Emergency Wedding

Emergency Wedding
Part 95


Lia mengetuk pintu kamar yang ada di hadapannya sesuai dengan perintah Boy Arbeto, dan setelah menunggu beberapa saat pintu kamar pun dibuka dari dalam.


Bugh


Tanpa banyak berkata dan melihat dengan jelas siapa yang membuka pintu, Boy langsung melayangkan tinjunya kearah seseorang yang ada di hadapannya, membuat pria itu terjatuh dengan wajah yang tertunduk.


"Brengsek kau ...." Boy kembali melayangkan tinjunya, namun saat ia hendak memukul untuk yang ketiga kalinya gerakan tersebut menggantung di udara. "Siapa kau?" tanya Boy dengan bingung saat melihat wajah pria yang tengah meringis kesakitan.


"Damn!" pria itu mengusap sudut bibirnya yang pecah. "Seharusnya aku yang bertanya, siapa kau?" umpat pria tersebut dengan kasar.


Boy yang bingung menatap pada Liam yang masih berdiri di depan pintu, sedangkan yang ditatap hanya mengedikkan bahunya.


"Ada apa ini?" tanya seorang pria yang berjalan mendekat.


Boy yang mendengar suara Agam, langsung menoleh dan melihat sepupunya itu sudah berdiri dengan kedua tangan yang berada di dalam saku celana. Tatapan matanya lalu beralih pada pria yang baru saja dipukulnya, lalu kembali menatap pada Agam dengan tangan yang terkepal erat. Aliran darahnya berdesir dengan cepat saat membayangkan hal yang tidak-tidak yang dilakukan Agam, Tita, dan pria asing tersebut di dalam kamar.


"Kau ...."


Tanpa banyak berkata Boy menghantam sepupunya itu dengan kepalan tangan yang kuat, hingga membuat Agam jatuh tersungkur kebelakang beberapa centimeter.


"Bajingan! Berani sekali kau mengajak istriku ke hotel bersama pria lain." Boy hendak memukul kembali sepupunya, namun suara tegas dan berat dari seseorang menghentikan gerakan tangannya.


"B hentikan ....!"


"Apa-apaan ini?" Boy menatap semua orang yang ada di dalam kamar, dengan mata yang terbelalak dan mulut yang terbuka lebar.


"B apa yang sedang kau lakukan? Kenapa memukul A?" Dafa menatap tajam putranya. "Boy Arbeto ....!" sentak Dafa karena putranya itu hanya diam saja.


"Ya ..." Jawab Boy dengan cepat, walaupun dirinya masih bingung dengan apa yang terjadi.


Ia menelan salivanya dengan susah lalu menengok kebelakang untuk mencari keberadaan Liam, Boy ingin meminta penjelasan pada asistennya itu apa yang sebenarnya terjadi, namun sayangnya ia tidak melihat keberadaan Liam, dan entah lari kemana asisten nya itu meninggalkan dirinya seorang diri ditengah kebingungan.


"Dad tanya sekali lagi kenapa kau memukul A?" Dafa bertanya dengan raut wajah yang tegas.


"A-aku ...."


"Dia datang kemari karena rasa kecemburuannya melihat Aku dan Tita masuk ke dalam hotel." Jawab Agam sambil mengusap sudut bibirnya yang pecah.


"A aku itu marah bukan cemburu! Dan siapa pun pasti akan marah jika melihat istrinya di bawa masuk ke hotel oleh pria lain." Boy menatap pada Tita yang sejak tadi hanya diam saja. "Tunggu dulu! Kenapa A bisa tahu aku datang ke hotel ini?" Boy bergumam dengan kening yang berkerut.


"B kau marah karena kau cemburu, masa seperti itu saja kau tidak mengerti." Celetuk Lea.


"Lele lebih baik kau diam dan kembali ke habitat mu!" ketus Boy.


"B namaku itu Lea bukan Lele." Protes Lea dengan wajah yang kesal, karena sepupunya itu selalu saja memanggilnya dengan nama Lele. "Dan apa tadi kau bilang? Kembali ke habitat ku? Kau pikir aku ini apa?" Lea menatap tajam pada sepupunya.