
"Sepertinya ada banyak sekali bekas gigitan nyamuk." Jawab Boy asal lalu berjalan menuju bathroom, ia ingin segera mengakhiri penderitaannya dengan kembali bermain solo. "****! Lama-lama aku bisa frustasi." Umpat Boy dalam hati.
Ingin sekali Boy memanggil Selena untuk bisa menuntaskan hasratnya, namun niat itu diurungkannya karena teringat kejadian beberapa hari yang lalu.
Di mana Juniornya yang sudah berdiri tegak hendak memasuki milik Selena, justru menjadi tidak bergairah saat teringat wajah Tita saat mereka bercinta.
Sementara itu Tita yang masih berdiri di tempatnya, menatap punggung Boy yang saat ini sudah menghilang dibalik pintu.
"Masa sih ada gigitan nyamuk? Punggung Tita kan tertutup pakaian." Tita yang bingung segera berjalan menuju cermin, namun sayang sekali ia tidak bisa melihat punggungnya sendiri. "Eh, kenapa hari ini tidak ada bekas merah di leherku?" Tita mengerutkan keningnya, lalu bergidik ngeri saat teringat sesuatu. "Berarti benar di apartemen B ada hantunya."
Tita yang ketakutan segera memakai pakaiannya lalu berjalan keluar dari kamar, selain karena takut Tita juga ingin segera bertemu dengan kak Eve, ia sudah tidak sabar untuk mendengar cerita kakaknya yang selama ini tinggal di Paris bersama Mom Daniela.
"Ayah unta, kak Eve ada dimana?" Tita yang berjalan menuruni tangga, melihat ayah nya yang sedang berjalan menuju ruang makan. "Tadi Tita ke kamar kak Eve tapi kakak tidak ada."
"Kakakmu sedang menyiapkan sarapan pagi untuk kita." Bayu merangkul lalu mencium kening putrinya.
"Kenapa kakak menyiapkan sarapan? Kan ada Bi Nah." tanya Tita.
"Karena kak Eve adalah wanita yang rajin dan hobi memasak, dia itu mahir di dalam segala hal dan tidak mau bergantung pada orang lain, sifatnya itu berbanding terbalik dengan kau yang sangat malas dan tidak bisa apa-apa." Bayu mencubit hidung Tita dengan gemas.
"Ayah unta sakit ..." Tita mengusap hidungnya dengan wajah yang kesal.
Sementara Bayu justru tertawa saat melihat kekesalan di wajah putrinya, mereka berdua pun berjalan menuju ruang makan dengan tangan Tita yang bergelayut manja pada ayah nya.
"Pagi kak." Sapa Tita saat melihat kakaknya tengah menaruh cangkir di atas meja makan.
"Pagi." Eve tersenyum melihat adik dan ayah nya. "Ayah ini teh nya."
"Terima kasih sayang." Bayu mengangkat cangkir tersebut, lalu meminum air teh yang dibuat oleh Eve.
"Oh ya Tita, suami mu apa masih tidur?" tanya Eve karena tidak melihat keberadaan adik iparnya.
"Tidak, dia sedang mandi." Tita berjalan menuju kursi makan.
Dan tak berselang lama Boy yang sudah memakai pakaian kerjanya, ikut bergabung di meja makan. Ia duduk di samping Tita dengan ekspresi wajah yang datar, namun ekspresi itu berubah terkejut saat melihat Eve yang menyiapkan makanan di atas piringnya.
Boy lalu menatap Tita yang duduk di sampingnya dengan kening yang berkerut, karena seharusnya wanita itu lah yang menyiapkan makanan untuknya bukan wanita lain.
"Oh ya B, apa ada lowongan pekerjaan untuk Eve? Dia sedang mencari pekerjaan, karena rencananya Eve akan menetap di Jakarta." tanya Bayu pada menantunya.
"Ah .. benarkah itu, kak?" pekik Tita dengan wajah yang bahagia.
"Ya." Eve menganggukkan kepalanya.
"Asik .. akhirnya kita bisa tinggal di satu rumah yang sama dan tidur di kamar yang sama."
Tita tertawa bahagia, namun tawa itu berubah menjadi ringisan kesakitan saat kepalanya dijitak oleh dua orang yang ada di sisi kanan dan kirinya.
"Ayah .. B .. sakit tahu." Gerutu Tita sambil mengusap kepalanya.
"Hei .. kenapa kau menjitak putriku?" geram Bayu tak terima.
"Ayah mertua juga kenapa menjitak istriku?" Boy balik bertanya dengan nada yang ketus.
Membuat mereka saling menatap dengan tajam.
"Bisa gawat jika Tita tidur di kamar yang sama dengan Eve, karena aku tidak bisa lagi menggerayangi tubuhnya." Gumam Boy dalam hati.
"Bisa hancur impian aku untuk mempunyai cucu sultan jika Tita tidur bersama Eve." Bayu bergumam dalam hati.
"Ayah, B, kenapa jadi kalian yang marah? Seharusnya Tita yang marah." Tita menatap bergantian pada ayah dan suaminya.
"Diam Tit ...!" sentak Boy dan Bayu bersamaan.
Membuat Tita langsung terdiam.