tidak lama kalau mobil yang dikendarai oleh kakakmu itu sangat lambat." Sahut Tita dengan wajah yang kesal saat mengingat bagaimana cara suaminya mengendarai mobil mereka dengan kecepatan kurang dari enam puluh kilometer/jam.
Boy tidak menghiraukan perkataan Tita, ia langsung menggendong istrinya untuk pindah duduk di atas sofa.
"Ya ampun kak B aku juga mau di gendongan." Pinta Baby dengan merajuk.
"A gendong Baby!" perintah Boy.
"What?" Agam langsung menatap Baby dengan tatapan horor.
"Lebih baik aku gendong anak kucing dari pada menggendongmu!" Agam mentoyor kepala Baby.
"Ya ampun jahat sekali sepupuku ini." Gerutu Baby sambil mengusap kepalanya. "Padahal dulu kau sering menggendongku."
Agam tidak mempedulikan perkataan Baby, ia lebih memilih memainkan ponsel yang ada di tangannya.
"A kau dengar tidak?" teriak Baby semakin kesal karena tidak dipedulikan oleh Agam.
"Anak kecil kau itu berisik sekali!" sela Boy.
"Aku tidak berisik kak aku hanya berteriak." Jawab Baby dengan santai.
"Itu sama saja! Dan ini sudah jam berapa?" Boy menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sudah waktunya kau cuci tangan cuci kaki lalu tidur!"
"Kak kau pikir aku ini anak kecil?" gerutu Baby dengan bibir yang mengerucut tajam.
"Kau itu memang anak kecil." Sahut Boy dengan nada yang meninggi.
"Eits .. anak kecil tidak mungkin bisa membuat Novel bukan?" ucap Baby dengan penuh rasa bangga, karena memang ia seorang penulis yang cukup terkenal di salah satu aplikasi online terbesar yang ada di Indonesia.
"Penulis novel apaan? Kau itu lebih cocok di sebut penulis abal-abal!" Boy terus mengejek adiknya.
Dan Baby yang berbakat dalam berbicara alias cerewet tentu saja tidak tinggal diam, gadis yang terlihat energik dan tak pernah berhenti jika sedang berbicara kembali menyahut ejekan dari kakaknya. Hingga membuat keduanya terlibat perang kata hingga melupakan sekitarnya, dimana Tita dan Agam menjadi penonton mereka berdua.