
Tita menggelengkan kepalanya dengan lemah, ia sudah tidak memiliki tenaga untuk terus mendengar semua perkataan kakaknya yang terdengar sangat kejam.
"Kau memiliki segalanya Tita Anggara, seluruh kasih sayang Ayah, dan kau tidak pernah merasakan kehilangan sesuatu seperti yang aku rasakan." Ujar Eve dengan sendu, saat teringat masa kecilnya yang lebih banyak dihabiskan bersama pengasuhnya.
Karena Mom Daniela yang harus bolak-balik ke dokter untuk mengobati rasa traumanya setelah berpisah dengan ayah Bayu, dan paman Daniel yang tidak punya waktu untuk menemaninya karena selalu mengantar dan menemani Mom Daniela. Sehingga Eve kecil tidak pernah merasakan kasih sayang dari Mommy nya apalagi Ayahnya yang berada jauh di Jakarta.
"Dan ketika kita beranjak dewasa dengan mudahnya kau mendapatkan pria yang sangat tampan dan kaya raya, karena perjodohan yang dilakukan Ayah dan orang tua B." Sinis Eve. "Seandainya saja orang tua kita tidak berpisah, maka akulah yang akan di jodohkan dengan B bukan kau!"
"Berhenti kak! Jangan diteruskan lagi!" Tita menutup kedua telinganya.
"Kenapa? Apa kau terkejut menjadi penyebab perpisahan kedua orang tua kita? Atau kau terkejut mengetahui alasan kenapa selama ini Mom tidak pernah mau melihatmu?" Eve menarik kedua tangan Tita yang sedang menutup telinganya. "Mom Daniela sangat membencimu Tita Anggara." Bisik Eve dengan seringai tipis dibibirnya.
"Kak cukup!" Tita mendorong kasar kakaknya. "Keluar dari apartemen ku!" Ucap Tita dengan air mata yang tidak juga berhenti mengalir deras dari kedua matanya.
"Oke Aku akan keluar, tapi kau harus ingat satu hal! Ciuman panas antara aku dan B, dan sentuhan tangan B di tubuhku ini belum seberapa. Karena aku akan melakukan hal yang lebih dari itu untuk bisa merebut B dari tangan mu." Eve berkata dengan raut wajah tenang namun dengan tatapan mata yang tajam.
Setelah mengatakan semua kebencian yang sejak lama dipendamnya, Eve pun melangkahkan kakinya keluar dari apartemen dengan senyum sinis dibibirnya. Meninggalkan Tita dengan sejuta luka dihatinya saat mengetahui kebenaran yang terucap dari kakaknya.
"Benarkah aku yang menjadi penyebab mereka berpisah? Mom apa karena itu kau membenciku?" Tita menangis dengan tersedu-sedu.
*
*
"B ..."
Boy yang juga terkejut saat melihat Eve, langsung mencengkram tangan wanita itu. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"B lepaskan! Tanganku sakit." Lirih Eve.
"Apa yang kau lakukan di apartemenku?" Boy kembali bertanya tanpa peduli rintihan Eve.
"Aku hanya ingin bertemu dengan Tita." Jawab Eve.
Boy melepaskan cengkraman tangannya lalu segera masuk ke dalam apartemen, tanpa menghiraukan Eve yang mengikutinya dari belakang. Dan dengan sangat kasar Boy menutup pintu apartemennya tepat di depan wajah Eve.
"Tit ..." Boy berjalan masuk ke dalam ruangan mencari keberadaan Tita, karena entah mengapa perasaannya sangat tidak enak sejak ia masih berada di mansion utama, hingga akhirnya memutuskan untuk pulang terlebih dahulu setelah ijin pada Dad Dafa. "Tit—" Boy langsung terdiam saat membuka pintu kamar Tita, di sana ia melihat punggung istrinya yang tengah berbaring di atas tempat tidur.
"Aneh sekali? Bukankah Eve baru saja keluar dari sini? Tapi kenapa Tita sudah tertidur?" Boy yang bingung lebih memilih menutup kembali pintu kamar Tita, karena tidak ingin mengganggu istrinya yang tengah beristirahat.