
Sementara itu di luar ruangan periksa dokter Alana, Tita yang tengah berjalan menuju toilet menghentikan langkahnya saat mendengar suara teriakan yang keras dari dalam ruang dokter Alana.
"Gawat secepatnya aku harus pergi dari tempat ini." Tita yang ketakutan menatap pada suster yang ada disampingnya. "Sus coba periksa ada apa di dalam ruangan dokter Alana!"
"Ta-tapi Nona."
"Sudah cepat sana!" Tita mendorong suster tersebut. Dan setelah melihat suster itu pergi menuju ruangan dokter Alana, Tita segera berlari menuju pintu lift.
"Nona Anda mau kemana?" suster itu terkejut saat melihat pasien dokter Alana berlari berlawanan arah dengan ruang toilet.
"Mampus kau Tita Anggara." Tita dengan segera masuk ke dalam lift saat ketahuan oleh suster yang tadi mengantarnya. Dan setelah berada di dalam lift ia terus mengumpat dalam hati karena kebodohannya yang berpura-pura hamil. "B pasti marah dan kecewa padaku." Tita menghela napasnya dengan kasar.
Setelah pintu lift terbuka, Tita segera berjalan keluar dari bangunan rumah sakit dengan wajah yang ketakutan. "Aku harus bersembunyi dimana?" Tita menatap ke kiri dan ke kanan, ia bingung harus pergi kemana karena baru menyadari ponsel dan dompetnya ada di dalam tasnya yang tertinggal di ruangan dokter Alana.
Dan di saat Tita sedang kebingungan ia melihat salah satu mobil mewah yang terparkir dengan pintu terbuka, segera Tita masuk ke dalam mobil tersebut tanpa memikirkan apa pun, karena yang terpenting baginya saat ini adalah mencari tumpangan untuk bisa pergi sejauh mungkin dari rumah sakit.
"Hei siapa kau?" Baby terkejut saat ada seseorang yang masuk ke dalam mobilnya, dan lebih terkejut lagi saat melihat siapa orang tersebut. "Kak Tita ..."
"Baby ... " Tita yang sama terkejutnya langsung menepuk keningnya. "Ya ampun Tita .. dari sekian banyaknya mobil kenapa masuk ke dalam mobil adik ipar mu sendiri." Lagi-lagi Tita merutuki kebodohannya entah yang sudah keberapa kalinya. "Dulu aku masuk kedalam mobil kakaknya, dan sekarang masuk ke dalam mobil adiknya. Apa aku ini memang ditakdirkan tidak bisa jauh dari keluarga Arbeto?" Gerutu Tita dalam hati.
"Kak Tita are you okay?" Baby menepuk bahu kakak iparnya, karena dari tadi wanita itu hanya diam saja.
"Aku baik-baik saja." Tita menatap kearah rumah sakit, dan melihat suami dan juga ayah nya sedang berlari kesana-kemari. "Baby ayo cepat jalankan mobilnya!" pinta Tita.
"Eh tapi kak ..."
"Sudah cepat jalankan mobilnya!"
Sementara itu di halaman rumah sakit, Boy menatap ke sekelilingnya mencari Tita yang lari entah kemana.
"Sial!" umpat Boy dengan wajah yang cemas.
"Ayah cari ke kanan dan kau cari ke kiri!" perintah Bayu.
"Tidak perlu!" Boy mengambil ponselnya. "Alex cepat kau periksa kamera CCTV yang ada di jalanan sekitar rumah sakit internasional! Temukan keberadaan istriku!"
"Nyonya melarikan diri?" tanya Alex melalui sambungan ponselnya.
"Kau jangan banyak bertanya! Cepat kerjakan!" Dengan geram Boy menutup ponselnya. "Kalau sampai aku menemukannya, aku akan —"
"Mau kau apakan putriku?" Bayu menatap tajam menantunya.
"Tentu saja aku akan mengurungnya di mansion utama, karena sudah berani melarikan diri tanpa seijin ku." Sahut Boy.
"Kau itu bodoh ya? Dimana-mana melarikan diri itu ya tanpa ijin, kalau ijin dulu namanya bukan melarikan diri." Bayu menghela napasnya dengan kasar.
"Ah apa pun itu namanya, tapi putrimu benar-benar keterlaluan! Dia berlari di saat —" Boy tidak bisa meneruskan perkataannya karena terlalu marah, saat mendengar suster yang menemani Tita berkata kalau wanitanya itu berlari entah kemana.
Bayu sendiri hanya terdiam menanggapi kemarahan menantunya, karena ia sendiri juga merasa kesal pada putrinya yang sudah membuat momen yang ditunggu-tunggu olehnya menjadi ambyar begitu saja saat Tita melarikan diri entah karena apa.
"Anak unta dimana kau?"