
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Agam, saat melihat sudah tidak ada satu orang pun selain mereka berdua di tempat tersebut.
Ia sangat penasaran apa yang akan dibicarakan oleh sepupunya itu, tapi yang pasti sebuah pembahasan yang sangat penting, karena Boy sampai menyuruh semua orang yang ada di dalam markas untuk keluar.
Boy sendiri masih diam sambil menatap sepupunya dengan intens, ia berpikir apa tepat menanyakan masalahnya pada seorang Agam Mateo.
"B apa ada sesuatu yang gawat? Apa ini menyangkut perusahaan Kenz. Drc? Atau menyangkut Tim Delta?" Agam memasukkan ponselnya dan memilih fokus pada sepupunya.
Boy menggelengkan kepalanya.
"Ini tentang Tit."
"Tit ... ?" Agam mengerutkan keningnya dengan wajah yang bingung.
"Tita Anggora, eh maksudku Tita Anggara." Ujar Boy.
"Tita Anggara?" Agam mencoba mengingat nama Tita Anggara, dan pikirannya langsung tertuju pada seorang gadis cantik dan polos yang memukul kakinya saat di lift beberapa hari yang lalu. "Tita istrimu?" tanya Agam.
"Ya, istri yang tidak pernah aku inginkan." Sahut Boy dengan dingin.
Agam menghela napasnya dengan kasar, tadinya ia berpikir sepupunya akan membicarakan hal yang sangat penting, tapi ternyata seorang Boy Arbeto justru ingin berbicara tentang seorang wanita, atau kata yang lebih tepatnya adalah membicarakan istrinya.
"Apa ini ada kaitannya dengan kejadian di lift waktu itu? Apa istrimu marah kau berduaan dengan Selena?"
"Ck, ini tidak ada kaitannya sama sekali. Lagi pula dia tidak berhak marah aku jalan atau berkencan dengan wanita manapun." Boy menarik satu sudut bibirnya.
"Lalu apa masalahnya?"
Boy menarik napasnya menatap ke kanan dan ke kiri memastikan bahwa semua orang sudah keluar dari markas, dan setelah melihat kondisinya aman Boy pun menceritakan semuanya pada Agam, bagaimana ia tersiksa setiap malamnya karena harus menahan keinginannya untuk tidak bercinta lagi dengan Tita, dan bagaimana juniornya itu tidak berhasrat pada wanita mana pun termasuk Selena, dan itu semua membuat Boy sangat frustasi karena harus terus menahan hasratnya.
"Kenapa kau diam saja?" Boy yang lelah berjalan mondar-mandir, kini mendaratkan tubuhnya di atas sofa.
"Aku bingung." Jawab Agam dengan singkat.
"Bingung kenapa? Seharusnya disini itu aku yang bingung."
Boy menghela napasnya dengan kasar saat menyadari dirinya telah salah berbagai cerita dengan Agam, karena sepupunya itu bahkan tidak pernah bersinggungan dengan yang namanya wanita.
"Yang aku bingung itu, jika kau memang ingin bercinta dengan Tita kenapa tidak kau lakukan? Bukankah dia istrimu?" tanya Agam dengan teori yang ada di kepalanya, karena sudah menjadi rahasia umum jika suami istri melakukan hubungan intim adalah hal yang wajar.
"Ck, yang jadi masalahnya aku tidak boleh bercinta lagi dengannya karena ...."
Boy mau tidak mau menceritakan niatnya yang ingin menceraikan Tita setelah satu tahun pernikahan mereka, maka dari itu ia tidak bisa bercinta lagi dengan wanitanya.
"Kenapa kau ingin bercerai?" tanya Agam dengan dingin setelah mendengar alasan sepupunya.
"Karena aku tidak mencintainya." Jawab Boy dengan sikat, padat, dan jelas.
"Bullshit." Sinis Agam. "Jika kau tidak mencintai Tita, kenapa kau menyentuhnya? Bukankah dulu kau pernah berkata tidak akan bercinta dengan wanita yang tidak kau cintai?" sindir Agam dengan senyum sinis dibibirnya.
"Karena saat itu aku begitu emosi, melihat dia—"
Boy tidak meneruskan perkataannya, bisa jatuh harga diri seorang Boy Arbeto jika sampai Agam tahu, dirinya marah karena melihat Tita berpegangan tangan dengan Agam.
"Melihat apa?" Agam kembali bertanya.
"Sudahlah tidak perlu dibahas, yang terpenting saat ini bagaimana caranya agar aku bisa bercinta dan menyalurkan hasratku ini. Apa kau tahu ini sangat menyiksa, apalagi setelah aku tahu betapa nikmatnya penyatuan itu."