Emergency Wedding

Emergency Wedding
Part 108


Ciuman yang awalnya penuh kelembutan kini berubah menjadi sangat menuntut, dengan tidak sabaran Boy melepaskan semua yang di kenakan oleh wanitanya, hingga membuat Tita yang duduk di pangkuannya kini polos tanpa sehelai benangpun.


"Apa itu begitu penting untukmu?" Boy mengecup bibir Tita, sambil mengusap punggung polos wanitanya dengan penuh kelembutan.


"B ..." napas Tita terengah-engah setelah ciuman panas mereka berakhir. "Tapi bagi aku itu sangat penting." Tita menundukkan kepalanya.


Boy langsung mengangkat dagu wanitanya membuat padangan mata mereka bertemu, pandangan itu menyusuri wajah Tita lalu turun ke tubuh polos yang sudah menjadi candu baginya. Dapat ia rasakan perbedaan getaran yang ada di hatinya saat bersama Tita, yang belum pernah ia rasakan pada semua mantan wanitanya.


"Tanpa aku menjawabnya kau pasti bisa merasakannya." Boy mengecup bibir Tita dengan lembut, menahan tengkuk wanitanya hingga membuat ciuman mereka semakin dalam.


Di angkatnya tubuh polos Tita lalu dibaringkan di atas tempat tidur, dengan penuh kelembutan tangannya menyusuri setiap inci tubuh wanitanya. Hingga membuat Tita mendesah dengan tidak karuan dan sudah pasrah dengan apa yang akan dilakukan olehnya.


Tanpa membuang waktunya Boy segera melakukan penyatuannya, memberikan apa yang dirasakan dari dalam hatinya dengan sebuah tindakan. Karena dirinya mulai menyadari wanita yang saat ini tengah mendesah di bawahnya, adalah wanita yang sudah berhasil memiliki hatinya. Wanita pertama yang menyentuh hati dan tubuhnya, karena hanya dengan Tita Boy melakukan hubungan intim.


Beberapa saat setelah melewati gelombang yang dahsyat penuh gairah yang membara, pelepasan pun di rasakan oleh kedua orang yang tengah menyatu di atas tempat tidur.


"B itu pasti kak Eve." Ucap Tita dengan napas yang naik turun setelah percintaan panas mereka selesai.


Sebenarnya sejak dari tadi Tita mendengar pintu kamarnya di ketuk dari luar, tapi ia hanya diam saja tidak berniat sama sekali untuk membukanya karena saat itu tubuh dan pikirannya sudah dipenuhi oleh gairah, lagi pula percuma saja Tita membuka pintu kamar tersebut kalau kuncinya saja masih disembunyikannya oleh Boy


"Tapi B kasihan kak Eve, kau dengarkan sejak tadi pintu kamar kita di ketuk." Tita mendorong dada bidang suaminya, berharap pria itu melepaskan penyatuan mereka.


Namun dengan gerakan cepat Boy membalik tubuh wanitanya, hingga mereka bertukar tempat menjadi Tita yang berada di atas tubuhnya.


"Kau tahu bukan? Aku tidak cukup hanya dengan satu sekali." Ucap Boy dengan senyum dibibirnya, sambil memulai kembali percintaan panas mereka.


Tita yang sangat terkejut dengan gerakan tiba-tiba suaminya, sampai menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia menahan teriakan dan ******* yang hampir keluar dari mulutnya saat Boy kembali mengulangi percintaan panas mereka.


"Lepaskan tanganmu!" Boy menarik tangan Tita dari mulutnya, ia tidak suka jika wanitanya itu menahan suara desahannya, karena bagi Boy suara Tita yang mendesah itu terdengar begitu sexy.


"B .. kita tunda sebentar ya, Tita ingin .. ah .." Tita sampai menggigit bibirnya. "Tit-Tita ingin berbicara dulu dengan kak Eve, nanti kita lanjutkan lagi." Bujuk Tita.


"Mana ada yang seperti itu." Sahut Boy lalu meminta Tita untuk memimpin percintaan mereka.


Dan mau tidak mau Tita menuruti keinginan suaminya, karena ia pun sudah terbakar gairahnya kembali. Dua orang yang tengah bergumul mencari kenikmatan itu, sampai tidak mempedulikan seseorang yang sejak tadi berdiri di depan kamar mereka.