Emergency Wedding

Emergency Wedding
Part 104


Suasana yang ada di sebuah Vila besar dengan penjagaan ketat di setiap sudutnya tampak begitu sunyi dan sepi, hanya ada pihak keamanan yang berjalan menyisir di sekitaran vila tanpa berani masuk ke dalam. Dan untuk para pelayan mereka hanya akan masuk ke dalam Vila, jika diperintahkan oleh sang pemilik tempat tersebut.


"B apa ini yang disebut dengan liburan?" sindir Tita dengan wajah yang ditekuk.


Karena seharian ini kerjaannya hanya duduk, dan berbaring di atas tempat tidur tanpa melakukan apa pun selain melayani hasrat pria itu. Bahkan untuk makanan saja pelayan yang akan membawakannya ke dalam kamar, dan jika Tita meminta ini dan itu maka pelayan yang dengan siap sedia membawakan keinginan wanita itu.


"Ya ini lah yang disebut dengan liburan, bagaimana kau senang?" Boy menyunggingkan senyumnya, ia merasa bahagia bisa membawa Tita jauh dari Agam yang mulai berani melawan dirinya.


Walaupun rencananya gagal untuk membawa Tita ke pulau pribadi keluarganya karena ulah Liam, tapi ia cukup puas bisa menjalankan apa yang ada di otaknya, yaitu mengurung wanita itu di kamar selama liburan mereka.


"Tentu saja aku merasa senang, sampai rasanya aku ingin sekali ..." Tita mengepalkan kedua tangannya di hadapan Boy Arbeto, menunjukkan betapa ia merasa kesal karena suaminya itu mengurung dirinya seharian di dalam kamar.


"Kau ingin apa?" Boy menarik kepalan tangan Tita lalu menciumnya dengan sorot mata penuh kemenangan, rasanya ia begitu bahagia melihat wanitanya itu tidak bisa berkutik lagi dan menuruti semua keinginannya.


"Aku ingin sekali menendangmu dari atas tempat tidur." Ucap Tita tapi hanya dalam hati. "Ah lupakan saja, sekarang katakan sampai kapan kita di dalam kamar?"


"Sampai liburan kita selesai." Jawab Boy dengan ringan tanpa beban.


"Apa? Kau tidak serius kan?" mata Tita terbelalak menatap suaminya yang sedang mengambil ponsel di atas nakas.


"Aku sangat serius." Boy menatap wanitanya sekilas, lalu beralih pada ponselnya yang sedang ia nyalakan.


"Good job." Boy berkata dengan tawa puas dibibirnya setelah melihat foto yang dikirim oleh Alex.


Ia merasa sangat puas dengan hasil kerja Alex yang sudah memberikan pelajaran pada Liam, karena asistennya itu sudah berturut-turut membuatnya kesal.


Sementara Tita yang merasa penasaran kenapa tiba-tiba Boy tertawa, matanya ikut menatap kearah ponsel milik suaminya.


"Oh ya ampun! Itu Liam?" pekik Tita saat melihat wajah asisten suaminya yang penuh dengan memar berwarna biru. "Liam kenapa? Siapa yang memukulnya?" tanya Tita dengan penasaran, karena yang ia tahu asisten seorang Boy Arbeto tidak mungkin dipukuli oleh sembarang orang, karena urusannya pasti akan panjang jika berurusan dengan keluarga Arbeto.


"Anak buah ku yang memukulnya, bagaimana bagus tidak?" Seloroh Boy dengan suara tawa yang menggelegar di seluruh ruang kamar.


"B mana ada wajah memar seperti itu dibilang bagus." Tita meraih ponsel milik suaminya untuk melihat lebih jelas keadaan Liam. "Kau jahat sekali menyuruh anak buah mu memukul Liam." Tita mendengus kesal saat melihat suaminya itu tertawa tanpa ada rasa kasihan.


"Aku hanya memberikan sedikit hukuman pada Lia, agar dia tidak lagi berani padaku apa lagi berani mengkhianati seorang Boy Arbeto, dan kau —" Boy meraih pinggang Tita dengan posesif. "Jika kau berani mengkhianati ku, aku akan memberikan hukuman yang tidak akan pernah bisa kau bayangkan." Boy menekan tubuh wanitanya hingga dada mereka yang masih polos saling bersentuhan.


Tita yang mendengar ancaman suaminya hanya bisa menelan salivanya dengan susah, ia juga berusaha menjauhkan tubuhnya dari dekapan Boy karena saat ini pria itu sudah mulai mengecup leher jenjangnya.


"B berhenti!" Tita terus mendorong dada bidang suaminya, sungguh ia tidak mau melayani pria itu lagi karena tubuhnya sudah begitu remuk.


Namun tenaga Tita yang lemah akhirnya kalah oleh tenaga Boy yang begitu memaksanya, dengan semua sentuhan lembut pada tubuhnya hingga akhirnya Tita menyerah dan kembali memuaskan hasrat suaminya yang entah sudah ke berapa kalinya.