Emergency Wedding

Emergency Wedding
Part 56


Setelah kejadian di ruang makan tadi, Tita yang awalnya ingin bercengkrama dulu bersama kak Eve dan ayah Unta, terpaksa mengurungkan niatnya saat merasakan hawa yang mencekam dari sosok Boy Arbeto.


Ayah unta yang mengerti dengan situasi tersebut, berkata pada Tita untuk segera masuk ke dalam kamar, dengan mengatakan masih ada hari esok untuk berbagai cerita dengan kak Eve, Tita pun menuruti perkataan ayah nya dengan membawa Boy masuk ke dalam kamarnya.


Dan setelah masuk ke dalam kamar, Tita hanya bisa menghela napasnya saat pria itu langsung tidur di tempat tidurnya, tempat tidur yang tadi sempat dihina karena ukurannya yang kecil, belum lagi pria itu menghina dekorasi kamar Tita yang dibilang sangat norak dan seperti kamar anak kecil.


"Ish .. tadi dia bilang tidak akan bisa tidur dengan nyaman di tempat tidurku, tapi lihat sekarang! Pria itu sangat lelap bahkan tidurnya seperti orang mati." Gumam Tita dalam hati dengan mengerucutkan bibirnya. "Aku harus tidur di mana?" Tita menatap tempat tidurnya yang dikuasai sepenuhnya oleh Boy Arbeto.


Tita yang bingung memutuskan untuk tidur di atas sofa, tapi keputusan itu langsung diubahnya saat ia mengingat betapa pegal tubuhnya nanti saat bangun tidur.


"B .. geser sedikit."


Tita mendorong tubuh suaminya agar pria itu memberikan sedikit ruang untuknya, namun semua itu sia-sia karena Boy sama sekali tidak bergeser dari tempatnya.


"Apa aku tidur di kamar tamu saja?" ucap Tita. "Tapi kalau ayah unta sampai tahu aku tidur terpisah dari B pasti ayah akan sedih."


Tita yang bingung akhirnya mau tidak mau kembali pada putusan awalnya untuk tidur di atas sofa, dengan wajah yang kesal ia hendak bangun dari atas tempat tidur, namun langkahnya terhenti saat melihat pergerakan tubuh Boy yang menyamping hingga membuat cukup ruang baginya untuk tidur di samping pria itu.


"Ah .. akhirnya aku bisa tidur juga."


Dengan perlahan Tita memiringkan tubuhnya, menatap punggung Boy Arbeto dengan intens, Tita kembali mengingat kejadian saat malam itu di mana ia kehilangan keperawanannya.


"Aku harus belajar mencintai B karena dia suamiku, dan orang yang sudah mengambil kehormatan ku, dan aku juga harus bisa membuat B mencintaiku. Tapi bagaimana caranya? Kalau setiap hari saja sikap B sangat dingin."


Tita menghela napasnya dengan kasar, ia berusaha menutup kedua matanya agar bisa tertidur, namun rasa kantuk itu tidak datang juga hingga membuat Tita bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri.


Malam yang semakin larut membuat rasa kantuk mendera, dengan perlahan namun pasti kedua mata Tita mulai terpejam, wanita itu sudah masuk ke dalam alam mimpinya terdengar dari suara hembusan napasnya yang begitu teratur.


Ditengah temaram cahaya yang menyelimuti kamar tersebut, terlihat sebuah gerakan dari atas tempat tidur yang begitu perlahan.


"Akhirnya kau tidur juga." Boy membalik tubuhnya menghadap Tita, saat benar-benar yakin wanita itu sudah tertidur dengan lelap.


Dengan perlahan Boy menyentuh punggung Tita, mengusapnya dengan sangat lembut dan tangan itu mulai menjelajah kebagian tubuh lainnya.


"Kau membuat aku frustasi." Geram Boy karena harus menahan hasratnya yang semakin naik.


Dengan napas yang berlarian dan jantung yang berdetak dengan cepat, Boy hendak mengecup leher Tita memberikan Kiss mark yang selalu dilakukannya tiap malam pada leher tersebut, namun niat itu diurungkannya saat teringat mereka berada di rumah ayah Bayu. Bisa gawat jika ayah mertuanya itu melihat bekas kecupannya, dan memberitahu pada Tita jika itu adalah sebuah Kiss mark.