
Setelah mendengarkan pengumuman tentang siapa calon menantu keluarga Mateo, seluruh anggota keluarga besar memberikan ucapan selamat pada mereka terutama pada Agam. Karena pada akhirnya pria yang terkenal pendiam dan tidak pernah dekat dengan wanita mana pun, kini sudah memiliki calon istri dan akan segera melangsungkan acara pertunangan dalam waktu dekat ini.
"Aku tidak menyangka akhirnya A akan bertunangan dengan seorang wanita," Ucap Mars sembari meng-gelengkan kepalanya.
"Aku juga tidak menyangka," Boy ikut menggelengkan kepalanya. "Dulu aku sempat berpikir dia itu gay." Seloroh Boy dengan tawa yang keras.
"B ..." Tita mencubit pinggang suaminya, karena sudah berpikiran yang tidak-tidak tentang Agam.
"Tit aku tidak salah berpikiran seperti itu, karena A tidak pernah dekat dengan wanita manapun dan hanya ponselnya yang selalu dia bawa kemanapun." Sahut Boy sembari mengusap pinggangnya. "Kenapa semenjak Tita hamil dia jadi berani padaku?" gumam Boy yang saat ini kembali menerima cubitan dari Tita.
"Ya tapi jangan bicara seperti itu juga?" Tita tidak terima jika pria yang selalu membantunya di hina sebagai seorang gay, dengan rasa kesal dihatinya ia pun memilih pergi dari tempat tersebut untuk menemui Baby.
"Istrimu kenapa?" Mars menatap punggung Tita.
"Entahlah." Boy mengangkat kedua bahunya. "Mars ada yang ingin aku tanyakan." Boy menatap ke kiri dan kanan. "Apa Kejora berubah lebih galak semenjak mengandung?" tanya Boy dengan suara yang sangat pelan.
Mars menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Tidak hanya galak tapi juga sangat manja, terkadang juga menangis dengan tiba-tiba tanpa sebab." Mars teringat bagaimana kelakuan Kejora yang selalu membuat emosinya naik turun.
Mendengar perkataan sepupunya Boy pun langsung menarik Mars ke tempat yang sepi, untuk dimintai keterangan tentang seputaran ibu hamil, mengingat Mars lebih berpengalaman darinya.
Sementara itu Tita yang saat ini berada di samping Baby karena ingin menghibur adik iparnya itu, justru merasa sangat terkejut saat melihat sikap Baby yang tampak biasa saja setelah mengetahui pria pujaan hatinya sudah memiliki calon istri.
"Baby kau baik-baik saja bukan?" tanya Tita dengan wajah yang bingung.
"Tentu saja, memangnya aku kenapa?" Baby balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan kakak iparnya.
"Hatimu tidak sedih dan sakit hati? Mengetahui A akan bertunangan dan secepatnya akan menikah dengan wanita itu." Mata Tita menunjuk kearah wanita yang berada di samping Agam.
"Kenapa hatiku harus sedih dan sakit hati?" Baby mengerlingkan matanya. "Mereka itu baru akan bertunangan dan belum menikah, kau tahu itu artinya apa?"
Tita mengangkat kedua bahunya dengan wajah yang semakin bingung.
"Itu artinya aku masih punya kesempatan untuk membuat A jatuh cinta kepadaku." Bisik Baby dengan penuh percaya diri. "Lagi pula aku ini Baby Arbeto, tidak akan aku biarkan wanita manapun mengambil cinta pertamaku." Baby mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
"Oh ya ampun kakak dan adik sama saja, sama-sama mengerikan, keras kepala, dan sangat percaya diri sekali." Gumam Tita dalam hati. "Eh .. kau mau kemana?" tanya Tita saat melihat Baby hendak pergi.
"Aku mau mengejar cintaku dulu." Ucap Baby dengan senyum di bibirnya. "Lagi pula sudah ada kak B, aku tidak ingin jadi orang ketiga alias setan diantara kalian." Baby menunjuk kakaknya yang sedang berjalan kearah mereka, lalu kembali melangkahkan kakinya untuk menemui Agam.