
Sementara itu di sebuah perusahaan besar yang dipimpin oleh seorang pria tampan yang bernama Agam Mateo, terlihat dua orang yang tengah duduk berhadapan.
Sang wanita sibuk dengan berkas yang sedang dipelajarinya, sedangkan sang pria tampak tersenyum sinis setelah menerima telepon dari seseorang.
Agam merasa senang setelah mendapatkan kabar dari Liam, jika tadi B hampir nekat pergi ke perusahaannya, hanya karena tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam ruang kerjanya.
Agam menatap kamera CCTV yang ada di ruangannya dan tanpa tersadar tertawa kecil.
"Ini baru permulaan B, tapi kau sudah kepanasan seperti itu! Kita lihat sampai kapan kau bisa menahan diri untuk tidak mengakui jika kau sudah jatuh cinta pada Tita." Gumam Agam dalam hati.
"A kenapa kau tertawa?" Tita yang mendengar suara tawa Agam, segera menatap pria yang ada dihadapannya itu.
"Aku ...." Agam yang sudah tidak bisa menahan rasa tawanya, langsung tertawa terbahak-bahak saat ia membayangkan wajah panik seorang Boy Arbeto saat mengetahui tidak bisa meretas kamera CCTV yang ada di ruangannya. "Aku hanya sedang teringat seseorang." Agam menghentikan tawanya saat melihat wajah Tita yang menatap dirinya dengan intens.
"A kau sangat tampan jika sedang tertawa." Ucap Tita dengan senyum dibibirnya.
"Aku tahu itu." Sahut Agam dengan penuh percaya diri.
"Tapi lebih tampan lagi jika kau diam." Ejek Tita dengan terkekeh geli.
"Ya, aku juga tahu itu." Lagi-lagi Agam hanya menyahuti perkataan Tita dengan ekspresi wajah yang datar.
"Ish, kau itu terlalu percaya diri sekali." Gerutu Tita dengan mengerucutkan bibirnya.
Membuat Agam tersenyum saat melihat tingkah Tita, ditatapnya dengan intens wanita yang saat ini baru berusia tujuh belas tahun yang memiliki sifat polos, apa adanya, dan sedikit bodoh.
Sebenarnya semua sifat yang ada diri Tita itu adalah daya tarik dari wanita itu, dan Agam berani bertaruh jika sepupunya itu sudah mencintai Tita sejak lama dengan semua kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh wanita itu, hanya saja Boy terlalu gengsi untuk mengakui perasaannya sendiri.
Itu sebabnya Agam ingin merubah Tita menjadi wanita yang anggun dan dewasa seperti mantan-mantan kekasih sepupunya itu, agar Boy merasa kehilangan sosok Tita dan mengakui jika pria itu sudah jatuh cinta pada istrinya.
Tok .. Tok ... Tok
Lamunan Agam terhenti saat mendengar suara pintu ruangannya yang diketuk dari luar.
"Masuklah."
Agam melihat asisten pribadinya berjalan bersama seorang wanita cantik yang sangat dikenalnya.
"Hai A ..." Alice tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
Agam membalas senyuman itu lalu menyuruh Tita yang duduk untuk berdiri dan berkenalan dengan Alice.
"Tita ini Alice, dan Alice ini Tita." Ucap Agam.
Tita dan Alice saling berjabat tangan dengan senyum di bibir mereka masing-masing.
"Dia adalah orang yang akan mengajarimu." Agam menjelaskan pada Tita yang terlihat bingung.
Tita menganggukkan kepalanya lalu menatap wanita yang bernama Alice dari atas sampai bawah, wanita cantik yang terlihat seperti boneka porselen itu terlihat begitu memukau.
"Baik Alice kau boleh memulainya!" Agam menyuruh Edward asisten pribadinya, untuk membawa Tita dan Alice keruangan yang sudah di sediakan olehnya.
"Permainan kedua di mulai." Gumam Agam saat melihat Tita yang keluar dari ruangannya bersama dengan Alice.
Agam yakin Alice bisa merubah Tita mengingat keahlian wanita itu yang sudah tidak diragukan lagi.