Emergency Wedding

Emergency Wedding
Bab 139


"A ayo antar aku pulang!" Baby merangkul lengan Agam. "Oh ya ampun tampannya pujaan hatiku ini." Mata Baby terus menatap pada wajah sepupunya.


"Pulang saja sendiri!" Agam melepaskan rangkulan ditangannya lalu berjalan menuju kamar.


"A kau lupa? Tadi kak B menyuruhmu untuk mengantarkan aku pulang." Baby mengikuti langkah Agam.


Agam hanya diam saja terus melangkah masuk ke dalam kamarnya, lalu menutup pintu itu tepat saat Baby hendak masuk ke dalam kamarnya.


"Astaghfirullah ..." Baby mengusap dadanya, saat Agam membanting pintu kamar tepat di depan wajahnya. "A buka pintunya!" teriak Baby.


"Pulanglah! Aku ingin beristirahat." Sahut Agam dari dalam kamar.


"Aku boleh ikut beristirahat di kamarmu?" pinta Baby.


"Tidak boleh!" Jawab Agam dengan tegas.


"Kenapa? Bukankah dulu kau sering menemani aku tidur? Dan dulu kau pernah memandikan aku."


Krek.


Agam membuka pintu kamarnya dengan kasar.


"Itu dulu saat kau masih berusia lima tahun."


"Tapi A —" perkataan Baby terputus saat lagi-lagi pintu kamar itu tertutup tanpa kata permisi. "A aku akan melaporkanmu pada Aunty Mini, karena tidak mau mengantar aku pulang." Teriak Baby.


Lima menit berlalu tidak ada jawaban dari sang pemilik kamar.


"A aku —"


Agam keluar dari kamarnya dengan raut wajah yang datar.


"Ayo cepatlah!"


Baby berjalan mengikuti langkah Agam dari belakang dengan senyum penuh kemenangan, karena akhirnya akan diantar pulang oleh sepupunya yang selalu membuat jantungnya berdetak dengan kencang.


Sementara itu diluar Mansion Mateo, Boy yang mengejar Tita kini bisa bernapas dengan lega saat wanitanya itu tidak bisa pergi karena ditahan oleh Liam.


"Mau lari kemana lagi, hem?" Boy berkacak pinggang.


"B ..." Tita menelan salivanya dengan susah saat melihat suaminya berjalan mendekatinya.


"B ...." Tita mengusap kepalanya dengan wajah yang ketakutan.


"Kau harus aku hukum karena sudah —"


"Aku minta maaf." Potong Tita dengan cepat sembari memeluk suaminya. "Sumpah aku tidak bermaksud membohongimu, ini semua aku lakukan agar Kak Eve tidak lagi memintamu." Tita menundukkan kepalanya.


Sementara Boy hanya diam saja dengan kening yang berkerut, karena tidak mengerti apa yang dibicarakan Tita.


"B aku janji tidak akan lagi berpura-pura hamil." Tita memberanikan diri menatap suaminya.


"Berpura-pura hamil?" gumam Boy.


"Tita janji tidak akan berbohong lagi apa pun itu, tapi kau jangan marah." Pinta Tita dengan wajah yang memohon.


"Jadi kau itu melarikan diri karena ..." Boy tidak meneruskan perkataannya, ia tertawa terbahak-bahak saat menyadari alasan istrinya sampai lari dari rumah sakit.


"B kau tidak marah dengan kebohongan yang aku lakukan?" tanya Tita dengan wajah yang bingung saat melihat suaminya justru tertawa.


"Kenapa aku harus marah? Kalau kau itu tidak berbohong." Boy menarik pinggang Tita dengan lembut hingga wanita itu menabrak dada bidangnya.


"Aku tidak berbohong?" Tita menghindar saat Boy ingin mencium bibirnya.


"Kau itu beneran hamil sayang." Boy mengecup bibir tipis wanitanya.


"A-apa?" mulut Tita terbuka lebar dengan mata yang hampir keluar dari tempatnya.


"Kau sedang hamil sayang, di sini ada keturunan seorang Arbeto." Boy mengusap perlahan perut Tita.


"A-aku hamil?" pekik Tita dengan wajah yang terkejut, dan sedetik kemudian ia pun langsung tak sadarkan diri.


"Tit .. Tita ..." Boy menahan tubuh Tita saat melihat wanita itu pingsan. "Lia cepat buka pintu mobilnya!" perintah Boy sembari menggendong tubuh wanitanya.


Dengan segera Liam membukakan pintu mobil untuk tuan Boy Arebto.


"Kak ada apa ini?" Baby yang melihat kak Boy menggendong kakak iparnya, begitu terkejut saat mengetahui kak Tita pingsan. "Kakak apakan kak Tita?"


Boy tidak mempedulikan perkataan Baby, ia dengan segera membawa Tita masuk ke dalam mobil lalu menyuruh Liam untuk membawa mereka ke rumah sakit internasional.