
Tita, Baby, dan Lea yang sedang asik berbincang menghentikan pembicaraan mereka, saat melihat beberapa orang masuk ke dalam mansion dengan membawa beberapa barang.
"Baby siapa mereka?" tanya Tita dengan wajah yang bingung, melihat lima orang pria membawa beberapa barang seperti perlengkapan untuk anak kecil.
"Aku juga tidak tahu." Baby mendekati orang-orang tersebut. "Maaf kalian siapa? Dan ada keperluan apa?" tanya Baby sembari menatap pada barang-barang yang dibawa kelima pria itu.
"Surprise ...." teriak Boy.
Baby, Lea, dan terutama Tita begitu terkejut saat melihat Boy Arbeto berjalan dengan mendorong stroller ditangannya.
"B apa yang kau bawa?" tanya Tita dengan wajah yang terkejut.
"Kau tidak lihat? Ini stroller kereta dorong untuk baby kita nanti." Jelas Boy dengan senyum bahagia dibibirnya, ia mendekati Tita lalu mengecup perut istrinya yang masih rata.
"Aku tahu itu apa? Tapi —" Tita tidak bisa berkata-kata lagi karena terlalu terkejut.
Bagaimana tidak terkejut melihat semua barang-barang yang dibawa oleh Boy, bahkan kelima orang yang tadi ada di ruangan tengah kembali membawa barang yang lebih banyak lagi.
Ada lemari pakaian, Baby box, baby bouncer, dan semua perlengkapan bayi lainnya. Bahkan motor dan mobil aki serta sepeda kecil pun dibeli oleh suaminya itu, membuat ruangan tengah mereka kini dipenuhi oleh barang-barang keperluan bayi. Bahkan karena terlalu banyaknya barang-barang tersebut, ruang tengah mansion sudah berubah seperti toko perlengkapan bayi dadakan.
"Kakak kau sudah gila ya?" Baby menempelkan tangannya di kening kak Boy, karena perbuatan kakaknya yang tidak masuk diakal itu sampai membuat kakak iparnya begitu terkejut sampai tidak bisa berkata-kata.
"Anak kecil beraninya kau mengatai aku gila!" Boy menghempaskan tangan adiknya dengan kasar.
"Kalau bukan gila lalu apa namanya? Kakak tidak lihat semua ini?" Baby menatap semua barang yang dibeli kakaknya. "Bayi kalian saja mungkin masih sebiji jagung tapi kau sudah membeli semua barang ini!" Baby sampai menggelengkan kepalanya. "Dan lihat mobil dan motor aki itu! Oh ya ampun kandungan kak Tita baru empat Minggu." Baby menepuk keningnya sembari menghela napasnya dengan kasar.
"Hei jangan bilang bayiku itu sebesar biji jagung?" Boy tidak terima dengan perkataan adiknya. "Bayiku itu sudah sebesar ...." Boy diam lalu mengeluarkan foto USG hasil pemeriksaan kandungan Tita.
"Kau pasti terharu melihat hasil karya kita." Boy tertawa terbahak-bahak.
"Hasil karya?" Baby dan Lea ikut tertawa
"B aku bukan terharu tapi aku bingung baby kita yang mana? Kenapa tidak terlihat?" celoteh Tita sembari terus memperhatikan foto USG miliknya.
"Kau itu!" Boy langsung menarik foto USG itu dari tangan istrinya, sementara Baby dan Lea semakin tertawa dengan keras. "Kau lihat ini! Bayi kita begitu tampan tapi kenapa kau tidak bisa melihatnya?" Boy menunjuk tepat kearah yang Alana katakan kalau itu bayi mereka.
Baby, Lea, dan juga Tita langsung menatap kearah yang ditunjuk oleh Boy, dan seketika itu juga Baby dan Lea kembali tertawa terbahak-bahak.
"Ya ampun kakak kau itu lucu sekali." Baby terus tertawa sampai perutnya terasa sakit. "Tampan dari mananya coba?" karena yang ia lihat dari foto USG itu seperti lubang dengan titik di dalamnya. "Kan sudah aku bilang bayi kalian masih sebiji jagung."
"Baby ...." Boy menarik telinga adiknya, karena lagi-lagi Baby mengatai ukuran bayinya sebiji jagung.
"Kakak lepaskan!" Baby memekik kesakitan.
"B lepaskan Baby!" Lea berusaha membantu sepupunya.
"Lele kau jangan ikut campur, lebih baik kau kembali ke kolam sekarang juga!" usir Boy.
"Ish kau itu menyebalkan." Lea memilih pergi dari ruangan tersebut, meninggalkan Baby dan Boy yang sedang berdebat.
Sementara Tita lebih memilih melihat barang-barang yang sudah dibeli oleh suaminya, dari pada mendengar perdebatan kakak beradik itu, ada rasa bahagia saat melihat semua barang-barang tersebut karena itu artinya Boy begitu menyayangi bayi yang sedang di kandungnya.